"Aku haus," ujar Seza pada Altha.
"Mau minum apa, sayang? biar aku buatin. Kopi atau teh manis? ini dingin, kamu minum yang hangat-hangat aja, mau apa?" tanya Altha cepat.
"Pengennya kopi, tapi takut gak bisa tidur," jawab Seza.
"Yaudah siang aja ya kopinya, ini minum greantea hangat mau? mau ya, kan greantea hangat juga enak. Mau greantea atau teh manis biasa? atau lemon tea hangat juga ada, mau yang mana, sayang?" tanya Altha menawarkan pada Seza.
"Uda kayak tukang jualan aja ya, masnya. Boleh dong gue mesan lemon teanya, satu," celetuk Aldo ikut-ikutan.
"Buat sendiri lah, gue cuma buatin pacar gue doang, khusus, spesial hanya buat Seza," jawab Altha menolak.
"Astaga, nyeseknya gue ditolak mentah-mentah, duhh nasib deh yang gak punya pacar. Mana ada yang nawari, mau minum apa, sayang? mau makan apa, sayang? duhh indah banget ya yang pacaran. Gue jadi pengen, guys, kalian ada gak yang mau sama gue?" tanya Aldo pada teman-temannya.
"Ogah, gue sama lo, bobrok. Mendingan lo kalau mau cari cewek tuh orang luar deh. Yah minimal gak sejurusan kita lah, biar dia gak tau kebobrokan lo. Kalau tau mah gue yakin deh langsung ditolak langsung lo nya. Mendingan gue saranin cari orang luar aja sono noh. Banyak noh tenda-tenda anak jurusan lain, ada anak hukum, anak komputer, anak pertanian, anak bisnis juga banyak tuh cantik-cantik, gemoy-gemoy. Uda sana pergi, cari mangsa." Putri menyuruh Aldo untuk segera mencari wanita yang mu pacaran dengannya.
"Ya Allah, Put Put, kok lo tega bener deh sama gue. Gak habis pikir gue sama lo." Aldo menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis.
"Aku mau greantea, sayang. Uda gak usah tontonin mereka, gak jelas itu mereka. Aku uda haus," desak Seza pada Altha.
"Yaudah bentar ya, aku buatin dulu. Kamu di sini aja ya, jangan ke mana-mana," Altha pamit pada Seza, lalu dia langsung ke tenda dapur untuk membuat minuman yang Seza mau.
Danu melihat ke samping, dia melihat Aqila yang meringkuk kedinginan. "Lo kedinginan?" tanya Danu.
Aqila menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Apaan enggak, itu lo kedinginan gitu kok. Ayo. gue anterin masuk ke dalam tenda, bahaya banget sih, sakit-sakit masih di luar." Danu mengajak Aqila masuk ke tenda.
"Gak mau, gue. Gue mau kumpul sama yang lain juga, di tenda sunyi, gak ada orang, gue kesepian," tolak Aqila keras kepala.
"Tapi lo sakit, liat lo kedinginan tau. Jangan ngeyel napa sih jadi orang," Danu mengomeli Aqila.
"Gak mau gue, pokoknya gak mau," tolak Aqila kekeuh.
Danu menghela nafasnya kasar. "Yaudah sini biar gue benerin selimutnya. Sini biar gue bungkus lo make selimut kaya bayi baru lahir, kalau gitu kan bisa hangat."
"Gak mau ah, gue susah gerak kalau begitu," tolak Aqila lagi.
"Lo mau gue gendong nih, gue masukin ke tenda langsung?" ancam Danu kesal.
"Yaudah iya-iya!" putus Aqila pasrah.
Aqila langsung berdiri, dia melepaskan selimutnya. Dan kemudian Danu langsung membalut seluruh tubuh Aqila dengan selimut. Tangan Aqila juga sengaja ditaruh di dalam supaya tidak kedinginan.
Seza mengkode teman-temannya yang lain supaya mereka melihat ke arah Danu dan Aqila.
Teman-teman Seza yang lain juga ikut senyum-senyum melihat perhatian Danu ke Aqila, benar-benar lucu tapi sweet.
"Lo mau ke mana, Kaysa?" tanya Putri pada Kaysa yang tiba-tiba beranjak dari tempatnya.
"Mau minum gue, haus," jawabnya singkat. Lalu Kaysa langsung pergi menuju tenda dapur, sendirian.
"Wahh gak ngajak-ngajak tuh bocah, dasar tunggal!" Putri menggerutu kesal.
"Pantau dari sini, Seza. Siapa tau diam-diam si Kaysa ancaman buat lo. Siapa tau diam-diam dia calon pelakor," ujar Aldo mengompor-ngompiri.
Seza langsung cemas, matanya langsung tertuju pada Altha yang sedang membuatkan minum untuknya. Di sana terlihat Kaysa juga sedang membuat minum.
"Hallo, Altha," sapa Kaysa pada Altha.
"Ehh, iya," jawab Altha canggung.
"Lo buat minum juga ya?" tanya Kaysa basa-basi.
"Iya, buat Seza," jawab Altha apa adanya.
"Wahh kok Seza memperlakukan lo kayak babu sih? bisa-bisanya dia nyuruh lo buat minum. Harusnya dia dong yang buatin lo minum, ini malah kebalik," Kaysa langsung nyerocos. Membuat Altha diam sejenak, dan mencerna kata-katanya.
"Gue yang mau buatin dia kok, bukan dia yang minta. Lagi pula memangnya kenapa? gue aja gak keberatan, masa orang lain banyak komen sih," balas Altha sedikit tak suka.
"Ahhh iya ya, gue lupa kalau lo lagi buta sama cinta." Kaysa mengambil air panas, lalu dia menuangnya ke dalam gelas.
Brakkkk!!!
"Awwwws!! sakit ...," rintih Kaysa kesakitan.
Altha diam sejenak, melihat Kaysa dengan alis yang di angkat sebelah.
"Lo kenapa? ngapai lo nabrak meja?" tanya Altha bingung.
"Aduhh ... tangan gue sakit banget ini, kena air panas. Tadi gak sengaja tumpah, tolongin gue dong," Kaysa merengek pada Altha.
"Lo bisa ke tenda PMI, di sana kan ads dokternya, biar dikasih salep supaya gak kepanasan lagi," jelas Altha pada Kaysa.
"Duhh lama, gue uda kepanasan banget. Tolong tiupin dong, minta tolong banget gue," Kaysa merengek dengan air mata. Tangannya dia ulurkan ke depan wajah Altha.
Altha mengerutkan dahinya bingung. Kenapa Kaysa tidak meniup sendiri, padahal kan dia juga punya mulut.
"Please, tolong gue, tolong tiupin, dong," Kaysa kembali merengek dengan air matanya.
Altha menghela nafasnya pasrah. Lalu dia langsung meniup tangan Kaysa yang terkena air panas.
Di sebrang sana, Seza sedang membelalakkan matanya lebar saat melihat sang kekasih meniup tangan wanita lain.
"Nahh kan, ancaman! itu mah si Kaysa ancaman beneran buat lo, Seza! nohh nohh liat noh, si Altha niupin tangan dia segala. Wahhh parah sih ini," Aldo berceloteh bak penyiar sepak bola, heboh sendiri melihat Altha dan Kaysa.
"Wahh gak bisa dibiarin nih. Gue harus turun tangan langsung buat ngebantai calon pelakor." Baru saja Seza ingin berdiri, tapi Danu langsung mencegahnya.
"Udah, gak usah. Biar gue aja yang nyamperin. Lo di sini aja. Kalau dia punya niatan buat jadi calon pelakor, dia pasti senang kalau lo marah-marah ke dia ataupun Altha. Pasti makin banyak tingkah tuh dia," ujar Danu mencegah Seza.
"Uda gue aja yang ke sana," putus Danu kemudian.
"Tapi gue harus nangani langs-"
"Uda, gue aja. Lo gak percaya sama gue, hah?" tanya Danu kesal.
Seza memutar bola matanya malas. "Iya-iya!" jawabnya kesal.
Danu langsung berdiri dan melangkah pergi menuju tenda dapur.
"Ada apa ini?" tanya Danu yang tiba-tiba datang.
"Ini, tangan dia kena air panas. Uda gue suruh ke tenda PMI biar dikasih obat dokter, tapi dia malah gak mau. Dia malah nyuruh gue niupin tangan dia. Gue kan gak tega liat orang nangis ya, yaudah gue bantu deh," jelas Altha pada Danu.
Danu menunaikan sebelah alisnya, menatap Kaysa dengan tatapan tak suka.
"Sana pergi ke tenda PMI, di sana ads dokter. Ngapain juga mesti ngeharapkan Altha? Altha itu uda punya pacar, jangan caper deh, apa lagi kalau lo punya niatan jadi calon pelakor. Buang jauh-jauh deh tuh pikiran busuk." Danu langsung bicara tanpa disaring, seperti biasa, ucapannya yang selalu membuat orang-orang nyesek sampai ke tulang-tulang.
"Apaan sih? si Altha kan ketua, gue cuma minta tolong sama dia sebagai ketua. Bukan yang lain," bantah Kaysa tak terima.
"Ooh kalau gitu lo bisa minta tolong sama gue kok. Dengan senang hati gue bantu. Lagi pula kalau ada masalah apa-apa itu gue yang bertanggung jawab atas kalian, kalau gue gak sanggup baru ke ketua. Ini gue masih sanggup kok. Ayo gue anterin ke tenda PMI," ajak Danu pada Kaysa.
Kaysa mendengus kesal. "Gak usah! gue bisa sendiri!" tolaknya mentah-mentah. Lalu Kaysa langsung pergi dengan wajah kesalnya. Dia pergi ke tenda PMI sendirian.
Altha tersenyum lega. "Huftt ... akhirnya lo datang juga ngebantuin gue. Makasih ya," Altha berterimakasih pada Danu.
"Gue ke sini cuma mau buat coklat panas kali. Gak usah kepedean deh lo," Danu mengambil gelas.
"Kampret ya lo. Uda deh, gue uda siap nihh. Gue duluan ya ke sana, keburu dingin ini." Altha pamit pada Danu.
"Yaudah sana duluan, emangnya gue ada minta lo tungguin?" tanya Danu.
Altha memutar bola matanya malas. "Ngeselin lo!" setelah mengucapkan itu, Altha langsung pergi menuju tempat Seza berada, dengan dua gelas greantea hangat tentunya. Satu untuk Seza dan satu untuknya.