Hari ini adalah hari keberangkatan semua peserta camping peduli lingkungan yang Altha pimpin. Para peserta sudah berkumpul di lapangan utama kampus. Mereka masing-masing membawa keperluan dan bahan-bahan makanan yang akan mereka butuhkan di hutan nanti.
"Bagaimana, Altha? sudah bisa kita berangkat? sepertinya semua peserta sudah datang, ini juga jam uda pas, sesuai sama yang ada di jadwal. Bus-bus dan supir-supir sudah siap." Salah satu dosen pembimbing bertanya pada Altha.
"Sebentar lagi ya, pak. Tunggu 5 menit lagi, sepertinya masih ada yang belum datang," ujar Altha dengan sopan.
"Biak lah, hanya 5 menit ya, saya gak mau nunggu lama-lama, takutnya kita kemalaman sampainya, belum lagi kita bangun tenda di lokasi," balas Pak Harto, dosen pembimbing yang tadi bicara Altha.
Altha tersenyum, "Iya, pak," jawabannya patuh.
"Oke, kalau begitu saya akan pantau tim medis dulu," pamit pak Harto pada Altha.
"Iya, pak, silahkan."
Altha langsung merogoh ponsel di dalam kantongnya, dia langsung menelpon nomor Seza.
"Ini Seza di mana sih? kok uda jam berangkat masih belum datang. Aqila juga gak keliatan, pasti mereka dari rumah berangkat bareng nih." Altha berbicara pada dirinya sendiri.
"Arghh!! gak diangkat lagi. Kesel banget gue kalau gini. Seza kebiasaan deh selalu susah buat dihubungi," Altha menggerutu kesal.
"Kapan kita berangkat, ketua?" tanya teman-teman Altha yang sudah jenuh menunggu.
"5 menit lagi, soalnya belum semua peserta kumpul," jawab Altha.
"Ah gimana sih? gak tepat waktu banget. Uda panas nih, capek tau nunggu. Kek nunggu doi yang gak peka-peka aja. Bosen gue, udah lah, yuk berangkat aja," salah satu teman perempuan Altha mengomel tak jelas.
"Sorry, tapi prosedurnya kita harus berangkat bareng, bakalan diabsen juga. Tunggu sebentar lagi ya, hanya 5 menit." Altha mencoba menjelaskan pada teman-temannya yang sedang berkumpul di hadapannya.
"Ahh gak jelas banget sih lo jadi ketua panitia, ngaret!"
Altha diam, dia langsung mengelus d**a. "Huftt ... sabar, lo harus sabar ngadepin orang yang mau perfectnya aja. Padahal dia gak tau gimana susahnya lo buat acara ini supaya bisa sukses, sampe gak ada waktu tidur mikirin ini terus. Sabar, huhh ... ingat, Seza bentar lagi datang. Mood booster lo bentar lagi datang," Altha langsung menenangkan dirinya. Berusaha tak emosi dengan perkataan teman-temannya yang menyakitkan.
"Heh!! kalian kenapa taunya cuma ngejudge aja sih? bisa gak gausah nyalahin Altha terus? kalian mah enak tinggal ikut serta doang, kali gak tau dibalik acara besar-besaran ini ada otak Altha yang diperas dan tenaga Altha yang dipakai mati-matian? lo pada gak mikir apa? ini camping satu kampus, semua fakultas dan jurusan, semua organisasi, lah lo gak mikir betapa susahnya buat nih acara yang bisa dibilang super rumit? jangan cerewet aja taunya!" Danu langsung, dia membela Altha dan mengomeli teman-temannya.
"Uda lah males kalau uda ada Danu, mana bisa kalah omong sama dia," balas salah satu teman Altha.
Danu langsung mengalihkan pandangannya, melihat teman-temannya membuat emosi Danu naik ke ubun-ubun.
"Itu dia," ujar Danu pelan, tapi masih bisa didengar oleh teman-temannya.
Altha langsung menoleh, lalu tersenyum lega saat melihat Seza dan Aqila berjalan menuju tempat teman-teman sekelasnya berkumpul.
"Oalah!! jadi si tuan puteri itu yang ditunggu? pantes aja si ketua jadi gak disiplin, wong yang ditunggu nyonyanya, pantas aja lah,"
"Jadi cewek lo yang telat, Tha? cewek Presma kok gatau disiplin dan tepat waktu sih, Tha? gak pernah lo ajarin ya?"
"Ngaret banget, gak tau waktu apa gimana sih? cantik-cantik buta waktu,"
"Pantes, ibu Presma toh yang ditunggu,"
"Lahh anjir, kulit gue gosong cuma gara-gara nunggu tuh manusia sebiji?"
Dan masih banyak lagi komentar pedas teman-teman Altha yang terdengar, tapi Altha berusaha tak mau tau. Yang terpenting sekarang adalah sang pujaan hati sudah terlihat hilalnya.
"Oke, siap-siap, berbaris yang rapih. Gue bakalan koordinasi para panitia. Yang merasa dirinya panitia, langsung kumpul ke lapangan sebelah sana." Altha langsung bergegas menuju lapangan kosong yang berada jauh dari tempatnya berada.
Altha menghidupkan pengeras suara yang ia pegang. Lalu dia langsung berbicara menggunakan pengeras suara itu.
"Perhatian, untuk seluruh panitia harap kumpul di lapangan sebelah utara sekarang juga," ujar Altha dengan suara tegasnya.
"Saya ulangi sekali lagi, para panitia harap berkumpul di lapangan sebelah Utara sekarang juga," Altha mengulangi ucapannya.
Semua panitia langsung berjalan menuju lapangan yang Altha sendiri sudah berdiri di situ. Tapi Altha geram, melihat sebagian panitia yang berjalan sangat lambat sambil tertawa cekikikan.
"Dalam hitungan ketiga, jika masih ada yang belum hadir di lapangan, maka saya akan memberikan sanksi yang berat. Satu ... duaaa ...," Altha melihat ke seluruh penjuru lapangan. Para panitia langsung berlari tergesa-gesa karena mendengar ucapan Altha barusan.
"Tigaa ...,"
"Siap! hadir!" sebagian panitia langsung menjawab saat hitungan ketiga. Lalu mereka langsung menyusun barisan dengan rapih.
Setelah menyiapkan barisan, Altha langsung menyampaikan apa yang ingin disampaikannya. Sebelumnya dia membuka dengan kata-kata yang seharusnya, lalu dia menanyakan apakah ada panitia yang tidak datang.
"Saya mau setiap bus harus ada minimal dua panitia. Saya gak perlu bagi nama ya, saya tau kalian sudah dewasa dan pasti sudah bisa mengaturnya sendiri. Jika di dalam satu bus sudah ada dua orang panitia, maka kalian harus cari bus yang lain. Jika semua bus sudah penuh Dengan panitia, maka kalian bebas memilih bus yang mana. Intinya dalam satu bus minimal harus ada 2 panitia," jelas Altha serius.
"Di dalam bus tidak semuanya satu jurusan atau bahkan satu fakultas. Tugas kalian adalah, setiap bus harus dipenuhi dengan peserta yang satu jurusan. Nah jika satu jurusan tidak memenuhi satu bus, maka kalian bisa masukkan satu jurusan berbeda yang masih satu fakultas. Tugas kalian yang berikutnya, kalian harus absen nama peserta dengan benar, gunakan aplikasi yang sudah saya beritahu semalam agar datanya selalu update. Diabsen harus ada keterangan nama kelas, jurusan dan dari fakultas apa. Paham semua?" tanya Altha setelah menjelaskan panjang lebar.
"Siap, paham," jawab para panitia dengan serentak.
Altha mengangguk. "Baik, kalau begitu saya mohon kerjasamanya. Mohon dikoordinasi di setiap bus, mohon dipantau dan jangan sampai ada keributan. Jika ada keributan atau masalah, maka kalian para panitia yang bertanggung jawab pada saya dan dosen nantinya. Untuk para dosen, beliau-beliau naik di bus khusus. Saya harap kita bisa berkerjasama dengan baik," balas Altha.
"Kalau begitu, untuk kesuksesan acara kita, supaya kita dilindungi oleh Yang Maha Kuasa, supaya semuanya lancar dan selalu sehat walafiat sampai acara selesai, mari kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa dimulai." Altha memimpin doa. Sekitar semenit lebih mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata. Setelahnya mereka kembali pada posisi bersiap.
"Sekian yang bisa saya sampaikan, terimakasih atas perhatian dan waktunya. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Bubar barisan, jalan." Semua panitia bubar dari barisan, lalu berjalan mendekati Altha.
Mereka semua menumpuk tangan mereka menjadi satu, lalu bersorak bersama.
"Camping perduli lingkungan ...,"
"Sukses!!!" jawab para panitia bersama-sama.
"Ayo, cari bus masing-masing, dan jangan lupa updated data peserta," ujar Altha mengingatkan.
Semua peserta langsung berjalan, mengambil bus dan peserta mereka masing-masing.
"Gue sama lo aja deh, Tha. Lo di bus mana? bus kelas kita?" tanya Danu pada Altha.
"Ya jelas bus Seza lah, males gue sebus sama cewek-cewek mulut lemes," jawab Altha sambil berjalan menuju kelas Seza untuk memberi arahan pada kelas Seza.
"Kampret, pasti jadi antinyamuk lagi dah gue," gumam Danu pelan. Tapi dia tetap berjalan mengikuti Altha dari belakang.
Di ujung sana, sedari tadi Seza dan Aqila sudah memperhatikan Altha.
"Seza, keren juga ya cowok lo. Sebagai pemimpin dia keren, sumpah like banget," puji Aqila jujur.
"Boleh muji nih, tapi haram nikung," balas Seza.
"Ceileh, ya gak mungkin lah gue nikung elo. Ya kali gue nikung. Bukan Aqila banget kalau nikung. Yang mau sama gue juga banyak kali." Aqila langsung meninggi.
Seza terkekeh pelan. "Gak salah denger tuh gue? mana sih manusianya yang mau sama elo? bertahun-tahun lamanya gue sahabatan sama elo masa gue gak tau siapa sosoknya."
"Heh! sosok-sosok. Lo kira makhluk halus apa?" tanya Aqila kesal.
"Lagi pula emang lo harus tau ya? emang gue harus selalu ngelapor sama elo kalau gue ada yang deketin. Ya enggak kali. Makanya elo gak tau, kan gue emang gak pernah cerita ke orang-orang," kilah Aqila.
"Sumpah, nambah banyak dah dosa lo karena bohong. Dasar jomblo karatan kang bohong!" ejek Seza kesal.
"Heh! elo baru pertama kali pacaran aja bangga bener. Padahal dulu pas elo jomblo dari lahir gue gak pernah yah ngeledek lo segininya. Wahh parah banget lo jadi temen, mentang-mentang lo punya cowok seorang Presma dan jadi idola para kaum hawa, terus songongnya sampe ke langit ke tujuh. Astaga ampun dah gue," Aqila geleng-geleng kepala.
"Ye biarin dong, yang penting secara fakta sekarang gue uda punya cowok. Malah cowok gue juga ganteng gak ketulungan lagi, kerennya terjamin, uda gitu famous seantero kampus lagi. Iri kan elo? pasti dong iri. Kan banyak orang iri sama gue. Gue yang cantik dapat pasangannya yang sesuai. Astaga, perfect banget deh kami berdua." Seza dengan percaya dirinya memuji diri sendiri.
"Idihh ... gue aja malu denger ucapan lo yang pd gila, pd lo setingkat dewa dewi. Sini gue tepok biar sadar," Aqila memutar bola matanya malas. Seza mulai dalam mode mengesalkan.
Seza menaikkan sebelah alisnya. "Iri kan lo sama gue? iya kan? iri kan lo sama gue? ngaku aja dah sama gue. Iri kan lo sama gu-"
"Selamat siang semua peserta camping peduli lingkungan."
Semua orang langsung diam. Mereka langsung berdiri karena kedatangan sang ketua panitia.
"Heh!! berdiri lo! itu si ketua panitia datang!" Aqila langsung menarik tangan Seza yang masih duduk di atas lantai lapangan.
Seza mendengung kesal. "Ganggu aja deh, padahal gue lagi dalam posisi woenak. Malas gerak banget, ngapain coba pake acara datang-datang," Seza menggerutu kesal.
"Meneketehe, tanya aja sendiri. Kan itu cowo elu, ngapain lu tanya sama gue? uda berdiri deh elonya. Hargai ngapa tuh cowok lo uda capek panas-panasan, masa buat berdiri aja lo gak mampu? berapa bulan lo gak makan?" Aqila mengomeli Seza.
Seza menghela nafas pasrah, lalu dia berdiri di barisan paling akhir, tepat di samping Aqila.
"Selamat siang, semua," sapa Altha.
"Siang," jawab mereka dengan serentak.
"Saya ingin memberitahukan pada kalian semua, adanya saya dan rekan saya, Danu di sini adalah sebagai penanggung jawab peserta di jurusan kalian. Ini kalian semua sekelas?" tanya Altha.
"Tidak," jawab mereka serentak.
"Tapi satu jurusan kan?" tanya Altha lagi.
"Iya."
"Baik lah, kalian semua akan berada dalam satu bus. Mohon kerjasamanya ya, saya mohon semua peserta harus tertib dan disiplin. Jangan buat keributan diperjalanan kita ini. Saling menghargai satu sama lain. Jika ada yang membuat masalah, maka akan saya proses dan tindak lanjuti dengan sangat tegas. Bagaimana, mengerti semuanya?" tanya Altha diujung penjelasannya.
"Mengerti," jawab semua peserta sejurusan Seza dengan kompak.
"Baik lah, semuanya berbaris dengan rapih. Yang wanita sebut nama, kelas, dan jurusan pada saya. Untuk yang lelaki bisa ke Danu." Altha memberi tau agar pengabsenan peserta berjalan dengan lancar.
Danu sudah berdiri di tempatnya, Altha juga sudah siap dengan ponselnya. Mereka mengabsen menggunakan aplikasi supaya datanya langsung bisa update dengan cepat.
"Ayo, satu persatu maju," perintah Altha kemudian.
Satu persatu mahasiswa wanita maju ke Altha dan memberikan data nama lengkap mereka, kelas serta jurusan. Lalu setelahnya mereka langsung diperintahkan untuk masuk ke dalam bus.
Seza menyesal mengambil barisan paling belakang, pada akhirnya dia menjadi peserta paling akhir.
"Aqila Mavia Raya, lo tau jurusan dan kelas gue. So, gausah nanya lagi," ujar Aqila saat sudah sampai gilirannya.
Altha hanya bisa geleng-geleng kepala, Aqila dan Seza memang paling beda dari yang lain.
"Ooh namanya ada Mavia nya? pantes aja lah mukanya uda kek mafia beneran, tingkahnya juga uda kek diluar nalar seorang cewek. Eh rupanya dari lahir namanya begitu. Secara nama itukan doa yah," celetuk Danu tiba-tiba.
Danu menghampiri Altha. Danu sendiri sudah selesai mengabsen para lelaki.
Seza langsung melotot seram. "Heh!! jangan bacot ya, lo! lo mau gue habisin di sini, sekarang juga?" tanya Aqila sarkas.
"Nohh marah udahan si Mavia," ledek Danu dengan ketawa mengejek.
Aqila langsung berjalan mendekati Danu, ingin memberi pelajaran pada Danu.
Altha menghela nafasnya kasar. Kalau kucing dengan tikus ketemu mana mungkin bisa akur, seperti itu juga Aqila dengan Danu.
"Skip lah, lanjut ...," ujar Altha jengah.
Seza maju dengan langkah malas.
"Seza-"
"Sazkia Mada, jodohnyanya Althafandra Wijaya. Kalau kamu mah udah hafal di luar kepala, uda di hafal mati," Altha memotong ucapan Seza.
Seza tersenyum. Altha memang selalu mengembalikan moodnya.
"Yuk kita masuk, ntar gak kedapatan bangku." Altha menarik tangan Seza, membawa Seza masuk ke dalam bus.
Sesampainya di dalam bus, Altha langsung mengambil bangku yang tersisa, dia duduk bersama Seza.
"Sudah lengkap semuanya? sudah bisa berangkat?" tanya pak supir dari depan.
Altha langsung terkejut, Danu dan Aqila masih bertengkar di luar.
"Bentar, sayang, aku panggil kucing sama tikus dulu." Altha langsung berdiri memanggil Danu dan Aqila.
"Danu!! Aqila!! lo berdua mau ikut camping gak? mau gue tinggal?" tanya Altha dari atas bus.
"Nah gara-gara elo nih gue mau ditinggal!" Aqila mengalahkan Danu.
"Ya gara-gara elo lah!!" bantah Danu tak mau disalahkan.
Aqila langsung masuk ke dalam bus. Dia langsung duduk di bangku yang tersisa. Altha sendiri sedari tadi sudah duduk kembali di samping Seza.
Danu menyusul, dia masuk ke dalam bus dan langsung menutup pintu bus.
Danu melihat ke arah tempat duduk. "Lah, tempat gue di mana?" tanya Danu.
"Itu di samping Aqila kosong, duduk di situ. Cuma itu yang tersisa," jawab Altha pelan.
"Enggak-enggak!! ahh, gak mau gue! malas duduk dekat cewek jadi-jadian. Gak, gue gak mau!" tolak Danu keras kepala.
Altha mengelus dadanya sabar.
"Lo panitia ya, Danu. Jangan mancing keributan di bus ini, atau lo bakalan gue proses dan gue kasih hukuman berat. Gak mandang teman gue, gue harus tegas." Peringat Altha pelan pada Danu.
"Ahh gue gak mau, Tha." Danu tetap kekeuh menolak.
"Ya terserah elo sih. Kalau elo mau berdiri terus sampai tempat tujuan ya silahkan. Tapi kalau lo mikirin nasib kaki lo ya silahkan duduk, Aqila juga gak makan orang kok." Altha langsung mengalihkan pandangannya dari Danu, dia malas bertengkar dengan Danu.
"Arghh!! terpaksa banget gue duduk di samping cewek jadi-jadian kek elo! karena gue masih mikirin nasib kaki gue nih," gumam Danu pelan sambil duduk di samping Aqila.
Aqila tertawa miris. "Ck, lo kira gue mau duduk samping-sampingan sama elo?" tanya Aqila.
"Enggak! gak mau sama sekali! sana lo pergi! kalau lo pergi gue lebih aman dan nyaman!" usir Aqila geram.
"Bukan bus nenek moyang lo ini. Ya suka-suka gue lah mau di mana," balas Danu kalah malu.
"SERAH LO!!" Aqila langsung mengambil headset dan memakainya di telinga. Dia mendengar musik dengan suara kencang agar tak terganggu oleh Danu.
Altha berdiri. "Ekhemm ... perhatian semuanya."
Semua orang langsung berhenti pada kegiatan mereka, mereka diam dan mendengarkan suara Altha.
"Sebelum kita berangkat, ada baiknya kita berdoa untuk keselamatan kita semua. Berdoa dimulai," Altha memimpin doa.
"Berdoa selesai." Semua orang telah mengaminkan doa mereka masing-masing.
"Sekali lagi mohon kerjasamanya, tolong jangan buat keributan apa pun sepanjang perjalanan ini. Atas perhatiannya, terimakasih." Altha menyudahi, lalu dia kembali duduk.
"Uda?" tanya Seza.
"Kenapa, sayang?" tanya Altha bingung.
"Gak apa-apa sih, cuma nanya aja," jawab Seza absurd.
Semua peserta mengambil posisi nyaman mereka masing-masing. Ada yang main ponsel, ada yang tidur, ada yang cerita dengan temannya, ada yang nyanyi, ada yang dengerin musik, ada yang main gitar dan masih banyak lagi kegiatan yang mereka lakukan di dalam bus. Altha dan Seza sendiri berbincang-bincang ringan, mengembalikan masa-masa hangat hubungan mereka yang belakangan ini menghilang. Sementara Aqila dan Danu, mereka hening dan tidak saling menyapa. Aqila sedang asik mendengarkan musik menggunakan headset. Sedangkan Danu sedang asik bermain game online di ponselnya.