Altha berjalan ke pos pertama dengan berbagai macam roti yang ia bawa dalam keranjang besar. Dia menghela nafasnya lega saat kakinya menginjak di depan pos pertama.
"Huftt ... akhirnya sampe juga gue. Dari sekian lama gue jalan dengan beban sebanyak ini, pada akhirnya gue sampai ke tujuan dengan mulus." Altha tersenyum cerah, seolah-olah beban yang dipikulnya berkurang.
Altha berjalan ke dalam pos, teman-teman panitia penjaga pos langsung menyambut Altha dengan raut wajah terkejut.
"Lahh ngapain pak ketu di sini?" tanya salah satu penjaga pos.
"Mau anter roti ini gue, nihh gue titipin ke sini ya semua rotinya. Sorry gue kasih kalian tugas tambahan. Gak apa-apa lah ya. Tugas tambahannya juga gak berat kok." Altha langsung masuk ke dalam pos dan meletakkan semua roti-roti itu di sana.
"Ini buat apaan? ngapain di bawa ke sini? bukannya ini buat acara penanaman pohon nanti ya?" tanya salah satu panitia.
"Awalnya sih iya, tapi gue cansel dan gue ubah. Berhubung jalur kita menjelajah sangat jauh, jadi alangkah baiknya bila roti ini diberikan pada para peserta. Pasti mereka juga butuh tenaga dan energi tambahan karena capek. Kalau buat penanam pohon gue rasa gak terlalu capek-capek banget deh. Rotinya lebih cocok dibagi-bagikan buat penjelajahan ini aja," jelas Altha pada teman-temannya.
Teman-teman panitia Altha langsung mengangguk mengerti.
"Jadi gimana nih? uda ada yang lewat dari pos ini belum" tanya Altha pada teman-temannya yang menjaga pos satu
"Belum," jawab mereka singkat
Altha mengerutkan dahinya. "Lah kenapa belum? kok mereka lama banget jalannya, gue aja yang jalan belakang bisa nyampe duluan. Gimana sih?" tanya Altha bingung.
"Ya mereka kan jalan dari arah lain, mereka ngikutin petunjuk yang kita buat, jalannya lebih jauh. Muter-muter, biar mereka bisa mengekspor alam kan, biar mereka bisa tau suasana di dalam hutan gimana. Kalau lo bisa cepat sampe sini kan karena lo tau jalan potongannya, jalan yang kita gunakan untuk para panitia biar cepat sampai. Coba lo dari jalan para peserta, gue yakin dua jam lagi juga belum tentu lo sampe," jelas salah satu panitia pada Altha.
"Astaga!" Altha menepuk dahinya pelan.
"Iya ya, gue lupa. Bisa-bisanya gue lupa," sambung Altha kemudian.
"Yaudah deh, ini gue ada roti dari sponsor. Seperti yang gue jelasin di awal tadi, ini roti yang bakalan kita bagikan saat acara tanam pohon nanti. Tapi gue berpikir kalau ini lebih pas dibagikan saat jelajah aja deh. Pasti mereka capek dan kelaparan kan. Panitia yang tugas untuk bagiin bekal P3K juga uda setuju. Jadi gue harap kalian bisa bagiin ini ke para peserta ya. Sorry banget uda nambahin kerjaan kalian," Altha meminta maaf pada teman-teman panitianya.
"Apaan sih, gitu aja minta maaf. Emang uda tugas kita kali," balas salah satu panitia.
"Nihh rotinya, banyak banget. Kalian bagi-bagikan di setiap kelompok ya. Jangan sampai ada yang gak kedapatan," pesan Altha pada panitia penjaga pos satu.
"Terus kalau gak cukup gimana?" tanya salah satu panitia.
"Ya harus dicukup-cukupkan lah. Bisa disiasati satu kelompok dikurangi jatahnya. Tujuan menjelajah ini kan juga menumbuhkan rasa kekeluargaan dan berbagi. Mereka harus punya rasa kekeluargaan untuk berbagi, baik dari segi suka maupun duka. Meski sedikit juga harus dimakan sama-sama. Satu makan semua makan, satu gak makan semua juga gak makan," jelas Altha pada para panitia
"Yaudah, entar gue sampaikan sama mereka. Gue usahain semuanya bakalan dapat," balas salah satu panitia itu.
"Yaudah, gue mau balik dulu ya. Mau ngerjain kerjaan gue yang masih menumpuk." Altha pamit pada para panitia pos satu.
"Oke, hati-hati di jalan, awas diculik tarzan," balas salah satu panitia.
Altha terkekeh kecil, lalu dia langsung berjalan ke arah pulang.
"Altha!!"
Baru saja Altha ingin pergi dari pos satu, tapi langkah Altha harus berhenti karena namanya dipanggil oleh seseorang.
Altha menoleh ke arah sumber suara, dia menaikkan sebelah alisnya saat mengetahui bahwa yang memanggilnya adalah Aqila. Aqila datang dengan teman satu kelompoknya.
Aqila langsung berlari menuju Altha.
"Mana Seza?" tanya Aqila to the point.
Altha mengerutkan dahinya. "Seza? mana gue tau. Kan lo temannya. Masa lo gak tau. Kok nanya sama gue sih?"
"Ya lo pacarnya, masa lo gak tau cewek lo di mana! gimana sih lo? emang dasar pacar gak punya otak ya lo!" Aqila langsung emosi dan memaki Altha.
Altha berusaha menahan emosinya supaya tak terpancing oleh Aqila.
"Tadi gue liat diketerangan absen, dia lagi ada di tenda PMI," jelas Altha cepat.
"Ya kalau iya!! kalau enggak gimana?! lo kan tau dia lasak, apa lagi kalau lagi bad mood, dia pasti pengennya cari ketenangan aja. Kalau dia gak ada di tenda PMI gimana? kalau dia masuk ke hutan gimana? kalau dia celaka gimana? kalau dia kenapa-kenapa gimana?! lo mau tanggung jawab hah?!" Aqila menghujani Altha dengan banyak pertanyaan.
Altha diam, dia tak ingin melawani Aqila.
"Dasar gak punya otak ya lo!! jadi cowok gak ada otaknya banget!! lo yang ajak Seza ke sini, lo yang maksa Seza ke sini! ya harusnya lo tanggung jawab lah!! jangan mentingin diri lo dan pekerjaan lo aja!! kalau sekiranya lo gak sanggup jagain Seza, gak usah lo paksa-paksa dia datang ke acar ini! dasar anjingg!!" Aqila memaki-maki Altha dengan emosi yang berapi-api. Dia benar-benar sudah kehilangan kendali, apa lagi mendengar jawaban santai Altha, membuat darah tingginya semakin naik.
Altha sendiri diam, dia sedang berkutat dengan pikirannya. Makian Aqila barusan membuat Altha berpikir bahwa yang Aqila katakan benar. Altha yang membawa Seza ke sini, Altha yang memaksa Seza ikut acara ini. Tapi Altha juga yang tidak peduli dengan keadaan Seza, lebih mementingkan pekerjaannya dan melupakan Seza begitu saja.
"Mati aja lo sana!! mati dimakan buaya! percuma lo idup gak ada gunanya!! bukannya buat Seza bahagia, malah buat Seza menderita. Tau bokap nyokapnya Seza lo kayak begini, diblacklist lo langsung dari list calon mantu!" Aqila menunjuk-nunjuk Altha tepat di depan wajah Altha.
"Masih juga jadi Presma uda bangga dan sok sibuk, sampai-sampai ngelupain Seza. Ingat woy!! banyak yang antri buat jadi cowok Seza! lo baru Presma jangan belagu, yang Presdir banyak ngantri buat jadi calon suami Seza!! ngaca lo! sadar diri!! dasar buluk!! sok oke lo!" Aqila memaki Altha habis-habisan. Lalu setelah itu dia langsung pergi meninggalkan Altha dan kembali pada teman sekelompoknya. Dia tak takut dan tak peduli jika Altha marah. Kalau Altha menyerangnya, Aqila mampu melawan. Keberanian Aqila memang membuat semua orang tercengang.
Altha diam, saat ini dia merasa seperti menjadi orang bodoh yang tak tau diri.
"Arghhh!!! dasar bodoh!!" maki Altha pada dirinya sendiri. Dia langsung berlari pergi dari tempat itu. Altha akan mencari Seza segera.