Seza masih berada di posisi yang sama. Duduk di bebatuan yang besar membuat dirinya terasa nyaman. Apa lagi kaki yang dimasukkan ke dalam sungai membuatnya semakin merasa segar.
Seza menghirup udara yang segar itu dengan senyum mengembang.
"Di sini rasanya benar-benar segar, gue suka. Andai gue punya rumah di pinggir sungai ini, gue yakin kalau hidup gue bakalan bahagia. Apa lagi kalau gue jauh dari hiruk-pikuk dunia, dan hidup berdua bersama Fandra, ahh semakin nikmat rasanya." Seza tersenyum lebar, membayangkannya saja dia sudah bahagia, apa lagi jika itu benar-benar terjadi. Mungkin Seza akan menjadi orang yang paling bahagia di muka bumi ini.
"Ahh tapi ngapain gue make ngomongin si Fandra sih? dia kan uda berubah, uda jahat sama gue, uda gak peduli sama gue. Buktinya uda lama banget gue pergi dari area tenda, tapi dia gak nyariin gue sama sekali. Bahkan gue yakin kalau di sana tuh pasti uda diabsen, masa dia liat keterangan gue yang gak hadir bisa ngerasa b aja sih. Gak ada rasa khawatir-khawtirnya. Parah banget dah, masa gak nyariin gue sama sekali. Apa mungkin dia uda gak sayang lagi sama gue?" Ara bertanya pada dirinya sendiri, dia hanya bisa menduga-duga. Saat mengingat Altha ada rasa sedih dan miris yang terbesit.
"Yang gue kenal dulu, Fandra itu benar-benar sayang sama gue. Semenit aja gue ngilang tanpa kabar, Fandra uda kalang kabut nyariin gue. Tapi sekarang, kenapa dia merasa bodo amat sih sama gue? gue benar-benar gak ngerti lagi deh. Fandra pelan-pelan berubah semenjak dia jadi Presma. Tau gitu gue gak usah izinin dia jadi Presma, dia banyak berubah, bahkan berubah total semenjak menjabat sebagai Presma plus sebagai ketua di acara ini. Dia gak pernah lagi mentingin gue, yang ada di kepalanya cuma rapat, pertemuan, begini begitu, acara ini acara itu, bla blabla blabla blabla ... ah bosen gue dengarnya. Benar-benar buat gue muak." Seza kesal, memikirkan Altha hanya membuat emosinya kembali datang. Rasa tak rela diduakan oleh pekerjaan Altha memang masih pekat Seza rasakan.
"Kali ini dia benar-benar kelewatan sih menurut gue. Sejak pagi gue gak ada di tenda, dan ini udah lama banget gue ngilang. Eh bahkan dia gak ada nyariin gue sama sekali. Mungkin dia lagi sibuk sama acaranya, ngurusin panitia-panitia dia yang hebat itu, ngurusin acara-acara yang dirancang dengan matang-matang dan sangat keren. Yahh gue ini apa lah, gue ini kan cuma remahan rengginang dalam kaleng biskuit konghuan. Ahh nyesek," Seza memajukan bibirnya beberapa centimeter. Tangannya memegangi d**a dramatis. Dengan seketika dan tiba-tiba moodnya anjlok saat mengingat Altha.
"Uda lah Seza, lo gak usah berharap sama Fandra lagi. Fandra itu uda berubah. Fandra yang sekarang uda gak seperti Fandra yang dulu. Perlahan-lahan Fandra ngelupain lo, perlahan-lahan Fandra bakalan gantiin posisi nomor satu yang diberinya ke lo jadi posisi terbelakang, dia bakalan menomorsatukan jabatannya, caranya, anggotanya, rapatnya, kegiatannya. So, jangan berharap banyak, Seza. Berharap yang tidak pasti itu menyakitkan. Mohon dipantau dan dibatasi rasa berharap pada yang tidak pasti." Seza tersenyum miris, dia berusaha menasehati dirinya sendiri. Berusaha tegar walau sebenarnya hatinya sakit menerima kenyataan.
"Ayo lah, turunkan pangeran untuk nemenin gue yang lagi galau. Bawa gue dalam hubungan yang penuh kepastian, gue gak mau diambang-ambang. Gue gak mau digantungi." Seza menatap ke air jernih yang ada di depan matanya.
"Cuss, prince mermaid, datang lah. Gue uda siap kok kalau diajak ke pelaminan. Dari pada gue makan ati diduain sama jabatan. Kuyy ajak gue nikah," Seza bicara seolah-olah ada seseorang di hadapannya.
"Gue balik aja apa gimana ya?" Seza bertanya pada dirinya sendiri.
"Kalau gue balik, belum tentu gue ada temen. Pasti gue kesepian, gak ada juga kan yang nyariin gue. Semuanya santai dan gak khawatir sama gue yang ngilang. Berarti mereka tuh mau ada gue mau enggak ya tetap aja kali ya. Gue juga gak berpengaruh mungkin menurut mereka," Seza menghela nafasnya lelah, merasa dirinya tak berarti sama sekali. Merasa dirinya tak diharapkan oleh orang-orang di sekitarnya.
"Nasib lo ya, Seza, emang dasar lo itu uda paling cocok di dalam kamar aja. Di dalam kamar bersama para cemilan dan maraton nonton drakor, nonton film-film yang bagus, baca novel, ngehalu, tidur, mimpi indah. Cocoknya lo emang bersahabat sama kasur, bantal, guling dan selimut. Kalau yang begini-beginian tuh gak cocok banget buat lo. Gak cocok lo ikutan begini, uda emang paling klop dan asik ya nonton aja di kamar, jadi kaum rebahan. Kalau begini kan jadinya lo yang nyesek, jadi angin lalu di mata teman-teman lo." Seza bicara pada dirinya sendiri, seoalah-olah dirinya ada dua.
"Ahh sudah lahh. Mari cari suasana baru, jangan terlalu terpaku dengan masa lalu. Jangan terlalu berharap, sebab tak semua yang diharapkan bisa sesuai yang kita harapkan. Mari bangkit dari kehaluan." Seza berdiri, membersihkan baju dan celananya yang kotor karena duduk di atas bebatuan yang lumayan kotor.
"Oke fix, lo cuma sendiri Seza. Ayo pulang, dari pada di sini digondol setan. Balik ke tenda, telepon papa, balik secepatnya. Lo lebih cocok rebahan dengan ditemani berbagai cemilan, kalau begini mah si bolang, bukan si Seza." Seza mengoceh semakin tak terarah. Suntuk, sudah pasti. Jenuh, sepi, merasa sendiri, itu lah yang sedang Seza alami saat ini.
"Jangan mikirin Altha lagi ahh. Berharap yang gak pasti itu menyakitkan, jangan berharap kalau Altha bakalan datang ke sini buat temui lo, karena itu cuma bakalan ada di dalam mimpi lo doang, gak bakalan jadi nyata." Seza tersenyum miris.
Tak pernah sekali pun terlintas dalam pikiran Seza kalau hubungannya bersama Altha akan jadi seperti ini.
Hanya waktu yang akan menjawab bagaimana nasib hubungannya bersama Altha. Jika bertahan, Seza sangat syukur Alhamdulillah. Tapi jika tidak bertahan, Seza tetap kekeuh ingin bertahan.
"Bertahan sulit, pergi sakit. Pilihan yang rumit." Seza menghela nafasnya kasar.
Seza berjalan tak tentu arah. Pikirannya kembali kacau, tak ingin terus-menerus merasa sendiri, Seza akan kembali ke tenda secepatnya. Setelah sudah kembali ke tenda, Seza akan langsung pulang ke rumahnya. Mungkin tidur di kamarnya yang nyaman mampu menghilangkan rasa penatnya yang benar-benar membuat dirinya setres tak karuan.
"Guling gue butuh belaian. Gue harus cepat pulang," Seza bicara pada dirinya sendiri, lalu dia langsung mencari jalan keluar dari hutan ini.