Menyendiri Pilihan yang Terbaik

1048 Kata
Altha berjalan gontai, pergi dari area tenda kelompok Seza. Tentu saja dia menjadi pusat perhatian semua orang. Wajahnya yang gusar dan lelah membuat orang-orang bingung, tak biasanya sang ketua seperti itu. Aura dingin terpancar kuat dari dirinya saat ini. "Ini, gue buatin coklat hangat buat lo." Danu memberikannya segelas coklat hangat untuk Aqila. Aqila menoleh ke samping, lalu dia langsung menerima gelasnya. "Makasih banyak," ucap Aqila. Danu mengangguk, sebagai jawaban. "Kenapa Altha? bertengkar sama Seza?" tanya Aqila pada Danu. "Sepertinya," jawab Danu singkat. "Yang satunya akur, yang satunya bertengkar. Ohhh dunia ... dunia, mengapa seperti ini drama percintaan teman-teman ku?" Mila mendongak ke atas, seolah-olah bicara pada langit. "Apa sih, Mil? jangan setres deh lo." Aqila memutar bola matanya malas. "Emang iya kan, fakta. Si tikus dan kucing alias Danu dan Aqila uda akur, ehh si couple goals alias Seza dan Altha malah berantem. Duhh betapa rumitnya dunia percintaan ini." Mila memegang kepalanya lebay. "Yaudah sih, bukan urusan lo juga. Lo cukup diam, menontonnya semuanya. Komentar dalam hati aja, suara lo buat gue enek," timpal Danu tiba-tiba. Sontak Mila langsung melihat ke arah Danu, lalu melihat bergantian ke arah Mila. "Aqila, emang sih calon pacar lo ini ganteng, keren, pokoknya oke lah buat cuci mata, gak malu-maluin dibawa ke kondangan," Mila menjeda ucapannya sejenak. "Tapi kalau dibawa kumpulan sama teman pasti gue yakin seratus persen lo malu deh, Qila," lanjut Mila kemudian. Mila mengerutkan dahinya, merasa tak mengerti dengan ucapan Aqila. "Lo pasti malu, karena yang bakalan jadi ratu gosip itu Danu. Secara Danu kan tau segala berita, mulutnya juga lemes, licin kek oli. Entar Danu yang menggosip sama teman-teman lo, lo yang cuma diem ngeliatin," lanjut Mila kemudian. Danu langsung menatap Mila tajam. "Maksud lo apa, hah? lo ngehina gue?" tanya Danu geram. "Bukan ngehina, tapi ngomong tentang fakta," jawab Mila tanpa rasa bersalah. "Ehh, mulut lo pengen gue siram make minyak lampu, hah? ember banget sih lo jadi cewe, kepo, rempong pula." Danu mulai terpancing emosi. "Uda uda, masalah gak jelas gak usah diperpanjang. Mendingan diem, bikin kepala gue makin sakit aja." Aqila melerai keduanya. "Uda sana lo masuk tenda," perintah Danu pada Aqila. "Masih ada Seza," jawab Aqila. "Ya emang ada Seza lah. Kan lo setenda sama dia. Gimana sih?" Danu berdesis. "Ya si Seza pasti lagi nangis di dalam tenda. Biarin aja dulu dia sendiri, dia butuh ketenangan. Kalau uda tenang baru gue samperin dia," jelas Aqila. "Entar kalau Seza kesurupan gimana? yang gue tau ya, kalau di hutan begini tuh gak boleh melamun, gak boleh larut dalam kesedihan, nanti kalau pikiran dia kacau, setan-setan pada gampang masuk ke badannya," Danu bercerita panjang lebar. "Setannya juga takut duluan mau dekatin Seza," sahut Aqila cepat. "Yahh ngeyel banget sih lo jadi orang. Gue tuh punya temen, temen gue pernah tuh kesurupan pas camping di hutan. Gara-gara dia ngelamun. Lo gak takut apa kalau Seza kesurupan beneran? kalau dia kesurupan beneran gimana?" tanya Danu menggebu-gebu. "Ya gak gimana-gimana lah," jawab Aqila enteng. "Gila ya lo! gak ada perhatian-perhatiannya sedikit pun sama temen sendiri, dasar sinting!" Danu mulai emosi. "Hey hey hey!! tolong jangan berantem. Baru aja sejam baikan, tolong jangan buat dunia ini kacau karena kalian cek-cok, wahai Ferguso," Bima menegur Aqila dan Danu yang sudah mulai otot-ototan. Berada di tempat lain, di tenda panitia, Altha sedang duduk diam, sendiri tanpa ada teman. "Gak habis pikir gue sama Seza. Kenapa dia seegois itu? kenapa dia mau menang sendiri? kayak anak-anak banget. Dia selalu mikirin perasaannya, tapi gak pernah mikirin perasaan gue. Dan sekarang? dengan entengnya dia ngomong pisah-pisah, putus-putus. Maksudnya apaan coba? gak menghargai perjuangan gue buat mempertahankan hubungan ini apa dia ya?" Altha bicara pada dirinya sendiri. Tak ingin gegabah menceritakan pada orang lain. Jika ada orang yang menjadi tempat curhatnya, itu juga hanya Danu. Hanya Danu yang Altha percaya. "Gue sayang sama dia, gue cinta sama dia, bahkan sekali pun gue gak pernah punya pikiran buat putus dari dia. Tapi dianya? kenapa dia selalu egois dan pengen menang sendiri? dia gak pernah mikirin perasaan gue. Padahal selama ini juga gue uda berusaha kuat dan sabar, meski diejek orang-orang, dibilang babu, dibilang cowok pembantu, tapi gue tetap bertahan. Ini semua karena gue serius ke dia. Tapi hari ini dia benar-benar buat gue kecewa, ucapannya benar-benar gak menghargai gue sama sekali." Altha menghela nafasnya kasar. Rasanya dia ingin hilang dari permukaan bumi sejenak, menenangkan pikiran dan hati yang sedang tak baik-baik saja. Jika Altha sedang duduk menyendiri dengan segala pikirannya yang sedang kacau. Maka tak berbeda jauh dengan Seza. Saat ini Seza sedang tidur dengan posisi miring. Wajahnya masih ia tutupi bantal dan selimut, sengaja agar Seza yang sedang menangis kencang tidak terdengar ke luar. "Kenapa sih semuanya jadi gini?" tanya Seza pada dirinya sendiri. "Kenapa Fandra jadi gitu? kata-kata dia tadi itu buat gue jadi kecewa. Yang dia ucapin seolah-olah dia tertekan dengan gue, dengan sifat gue selama ini." Seza menangis sesenggukan, hatinya perih, seperti teriris ribuan pisau. "Gue emang egois, gue tau gue emang kekanak-kanakan. Tapi ini lah gue, ini gue dengan segala kekurangan gue. Seharusnya dia bisa terima gue dengan kekurangan gue, gue juga bisa nerima kekurangan dia. Dia terlalu posesiv, terlalu pencemburu, sampai-sampai gue gak punya teman laki-laki kecuali teman sekelas gue. Tapi gue bisa terima itu, gue gak komen, gue gak keberatan. Apa salahnya dia juga ngelakuin hal yang sama? saling menerima segala kekurangan yang ada." Seza membuka penutup di wajahnya, dia mengelap air matanya yang mengalir deras . "Gue gak ngerti lagi mau dibawa ke mana hubungan gue dan Fandra. Rasanya berat banget tau kalau selama ini ternyata Fandra tertekan sama gue, dia gak bahagia. Rasanya gue gagal jadi seorang pasangan. Untuk apa pacaran kalau gak ngerasa bahagia? untuk apa dipertahankan kalau salah satu uda gak nyaman? gue takut hubungan ini bakalan jadi sia-sia," Seza duduk. Memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya di atas lutut. "Gue gak ngerti, mungkin untuk beberapa waktu gue bakalan ngerasa asing sama Fandra. Jujur, gue masih sakit hati sama kata-kata dia tadi. Gue gak bakalan bisa bersikap biasa aja, gue yakin semuanya pasti bakalan canggung." Seza menyeka air matanya. Menghela nafas lelah, seolah-olah dunianya benar-benar berat hari ini. Masalah Altha dan Seza benar-benar sangat mempengaruhi hati keduanya. Baik Altha maupun Seza sedang merasa bingung, kacau, sedih, dan kecewa. Menyendiri adalah pilihan tepat untuk mereka berdua saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN