Abdi Jagat

1793 Kata
“Nghhhhh…. Pelan-pelan. Dewan! Jangan terlalu dalam! Ahhhh!” “Buka kaki kamu dengan benar, Rinjani!” “Ahhhh!” Seketika Arunika membuka mata mendengar suara yang sangat ia kenali tersebut, suara yang akhir-akhir ini terus menggema di pikirannya, semakin berakar sebab kesal yang sangat mendalam. “Oh, astaga, Dewan….” Sial, ini bukan mimpi! Arunika segera bangun, kepalanya menoleh kesana-sini mencari sumber suara diantara rak-rak buku. Benar, ia berada di perpustakaan kampus. Sore tadi, harusnya Arunika keluar sebelum perpustakaan tutup. Tapi ia malah tenggelam dalam buku yang membuatnya terlelap. Berada di tempat paling pojok membuat sang penjaga tidak mengetahui keberadaannya, terlebih lagi penjaga itu sudah sangat tua. “Ahhhh! Dewan!” jerit seorang wanita lagi. “Suara ini,” gumam Arunika. Dan sekarang…. Siapa yang menyangka bahwa dirinya akan mendengar suara sosok yang paling ia benci tengah melakukan hal yang tidak senonoh. Di kampus! Di perpustakaan Fakultas Hukum dimana buku-buku disini berisi ilmu dan tonggak dalam menegakan keadilan, dalam berprilaku bermoral. Bagaimana mungkin pria yang berkedudukan sebagai Dekan Fakultas Hukum itu melakukan hal yang hina? ‘Gak mungkin ‘kan? Seorang Dekan, anak pemilik Yayasan, Putra pertama dari Mentri Pendidikan yang kini tengah menjadi sorotan?’ Batin Arunika bergulat seiring dengan langkah kaki, suara semakin jelas, rintihan terdengar begitu juga dengan tubuh yang beradu. Suara hina di telinga Arunika, membuatnya ingin pergi tapi ia harus memastikan. Dan akhirnya di sela-sela buku hukum pidana, manik kecokalatan dengan bulu mata lentik itu mengintip. Bola matanya membulat seketika. Ternyata bukan khayalan, ini sangatlah nyata. Pria itu tengah bersenggama dengan pakaiannya yang masih lengkap; hanya celana yang sedikit terbuka, dengan wanita yang duduk di meja tanpa pakaian sehelaipun. “Dewan…. Peluk…” “Diam! s**t!” Tangan kekarnya mendorong perempuan itu tetap terbaring. Dan di posisi ini, Arunika melihat jelas sosok perempuan itu adalah sekretaris prodi. Siapa yang akan menduga, seorang Mahadewan melakukan hal ini? terlebih dengan karyawan di kampusnya sendiri. Dengan tangan yang bergetar, Arunika mengangkat ponselnya untuk merekam. Matanya memanas, tubuhnya bergetar ketakutan dan juga… perasaan jijik pada dua manusia ini. Tapi, ia harus tetap lebih lama disini, merekam supaya menjadi alat menekan pria yang semena-mena itu. “Kamu mau tanya kenapa beberapa beasiswa dicabut?” Tanya Mahadewan ketika Arunika mengajukan protes untuk teman-temannya, dan juga untuk dirinya. “Nilai kalian turun dua kali berturut-turut.” “Tapi dalam kebijakan dan perjanjian yang kami buat, kami tidak boleh tiga kali mengalami penurunan, Pak. masih ada kesempatan untuk mereka, untuk saya.” “Kenapa harus diberi kesempatan saat sudah melakukan kesalahan sekali. Bukannya memperbaiki, tapi malah mengulangi. Seharusnya kalian bersyukur, saya tidak menarik beasiswa sejak penurunan pertama.” “Tapi dalam perjanjian yang di-“ “Kamu melupakan poin bahwasanya perjanjian bisa dirubah oleh pihak pertama, oleh pemilik Yayasan. Dan kebijakan yang saya buat ini sudah disetujui oleh Kakek saya. Itu artinya beliau juga melihat potensi kerugian jika terus memberikan beasiswa pada kalian yang malas dan tidak bersungguh-sungguh.” Begitulah kira-kira percakapan Arunika dan Mahadewan tiga minggu lalu. Dimana Mahadewan datang sebagai Dekan dengan segala kebijakan barunya yang membuat Arunika sangat membencinya. Selain beasiswa yang ditarik sepihak, Mahadewan juga membatasi pergerakannya sebagai ketua BEM. Tidak ada lagi acara-acara anak kampus yang katanya hanya membuang waktu. Cukup fokus dalam akademik saja, begitu katanya. Bahkan sekelas rector pun tidak berani menentangnya, sebab mereka semua digaji oleh keluarga Jagat. Mahadewan Jagat, bahkan lebih berkuasa dari pemimpin kampus itu sendiri. “Ahhhh! Dewan! Pelan-pelan!” Arunika menutup mulut menahan mual, kemudian ia diam-diam pergi ke pintu keluar dan berlari sekencang mungkin. Sudah menjelang tengah malam, tidak ada satupun sosok di kampus kecuali penjaga yang berkeliling. Dan dua orang diperpustakaan tadi, malah melakukan hal yang menjijikan. “Katanya keluarga Jagat, sewa Hotel aja gak bisa. Malah menodai ruangan yang penuh dengan ilmu,” gumam Arunika terus menggerutu. “Bilangnya mahasiswa tidak tahu diri. Terus dia apa? Tidak tahu malu? Binatang…. Jijik banget aku ya Tuhan… Hihhhhh…” Matanya sesekali menoleh kea rah perpustakaan. “Semoga ada penampakkan, semoga kena sikut setan biar besoknya demam, terus sakit, terus posisi dekan diganti. Hihhhhh, amit-amit itu orang gak punya mor- Ahhhhhh!” BRUK! “Tolongggg!” Akibat tidak melihat ke depan, Arunika tersandung dan berakhir kepala serta tubuhnya masuk ke selokan. Kecilnya selokan tersebut membuat tubuhnya terjepit hingga kakinya meronta-ronta ke udara. Sialannnn! Mahadewan yang melakukan dosa, kenapa ia yang kena tegur Tuhan? **** “Run, lo okey?” tanya Restika, sekretaris BEM, sambil mencondongkan tubuhnya ke meja yang penuh berkas. “Lo denger kan apa yang gue bilang? Gak ada studi banding. Kemarin gue udah ngobrol sama Wakil Dekan I dan beliau bilang pasti Pak Dekan gak bakal ACC. Katanya buang-buang anggaran dan mending fokus di akademik.” Arunika yang sejak tadi menatap kosong ke papan agenda di dinding hanya menghela napas pendek. “Ck. Alasan aja di akademik,” gumamnya. “Uangnya pasti dia pakai buat hal lain.” “Heh, tapi katanya universitas kita lagi berusaha dapat predikat Top International Private University. Jadi mereka lagi ngejar standar global, gitu katanya. Makanya semua kegiatan yang gak berhubungan langsung sama akademik-” Arunika sudah berdiri bahkan sebelum Restika selesai bicara. Ia menyampirkan tasnya ke bahu. “Run?” Restika mengernyit. “Lo mau ke mana?” “Keluar sebentar.” “Keluar ke mana?” Arunika tidak menjawab. “Run!” Restika memanggil lagi. “Lo jangan bikin masalah lagi, ya. Serius. Kita udah cukup ditekan semenjak dia datang.” Arunika mengabaikan, ia tetap datang ke Gedung Lembaga Fakultas Hukum. Ia sengaja Pakaian Dinas Harian BEM lengkap, kemeja merah tua dengan emblem organisasi di d**a kiri, celana hitam rapi, rambut panjangnya diikat sederhana. Gedung Fakultas Hukum berdiri megah di ujung halaman kampus. Pilar-pilar batu abu tua menjulang, membuat bangunan itu terlihat lebih seperti gedung pemerintahan dibanding ruang belajar. Lorong lantai dua sepi, hanya suara AC dan langkah sepatu yang memantul di lantai marmer. Di ujung lorong terdapat papan bertuliskan DEKAN FAKULTAS HUKUM Arunika menarik napas sekali sebelum mendekati seorang perempuan muda duduk di balik meja administrasi. “Permisi, Bu.” “Ya?” “Saya ingin bertemu Pak Dekan.” “Pak Dekan sedang sibuk.” “Sebentar saja.” “Tidak bisa. Beliau minta saya tidak mengganggunya. Mungkin bisa datang lagi nanti sore kesini.” Arunika menahan rahangnya agar tidak mengeras. “Saya hanya butuh lima menit.” “Mahasiswa tidak bisa masuk sembarangan ke ruang dekan,” jawab Bu Mala santai. “Apalagi tanpa janji. Nanti sore beliau luang, saya akan sampaikan nanti.” “Saya Ketua BEM.” Sebelum Arunika menjawab, pintu ruang dalam terbuka. Seorang pria keluar dari sana sambil membawa beberapa berkas. Kemeja putihnya digulung sampai siku, memperlihatkan lengan yang tegas. Mahadewan Jagat. Tanpa melihat Arunika terlebih dahulu, ia menyerahkan map kepada sekretarisnya. “Tolong kirimkan ini ke bagian arsip fakultas,” ucapnya datar. “Dan hubungi percetakan. Saya ingin salinan digitalnya selesai sebelum sore.” “Baik, Pak.” Baru setelah itu Mahadewan menoleh, matanya berhenti pada Arunika. “Kamu lagi.” “Saya ingin berbicara sebentar, Pak.” “Datang nanti sore.” “Tolong, Pak. Ini darurat, menyangkut kredibilitas Fakultas kita.” Mahadewan memandangnya lagi, lalu membuka pintu ruang kerjanya. “Masuk.” Ini bukan pertama kalinya Arunika masuk ke ruangan dekan. Tapi sekarang suasananya terasa sangat asing dan mencekam, tidak sehangat saat dekan sebelumnya. Jendela besar menghadap taman kampus. Rak buku tinggi memenuhi satu sisi dinding. Mahadewan berada di ruangan itu juga, tapi seolah tidak menganggap keberadaan Arunika. Ia sibuk dengan buku-buku yang ada di tangan, disusun ke dalam rak. “Pak.” “Bicaralah,” jawabnya tanpa menoleh. “Saya mendengar.” Arunika mengeluarkan ponselnya, dengan tangannya yang terasa dingin. Ia menekan tombol. Video mulai diputar mengeluarkan suara rintihan memenuhi ruangan. Dan itu membuat Mahadewan berhenti menata buku. Perlahan…… Sangat perlahan, ia menoleh. Tatapan itu tajam seperti bilah tipis membuat Arunika menelan ludah. Namun ia tidak mematikan video, ia justru mengangkat ponselnya sedikit lebih tinggi. “Jika beasiswa mahasiswa dikembalikan,” katanya, suaranya berusaha tetap stabil, “video ini tidak akan pernah keluar dari ponsel saya.” Sunyi….. Mahadewan menatap layar beberapa detik. Lalu ia tertawa pelan. Bukan tawa keras, lebih seperti hembusan napas yang dingin. Ia akhirnya berbalik menghadap Arunika sepenuhnya. Jarak mereka cukup jauh, tapi Arunika bisa merasakan tatapan yang sangat tajam tersebut. “Kamu tahu,” ujar Mahadewan tenang, “ancaman adalah hal yang menarik.” Ia melangkah mendekat dan Arunika berjalan mundur sesuai dengan irama lambat Mahadewan. “Apalagi jika dilakukan oleh orang yang tidak memahami hukum.” “Saya mahasiswa hukum.” “Belum lulus.” Mahadewan menyilangkan tangan. “Jika kamu menyebarkan video ini,” katanya, “kamu bisa dijerat Pasal 26 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik tentang pelanggaran hak privasi.” Arunika menelan saliva kasar. Sial, ia lupa yang ia hadapi adalah keluarga Jagat. “Ditambah Pasal 32 tentang distribusi informasi tanpa izin.” Arunika mencoba menahan ekspresi saat Mahadewan melanjutkan, suaranya semakin rendah, “Hubungan itu terjadi atas dasar persetujuan dua orang dewasa. Tidak ada unsur pidana. Tidak ada paksaan. Tidak ada korban. Artinya?” Ia sedikit menunduk mendekati Arunika yang tidak kunjung menjawab. “Yang melakukan pelanggaran hukum justru kamu.” Arunika menggertakkan gigi. “Di perpustakaan fakultas hukum,” balasnya. “Tempat akademik. Tempat publik. Itu tidak pantas.” Mahadewan tersenyum tipis. “Tidak pantas bukan kategori hukum.” Langkahnya maju satu lagi, Arunika juga terus melangkah mundur. “Orangtua bapak tengah menjadi sorotan. Apa kata Masyarakat jika seorang Dekan melakukan hal ini di wilayah kampus? Tempat menimba ilmu?” “Kamu pikir pers akan peduli?” lanjutnya pelan. “Mereka akan lebih tertarik pada cerita mahasiswa yang diam-diam merekam orang lain tanpa izin, terlebih itu ketua BEM.” Arunika terus mundur sampai punggungnya hampir menyentuh meja kerja Mahadewan. “Dan kamu tahu,” bisik Mahadewan, “saya bahkan bisa melaporkanmu sekarang.” Jantung Arunika berdetak keras. “Untuk pelanggaran privasi, pemerasan dan pencemaran nama baik.” Tangannya tanpa sadar menyentuh tepi meja. Lalu… ByUR! Gelas kopi tersenggol hingga cairan hitam tumpah dan langsung mengenai berkas di atas meja. Arunika membelalak. “Astaga!” Ia buru-buru meraih tisu di meja, namun saat berkas itu terangkat…. Matanya membulat. Tulisan tua tercetak di kertas yang sudah menguning. JURNAL HUKUM ADIPATI JAGAT EDISI PERTAMA – 1937 Napas Arunika tercekat. Itu bukan sembarang dokumen, itu salinan asli jurnal pertama universitas ini, diterbitkan hampir sembilan puluh tahun lalu. Kertasnya langka, bahkan masuk arsip Sejarah dan tidak tergantikan. Di belakangnya, Mahadewan terkekeh pelan. “Kamu yang mendapat masalah sekarang, Arunika.” Suaranya tenang, namun justru itu yang membuat tengkuk Arunika merinding. “Kamu tahu itu apa, bukan?” Memang benar nasihat rektornya, “Jangan melawan. Semakin kamu melawan, keluarga Jagat akan semakin mencengkram. Sudah ya, terima saja. Kamu akan kena karma buruk kalau membuat mereka kesal.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN