Status Baru

2012 Kata
Kertas rapuh terkena kopi panas jelas akan membuatnya semakin rusak. Dengan tulisan yang menjadi buram dan kertas yang jadi bubur Sebagian. Bahkan Arunika bingung harus bertindak bagaimana sekarang, sebab tahu kata maaf saja tidak akan bisa menebus semuanya. Sementara dibelakang sana, Mahadewan teralihkan pada ponselnya yang berbunyi. Ia mengangkatnya, agak menjauh dari Arunika yang masih membersihkan sisa cairan kopi tersebut. “Iya, Yah? Bagaimana? Kapan?” Terdengar Mahadewan berdecak, Arunika pun memberanikan diri melirik pria itu dan menangkap raut wajah yang tidak senang, dengan protes dilayangkan pada Ayahnya di telpon, Cakra Jagat. Pria yang berpengaruh itu sepertinya sedang menekan sesuatu pada puteranya. “Akan Dewan usahakan, masih banyak urusan yang belum diselesaikan. Iya, memang benar, tapi tunggu dulu sebentar, Ayah tahu bagaimana sibuknya Dewan membereskan kekacauan di Universitas yang katanya sudah level internasional ini. Kalau saja Dewan tidak masuk, sudah dipastikan Yayasan ini akan runtuh.” Apa yang sebenarnya terjadi? Arunika terus menguping hingga panggilan berakhir. Saat Mahadewan menoleh dan menatapnya tajam, barulah Arunika ingat dengan kesalahannya. “Pak, saya minta maaf terkait jurnal ini. saya akan bertanggung jawab.” “Bertanggung jawab apanya. Biaya kuliah saja masih meminta pada saya.” Arunika kaget dengan jawabannya, sampai tertawa hambar dan tidak bisa berkata-kata. Bagaimana bisa seorang dekan mengatakan hal tersebut? “Saya sudah mengatakan kalau saya berpegang teguh pada perjanjian yang sebelumnya ditandatangani. Terlepas ada klausul yang menuliskan bahwa pihak pertama bisa merubah perjanjian, tapi setidaknya memberikan jeda dan juga penyesuaian.” “Penyesuaian macam apa, Arunika? Kalian memang menyia-nyiakan beasiswa yang saya berikan,” ucapnya berjalan menuju dispenser dan meneguk air, matanya masih berkilat rasa kesal efek dari telpon barusan. Dengan gelas yang masih digenggamnya, ia menunjuk Arunika. “Hapus video tersebut sebelum saya menuntut kamu. Dan sebaiknya persiapkan diri untuk konsekuensi telah merusak jurnal pertama di kampus ini. sekarang kamu keluar, saya butuh ruang.” “Pak, sa-“ “Telinga kamu berfungsi dengan benar ‘kan? keluar,” ulangnya dengan tatapan lebih tajam, dan penuh penekanan. “Hapus video tersebut. Kamu paham hukum. Jika video itu tersebar, saya akan pastikan kamu mendapatkan konsekuensinya.” Arunika menahan napasnya dalam, merasa tidak ada ruang untuk berdebat lagi dan memenangkan argument, akhirnya ia pasrah saja. Tapi, bukan berarti Arunika akan berhenti memperjuangkan hak-haknya. “Saya benar-benar minta maaf telah merekam tanpa izin, dan saya akan menghapusnya. Tapi, saya tidak membenarkan juga apa yang Bapak lakukan. Kampus adalah tempat menimba ilmu, dan Bapak adalah sosok yang sangat dihormati, dari keluarga terpandang juga. Tolong jangan lakukan hal tidak bermoral untuk ke depannya.” “Dan tolong keluar,” sahutnya acuh. Arunika benar-benar heran. Kenapa Mahadewan terlihat sangat membencinya? Padahal selama ia menjadi ketua BEM selalu melakukan hal yang mengutamakan universitas dan mahasiswa. “Baik, tapi saya tidak akan berhenti memperjuangkan hak-hak mahasiswa yang beasiswanya dicabut oleh Bapak. Dan apabila bapak sudah ada waktu, saya ingin segera menyelesaikan kesalahan yang saya buat.” “Tenang saja,” ucapnya sambil terkekeh. “Kamu tahu bagaimana berharganya jurnal yang kamu rusak. Jadi saya sedang menimang hukuman apa yang diberikan padamu selain dikeluarkan dari kampus.” Mata Arunika terbelalak, ia memilih segera keluar daripada dikejutkan dengan kalimat-kalimat pedas yang keluar dari bibir Mahadewan. Selama 21 tahun hidup tanpa orangtua dan sudah mengalami banyak hal, jelas Arunika menyadari kebencian yang dilemparkan oleh Mahadewan padanya. Tapi kenapa? apa salahnya? Dalam langkahnya itu, Arunika bahkan melamun sampai ia tidak sengaja menabrak seseorang yang berdiri di depannya. “Ya Tuhan, maaf gak se…,” ucapannya menggantung ketika tahu siapa sosok yang ia tabrak. Kesialan memang tidak ada habisnya. “Mata lo masih berfungsi gak sih? Beneran gak guna banget jadi manusia. Emang harusnya dulu Nyokap sama Bokap gue gak usah ngurus lo, bawa sial aja.” Itu Nisya, ia adalah sepupu Arunika dari pihak Ayah. Selama 21 tahun juga Arunika memang tinggal bersama Paman dan Bibinya. Tapi bukan kehidupan manis yang ia dapatkan, melainkan kehidupan penuh dengan kekacauan dan juga tekanan. Bahkan dirinya seringkali disebut anak pembawa sial. Ibunya meninggal karena melahirkannya, dan Ayahnya meninggal tertabrak mobil saat hendak membelikan s**u ketika Arunika berusia 3 bulan. “Sorry, lagian lo kenapa berdiri di tengah jalanan kayak gak ada kerjaan aja.” “Gak ada kerjaan lo bilang?! Nih, gue abis dapet telpon dari Nyokap kalau adonan kue punya lo busuk semua!” “Apa?” “Awas aja ya kalau lo gak setor duit sesuai perjanjian. Mau itu busuk atau nggak, lo harus tetep bayar tagihan hidup lo ke keluarga gue yang ud-“ BRUK! “Aduh! Arunika sialan!” Arunika tidak mempedulikan Nisya setelah menyenggolnya, ia berlari kencang hendak menuju rumah. Adonan kue nya busuk? Astaga…. Bagaimana ia bisa hidup satu minggu ke depan. Kadang kala, Arunika bertanya-tanya apakah benar ia pembawa sial, saking seringnya kena apes! **** “Run, gimana beasiswa kamu?” Tanya Bani, sang Paman yang baru pulang memancing. “Belum ada kepastian, Paman. Tapi bakalan tetap diusahakan.” “Haruslah, kamu tahu kalau kami gak akan pernah biasa biayain kamu. Uang jajan sama kuliah Nisya aja udah bikin kami pusing.” “Aku paham kok, Paman.” “Kalau kamu ada uang, lebih baik ngekost saja ya. Nisya katanya mau jadi tiktokers atau apalah gitu, jadi mau pake kamar kamu.” Arunika yang tengah menguleni adonan itu berhenti sesaat. Sang paman melanjutkan, “Bukan bermaksud mengusir ya, Run. Kamu tahu sendiri lah anak itu gimana kalau keinginannya gak dituruti. Paman juga sebenernya gak mau minta duit kamu, tapi gimana dah…. Bisnis udah bangkrut, biaya hidup juga naik. Kan gak ada gratis di dunia ini.” “Gak papa, Paman. Aku usahain bulan depan pindah ke kostan,” ucapnya dengan nada yang malas. Siapa juga yang mau tinggal disini, terlebih Nisya dan Ibunya seperti anak kembar yang memiliki api di mulutnya. Semua hinaan dan cacian mereka selalu berhasil memanggang Arunika, untungnya Arunika sudah terbiasa. Dan meskipun adonan sebelumnya membusuk, Arunika sangat senang mendapatkan orderan cookies dari rumah sakit langganan ia menyimpan kue-kue. Katanya ada lonjakan pasien anak-anak, dan mereka sangat menyukai cookies buatannya. Arunika mengantarkan ke Rumah Sakit saat malam tiba. Dua keranjang penuh sesuai dengan pesanan pemilik cafetaria disana. “Mbak Sisil, cookiesnya udah dateng nih.” “Akhirnya, Run! Mbak udah tungguin dari sore loh.” “Maaf, aku bikin variant matcha sekalian.” “Bener? Wah, sini bawa masuk.” Arunika pun membantu menyusunnya di etalase, sembari Mbak Sisil menceritakan bagaimana peminat Cookies Arunika ini sangat meningkat akhir-akhir ini dan menyarankan Arunika menaikan harganya. Karena sudah mengenal lama, jadi Arunika sempat bercerita bagaimana kondisi kehidupannya. Itu yang membuat Mbak Sisil menghubungi teman-temannya yang memiliki bisnis serupa untuk memesan cookies pada Arunika. Bagusnya lagi, Mbak Sisil bekerja di cafetaria salah satu Rumah Sakit yang mewah dan juga mahal, jelas harganya bisa Arunika naikkan. Selama pembeli ada uang, mereka akan membeli kualitas. “Tadi juga ada yang minta pesan cookiesnya, terus Mbak kasih kontak kamu. Biar hubungi lansung ke kamu. Kayaknya dia orang kaya, keliatan lah yaa… jangan lupa kamu naikkan harganya juga.” “Ih, makasih banyak loh, Mbak.” “Sama-sama. Habis ini kamu mau kemana?” “Pulang sih, tapi aku mau ngadem dulu di taman belakang.” “Nih, bawa ini,” ucap Mbak Sisil memberikan kotak s**u. “Biar otaknya makin encer.” “Ih, makasih banyak ya, Mbak.” Arunika pamitanm, dan pergi ke taman belakang rumah sakit. Siapa yang tidak betah berlama-lama di taman ini, tidak terasa seperti taman Rumah Sakit. Dengan tiang lamu berjajar, cahaya berpendar berwarna keemasan. Berbagai jenis bunga tumbuh, ditata oleh tukang khusus. Dan kebetulan sekarang ini waktunya bunga mawar bermekaran. Berbagai warna di setiap sudut, juga pepohonan yang rindang dan rumput yang rapi hijau. Bahkan suara burung disini membuat siapa saja lupa ini adalah Jakarta saking asrinya. Taman juga tidak terlalu banyak orang. Tentu saja, mereka pasti lebih betah berada di kamar masing-masing yang mewah dan mirip dengan hotel tersebut. Bagi Arunika, melihat taman indah ini lebih dari cukup. Ia tidak berani memimpikan hal-hal mewah lainnya. Sebab mustahil baginya. Tapi keindahan itu tidak bertahan lama, pikirannya berkenala tentang nasibnya. “Kalau akhir semester ini belum ada kejelasan tentang beasiswa, bagaimana aku bayarnya nanti? Tabungan juga gak cukup,” gumamnya. “Emang setan di Mahadewan itu,” umpatnya dengan suara lebih keras. “Pantesan jadi bujang lapuk, udah 30 tahun gak ada yang tahan lama-lama sama dia. Pasti Bu Rinjani juga bentar lagi ninggalin dia. Semoga aja dia dapat pasangan yang bisa menindasnya, Ya Tuhan, ngasih dia Pelajaran hidup dan kalau bisa pinter bela diri biar kapan-kapan kena smackdown. Amen.” “Hiks…. Hiks… hiks…” Arunika berdiri seketika. “Setan ‘kah?” gumamnya waspada. “Ah, masa.” Kakinya pun melangkah menuju sumber suara mencari tahu siapa yang menangis ini. dan dibalik salah satu pohon besar, ada anak kecil dengan pakaian rumah sakit tengah berjongkok dengan kepala tenggelam diantara kaki. Rambut ikalnya yang panjang menutupi wajahnya, ia menangis terisak. “Ade….,” panggil Arunika. “Ade, kenapa disini sendiri? Mama sama Papanya mana?” Anak itu masih menangis. Hingga Arunika ingat memiliki cookies yang ia sisakan di tas. “Ade suka cookies matcha tidak? Pakai chocoochips? Kakak punya loh, masih anget karena bikin sendiri. mau coba gak?” Akhirnya.. anak itu mau mengangkat wajahnya dan maniknya bertatapan dengan Arunika. “Weh, boneka hidup ini. cantik banget,” gumam Arunika gemas. **** Arunika ini seringkali dititipkan di panti asuhan jika Paman dan Bibinya tidak sanggup membiayai. Itu dilakukan beberapa kali sebelum kembali dibawa ke rumah. Jadi cukup mudah baginya membujuk anak kecil. Namanya Noelle, seorang anak berusia 5 tahun yang kabur setelah mendengar pembicaraan pengasuh dan perawatnya kalau Papahnya akan menikah. “Gak mau ada Mama, mau sama Papa aja. katanya Mama Tiri jahat,” begitu adunya pada Arunika sambil memakan cookies. Dalam hal ini, Arunika bingung. Bukan ranahnya. “Habis ini pulang ke kamar ya, nanti Kakak anterin.” “Gak mau, takut ada Mama Tiri.” “Hei, kan adek dengernya juga dari mbak pengasuh ‘kan? bisa jadi mereka gossip.” “Gossip?” “Bohong maksudnya. Papanya adek belum bilang ‘kan? Nah, mungkin itu beneran gak terjadi loh.” “Um, tapi Papah sering telponan juga,” rengeknya. “Adek kan belum ketemu sama orangnya. Gak semua Mama Tiri jahat loh. Siapa tahu baik sama Kayak Mama yang melahirkan adek.” “Mama punya adek gak ada. Kata Papa udah meninggal.” Arunika langsung terdiam dan terkekeh hambar, mencoba menjelaskan untuk tidak mengkhawatirkan apapun yang belum terjadi dan membujuknya kembali ke ruangan sebab pasti dicari. Tapi anak itu tetap tidak mau. Arunika pun bingung, terlebih tidak terlihat ada orang yang datang mencari. Jadi ia alihkan dulu pembicaraan pada seputaran cookies, Noelle terllihat sangat antusias hingga kantuk datang. “Tuh, ayok ke kamarnya. Kakak antar, besok kakak bawa yang rasa red velvet.” “Iya?!” “Iya, tapi adeknya pulang dulu ya ke ruangannya.” “Gendong!” Arunika pun melakukannya, menggendong anak yang langsung melingkarkan tangan di lehernya. Agak demam, Arunika sampai melangkah cepat. “Dimana ruangannya?” “Pake lift itu.” Menunjuk lift khusus ruangan VIP, membuat Arunika yakin kalau Noelle adalah anak orang kaya. Sebenarnya Arunika penasaran tentag sakitnya Noelle, tapi tidak punya waktu bertanya saat anak ini memiliki kesedihan lain. Menuju kamar yang disebutkan Noelle, Arunika pun mengetuk pintu hingga seseorang menggesernya. Sepertinya sang perawat yang langsung terlihat lega. “Non, Mbak cariin loh.” “Gak mau! Gak mau ada Mama Baru!” teriaknya memeluk Arunika semakin erat, enggan melepaskannya. “Noelle,” panggil seseorang dari balik partisi, melangkah menuju mereka dan akhirnya…. Arunika bisa melihat dengan jelas siapa sosok itu. Sialan! Mahadewan? Kenapa ada disini? Mahadewan juga sama terkejutnya dan berhenti melangkah saat melihat Arunika. “Gak mau ada Mama Baru, Papah! Gak mau! Hiks….” Sedetik setelah Noelle berucap, Mahadewan tersenyum miring. Dan Arunika merasakan hawa negative darinya. “Memangnya Noelle tahu siapa Mama Barunya?” “Gak mau! Gak mau tauuuuu, Papaaa!” “Kenapa? Yang gendong Noelle itu calon Mama Baru Noelle loh,” ucap Mahadewan dengan mudahnya. Yash, sudah Arunika duga kalau senyuman pria itu akan menyeretnya ke neraka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN