Gak Ada Sinyal (Revisi)

1023 Kata
Jika Seza merasa sendiri, begitu juga dengan Aqila. Seza dan Aqila adalah paket lengkap.Jika salah satunya terpisah, apa lagi sampai tak tau kabar satu sama lain, maka rasanya akan hampa, serasa seperti ada yang hilang. Aqila menyapu wajahnya gusar. Sejak tadi pikirannya tak tenang karena tak ada Seza. Seza benar-benar membawa pengaruh besar untuknya. "Bim," Aqila memanggil Bima. "Heeem ... apaan?" tanya Bima datar. "Si Seza ke mana ya, Bim? apa dia benar-benar ada di tenda PMI? khawatir gue sama dia, Bim." Aqila bertanya pada Bima. Bima menaikkan sebelah alisnya bingung. "Lah kenapa lo tanya ke gue? dia kan lengketannya lo, ke mana dia pergi, lo pasti ada. Kenapa lo tanya gue? lagi pula kan lo juga yang jawab kalau Seza ada di tenda PMI," Bima mengedikkan bahunya bingung. Aqila menghela nafasnya kasar. "Ya gue emang liat dia ke tenda PMI, dan kita semua juga sama-sama liat. Nah, masalahnya dia belum juga balik ke tenda kita. Apa dia istirahat di tenda PMI? atau dia malah pergi entah ke mana. Gue paham banget lah gimana si Seza kalau lagi emosi, dia pasti bakalan cari ketenangan. Gue takut kalau dia lagi gak ada di area camping, sumpah takut gue. Apa lagi Seza tuh orangnya nekat," Aqila menautkan jari-jarinya, rasa cemas itu terus menjalari hatinya. "Gila! lo kok buat kita khawatir sih, Qil? kita juga ikut takut ini. Takut kalau Seza hilang beneran," sambung Mila ikut-ikutan. "Iya, lo buat gue jadi jantungan aja. Gue juga takut kalau Seza di makan binatang buas, secara ini hutan ya. Gak ada harimau tapi kan banyak ular," timpal Putri kemudian. "Heh! kalian kok malah nambah-nambahin sih? bikin semua orang jadi panik aja. Uda lah positif thinking aja, kita harus berpikiran kalau Seza itu lagi baik-baik aja. Biar semuanya juga baik-baik aja. Jangan mikir yang buruk-buruk, entar malah terjadi lagi," Syakir menegur teman-temannya yang sedang menduga-duga berita buruk tentang Seza. "Uda coba telepon si Altha, suruh dia buat cek Seza ada gak di tenda PMI," Bima memberikan usul pada Aqila. "Tapi si Altha sibuk, gue yakin sih dia gak bakalan angkat telepon," "Angkat, dia pasti angkat telepon, lagi pula para panitia juga komunikasi make hp dan HT, uda buruan telepon," desak Bima pada Aqila. "Yaudah deh, bentar gue coba." Aqila langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Lalu kemudian dia langsung mencari nomor Altha dan langsung meneleponnya. "Ahh anjirr, malah langsung gagal lagi karena gak ada jaringan. Liat nih, kosong, jaringannya benar-benar gak ada." Aqila menunjukkan jaringan ponselnya yang silang. "Astaga! gak ada jaringan emang di hutan, ya benar juga. Mana ada sinyal di sini, lupa gue." Bima menepuk jidatnya. "Iya, gue juga lupa kalau kita lagi ada di hutan. Pantas aja banyak suara binatang," timpal Putri. "Yaudah deh, kalau gitu doa aja kalau Seza ada di tenda, doa aja kalau Seza gak kenapa-kenapa. Jaringan emang gak bersahabat, kalau gak ada sinyal kita bisa apa coba? gak bisa berbuat apa-apa. Mana mungkin kan kita balik ke tenda, gila aja. Jauh banget perjalanannya, bisa-bisa tepar di jalan gue." Mila menghela nafasnya lelah. "Iya, bener kata Mila, gue juga gak akan sanggup lah kalau jalan balik lagi ke tenda. Ini aja uda mau mampus gue," timpal Putri setuju. "Yaudah deh guys, pasrah aja. Serahkan semuanya pada Sang Maha Kuasa, berdoa yang banyak supaya Seza dan kita semua diberi keselamatan dunia akhirat." Semua orang langsung menatap ke arah Bima, seolah-olah tak percaya apa yang barusan Bima katakan. "Tumben lo waras, Bim. Gak lagi buang tabiat kan lo?" tanya Syakir blak-blakan. "Anjir!! mulut lo mau gue ulek make sepatu, hah?!" Bima langsung melotot ke arah Syakir.. "Ceilehh sensi bener bang, uda kayak cewek pms aja lo," ledek Syakir pada Bima "Gak ada sinyal emang bikin susah," ujar Aqila kesal. "Tapi gak ada otak makin gawat, sama kayak kalian berdua, gak ada otak atau gam ada logika? suasana gini malah debat gak guna, muak gue dengernya." Sambung Aqila ketus. Semua orang yang ada di situ langsung menelan ludah. Kata-kata Aqila barusan benar-benar menusuk sampai ke tulang rusuk. "Mampus, kena skakmat sama akak Aqila si pelatih karate. Macam-macam dah lo pade, biar habis kena gasak akak Aqila." Mila tertawa meledek, menertawakan para teman-temannya yang bernasib buruk kena makian Aqila. "Lo juga, Mil. Lo mau gue jambak-jambak, hah? jangan jadi kompor. Gue lagi emosi nih, jangan nambah-nambahin emosi gue naik. Kalau gue ngamuk, bahaya lo pada." Aqila memperingati teman-temannya. "Upsss hati-hati guys, ada macan kelaparan mau ngamuk, uhhhh takut ahhh ... idihh ngerih banget, sampe merinding bulu kuduk gue, brrrr ...." Kaysa melipat kedua tangannya di d**a, memasang wajah paniknya. Seolah-olah sedang berhadapan dengan musibah. Aqila melirik Kaysa tak suka, seolah-olah mentransfer kebenciannya hanya dengan tatapan saja. "Mulut lo licin juga ya, kotor juga iya. Uda kayak comberan penuh lumpur, menjijikan!" Aqila tersenyum miring di akhir kalimatnya. Kaysa yang tak terima pun langsung menatap nyalang ke arah Aqila. "Sok cantik ya lo! orang-orang juga tau kalau cantikan gue ke mana-mana dibandingin sama lo. Dasar cewek jadi-jadian," balas Kaysa sarkas tak mau kalah. Aqila mengepalkan kedua tangannya, menahan emosinya terhadap Kaysa. "Uda, Qil, uda. Jangan kepancing sama si Kaysa, nanti hutannya jadi amburadul kalau kalian ribut di sini, bisa-bisa pohon-pohon di sini tumbang lo tendangin." Mila berbisik pada Aqila, dia mengelus pundak Aqila untuk menenangkan Aqila. "Tuh bocah tengil banget, gak tau dah gue apa masalahnya dia sama gue dan Seza. Tiap berhubungan sama gue dan Seza, pasti dianya nyolot, gak suka gitu. Apa sih namanya, sirik kali ya? sirik tanda tak mampu kan, iya nih bocah satu yang siriknya naudzubillah sama gue dan Seza." Aqila menaikkan ujung bibirnya sinis. "Idihh ngapain juga gue sirik sama lo, mendingan gue ke mana-mana kali. Lo mah gak ada apa-apanya sama gue, masih di bawah gue jauh." Kaysa tak terima jika dirinya dikatakan sirik oleh Seza dan Aqila. "Apa? apa katanya, guys? gak denger gue, macet-macet gitu, sinyalnya jelek banget di sini." Aqila meletakkan tangannya di telinga, seolah-olah berusaha mendengar ucapan Kaysa yang ia bilang terputus-putus. Mila dan Putri diam menunduk, mereka tunduk karena menahan tawa mereka supaya tidak lepas. "Astaga, nahan tawa gue ini. Sumpah, kalian jadi pelawak aja deh berdua, uda cocok gitu mah." Bima bicara dengan suara tersendat-sendat menahan tawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN