Kegiatan Pertama

1535 Kata
"Kumpulkan semua peserta ke lapangan. Kegiatan akan kita mulai. Mereka uda pada selesai makan, kan?" tanya Altha pada para wanita yang sedang berbaris di depannya. "Mereka sudah selesai makan, tapi kita belum absen peserta," jawab Danu. "Absennya nanti saja. Setelah berbaris menurut kelompok, para panitia bisa mengabsen peserta di barisan. Biar sekalian aja, sekalian jalan untuk kegiatan kita kali ini," balas Altha menjelaskan. "Ingat ya, ini kegiatan pertama kita. Di sini para peserta diwajibkan untuk bekerjasama dengan baik. Satu kelompok tidak akan ikut semua. Ada beberapa orang yang tunggal di tenda untuk memasak, supaya saat siang dan selesai kegiatan, mereka yang lelah ikut kegiatan bisa langsung makan. Nah yang tidak ingin capek, kotor-kotoran, gak ingin repot, gak ingin jalan lama, gak suka petualangan, dia bisa tinggal di tenda. Untuk peserta yang ikut dalam kegiatan ini diharapakan benar-benar sehat. Para panitia harus mengecek kesehatan tubuh para peserta, supaya tidak terjadi apa-apa saat diperjalanan nanti," Altha menjelaskan ulang kepada para peserta. "Untuk para peserta yang sudah ditugaskan di pos-pos penjagaan, kalian bisa pergi sekarang. Dan ingat, sampaikan arahan dengan jelas. Clue dan tugas-tugas mereka di setiap pos harus benar-benar dilakukan. Kalian juga harus buat dokumentasi sebagai bukti. Jika kalian membiarkan mereka lanjut ke pos berikutnya tanpa mengerjakan syarat, maka kalian yang akan saya kenakan hukuman. Bagaimana, sampai sini paham?" tanya Altha pada para panitia. "Paham!!" jawab mereka serentak. "Oke, kalian bisa bubar, kerjakan tugas kalian masing-masing. Yang jaga pos segera ke pos yang sudah ditetapkan. Yang mengurus peserta langsung siap-siap untuk absen dan cek kesehatan peserta." "Sekian arahan dari saya, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Altha mengakhiri arahannya pada para panitia. Setelah bubar, para panitia langsung berkumpul dan melakukan rutinitas yang mereka lakukan setiap kali ada pertemuan atau lingkar temu. "Camping peduli lingkungan ...." "Sukses!!!" sorak para panitia seraya menaikkan tangan mereka ke udara. "Oke, sukses semua. Selamat bertugas," ucap Altha memberi semangat. Semua panitia langsung berhamburan mengerjakan tugas mereka masing-masing. Altha mulai naik ke atas tribun, untuk mengumumkan pada seluruh peserta camping untuk berkumpul di depan tribun. "Perhatian, untuk seluruh peserta diharapkan berkumpul di depan tribun secepatnya," Altha bicara dengan pengeras suara. "Sekali lagi, perhatian ... untuk seluruh peserta wajib berkumpul di depan tribun secepatnya, terimakasih." Setelah menyampaikan pengumuman, Altha langsung bersiap-siap untuk menjelaskan pada para peserta tentang prosedur kegiatan hari ini. Tak butuh waktu lama untuk para peserta berkumpul di depan tribun. Mereka semua langsung bergegas berbaris di depan tribun. Semuanya berjalan dengan lancar berkat pimpinan para ketua kelompok, mereka bertanggung jawab dengan baik atas kelompoknya. Waktu berbaris jadi semakin singkat saat para ketua kelompok langsung membariskan anggotanya. Semua peserta sudah berbaris dengan rapih dengan ketua kelompok mereka masing-masing yang memimpin barisan. Para panitia pendamping juga sudah mulai menyiapkan ponsel mereka untuk mengabsen peserta. Altha naik ke atas tribun, dia mulai bicara dan menjelaskan tentang kegiatan ini melalui pengeras suara. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi," sapa Altha dari pengeras suara. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, pagi," jawab para peserta kompak. "Baiklah, langsung saja pada intinya, saya mengumpulkan kalian semua di sini untuk memberikan arahan kegiatan kita hari ini. Kegiatan kita hari adalah menjelajah hutan. Setiap kelompok wajib mengirimkan anggotanya untuk ikut menjelajah di hutan. Nanti kalian akan berhenti di pos-pos yang sudah ditentukan, di pos itu kalian akan diberi clue, tugas dan tantangan lainnya. Yang pastinya semuanya masih berhubungan dengan pelestarian hutan," jelas Altha to the point. "Untuk kalian yang tidak bisa jalan jauh dan tidak berniat ikut, kalian bisa tinggal di tenda. Setiap kelompok juga wajib meninggalkan beberapa anggota kelompoknya di tenda. Tugas mereka adalah memasak makan siang supaya jika selesai penjelajahan, para peserta sudah bisa makan siang tanpa harus menunggu lama. Jadi, tidak perlu menunggu dan membuang waktu lama. Mulai sekarang kalian bisa menentukan siapa yang akan tinggal di tenda dan siapa yang akan ikut penjelajahan. Tapi sebelumnya, para panitia pendamping akan mengabsen kalian terlebih dahulu. Mereka juga akan memeriksa kesehatan kalian, jika sedang tidak sehat, kalian tidak boleh ikut kegiatan ini. Karena kegiatan ini sangat melelahkan dan memakan tenaga yang banyak." "Oke, sekian arahan dari saya, saya harap setiap kelompok bisa bekerja sama dengan baik. Terimakasih atas perhatiannya, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi." Altha mengakhiri arahannya. Dia tak ingin berlama-lama, sebab waktu terus berjalan. Para panitia langsung melaksanakan tugas mereka. Mereka mulai mengabsen peserta bimbingan mereka satu persatu. Danu mulai memanggil nama peserta bimbingannya satu persatu, tak lupa Danu mengecek wajahnya supaya tidak terjadi kecurangan. "Bima," "Hadir," Bima langsung menyahut. "Aldo," "Aldo tampan ada di sini," jawabnya tanpa rasa malu dan berakhir disoraki teman-temannya. "Mila," "Calon binik mu hadir, beb," jawab Mila dengan kedipan mata. Danu yang melihat langsung bergidik geli. "Aqila," "Ada," jawab Aqila terlampau singkat. "Seza," "....." "Seza," panggil Danu sekali lagi. "...." Tapi Danu tak mendengar jawaban dari Seza. Danu langsung mengamati peserta bimbingannya satu persatu, di barisan memang tidak ada Seza. "Mana Seza?" tanya Danu pada Aqila. "Tadi ke UKS, tangan dia kena pisau dibuat si Kaysa, lukanya dalam banget, darahnya keluar banyak banget, jadi dia ke UKS," jelas Aqila sambil melirik tak suka ke arah Kaysa. Danu langsung melihat ke arah Kaysa, seolah-olah bertanya padanya. "Gue gak sengaja, beneran deh, gak sengaja. Mana mungkin kan gue sengaja mencelakai teman sendiri," jelas Kaysa tanpa diminta. "Bacot," timpal Aqila cepat. "Uda-uda jangan bertengkar," Danu melerai Aqila dan Kaysa. "Jadi ini Seza gak ada di sini? beneran di UKS kan dia?" tanya Danu memastikan. "Iya," jawab teman-teman Aqila serentak. "Oke," Danu langsung membuat tidak hadir di absen Seza, dia juga menyertakan keterangan bahwa Seza sedang sakit dan ada di UKS. "Uda selesai di absen nih. Oke, jadi kita mulai dari siapa yang mau tinggal di tenda?" tanya Danu langsung. "Gue," ada sekitar 6 orang perempuan dan 2 orang lelaki yang angkat tangan. "Alasannya apa?" tanya Danu lagi. "Malas jalan," jawab salah satu lelaki itu. "Capek, gak suka petualangan," jawab salah satu perempuan itu. "Panas, abis deh nanti perawatan gue. Sayang, skincare mahal," jawab salah satunya lagi. "Pala gue puyeng," satu perempuan lagi menjawab. Dan sisanya menjawab tidak suka jalan jauh dan kelelahan. "Oke, alasan diterima. Kalau begitu yang tinggal di tenda harus melaksanakan tugasnya. Kalian harus masak, nanti peserta yang penjelajahan balik, masakan harus sudah siap dan sudah bisa makan siang, mengerti?" tanya Danu pada beberapa peserta yang tinggal di tenda. "Mengerti," jawab mereka kompak. "Oke, kalau begitu kalian bisa balik ke tenda," ujar Danu kemudian. Para peserta yang tidak ikut penjelajahan langsung balik ke tenda. Dan tinggallah para peserta yang ikut serta penjelajahan. "Bagaimana, kalian yang ikut jelajah, apa kesehatan kalian semua baik?" tanya Danu. "Baik," jawab mereka serentak. "Tapi, gue rasa Aqila gak bisa ikut. Dia juga belum sepenuhnya sembuh. Dari pada entar dia pingsan di jalan dan malah menyusahkan, lebih baik dia tinggal di tenda," ujar Danu memberi usul. Aqila langsung angkat suara. "Heh, enak aja! gak ada! lo pikir gue lemah apa?! gak! gue gak mau tinggal di tenda! gue mau ikut! pokoknya ikut!" "Gak, lo gak sehat, lo tinggal aja," balas Danu. "Gue ikut!! siapa lo ngatur-ngatur gue, hah?! kalau gue bilang gue ikut ya ikut!" kekeuh Aqila tak mau kalah. "Hadeuhh ... uda mulai jadi Tom and Jerry lagi nih mereka," Mila menghela nafasnya jengah. Danu menatap tajam ke arah Aqila. "Terserah lo! kalau ada apa-apa sama dia di jalan, kalau di pingsan di tengah jalan, buang aja ke jurang! gak usah di bawa balik ke tenda!" Danu menunjuk Aqila tak suka. "Yee ... lo kira gue ngarep ditolongin lo? hadeuhh jangan mimpi deh," balas Aqila memutar bola matanya jengah. "Ada beberapa pos yang akan kalian lewati, petunjuk jalan sudah ada dan terpampang jelas. Mohon untuk para peserta jangan mengubah petunjuk jalan, karena itu sangat bahaya dan merugikan orang lain. Mengerti?" tanya Danu. "Mengerti," jawab mereka kompak. "Kalian harus tetap kompak, jangan bertengkar, saling bantu satu sama lain," Danu sedikit memberi nasehat. "Ini kalian berangkatnya gantian, bergiliran dari kelompok lain. Saat nanti giliran kalian, jangan lupa kalian mampir ke tenda lingkar temu, dua orang ambil bekal minum dan kotak P3K yang sudah disiapkan panitia. Mengerti?" tanya Danu lagi. "Mengerti," jawab mereka kompak. "Oke kalau gitu good luck, gue mau pantau panitia yang jaga pos." Danu langsung pergi meninggalkan barisan. Dia langsung berjalan masuk ke dalam hutan. Danu akan memantau para panitia yang berjaga di pos, apa mereka sudah sampai atau ada kendala. Para peserta menunggu giliran kelompoknya berangkat, mereka menunggu dengan duduk sambil berbaris yang rapih. Altha sendiri sedang sibuk mengecek absen untuk memantau apakah para peserta aman atau tidak. Altha mengerutkan dahinya saat melihat laporan dari Danu atas ketidak hadiran satu peserta. Altha langsung mengecek siapa yang tidak hadir. "Seza?" tanya Altha pada dirinya sendiri. "Sakit? dia sakit apa?" tanya Atha sedikit bingung. "Mungkin dia lagi gak mood buat ikut kegiatan makanya dia ke tenda PMI dan buat alasan sakit. Mungkin aja kan?" Altha menduga-duga. "Tapi gak tau juga, nanti coba gue cek aja deh di tenda PMI. Tapi setelah kerjaan gue beres dulu," putus Altha kemudian. Altha kembali mengecek absen para peserta, dia juga disibukkan dengan laporan para panitia tentang jumpah keikutsertaan peserta jelajah dan yang tidak ikut serta. Altha sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sesungguhnya dia ingin melihat Seza, tapi Altha juga tak bisa mengesampingkan pekerjaannya. Tanggung jawabnya lebih penting, dia harus mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Altha tak boleh egois sebagai seorang pemimpin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN