"Hati sedang terluka, jari juga gak mau kalah, ikut-ikutan luka. Malah sumber masalahnya cuma sebiji orang lagi, sama pula. Si Kaysa kampret, biang masalah banget memang." Seza menggerutu sepanjang perjalanannya.
"Gak mood gue mau balik ke tenda, yang diliat si Kaysa lagi. Malah mukanya sok polos pula. Diam-diam menghanyutkan. Muak gitu jadinya." Seza menghela nafasnya kasar, dirinya yang semula berjalan ingin pulang ke tenda, malah berbelok arah ke tempat lain.
"Cari angin lah. Mau cari tempat sunyi, mau curhat sama alam. Siapa tau hati gue jadi semakin tenang nantinya." Seza berjalan melewati tenda-tenda jurusan lain. Dia berjalan santai, sesekali menyahut saat ada orang yang menyapanya.
"Pernah gak sih lo ngerasa kesepian di tengah-tengah keramaian?" Seza bertanya sendiri, entah sama siapa dia bertanya, mungkin lebih tepatnya bertanya pada angin lalu.
"Saat ini gue sedang berada di fase itu. Gue punya banyak teman, di sini juga ramai. Tapi gue benar-benar ngerasa kesepian, ngerasa gak ada teman, padahal di sini banyak orang. Kayak hampa aja gitu," Seza bicara sendiri, dia memang seperti itu, bicara sendiri adalah salah satu cara untuk melepaskan penat dan rasa galaunya.
"Tau gini gak usah ikut aja gue ke sini. Percuma ikut kalau ujung-ujungnya gini. Mungkin kalau gak ikut ke sini, gue sama Fandra gak akan bertengkar." Seza tersenyum miris, hubungannya benar-benar berada di ujung tanduk.
"Uda lah, mendingan gue cari ketenangan dulu aja. Percuma juga kan kalau gue meratapi nasib, gak ada gunanya juga. Toh semuanya uda terjadi. Gak akan ada yang bisa berubah. Baik gue maupun Fandra, kita berdua sama-sama butuh waktu untuk menenangkan diri. Menjauh mungkin lebih baik." Seza langsung berjalan lebih cepat, dia berjalan keluar area camping. Seza sendiri tak tau tujuannya akan ke mana, tapi yang pasti dia hanya ingin menenangkan diri sejenak.
"Gue takut nyasar, gimana caranya biar gue gak nyasar pas baliknya nanti ya?" Seza bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa ya? gue kasih tanda apaan nih jalan, rada ragu gue. Kan gak lucu kalau muncul berita 'Seza dinyatakan hilang karena sedang galau'. Ahh gak estetik banget." Seza menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Seza diam, dia memandang ke sekitar, mengamati keadaan sekitarnya.
"Kalau dipikir-pikir emang ini rada beda sih, yang ini tuh hutannya gundul. Gak ada pohon, pohonnya uda pada di tumbang. Mungkin ini kali ya yang mau ditanami nanti pas dipuncak acara," Seza tampak mengamati dengan teliti keadaan sekitarnya.
"Nahh itu mah jalan, udah lah baca Bismillah aja, yakin itu yang paling penting. Percaya diri aja lah, ini juga masih terang benderang. Ya kali gue nyasar, kan gue bukan anak TK lagi." Seza meyakinkan dirinya sendiri.
"Tandanya ini hutan gundul, pohonnya pada tumbang. Nah itu aja uda cukup buat penunjuk arah balik ke tenda kok. Ayo Seza, lo pasti bisa!" Seza menyemangati dirinya sendiri.
Seza menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan.
"Oke, mari kita mulai. Mungkin berpetualang di alam bebas bisa menghilangkan kegalauan gue ini. Semoga aja, Bismillah. Gue butuh ketenangan." Seza mulai berjalan pelan, menyusuri jalan yang pinggiran pohonnya sudah gundul bekas ditebangi.
"Kalau di novel-novel fantasi yang gue baca nih, kalau gue lagi di hutan sendiri gini. Pasti aja datang tuh nanti pangeran yang tampan rupawan. Bisa pangeran, bisa elf, bisa vampir ganteng, atau warewolf tampan. Ahh itu mah scane favorit gue. Ujung-ujungnya jatuh cinta, meski banyak rintangan tapi mereka mampu melewatinya dengan mulus. Sungguh, gue pengen benget masuk ke dunia fantasi. Ahhh, please bawa gue ke dunia fantasi!!" pekik Seza berharap.
"Andai aja gue pemeran utama yang ada di novel fantasi, mungkin gue bakalan bahagia banget tuh. Berasa jadi perempuan paling beruntung di muka bumi. Apa lagi kalau gue aslinya seorang queen. Ahhh benar-benar dunia yang indah, tapi sayangnya cuma ada di novel. Gak mungkin ada di dunia nyata," Seza menghela nafasnya panjang.
Karena Seza sibuk bergelut dengan pikiran dan khayalannya, Seza sampai tidak sadar kalau dia sudah berjalan jauh masuk ke dalam hutan. Bahkan saat ini Seza sudah tak berada di area hutan gundul lagi. Dia sudah berada di area hutan rimbun.
"Ayo lahh, gue masih berharap kalau tiba-tiba pangeran dari dunia fantasi datang buat jemput gue di sini. Datang sebagai jodoh gue. Ayo lahh, gue masih nunggu lo, pangeran. Ayo muncul, jangan malu-malu." Seza melirik ke segala arah, berharap khayalannya dan harapannya menjadi kenyataan.
Seza mengerutkan dahinya saat menyadari sesuatu.
"Lahh, kok uda banyak pohon sih? kok gue uda di hutan rimbun sih? apa gue uda jalan jauh? atau gue masuk ke dimensi lain?" tanya Seza pada dirinya sendiri.
Seza diam, dia masih mencerna keadaan sekarang.
"Ini nyata atau gak sih? gue ada di dunia manusia atau masuk ke dalam hutan fantasi seperti di scane novel sih?" Seza bertanya pada dirinya sendiri.
"Ahh bingung gue, gue uda gila. Masa iya gue gak bisa bedain kenyataan sama khayalan. Setres banget sih," Seza menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Seza diam, semilir angin dingin berhembus di kulit mulusnya.
"Sumpah, ini kok jadi kayak adegan di novel-novel horor sih? asli anjirrr, ngerih gue." Seza memeluk tubuhnya sendiri.
"Jangan bilang kalau gue nyasar di dunia alam ghaib," ujar Seza bingung.
"Ahh enggak-enggak, gak mungkin lah! siang benderang gini, mana mungkin." Seza menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap besar kalau dia masih berada di alam manusia.
"Ini efek kebanyakan baca novel, nonton film, nonton series nih. Otak gue jadi campur aduk, masa gue gak tau mana yang nyata sama yang gak nyata. Ahh setres Seza ihh ...." Seza merengek, merasa takut dengan keadaannya saat ini.
"Ini uda bukan genre fantasi lagi. Ini uda lebih ke arah genre horor, sumpah serem banget ihhh." Seza langsung berjalan cepat, mencari jalan keluar dari hutan rimbun itu.
Seza berjalan dengan hening, dia tak berniat untuk berkhayal lagi. Sekarang dia harus fokus untuk mencari jalan keluar.
"Ehh bentar-bentar. Itu suara apaan yah?" Seza berhenti. Dia berusaha mencari tau suara apa yang dia dengar saat ini.
"Suara aliran sungai nih kayaknya," ujar Seza kemudian.
"Coba deh gue cari sumber suaranya. Kalau itu sungai, berarti ads harapan gue bisa ketemu sama teman-teman. Kan teman-teman gue kalau ambil air di sungai, pasti mereka ada dong di sungai itu. Gue harus cari sungainya." Seza berjalan mencari aliran sungai yang ia dengar.
"Itu kayaknya di situ deh," Seza berjalan lurus, masuk ke dalam hutan yang sedikit semak.
"Bismillah, semoga gak ada ular deh, apa lagi harimau. Duhh jauh-jauh deh, amit-amit," Seza berdoa dalam hati. Dia berjalan mencari sungai dengan fokus, bertekad supaya bertemu sungai secepatnya.
"Ahhh itu dia!" Seza memekik kuat saat melihat aliran sungai yang besar dan dipenuhi bebatuan.
"Itu serius sungainya? lebih mirip tempat wisata ini mah. Sumpah kalau untuk tempat foto mah keren banget." Seza langsung berlari menuju sungai itu. Sungai dengan air jernih dan dipenuhi dengan bebatuan besar.
"Wahhh!!! ini yang gue cari!! ketenangan dan kedamaian di alam bebas. Ya Allah, ini sumpah indah banget. Di kota gue gak bisa nemuin tempat beginian." Seza sangat excited, merasa senang karena bisa menemukan sungai itu.
"Ya Allah, Seza masih berharap kalau di sungai ini ada pangeran mermaid yang tampan rupawan, terus dia ajak Seza ke istananya." Seza menatap takjub ke arah sungai indah itu, tapi dalam pikirannya masih berkhayal hal-hal yang benar-benar tak bisa jadi kenyataan.
"Mengkhayal itu emang salah satu obat galau ya. Apa lagi kalau mengkhayalnya di tempat yang indah gini. Semakin tenang dan nyaman gue, rasanya damai banget. Kayak ngerasa dunia ini luas gitu, kayak ngerasa galau gue hilang gitu aja." Seza tersenyum lebar. Dia duduk di atas bebatuan, merendam kakinya ke dalam air jernih yang benar-benar sejuk.
"Mungkin sejenak gue bisa tenang. Bisa ngerefresh otak, biar makin seger," ucap Seza senang. Melihat pemandangan hijau hutan, suara burung yang berkicau, semilir angin sejuk dan aliran sungai indah membuat hatinya lebih baik. Seakan beban hidupnya hilang sejenak.