Altha Sibuk (Revisi)

1017 Kata
Altha menghela nafasnya lelah. Fisiknya lelah, pikirannya lelah, hatinya juga khawatir atas ketidak hadiran Seza di absen. Sesungguhnya ingin sekali Altha langsung mengecek keadaan Seza, tapi keadaan dan posisinya saat itu memang tak memungkinkan untuk Altha melakukannya. "Gue harus siap-siapin ini kerjaan dulu, baru bisa liat Seza." Altha masih melihat ponselnya, mengecek absen dengan benar, sebisa mungkin Altha menyelesaikan kerajaannya dengan cepat. Beberapa menit Altha habiskan untuk berkutat dengan ponselnya, mengecek keamanan kehadiran para peserta dan cara kerja para panitia. Setelah mengecek absen, Altha langsung bergegas menemui para panitia yang sedang membagikan bekal untuk para peserta yang akan pergi menjelajah. "Gimana? aman dan lancar semuanya? apa ada yang kurang?" tanya Altha pada semua panitia. Baru datang saja Altha sudah langsung to the point, waktunya benar-benar berharga, dia terlalu sibuk untuk berbasa-basi. "Aman dan lancar sih, pak ketua. Tapi gue punya ide baru nih. Ya gue gak tau sih pak ketua setuju apa enggak sama ide gue. Tapi ada terbesit aja gitu di otak gue," sahut salah satu panitia. Altha menaikkan sebelah alisnya. "Ide baru? ide apa? bilang aja. Kita kan punya tugas yang sama, sama-sama bertanggung jawab atas kegiatan ini. Jangan takut untuk berpendapat, gue gak bakalan ngejudge pendapat lo gitu aja kok. Ayo jelasin ke gue, siapa tau pendapatnya cocok untuk direalisasikan." Altha tersenyum, meyakinkan bahwa mereka satu tim, semua berhak berpendapat. Panitia itu tersenyum lega. "Makasih pak ketu," ujarnya senang. "Nah jadi gini, kita kan tau ya gimana jauhnya medan yang harus mereka tempuh saat penjelajahan ini. Dan kita hanya menyediakan minum serta bekal kotak P3K untuk mereka. Logikanya nih, kalau jalan jauh-jauh pasti capek, lapar juga. Belum lagi kalau ada yang sakit atau lemas dan butuh minum obat, sementara minum obat butuh makan dulu kan. Nah gimana kalau kita kasih bekal lain untuk mereka, bekal makanan pengganjal lapar untuk mereka. Kasian juga kan mereka, tujuan kita di sini kan untuk belajar dan menumbuhkan rasa cinta dan peduli alam, bukan cari penyakit," jelas panitia itu panjang lebar. Altha mengangguk-anggukkan kepalanya, sepertinya Altha tertarik pada idenya. "Contohnya? makanan apa yang harus kita kasih ke para peserta?" tanya Altha lagi. "Nah untuk contoh nyata yang uda ada di depan mata itu kita bisa kasih bekal satu atau dua pack roti untuk mereka di masing-masing kelompok. Atau kalau cukup satu-satu satu orang. Kalau gak cukup ya bagi-bagi, sekalian menumbuhkan rasa berbagai pada para peserta," jawab panitia itu. "Nah kita kan ada banyak roti yang khusus ingin dibagi-bagikan saat selesai penanaman pohon nanti, gimana kalau di kegiatan ini aja dibagikannya. Pasti mereka lebih membutuhkan di kegiatan jelajah ini, mengingat jelajah ini memakan banyak waktu dan tenaga karena medannya yang jauh dan sedikit menantang," jelas panita itu lagi. Altha mengangguk-anggukan kepalanya setuju. "Nah kalau gitu gue setuju. Gue suka sama ide lo. Kalau gitu gue bakalan ambil stok rotinya, gue bakalan bawa ke hutan, bakalan gue taruh aja di salah satu pos, nah nanti mereka yang bakalan membagi-bagikan kepada peserta," balas Altha setuju. Para panitia mengangguk seraya tersenyum. "Oke pak Ketu, suka gue sama gaya lo." Salah satu panitia itu menepuk akrab pundak Altha. "Oke, kalau gitu gue pamit dulu ya, mau ngurusin ini dulu, mau kasih rotinya ke pos langsung. Gue lagi sibuk banget, sorry gak bisa bantu kalian di sini, aman kan kalau gue tinggal?" tanya Altha merasa tak enak hati. "Ahh santai aja kali pak Ketu, ini kan emang uda bagian tugas kita." "Yauda kalau gitu gue langsung jalan ya. Mau ambil stok roti, duluan gue ya," Altha pamit pada seluruh panitia yang ada di situ. "Hati-hati pak Ketu," balas mereka kompak. Camping peduli lingkungan ini memang punya sponsor roti. Roti itu adalah usaha roti yang sedang baru memulai bisnis, dia sengaja membagi-bagikan roti pada para peserta untuk pengenalan produknya. Supaya produknya semakin dikenal dan usahanya semakin lancar. Fakta lainnya, pengusaha roti itu juga termasuk salah satu orang tua dari mahasiswa yang ikut camping peduli lingkungan saat ini. Jadi dia tak segan-segan mengeluarkan roti banyak untuk kegiatan camping ini. Altha berjalan dengan gontai, dia langsung mengambil semua stok roti. Altha meletakkannya di dalam beberapa keranjang, lalu dia menyatukan semua keranjangnya dengan sebuah kayu dan langsung memikulnya tanpa rasa malu. Saat ini Altha memang sedang jadi pusat perhatian, tapi dirinya tak peduli. Dipikirannya saat ini adalah tanggung jawabnya sebagai seorang ketua. Altha tak ingin mengecewakan para dosen dan panitia yang sudah percaya dengannya dan memilihnya sebagai ketua acara. Dia juga tak ingin meninggalkan kesan tak asik pada para peserta, kegiatan ini harus meninggalkan kesan yang asik dan menyenangkan di mata peserta. Supaya kedepannya kegiatan ini bisa berkembang lebih besar lagi. "Ya Allah, berat juga ya ini roti. Banyak banget ternyata yang gue pikul. Astaga, uda kayak kang jualan roti gue ahh," Altha berjalan pelan, berhati-hati di jalanan yang tidak rata dan terkadang licin karena lumut yang tumbuh di atasnya. "Ayo Altha, lo harus kuat, masa laki-laki lemah sih. Aduh gawat, lo pemimpin, please jangan ngeluh." Altha menyemangati dirinya sendiri, salah satu cara agar dirinya bisa kuat. "Huhhft ... tahan, bentar lagi juga sampe kok. Kan lewat jalan pintas, jangan banyak ngeluh, santuy aja biar gak kerasa capeknya." Altha berusaha mengalihkan perhatiannya agar tak begitu merasa lelah. Walaupun saat ini badannya seakan ingin remuk. Bukan karena memikul roti beberapa keranjang, tapi karena Altha yang banyak kerja dan kurang istirahat. Sebelum acara ini dimulai, Altha juga sangat sibuk mengurus semuanya, Altha mengurus perizinan, mengurus donatur, sponsor dan keperluan lainnya, intinya Altha benar-benar sangat sibuk sejak perencanaan acara ini. Jadi tak heran jika Altha kurang istirahat, staminanya juga berkurang. "Kalau saat-saat gini, gak boleh nyerah. Ingat perjuangan lo yang uda ada sejauh ini. Jangan sampai berhenti saat lo uda ada di dekat puncak. Mangatsee!! semangat!!" Altha berdiri tegap, berjalan dengan gontai dan semangat. Berusaha mengusir rasa lelahnya yang saat ini menghantuinya. "Ketua harus kuat, hidup ketua!! jangan lemah!! semangat!! bisa yokk bisa, bisaa!!" Altha berteriak-teriak sendiri, seoalah-olah saat ini dirinya sedang bersama banyak orang. Padahal sesungguhnya Altha memang sendiri. Tujuan Altha saat ini adalah cepat sampai ke pos satu dan berharap belum ada peserta yang sampai ke pos satu agar Altha tak repot-repot mengantarkan roti ke pos dua atau pos berikutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN