She's an Angel, She's My Rival

1723 Kata
Awalnya, kukira kami akan langsung bertemu dengan Ordo. Ternyata Johan dan Awan malah membawaku ke sebuah rumah kuno di kawasan Semarang dekat dengan daerah kota lama. Sungguh luar biasa, bangunan kuno bergaya Eropa ternyata ada di Indonesia. Aku kira hanya akan melihatnya dalam Draculla. Johan bilang manusia biasa tidak bisa melihatnya karena sudah dimantrai. Jadi bagi orang biasa bangunan megah ini hanya akan terlihat seperti pondok kumuh tak berpenghuni. Katanya sih demi keamanan dan keselamatan mereka ketika bertugas. Sebagian mantra yang diciptakan Johan atau para Hunter akan berefek berbeda pada setiap orang. Sebagian dari mereka melihat rumah megah ini seperti lapangan kosong, yang lain melihat bangunan ini seperti rumah angker. Jadi kemungkinan, apabila ada rumah-rumah angker tak berpenghuni, bisa jadi rumah tersebut adalah kediaman Hunter yang sudah dimantrai. Ternyata itu sebabnya banyak orang yang sering melihat penampakan tertentu di sebuah rumah kosong. Bisa jadi itu ulah Hunter. Aku sih senang bisa tinggal di tempat semegah ini. Hanya saja, bangunan ini terlalu luas. Sering aku tersasar masuk ke ruangan lain. Pernah satu ketika aku sampai di kamar Awan. Yup! Dia menyambutku dengan bentakan yang luar biasa dahsyat. Kalau saja saat itu Johan tidak datang tepat waktu, mungkin aku akan dijadikan dendeng oleh Awan. Awan bilang kalau aku tidak pantas dijadikan penyelamat dunia, lebih pantas disebut sebagai perusak dunia. Tapi masa bodoh dengan omelannya, selama ada Johan di sana aku akan tetap aman. Selama di kampus, kami memutuskan untuk berpura-pura tidak saling mengenal. Johan khawatir ada kaum Immortal yang menyusup di kalangan manusia. Immortal memiliki kemampuan merubah wujud sesuai dengan yang mereka inginkan. Terlebih lagi, Immortal juga mampu mengendalikan manusia untuk melakukan perintahnya. Johan bilang manusia sering diadu domba satu sama lain karena terkena hasutan kaum Immortal. Oleh karena itu, Johan sering menyarankanku untuk menjaga pikiran agar tetap bersih. Karena kekuatan yang besar bukan hanya karena kemampuan ataupun bakat, melainkan berasal dari hati yang bersih (sepertinya aku pernah mendengar semboyan ini di suatu tempat). Setiap malam Johan dan Awan bergantian melatihku. Johan memberikan setumpuk buku berisi ilmu sihir dan sejarahnya, ancaman Immortal, pengetahuan dasar mengenai mahluk kegelapan, dan lain-lain. Bisa disebut semacam les tambahan, ada untungnya juga sih. Aku bisa dekat dengan Johan. Tapi begitu Awan yang mengajariku, badanku remuk. Awan mengajari ilmu bela diri dan pertahanan dasar. Jangan harap dia akan bersikap halus. Setiap subuh dia selalu memaksaku lari pagi. Bukannya aku suka mengeluh, olahraga bukanlah salah satu hal yang kusuka. Tiap tes lari saja aku selalu jadi nomor dua dari belakang. Sudah bagus aku mau berusaha, tapi Awan bilang aku lemot. Oh, aku mulai merindukan kenyamanan dan kehangatan rumah. Dulu badanku wangi, tapi kini wangi-wangian itu berubah menjadi bau koyo dan balsam. Aku benar-benar tidak menyukainya. Siapa saja, tolong lenyapkan Awan dari muka bumi ini! *** "Kenapa kita di sini?" tanyaku bingung. Tumben sekali Awan mengajakku latihan di dalam ruangan (biasanya sih lari-lari memutari lapangan sampai KO). Sebenarnya, seharusnya hari ini Johan yang memelatih ketajaman intuisiku. Lalu, di mana Johan sekarang? "Kali ini aku yang bertanggung jawab melatihmu," jawabnya cuek. "Johan ada urusan." Aku yakin dia pasti terpaksa melakukan ini karena desakan Johan. Johan! Teganya kau meninggalkanku bersama manusia yang jelas ingin mengirimku ke dalam jurang kesengsaraan! Perasaanku rasanya benar-benar tidak enak. Aku yakin hari ini merupakan hari paling kelabu bagiku. Dengan sikap Awan yang seperti itu, mungkin aku akan kehilangan kebahagiaan di pagi ini sejumlah tujuh puluh persen. Oh bukan, aku salah, mungkin kebahagiaanku sudah lenyap sejak dia mengajakku. "Kau bisa ilmu apa?" tanya Awan. "Aku mahir dalam sastra, terutama puisi sila—" Belum selesai aku berbicara, dia sudah melemparkan sebilah pedang bergagang emas di hadapanku. "Angkat pedang lalu maju!" "Hah?" Aku hanya melongo melihat pedang yang tergeletak di depanku. "Angkat!" Aku berusaha mengangkat pedang yang Awan lemparkan, namun di luar dugaan, pedangnya lumayan berat. Tubuhku ini hanya terdiri dari tulang dan tumpukan daging plus lemak tanpa otot kekar yang terlatih. Jadi, mana mungkin aku bisa memakai pedang? Seumur hidup, benda tajam yang pernah kugunakan hanyalah pisau, garpu, silet, jarum, dan gunting. Jika benda-benda yang kusebutkan itu masih tergolong benda tajam. "Kau benar-benar tidak tertolong," ucapnya jengkel. Dia menatapku dingin sambil melempar sebuah boneka berbentuk gadis kecil berkuncir dua yang tengah tersenyum. Jika diperhatikan lebih seksama lagi, boneka itu terbuat dari kain yang kemungkinan diisi dengan kapas atau semacamnya. "Kau kira umurku itu berapa?" sindirku pada Awan. "Diam dan perhatikan." Boneka itu mulai bergerak dan melayang. Percikan kembang api keluar dari boneka dan .... Kabom! Sosok boneka yang imut tadi telah menjelma menjadi manusia. Tingginya kira-kira seratus lima puluhan, tidak jauh berbeda denganku. Sungguh imut, gadis berkulit putih s**u itu memakai dres pink sepanjang lutut dengan pita-pita merah di bagian pinggangnya. Gadis itu mengedip-ngedipkan kedua matanya yang bulat, begitu pandangannya terarah pada Awan, dia terlihat begitu girang. "Awan!" pekiknya girang. Gadis itu melompat kegirangan dan langsung memeluk Awan. Aku hanya bengong dengan mulut menganga membentuk huruf O besar. Jika aku yang begitu, pasti Awan sudah memakiku habis-habisan. Dulu saja, ketika aku tak sengaja berlari menubruknya, dia memarahiku habis-habisan dan berkata bahwa aku tidak ada bedanya dengan anak kecil berumur lima tahun. Tapi yang kulihat di hadapanku ini begitu luar biasa. "Awan! Kenapa Awan begitu lama sekali memanggil Mala? Mala rindu sekali pada Awan," rengek si gadis boneka. Awan menepuk-nepuk kepala si gadis boneka dengan penuh kasih sayang. "Bukan begitu, aku sibuk." Ya, sibuk membuat hari-hariku yang bahagia menjadi sengsara. Apa ini? Kenapa berbeda sekali perlakuannya? Ini namanya pilih kasih. Ini tidak adil! Bukan berarti aku ingin Awan bermanis-manis seperti itu, hanya saja, aku juga ingin Awan lebih halus padaku (walau kemungkinan Awan tersenyum padaku hanyalah satu persen). "Jadi, apa yang Awan ingin Mala lakukan?" "Aku ingin memintamu melatih seseorang," jawab Awan. Gadis boneka itu kemudian beralih memandangku. Mungkin ini saatnya bagiku untuk berkata, "Hai, sadar ada diriku di sini ya?" Tapi, demi keselamatan pribadi, aku mengurungkan niatku. Diamatinya diriku dari ujung kaki hingga ujung kepala, kemudian si gadis ipun menghela napas. "Mala tak yakin bisa melatih yang seperti ini, harapannya tipis. Awan ... Mala ingin bermain bersamamu." Ini hanya perasaanku saja atau memang dia punya selera humor yang sama dengan si Awan? Dia benar-benar meremehkanku. Betapa beruntungnya diriku, ada satu lagi orang yang mirip Awan haha (sejujurnya aku tengah meratapi hidupku). "Mala, aku tau perasaanmu, tapi hanya kaulah yang bisa kuandalkan." Ingin sekali kutimpuk kepala Awan. Memangnya aku sebegitu mengenaskan? Si gadis boneka itu mengangguk, kemudian mulai melayang di hadapanku. "Sebenarnya Mala malas bermain-main dengan kakak yang jelek ini. Tapi, yah. Mala tidak bisa menolak keinginan Awan." WHAT THE? Ini namanya perang! Aku benar-benar diremehkan. Tidak bisa kubiarkan penindasan ini terjadi padaku. Kakak? Dilihat-lihat umur kita juga sepertinya tidak beda jauh. Wajahnya memang cantik dan imut, tapi sifatnya itu! Wajah manis belum tentu mencerminkan kepribadian serupa. Ini yang namanya "jangan menilai buku berdasarkan sampul". Belum sempat kuangkat pedang yang diberikan Awan, si gadis boneka langsung menyerangku tanpa peringatan dengan hantaman tak kasat mata. Aku terpental beberapa meter menghantam rak buku. Buku-buku yang tadinya tersusun rapi di dalam rak pun akhirnya jatuh berserakan. Aku bersyukur, dia tidak melemparku ke rak sebelah barat yang penuh dengan buku-buku setebal kamus. Pasti lumayan pening kepala jika buku tersebut jatuh menimpaku. "Hei!" teriakku. "Itu curang namanya!" "Mala tidak curang, itu karena kau lemah saja." Diayunkanya sebuah tongkat kaca. Tongkat tersebut menciptakan sebuah lambang di plafon berbentuk lingkaran. Seperti yang Ibu dulu pernah ciptakan untuk melindungiku dan Ayah dari serangan kelompok jubah hitam. Boneka-boneka mulai keluar dari dalam portal. Melompat-lompat menyerangaku. Si gadis lolita terus melemparkan boneka berbentuk kucing, bebek, beruang. Ah! Aku tak yakin dengan yang kuhadapi, dia menyeramkan. "Gunakan kekuatanmu!" teriak Awan. Napasku tersengal karena terus berlari menghindar dari serangan pasukan boneka yang menggila. Aku mulai berpikir bahwa para Hunter memiliki kecenderungan tinggi dalam menyengsarakan lawannya. Belum lagi pemilihan senjata itu, boneka? Baiklah aku mulai terdengar seperti seseorang yang tidak waras. Begitu banyak pilihan senjata yang bisa dia ciptakan, kenapa dia malah memilih boneka? Yang paling penting: ada sesuatu yang ingin kukatakan pada Awan. "Aku tidak punya!" teriakku pada Awan. Aku berusaha mengamati situasi yang ada di sekeliling. Kondisi tidak menguntungkan, gadis itu kuat aku lemah, dia punya kekuatan aku tidak. Bagaikan langit dan bumi. Pedang yang diberikan Awan juga tidak terlalu menolong. Aku berlari menghindari sekawanan boneka bebek yang menyerang. "Ini gila!" teriakku. "Awan apa yang kau rencanakan?" Aku benar-benar kesal dengan Awan. Aku sudah mulai lelah. Tenagaku juga hampir habis, tapi si gadis malah semakin girang menyerangku. Boneka memang tidak berbahaya. Tapi kalau boneka dilempar secara bertubi-tubi. Siapa yang akan tahan? Dan yang terparah: gadis itu juga mulai melemparkan meja, kursi dan benda-benda yang ada di sekelilingku. Aku harus memikirkan sesuatu. Pelangi.... Hawa yang ada di sekelilingku menjadi hangat. Kurasakan ada aliran energi yang mengalir di ujung-ujung jemariku. Angin mulai muncul di sekitarku. Pelangi ... kau pasti bisa! Serasa memiliki kekuatan yang tak terbatas. Kuikuti suara yang membimbingku. Kuarahkan sebuah kursi kayu tak jauh dari si gadis lolita berpijak. Ajaib, kursi bergerak sesuai keinginanku. Tanpa rasa ragu, kuhantamkan kursi tepat ke arahnya, gadis itu langsung ambruk. Si gadis heran dengan benda yang menghantamnya. Tak kusia-siakan kesempatan emas ini, segera kulempar buku-buku setebal kamus ke arahnya. Saatnya pembalasan! Si gadis berteriak kesakitan. Tongkat kaca yang digenggamnya jatuh. Segera kuambil tongkat kaca yang digunakannya untuk mengendalikan benda yang ada di sekitarnya. Kuarahkan sebilah pedang di hadapannya. "Jangan." Aku megap-megap kehabisan napas. "Remehkan aku!" Gadis itu menatapku kemudian berkata, "Mala kali ini tidak kalah, Mala-lah yang mengalah pada kakak ini." Ternyata dia memang tidak mau kalah hingga akhir. Gadis itu berdiri kemudian melayang ke arah Awan dan memeluknya, seakan-akan aku tidak ada di ruangan ini. Ya, silahkan saja. Dunia ini memang hanya milik kalian berdua dan aku hanya mengontrak. "Awan, Mala kecewa." "Tidak apa-apa, Mala." "Mala akan kembali ke Ordo, jika butuh bantuan, jangan sungkan." Mala memeluk Awan kemudian lenyap dan kembali menjadi boneka yang tak berdaya. Aku sungguh tak percaya dengan dua pasangan aneh yang muncul di hadapanku. Awan pasti berniat membunuhku, dari awal berjumpa, dia memang sudah terlihat tidak ingin membantuku. "Kau!" Aku berteriak pada Awan. "Tadi jika aku tidak mendapatkan keajaiban, aku bisa mati terbunuh oleh lolita aneh itu. Apa kau sengaja melakukannya?" bentakku. "Seharusnya kau berterima kasih. Setidaknya, kekuatan tersembunyimu akhirnya muncul," jawabnya enteng. Aku ingin membalas perkataan Awan, namun dia sudah berbalik melangkah menuju pintu. Aku mulai terhuyung-huyung. Kakiku serasa bergetar. Perlahan-lahan pandanganku kabur. Kurasakan beban di kedua kakiku. Dunia menjadi gelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN