Aqila VS Kaysa (Revisi)

1388 Kata
"Jadi di pos satu ini misi kita apaan?" tanya Aqila tak sabar. "Iya, buruan jelasin, kita mau cari Seza, teman kita lagi hilang ini," desak Mila pada panitia pos satu. "Apaan sih, kalian norak banget. Seza uda besar, dia juga tau jalan pulang. Sekarang tuh kita lagi penjelajahan, fokus biar kelompok kita menang. Ini kita uda jadi peserta yang sampai duluan di pos satu. Jadi kemungkinan besar kalau kita jalankan misi dengan cepat kita bakalan bisa menang. Gak usah mikirin Seza dulu, pikirin kemenangan kelompok kita." Kaysa langsung menyela, dia tak suka jika kelompoknya mementingkan Seza. Aqila langsung menatap jijik ke arah Kaysa. "Lah anjir, lo teman kek apa sih? masa teman hilang malah santai, dengan alasan kemenangan kelompok. Emangnya kalau kita menang penjelajahan ini kita dapat apa? kalau hadiahnya umroh buat satu keluarga ya gue usahain menang. Lahh ini hadiah juga gak tau apa, palingan juga piala, malah ngebetnya nauzubillah. Mengesampingkan urusan teman hanya karena juara yang tak seberapa, gak waras ya lo." Aqila langsung membantah ucapan Kaysa. "Apa uda selesai bertengkarnya?" tanya Doni, salah satu panitia pos satu. Kaysa yang ingin membalas ucapan Aqila langsung diam dan menutup mulut. "Di sini kami yang ditugaskan untuk menjaga pos satu dan memberikan misi untuk kalian. Apa kalian bisa menghargai kami di sini? kalian sudah besar dan bukan anak-anak lagi, kenapa kalian tidak bisa menjaga attitude kalian? apa pantas ribut di depan kami? kalian itu satu kelompok, bukannya kompak malah bertengkar. Seperti anak-anak yang rebutan mainan." Doni langsung memarahi kelompok Aqila. Aqila berdecih, karena Kaysa dia jadi terpancing emosi. "Maaf, kak," Bima langsung meminta maaf pada Doni yang notabenenya memang kakak tingkat mereka. "Kalau begitu tolong berbaris dengan rapih, saya akan memberikan misi pada kalian," perintah Doni pada kelompok Aqila. Dengan cepat Bima langsung membariskan anggotanya. Setelah semuanya sudah berbaris rapi, Doni langsung memberikan misi pada mereka. "Berhubung kalian ingin cepat karena ingin mencari teman kalian yang menghilang, langsung saja saya kasih tau misi di pos satu ini. Di pos satu, misinya tidak terlalu sulit. Kalian hanya diperintahkan untuk mencari 20 nama tumbuhan yang tumbuh di hutan ini. Kalian bawa ke sini sampelnya berupa daun atau ranting, tapi yang paling penting itu daunnya," jelas Doni pada kelompok Aqila. "Misi ini bertujuan untuk menambah wawasan kalian terhadap tumbuh-tumbuhan yang hidup di dalam hutan, menumbuhkan rasa peduli terhadap pelestarian hutan juga. Jadi, tak perlu berlama-lama, kalian bisa mencari 20 sampel tumbuhan yang tumbuh di hutan ini. Dan lebih bagus lagi jika kalian tau apa fungsi, dan manfaat dari tumbuhan itu," lanjut Doni kemudian. "Silahkan cari mulai dari sekarang, jika sudah ketemu kalian bisa kembali ke sini dan bawa sampelnya ke sini." Perintah Doni pada kelompok Aqila. "Siap, makasih, kak." Bima dan teman-temannya mengucapkan terimakasih pada Doni dan teman-teman Doni. Lalu mereka langsung pergi untuk menyelesaikan misi tersebut. Kelompok Bima dan Aqila masuk ke dalam hutan, mereka mengambil sampel daun dari pohon-pohon yang tumbuh liar di dalam hutan. "Guys, mana gue tau ini pohon namanya pohon apaan, gue juga kaga tau ini pohon manfaatnya apaan. Gila aja disuruh beginian, kita tuh mahasiswa fakultas ilmu pendidikan, lah ngapain disuruh beginian sih?" Putri menggerutu kesal. "Uda deh jangan banyak ngeluh, kan ada Mila mantan anak coconut, tanya aja ke dia. Kalau beginian mah Mila uda handal. Iyakan, Mil?" tanya Aqila pada Mila. "Ya-ya gak juga kali," jawab Mila terbata-bata. "Ya kalian bantu juga lah kampret, gue juga gak tau semuanya," lanjut Mila kemudian. Dia masih sibuk mengambil daun-daun dari beberapa pohon yang berbeda. "Pokoknya kita harus gercep guys, kita harus cepat lewat dari pos satu biar pas jalan ke pos dua kita bisa sekalian cari Seza," ucap Aqila pada teman-temannya. "Lo gak tau apa kalau kita sekarang ada di mana? dan kita lagi ngapain?" tanya Kaysa tiba-tiba. Semua orang diam, pandangan sedang tertuju pada sumber suara, Kaysa. "Anak 3 tahun juga tau kalau kita di hutan dan lagi menyelesaikan misi. Gak guna banget pertanyaan lo, ceog," Aqila memutar bola matanya malas. Kaysa menatap teman-temannya satu persatu. "Kalian kenapa sih?" tanya Kaysa tiba-tiba, membuat bingung teman-temannya. "Seza itu uda besar, Seza itu uda gak bayi lagi. Ya kalau dia pergi sendiri juga dia pasti pulang sendiri. Gimana sih kalian? alay banget jadi orang. Dia juga gak buta arah kali, dia kan punya otak, pasti bisa mikir jalan pulang lah." Kaysa memutar bola matanya jengah. Dia muak dengan bahasan tentang Seza. "Dasar nyusahin, bukannya bantu malah nyusahin aja. Buat semua orang cemas, padahal yang dicemaskan juga gak guna." ujar Kaysa dengan nada tak suka. "Heh!! maksud lo apa ngomong gitu, hah?" Aqila yang sejak tadi sudah menahan emosi langsung terpancing dengan ucapan Kaysa. Kaysa menaikkan sebelah alisnya. "Iya kan? bener kan? yang gue bilang gak ada yang salah kan? semuanya benar. Dia cuma buat kita khawatir, cuma buatpara teman-temannya susah." "Mulut lo mau gue tabok, hah?" Aqila melotot pada Kaysa. Bukannya takut, Kaysa malah tersenyum miring. "Kenapa sih lo segininya demi Seza? padahal juga kalau Seza sama Altha kan lo di lupain. Hahaa ... nasib banget sih lo jadi nyamuk mereka berdua." "Gue masih sabar, jangan buat gue khilaf buat nyakitin lo," Aqila kembalimemperingati Kaysa. Kaysa sendiri masih tetap dengan raut wajah remehnya. Menanggap angin lalu semua ancaman yang Aqila sampaikan. "Kalau lo khawatir ya cari aja Seza sendiri, jangan bawa-bawa kita. Kita masih mau mengerjakan hal-hal yang penting, Seza itu gak penting." Kaysa tersenyum miring. Mendengar ucapan Kaysa barusan membuat emosi Aqila memuncak. "Mulut lo ya, pelakor!!dasar pelakor!!" Aqila sudah maju beberapa langkah untuk menghajar Kaysa. Tapi dengan secepat kilat, sebelum Aqila menerkam tubuh Kaysa, Mila sudah datang dan langsung memeluk tubuh Aqila. Postur tubuh Mila yang lebih besar membuat Mila gampang untuk memisahkan Aqila dan Kaysa. "Guys, please, ini hutan loh. Jangan macam-macam kalian," tegur Mila kesal. "Iya, tau tuh si Aqila, nyolot banget. Toh kan bisa cari Seza nanti-nanti aja. Sekarang masih ada yang lebih penting dari pada Seza." Kaysa langsung menyalahkan Aqila. "Kita!! kita semua yang ada di sini yang bakalan nyari Seza, bukan lo!! lo bukan teman Seza, lo itu musuh dalam selimut, dasar pelakor!!" Aqila sudah terbawa emosi. Jika ada yang menjelekkan Seza, maka Aqila tak bisa tinggal diam. Dia merasa terpanggil untuk membela Seza. "Ck, teman-teman di sini juga gak ada yang mau cari Seza, gue mah yakin. Kalau bukan karena lo yang ngotot nyuruh mereka nyari Seza, mereka juga gak bakalan mau cari Seza. Ck, Seza gak sepenting itu kali." Kaysa tertawa sinis. Aqila terkejut, dia tak menyangka kalau Kaysa akan bicara seperti itu. Bukan hanya Aqila, tapi teman-teman Aqila lainnya juga sama terkejutnya. Aqila menatap tajam ke arah Kaysa. "Berani ya lo ngomong gitu. Mau gue jambak-jambak mulut lo itu?" tanya Aqila geram. Emosinya kembali terpancing. "Apa sih? kenapa lo jadi marah sama gue? seharusnya gue yang marah sama lo. Lo gak jelas banget jadi orang. Heboh banget cari-cari si Seza. Lo pikir di dunia ini semuanya tentang Seza apa? enggak kali. Kita sekarang ada di hutan, lagi menjelajah. Ya harusnya lo fokus ke sini lah. Bukan ke Seza. Mau Seza jungkir balik juga itu kan salah dia, ngapain juga dia make ngilang, buat orang susah aja, caper!" Kaysa mulai geram dan menyampaikan semua unek-uneknya. Aqila yang sejak tadi sudah menahan emosi dan dipisahkan oleh Mila, langsung berjalan cepat mendekati Kaysa. "Maksud lo apa, hah? ini semua juga karena lo." Aqila menunjuk tepat di depan wajah Kaysa. "Kalau lo gak buat Seza terluka tadi pagi, gak buat Seza sama Altha juga bertengkar, gak bakalan Seza ngilang. Dia juga pasti ada di sini sama kita. Pasti Seza lagi mikir, kenapa dia punya teman sebangsat lo! Dan asal lo tau, yang kita butuhkan itu Seza, kita gak butuh lo!!" Aqila menunjuk tempat di depan wajah Kaysa dengan matanya yang melotot lebar. "Ngapain lo nunjuk-nunjuk gue? turunin tangan lo itu!" Kaysa tak terima, dia menentang Aqila. Menghempaskan tangan Aqila dari hadapannya. Aqila tertawa sinis. "Ini baru gue tunjuk di depan muka lo ya, hati-hati lo kalau ngomong. Bisa-bisa sebentar lagi bakalan gue cucukin ke mata lo itu!!" Aqila melotot tajam, dia langsung mengancam Kaysa dengan kejam. Dia juga mengarahkan kedua jarinya pada mata Kaysa. Kaysa sedikit tersentak, sepertinya dia sedikit takut dengan ancaman Aqila barusan. Tak ingin ada keributan lagi, Aqila yang emosi langsung ditarik mundur oleh Putri dan Mila, mereka tak ingin kalau teman mereka bertengkar di tengah-tengah hutan. Bukannya menyelesaikan masalah, yang ada mereka malah menambah masalah nantinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN