Matahari mulai terbit, menampakkan sinar indahnya dengan gagah. Semilir angin pagi terasa dingin menyapa kulit.
Semua orang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang memasak, membersihkannya tenda, menyapu halaman tenda, meneteskan rak sepatu, mencuci piring, mengangkat air, menjemur pakaian, dan lain-lain.
Di tengah-tengah keramaian, Seza sedang duduk sendiri, menyendiri tepatnya. Dia sedang memotong wortel untuk dimasak sarapan pagi ini.
Seza menghela nafasnya kasar. Otaknya masih berputar-putar, memikirkan hubungannya dengan Altha. Bahkan sangking larut dalam pikirannya, Seza sama sekali tak mendengar dan tak mengetahui keadaan sekitarnya.
Brakkk ...
"Awww ...," Seza mengangkat jarinya yang berdarah.
"Ehh, sorry banget ya. Beneran deh, gue gak sengaja banget nyenggol lo tadi. Maaf ya,"
Seza menoleh ke atas, melihat seseorang yang menabraknya sampai-sampai pisau Seza meleset dan malah mengenai jarinya.
Seza menatap tajam ke arah orang itu. Orang yang membuat dirinya dan Altha bertengkar.
"Lo punya mata gak sih? lo gak ngeliat gue yang duduk di sini? jelas-jelas badan gue besar, gue bukan semut yang gak terlihat. Lo sengaja apa gimana sih?" Seza tersulut emosi. Kaysa salah menyenggol orang. Terlepas dari sengaja atau tidak sengajanya Kaysa, tapi yang pasti saat ini Seza sedang tidak enak hati. Seza sedang rawan tersulut emosi.
"Ya ampun, gue benar-benar gak sengaja, Seza. Maaf dong, gue benar-benar gak sengaja. Lo kok marah sih? gue beneran gak sengaja loh padahal," Kaysa membela diri.
Keributan Seza dan Aqila memancing perhatian semua orang. Orang-orang sedang melihat mereka saat ini.
"Makanya, jalan itu mata dipake!! kalau gini siapa yang rugi, hah? bukan lo, tapi gue!" bentak Seza marah-marah.
Melihat Seza marah-marah, Aqila langsung menghampiri Seza.
"Kenapa?" tanya Aqila.
"Lo apain temen gue, hah?" tanya Aqila dengan nada tinggi pada Kaysa.
Aqila melihat tangan Seza yang bercucuran darah. "Ya ampun, Seza. Itu tangan lo darahnya banyak banget, duhh liat tanahnya sampe merah. Itu pasti lukanya dalam banget. Ayo gue anterin ke tenda PMI, lo butuh dokter." Aqila langsung menghampiri Seza, membantu Seza berdiri.
"Uda gak usah, lo di sini aja. Gue bisa sendiri kok. Lo tolong pantau masakan ya, tolong jangan sampai ada yang gak makan dan gak beres. Lo uda sehat kan?" tanya Seza pada Aqila.
"Ya gue uda lumayan, uda ayo gue anterin." Aqila menarik tangan Seza, tapi Seza langsung melepaskannya.
"Uda gak usah, gue bilang gue bisa sendiri. Lo di sini aja, pantau nih keadaan anak-anak. Jangan sampai ada yang ribut atau gimana. Gue pergi dulu, entar gue balik langsung." Seza langsung berjalan pergi meninggalkan Aqila dan Kaysa. Dia pergi menuju tenda PMI.
"Lo apain temen gue, hah?" bentak Aqila pada Kaysa.
"Gue gak apa-apain Seza. Gue gak sengaja. Bener deh, gue gak sengaja nyenggol dia." Kaysa langsung membela diri.
Cuihhh!!
"Bangke!" maki Aqila kasar. Lalu setelah itu Aqila langsung meninggalkan Kaysa.
Seza berjalan cepat, tangannya sudah sangat sakit, terasa ngilu dan perih. Darahnya benar-benar mengucur deras dan tak mau berhenti. Seza takut dia kehilangan banyak darah. Karena Seza pernah berpengalaman, terluka dan mengeluarkan banyak darah, pada akhirnya Seza menjadi lemas, pucat dan gampang lelag pusing karena kehilangan banyak darah.
"Anjir emang si calon pelakor. Pagi-pagi uda buat gue celaka aja. Untung gue sabar, kalau enggak uda gue balas tuh dia." Seza menggerutu sepanjang jalan.
Altha menyipitkan matanya saat melihat Seza sedang berjalan sendirian. Saat ini Altha sedang ada di dalam tenda panitia. Mereka sedang ada jadwal Lingkar Temu. Dan tak sengaja Altha melihat Seza saat dia menoleh ke luar tenda.
"Seza mau ke mana ya?" tanya Altha dalam hati.
"Terus gimana dengan acara tanam pohonnya? apa satu orang wajib menanam satu pohon?"
Hening, tak ada jawaban dari Altha. Altha masih melihat ke arah luar, fokusnya sedang melihat Seza saat ini.
Danu mengerutkan dahinya bingung. Tak biasanya Altha melamun saat ada jadwal rapat seperti ini.
"Sttt ... Tha, ditanya itu woy," Danu memanggilnya Altha pelan. Tapi Altha masih belum sadar dari lamunannya.
"Altha!" Danu mencubit paha Altha kuat.
"Awww ...," Altha meringis kesakitan.
"Apaan sih lo, Dan?" tanya Altha geram.
Danu melotot pada Altha. "Lo ditanya tadi itu, tentang acara tanam pohon. Ngapa lo diam aja? gak usah kebanyakan ngelamun deh lo. Uda kayak bapak-bapak yang mikirin anak binik di rumah aja." Danu mengomeli Altha.
Altha yang sudah sadar langsung melihat ke sekitar. Dia merasa malu saat para panitia melihatnya dengan tatapan bingung.
"Sorry, sorry banget ya. Gimana tadi? siapa tadi yang nanya?" tanya Altha pada para panitia.
"Saya," salah satu panitia tunjuk tangan.
"Saya tadi bertanya, bagiamana dengan acara tanam pohonnya? apa satu peserta menanam satu pohon? atau satu kelompok menanam satu pohon sebagai simbol?" tanya salah satu panitia itu ulang.
"Satu peserta dua pohon. Saya sudah menyediakan pohon yang banyak. Belum tentu tahun depan kita bisa mengadakan acara ini lagi. Jadi saya sudah menyiapkan banyak pohon untuk ditanam. Semakin banyak pohon yang ditanam, semakin bagus untuk pelestarian hutan yang sudah sedikit gundul ini," jelas Altha.
Jika Altha sedang sibuk dengan Lingkar Temunya, maka Seza sedang sibuk dengan luka di tangannya.
"Awww ... sakit, dok," ringis Seza kesakitan.
"Iya, emang sakit. Ditahan ya, cantik. Ini lukanya dalam banget, pasti darahnya banyak yang keluar. Muka kamu pucat, kehilangan banyak darah. Kok bisa sih luka kena pisau bisa sedalam ini?" tanya dokter itu pada Seza.
"Tadi saya motong wortel, dok, eh taunya dari belakang disenggol teman. Jadi bukan wortel yang kepotong, malah tangan saya yang kepotong. Malah pisaunya tajam lagi." Seza menjelaskan kejadiannya pada dokter itu.
"Pasti waktu motong wortel kamu lagi ngelamun, makanya bisa segini lukanya. Makanya kalau di dapur itu jangan ngelamun, bahaya tau. Ini baru pisau, kalau api dan minyak panas lebih bahaya lagi." Dokter itu memperingati Seza.
Seza mengangguk mengerti, "Iya, dok, saya bakalan lebih hati-hati lagi," balas Seza pasrah.
"Nahh uda selesai diperban," dokter itu melepaskan tangan Seza.
"Kamu jangan dulu banyak aktivitas pakai tangan ini ya. Terutama jari telunjuknya yang luka ini. Biar cepat sembuh, takutnya lukanya malah semakin kebuka kalau kamu lasak," peringat dokter pada Seza.
"Iya, dok, saya gak usahakan," jawab Seza.
"Dan ini saya kasih suplemen penambah darah. Kamu minum ini ya, jaga-jaga biar kamu gak gampang pucat, lemas dan pusing," dokter memberikan beberapa tablet suplemen pada Seza.
Seza langsung menerimanya. "Makasih ya, dokter," ucap Seza dengan senyum manisnya.
"Kalau begitu saya balik ke tenda dulu ya, dokter. Makasih," Seza pamit pada dokter itu.
"Cepat sembuh ya," balas dokter itu kemudian.
Seza berjalan keluar dari tenda PMI, dia ingin langsung kembali ke tendanya saja.