Seza Hilang (Revisi)

1058 Kata
Altha berjalan kembali ke area tenda, dengan pikiran kacau dan mood yang buruk. Yang ada di otaknya saat ini hanyalah Seza. Keberadaan Seza saat ini benar-benar mengganggu pikirannya. "Seza di mana sih? di situ keterangannya sakit dan sedang ada di dalam tenda PMI, kenapa dia malah ngilang? repot banget sih. Petakilan banget jadi orang, kalau sakit itu harusnya diam aja gak usah lasak. Kalau begini kan jadi buat heboh semua orang. Malah gue lagi repot lagi. Banyak yang harus gue urusin, kerjaan gue juga banyak, bukan cuma Seza doang yang jadi kerjaan gue." Altha menggerutu kesal sepanjang jalan. Kesal dan khawatir bercampur aduk jadi satu "Seza benar-benar berubah belakangan ini, Seza yang dulu gak seperti Seza yang sekarang. Seza yang sekarang banyak ambekannya, tingkahnya suka yang aneh-aneh, selalu buat gue susah." Altha menghela nafasnya kasar. Altha berpikir bahwasannya Seza yang berubah, tapi Seza berpikir bahwasannya Altha yang sudah berubah. Bukannya introspeksi diri, malah saling menyalahkan satu sama lain. Begitulah keadaan Seza dan Altha saat ini. Sekitar setengah jam Altha sampai ke area tenda, dia berjalan bahkan berlari supaya cepat sampai di area camping. Sesampainya di area camping, dia langsung berjalan menuju tenda PMI. Altha berjalan masuk ke dalam tenda PMI. "Altha, ada apa? kamu sakit?" tanya dokter saat Altha tiba-tiba menyelonong masuk ke dalam tenda PMI. "Di sini ada Seza, dok? tadi saya liat dia ada jalan ke arah sini. Kata teman-temannya juga dia ada di sini, dan saya cek keterangan absen dia juga ada di sini." Altha langsung bertanya pada dokter itu. Dokter itu mengerutkan dahinya bingung. "Seza? Seza yang mana ya?" tanya dokter itu pada Altha. Altha langsung mengambil ponselnya dalam saku dan menunjukkan poto Seza pada dokter itu. "Ini, dok," ucap Altha seraya menunjukkan poto Seza. "Ooh iya-iya ada. Tadi dia emang ke sini. Tangannya kena pisau. Lukanya benar-benar dalam, sampai-sampai darahnya gak bisa berhenti. Dia juga kehilangan banyak darah. Kalau obatnya gak dimakan, dia bisa lemas, pusing dan pingsan," jelas dokter itu pada Altha. "Terus orangnya sekarang di mana, dok?" tanya Altha lagi. "Tadi langsung pergi sih. Setelah dia bercerita bahwa tangannya luka karena temannya, setelah saya obati, dia langsung pergi dari sini," jawab dokter itu. Altha mengerutkan dahinya bingung. "Luka karena temannya? siapa yang buat Seza luka?" tanya Altha dalam hati. "Oke deh kalau gitu, makasih atas infonya ya, dok. Saya pamit dulu," Altha tersenyum, lalu dia langsung berjalan keluar dari tenda PMI. Tujuannya sekarang adalah tenda Seza. Altha langsung berjalan menuju tenda Seza, siapa tau Seza ada di sana. Sesampai di tenda kelompok Seza, Altha langsung menghampiri teman-teman Seza. "Seza ada di tenda?" tanya Altha pada teman Seza yang tinggal di tenda. "Seza? enggak ada. Tadi semenjak dia ke tenda PMI, dia gak balik-balik lagi ke sini," jawab salah satu teman sekelompok Seza. "Lo yakin?" tanya Altha masih ragu. "Yakin lah, nih liat, tenda kosong kali," teman Seza itu langsung menyingkap pintu tenda dan memperlihatkan isinya yang kosong pada Altha. Altha menghela nafasnya berat. "Duhh Seza di mana sih? kok gak ada di mana-mana? dia ngilang ke mana sih? kalau ada apa-apa gimana?" Altha bertanya dalam hati. Rasa khawatir itu mulai menjulur di dirinya. Dia takut kalau Seza kenapa-kenapa. "Memangnya Seza gak ada di tenda PMI?" tanya teman Seza. "Enggak ada, gue uda cek di tenda PMI, tapi dia gak ada di sana. Kata dokternya dia uda pergi dari tenda setelah lukanya diobati," jelas Altha. "Lahh terus dia ke mana?" "Ya mana gue tau, kalau gue tau ya gak bakalan gue tanya ke kalian," balas Altha kesal. "Itu si Seza lagi kesel pasti sama si Kaysa karena uda sengaja buat dia kena pisau, mungkin karena mau menenangkan diri dia pergi ke tempat yang nyaman dan menurut dia bisa bikin dia tenang," celetuk salah satu teman Seza. Altha mengerutkan dahinya. "Apa? Kaysa? Kaysa yang uda buat Seza kena pisau?" tanya Altha penasaran. "Iya, tadi si Seza motongin wortel buat masak sarapan, terus dengan sengaja si Kaysa nendang si Seza sampai-sampai potongannya meleset dan malah motong jari sendiri," jelas teman sekelompok Seza itu. "Mungkin Kaysa gak sengaja kali. Masa iya dia sengaja, gak mungkin lah." Altha mencoba berpikiran positif. "Apaan gak sengaja, gue juga liat kok si Kaysa sengaja nendang si Seza. Alhasil Seza jadi ke UKS, dia juga gak sempat sarapan. Karena ulah Kaysa itu. Gue juga gak ngerti kenapa belakangan ini Kaysa kayak gak suka gitu sama Seza, gak tau masalah mereka tuh apa." Altha menghela nafasnya kasar, mendengar cerita dari teman-teman Seza membuat Altha merasa bersalah. Altha sarapan pagi dengan hati senang, tapi Seza sendiri bahkan tidak sarapan sama sekali. "Uda sana lo cari si Seza, takutnya dia nyasar ke hutan lagi. Lo tau sendiri lah Seza orangnya nekat, bisa-bisa dia masuk ke dalam hutan yang pedalaman, nyasar lagi. Duh gak kebayang kalau digigit ular." Teman Seza mengusir Altha untuk segera mencari Seza. "Yaudah deh gue mau cari Seza dulu. Tapi kalian di sini kalau nanti liat Seza langsung kabarin gue ya." Altha berpesan pada teman-teman Seza. "Iya di sini ada sinyal sih walaupun lemot, tapi kalau ngabarin lo yang di dalam hutan ya gak bisa lah. Gue mah yakin di dalam hutan gak ada sinyal," balas salah satu teman Seza. "Ya pokoknya lo harus berusaha ngehubungin gue lah. Lo harus berusaha ngasih kabar ke gue kalau Seza uda balik ke tenda." Altha memaksa. "Iya-iya, entar gue kabarin. Uda cari sana Seza, gak ada Seza gak seru, gak ada yang cerewet lagi, gak ada pasangan Romeo dan Juliet yang buat kita baper. Uda sana gih bawa pulang calon binik lo," Altha tertawa kecil, Seza memang sangat berpengaruh terhadap teman-temannya. Teman-teman Seza sangat suka berteman dengan Seza yang cerewet, lucu dan periang. Meski terkadang mereka suka adu mulut dengan Seza, tapi mereka akan merasa kehilangan bila Seza tidak ada. "Yaudah ya, gue jalan cari Seza dulu." Altha pamit pada teman-teman Seza yang tinggal di tenda. "Iya, hati-hati, jangan sampai lo ikut-ikutan ilang. Kalau lo ikut hilang karena cari Seza, berarti lo oonnya gak ketulungan. Jangan nambah-nambahin masalah. Pokoknya lo jangan sampe nyasar dah. Kalau lo yang nyasar, bahaya, bisa jadi ancur nih acara tanpa ketua," seloroh teman Seza pada Altha. Altha terkekeh geli. "Iya kali gue nyasar, uda hapal gue sama hutan ini. Doain aja dah Seza cepat ketemu," balas Altha. "Gue jalan, guys, jangan lupa doanya." Altha langsung berjalan pergi meninggalkan area tenda, dia ingin pergi ke hutan untuk mencari Seza.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN