Beli Box

1299 Kata
"Seza, nah itu keknya cocok tuh boxnya," Aqila menunjuk box besar bertutup biru yang di sisi kanan kirinya ada pegangan. Entah berbahan dasar plastik atau atom, yang pasti box itu sangat kuat. "Gila, itu mah lo sama Danu juga bisa masuk ke dalamnya," Seza terkejut saat melihat pilihan Aqila. "Anjir, kenapa mesti gue sama Danu?" tanya Aqila kesal. "Itu cocok banget buat kebutuhan kita tau. Bahan-bahan makanan segitu banyaknya bisa masuk ke situ, terus bawanya juga gampang. Entar si Altha bawa di sisi kanan, si Danu bawa di sisi kiri. Nah kalau kita keberatan bawa tas, bisa juga tuh tas kita ditaruh di atas tutupnya. Kan benar-benar sangat berguna, multifungsi gitu. Lagi pula itu kuat, jatuhin kaki lo juga kaki lo yang bakalan remuk," jelas Aqila ngotot. "Lo kok jadi manfaatin Fandra, sih? itukan cowo gue, kenapa elo yang mau ambil enaknya?" tanya Seza geram. Aqila menyengir lebar. "Ya itung-itung sedekah lah, Seza. Gue kan jomblowati nih, nah gue gak minta cowo lo kok, gue cuma minta tenaganya aja. Numpang enaknya, kan gak apa-apa sih, yang penting gak berbau soal hati." Seza menatap tajam ke arah Aqila. "Dasar sinting!! makanya cari cowo sendiri!! ngapain cowok gue lo manfaatin, lo pikir Fandra babu apa?" tanya Seza kesal. Aqila langsung mengangguk membenarkan. "Iya, dia babu, dia b***k, b***k cintanya elo. Apa aja yang lo mau dia rela lakuinnya, uda kek pembantu. Itu sebabnya gue numpang enaknya bentar aja, kali ini aja deh, besok-besok enggak lagi." Aqila menyengir lebar, menunjukkan deretan gigi putih nan rapihnya. Jari telunjuk dan jari tengahnya membantu huruf 'V'. Seza menghela nafasnya kasar, lalu mengelus d**a sabar. "Huftt ... serah lo dah bambang, yauda sana ambil!" perintah Seza tak sabaran. "Nih duitnya," Seza memberikan dompetnya pada Aqila. "Uda gak usah, gue aja yang beli. Nanti kalau dah selesai camping ini box jadi buat gue. Gue lagi butuh soalnya," tolak Aqila. Seza mengangguk mengerti, lalu Aqila langganan pergi mengambil box itu dan langsung membayarnya. "Seza!! sini bantuin bawa!" teriak Aqila kesal. Pasalnya sejak tadi Seza hanya diam sambil melipat tangan di d**a, matanya hanya melihat ke mana arah Aqila berdiri saja, tapi sama sekali tak membantu Aqila yang kesusahan membawa boxnya. "Susah kan? besar banget kan? gak bisa dibawa sendiri kan? harus berdua kan? makanya jangan ngeyel gue bilangin. Elo sih, ngeyel bin keras kepala, tuh dapet susahnya sendiri kan." Seza mengomeli Aqila, tapi dia tetap berjalan mendatangi Aqila untuk membantu Aqila yang sedang kesusahan. "Yaudah kali, ini kan ada dua sisi pegangan, biar gak si Altha doang entar yang capek, biar Danu juga ikut capek. Kan biar impas," ujar Aqila memberi alasan. "Pengen gue geplak tuh kepala lo!" balas Seza sambil melotot. "Gak usah marah-marah kali, yaudah yuk kita balik. Itu dua curut pasti uda nunggu kita dari tadi. Entar kalau kelamaan bahaya, di kira mereka kita pulang ke rumah kali." Aqila langsung mengajak Seza segera balik ke tempat Altha dan Danu menunggu. "Curut-curut pala lo peyang! itu tuh satu cowok gue. Presma nya elo! enak aja bilang curut, ganteng gitu lo katain curut. Danu baru cocok jadi curut, curut si mulut lemes," "Hahahaha ... iya juga ya, Danu curut berkelamin dua. Hahaha ...," Aqila tertawa terbahak-bahak. Dia dan Seza membawa box berdua, Seza di sisi kiri, Aqila di sisi kanan. Sekitar 10 menit Seza dan Aqila sampai ke tempat Danu dan Altha dengan membawa box besar yang mereka beli tadi. Altha membelakak matanya lebar, begitu juga dengan Danu, mulutnya menganga lebar terkejut bukan main. "What? kalian waras? ini buat apaan? sumpah jangan malu-maluin dah lo berdua. Ini lo mau camping apa mau pindah? lo berdua dimasukin ke sini juga bisa, juga muat. Please jangan ngawur dah." Danu menatap tak percaya pada box besar yang Seza dan Aqila bawa. "Sayang-" "Noh," Seza langsung memotong ucapan Altha dengan menunjuk ke arah Aqila. Aqila yang ditunjuk hanya nyengir terpaksa. "Hehehe ... iya gue yang nyuruh beli itu aja. Soalnya ini barang-barang banyak banget, uda kayak mau buat hajatan aja. Yaudah deh sekalian biar semuanya bisa masuk, nah make box yang gede juga," ujar Aqila menjelaskan. "Jelasin, Qila, apa yang mau lo omongin, minta izin noh sama yang punya barang," desak Seza. Altha menaikkan sebelah alisnya, seolah bertanya apa yang sedang terjadi. "Nah jadi gini, Tha," Aqila menjeda ucapannya, dia tarik nafas sejenak seraya berdoa supaya Altha menyetujui ide cemerlangnya. "Jadi kan lo belanja uda kau kek ngadain hajatan di rumah nih. Lo belanja benar-benar kek mau nginep sebulan aja di hutan. Nah, gue punya ide cemerlang nih," Aqila berhenti bicara. "Ide apaan?" tanya Altha penasaran. Danu juga sejak tadi menatap penasaran ke arah Aqila, seolah-olah menunggu lanjutan ucapan Aqila. "Jadi ide cemerlang gue itu, kita nih kan berempat ya. Nah gimana kalau tuh belanjaan lo untuk kita berempat aja, untuk kebutuhan kita berempat aja. Dari pada mubazir," jelas Aqila. "Nahh!! bener, iya bener banget si perempuan jadi-jadian ini. Baru kali ini lo ngomong ada benernya. Astaga iya, gue setuju!" sambung Danu cepat. "Enggak-enggak! gak mau! gue gak mau ya! enak banget lo pada! gue yang belanja segini banyaknya eh malah lo pada yang mau numpang enak. Enggak! ini khusus untuk Seza, bukan untuk kalian!" Altha langsung menolak mentah-mentah. "Seza aja uda ngizinin, masa iya lo gak ngasih sih. Kan lo kata ini punya Seza, ya kalau Seza ngizinin lo gak bisa gak setuju lagi dong," potong Aqila. "Iya kan, lo setuju kan, Seza?" tanya Aqila pada Seza. Seza mengangguk, "Iya. Uda biarin aja lah, mereka kasian. Atau kalau takut kurang punya mereka juga digabungin di punya aku. Ini box masih bisa nampung banyak," jawab Seza. "Iya boleh, gue gak keberatan kalau itu. Toh belanjaan gue dikit juga kan. Jaga-jaga kalau kurang, kita gabungin aja." Danu langsung sangat setuju. "Iya, nanti yang bawa si cowok jadi-jadian ini sama Altha. Kita kan cewek nih, mana mungkin kita kuat angkat banyak-banyak," Aqila mulai merendah. "Heh!! lo itu pelatih karate ya, mana mungkin lo gak kuat angkat gitu! enggak-enggak, enak aja lo mau manfaatin gue. No!" Altha menolak mentah-mentah usulan Aqila. "Iya, gue juga gak mau," timpal Danu. "Yaudah kalau lo pada gak mau, fix kita gak ikut. Nikmati aja campingnya, angkat barang masing-masing, kita gak ikut," ujar Seza kesal. "Tapi Seza-" "Sttt!! uda gak usah ikut, ayo pulang!" Seza menarik tangan Aqila. "Sayang, ih mau ke mana?" Altha langsung menarik Seza, lalu Altha langsung merangkul Seza. "Jangan marah dong, iya-iya bakalan aku bawa kok. Uda kamu jangan marah, kamu harus ikut ya," Altha memohon pada Seza. "Lo gila, Tha? ah udalah malas gue, enak banget mereka barangnya kita yang bawa." Danu langsung menyela, dia tak setuju dan merasa dirugikan. "Lo keberatan?" tanya Altha. "Ya jelas lah!" jawab Danu ngotot. "Yaudah kalau keberatan, gak mau gue ngenalin lo sama sekretaris gue," Altha mulai mengancam. "Yee!!! main ancam kek bocil." Danu memutar bola matanya malas. "Pilih mana? mau bawa ini box yang segede gajah atau mau batal gue kenalin sama sekretaris gue?" tanya Altha sembari menaikkan sebelah alisnya. "Yaudah yaudah! iya, gue bantuin lo," putus Danu terpaksa. Altha tersenyum lebar, begitu juga dengan Aqila. "Nahh gitu dong, itu baru namanya Danu similikitiw," ujar Altha mengejek. "Uda ah yuk balik, gerah di sini," ajak Seza tak sabaran. "Kan ada AC, sayang, masa sih gerah?" tanya Altha lembut. "Iya, laper, uda ah yuk makan." Seza beralih ke Aqila. "Kita ke resto yang biasa ya, kalian bawa tuh barang-barangnya, masukin ke box, duluan yah, bye-bye," Seza langsung menarik tangan Aqila, lalu melambai-lambaikan tangannya ke arah Altha. "Tungguin kek," Altha mendengus kesal. "Cewe lu tuh! gue jadi ikut-ikutan jadi babu kek elo kan, ish kesel deh gue," Danu menggerutu kesal. "Yaudah, ayo buruan disusun, biar cepat nyusul." Altha langsung menyusun semua belanjaan yang ia beli tadi, sekaligus belanjaan Aqila dan Danu. Memasukkan ke dalam box dan disusun dengan rapih supaya besok saat berangkat tidak lagi tergesa-gesa karena menyusun itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN