Kacau

1154 Kata
"Ini greantea hangat untuk orang terspesial." Altha datang dan langsung memberikan segelas greantea hangat pada Seza, dia meletakkannya di depan Seza. Seza melirik Altha sekilas, lalu kemudian dia langsung membuang muka. Altha mengerutkan dahinya bingung. "Kenapa, sayang? ada yang salah?" tanya Altha bingung. Seza tak menjawab apa pun, dia hanya diam melihat teman-temannya yang lain yang sedang bercanda tawa. "Kenapa sih? kok diam aja? emang ada yang salah? gigi kamu sakit ya?" tanya Altha lagi. Seza memutar bola matanya malas. Altha benar-benar tidak peka. "Sayang, ngomong kek, kamu kenapa? kenapa sih tiba-tiba diem gini?" tanya Altha tak sabaran. "Ya elahh, gak peka bener jadi cowok mah," celetuk Mila. Altha menaikkan sebelah alisnya. "Gak peka? gak peka gimana sih maksudnya?" tanya Altha bingung. "Ya elah, masih belaga pilon. Itu Seza ngambek sama lo, pak Ketu," ujar Mila memberitahu. "Ngambek? ngambek kenapa? kan gue gak ngapa-ngapain, gak buat salah juga. Gue cuma buat greantea, bukan buat salah." Altha sendiri masih bingung. Mila memutar bola matanya malas. "Astaga, gue juga ikutan geram karena lo gak peka-peka, pak Ketu." "Apa sih? kalau ngomong itu yang jelas dong. Gue mana ngerti kalau lo ngomong gak jelas gitu." Altha mulai kesal sendiri. "Seza tuh lagi ngambek karena tadi lo niupin tangan si Kaysa. Masa gitu aja gak tau, gak tau apa pura-pura gak tau sih?" tanya Mila geram. "Astaga, jadi cuma masalah itu?" tanya Altha pada Seza. "Cuma kamu bilang? begitu kamu bilang cuma? coba aku yang begitu sama cowok lain, gimana, kamu bisa sesantai ini dan bilang 'halahh cuma itu doang'. Bisa gak kita tukar posisi?" tanya Seza kesal. Dia sudah terbakar emosi dan api cemburu saat melihat Altha meniup tangan Kaysa tadi. "Ya kan aku terpaksa, sayang. Aku juga gak mau kok, tapi dia maksa, nangis-nangis pula, mungkin aku biarin kan? ya aku tolongin juga lah," jelas Altha sejujurnya. "Oke, mungkin besok-besok aku bisa dong nangis di depan kating biar diajak pulang bareng atau makan bareng," balas Seza masih tak terima dengan alasan Altha. Altha menatap Seza tak percaya. "Kamu kenapa sih, Yang? kenapa masalah gitu aja diperpanjang? kan uda aku jelasin kalau aku terpaksa. Uda lah, gak usah apa-apa dibawa ribut. Kamu apa-apa dibawa ribut, capek aku, Yang," ungkap Altha mengutarakan isi hatinya. Seza langsung menatap Altha, menatap Altha dalam dan penuh makna. "Iya, emang aku selalu buat kamu capek. Yaudah kalau gitu, maaf." Seza langsung berdiri dan beranjak pergi dari tempat itu. Semua orang langsung melihat Seza dan Altha, mereka diam, tak mau ikut campur hubungan Seza dan Altha. Apa lagi saat ini baik Altha maupun Seza sedang sangat sensitif. "Seza!!! kamu mau ke mana? jangan main pergi gitu dong!" teriak Altha memanggil Seza. Aqila hanya menatap kepergian Seza dengan helaan nafas saja. Aqila sudah paham dengan Seza yang moodnya suka naik turun. Kalau sudah menyendiri seperti itu, bisa dipastikan kalau Seza sedang tak enak hati dan ujung-ujungnya pasti akan menangis diam-diam. Altha langsung berjalan menyusul Seza yang masuk ke dalam tenda. "Seza, tunggu!" teriak Altha keras. Seza masuk ke dalam tenda, lalu dia langsung menutup tenda dari dalam. Altha yang sudah berlari juga telah sampai di depan tenda. "Keluar, Seza. Ngapain sih gara-gara masalah gitu aja ngambek? kan aku gak suka sama dia. Aku juga bilang itu terpaksa kan, bukan kemauan aku," jelas Altha sekali lagi. Seza diam, dia tak mau menjawab Altha. "Please jangan gini, jangan apa-apa dibawa ribut, jangan semua-semuanya dibawa bertengkar. Aku capek, jangan buat aku semakin capek. Jangan seperti anak kecil, kita uda bukan anak kecil lagi," Altha menghela nafasnya kasar. Seza tersenyum miring, mendengar ucapan Altha barusan semakin membuat emosinya tak karuan. "Ya kalau capek gak usah dipaksa. Gue gak pernah minta lo bertahan kok. Kalau capek juga bis udahan, mungkin lo dan gue gak sejalan," balas Seza dari dalam tenda. Altha langsung terkejut dengan ucapan yang dilontarkan Seza barusan. Bisa-bisanya Seza bicara seperti itu, padahal itu adalah ucapan yang paling Altha hindari. "Maksud kamu apa sih? jangan kayak bocah deh, kamu uda besar, uda bukan anak-anak lagi. Jangan dikit-dikit bawa-bawa putus. Tolong hargai hubungan kita," Altha mulai terbawa emosi. Dia paling anti mendengar kata-kata yang bermakna putus.. "Ya lo bilang kalau lo capek sama gue kan? yaudah kalau capek sama gue gak apa-apa kok, gue juga gak maksain lo. Gue tau gue kekanak-kanakan, iya gue emang gini. Kalau lo gak suka lo bisa pergi sekarang juga. Gue gak suka pacaran sama orang yang suka mempermasalahkan sifat gue. Lebih baik gue sendiri dari pada pacaran sama orang yang gak bisa nerima gue apa adanya." Seza mulai larut dalam emosinya, egois sudah menggerogoti hatinya. Di luar tenda, Altha hanya bisa menggelengkan kepala tak percaya. Mengapa Seza sangat mudah berkata mengakhiri hubungan mereka? sedangkan Altha mati-matian menahan supaya tak pernah sekalipun melontarkan kata-kata itu. "Keluar, Seza. Kita harus bicara," Altha menyuruh Seza untuk keluar dari dalam tenda. Seza diam, dia tak membalas apa pun. "Seza, aku bilang keluar. Kita perlu bicara. Masalah gak akan bisa selesai kalau kita gak saling bicara. Keluar," perintah Altha lagi. Tapi Seza masih diam di dalam, dia tak punya niat keluar sama sekali. Altha mengepalkan tangannya erat. "Keluar, Seza. Kamu yang keluar atau aku yang masuk ke dalam?" tanya Altha geram. Seza diam, dia masih tak menjawab. "Oke kalau gitu, aku yang masuk ke dalam." Baru saja Altha ingin masuk ke dalam tenda, Seza langsung membentak Altha. "Stop!!! jangan masuk!! gue gak mau ketemu sama lo!! jangan masuk ke dalam!! jangan temuin gue!! pergi!!" usir Seza dengan suara gemetar menahan tangis. Altha diam, dia terkesiap saat Seza mengusirnya. "Ka-kamu ngusir aku?" tanya Altha tak percaya. "Kita perlu bicara," lanjutnya. "Gak ada yang perlu dibicarakan lagi. Gue memang seperti anak kecil. Maaf kalau lo capek dan merasa disusahkan sama gue. Lo boleh pergi sekarang," ujar Seza dengan suara gemetaran, pikirannya sedang kacau. Air matanya sudah mengalir di pipi mulusnya. "Gak! gak bisa! kita perlu bicara!" Altha tetap kekeuh, dia membuka tenda. Tapi baru sedikit tenda terbuka, Seza sudah kembali angkat suara. "Jangan masuk!!! kalau lo masuk, kita putus sekarang juga!" ancam Seza dengan suara tegas. Altha langsung berhenti, diam mematung. "Pergi!! gue gak mau liat muka lo. Sana pergi! jangan temui gue!" Seza kembali mengusir Altha. Altha menelan ludah, kenyataan ini sangat-sangat pahit bagi Altha. Altha tersenyum miring, lalu dia berdiri dan langsung pergi meninggalkan Seza di dalam tenda. Setelah Altha pergi, Seza langsung mengunci tendanya rapat-rapat. Seza langsung menenggelamkan wajahnya di atas bantal, menutupinya dengan selimut. Seza menangis, menjerit sekencang-kencangnya. Dia sengaja menutup mulutnya dengan selimut dan bantal agar suaranya tak terdengar keluar. Keadaan hati Seza saat ini sedang kacau. Gejolak api cemburu, emosi, sedih dan kecewa bercampur aduk menjadi satu. Bukan hanya Seza saja, Altha juga merasakan hal yang sama. Bertengkar dengan Seza adalah hal yang selalu ia jauhi, dirinya tak bisa hidup tanpa Seza. Jadi, banyangkan betapa sakit hatinya Altha saat Seza mengusir dan memintanya untuk memutuskan hubungan mereka. Altha benar-benar sedang tak baik-baik saja saat ini. Baik Altha maupun Seza, mereka sedang sama-sama kacau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN