“Mama… sudah sampai belum?” suara kecil itu terdengar pelan, masih berat oleh sisa kantuk. Noelle berdiri di ambang pintu kabin dengan mata setengah terpejam, rambutnya sedikit kusut, dan langkahnya goyah seperti anak yang belum sepenuhnya sadar. Ia mengucek matanya sambil berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depan Arunika yang sedang berdiri memandangi laut melalui jendela kaca lebar. Arunika langsung menoleh, ekspresinya melunak seketika. “Sebentar lagi, Sayang,” ucapnya lembut sambil berjongkok agar sejajar dengan tinggi Noelle. Tangannya terulur, merapikan rambut halus di dahi gadis kecil itu. “Kita sudah dekat. Nanti kamu lihat pulaunya, cantik sekali.” Noelle tidak langsung terlihat bersemangat. Ia malah mengerucutkan bibir, lalu memegang perutnya pelan. “Noelle mual…” Arunik

