I'm Sorry

582 Kata
Awan POV Aku tidak menyangka si cewek bego langsung kehilangan kesadaran. Segera aku menghampiri cewek bego yang telanjur membentur lantai. Apa karena terlalu lelah atau kepala yang menghantam lantai, mungkin kombinasi keduanya yang membuatnya tidak sadarkan diri. Kutepuk-tepuk pipinya berharap dia merespon, tak ada reaksi. Wajahnya sangat pucat dan keringat sudah membanjiri kening serta lehernya. Berulang kali kupanggil dia tidak menyahut juga, aku mulai merasa khawatir dengan si cewek bego. Aku pun berinisiatif membawanya ke kamar. Baru saja aku berdiri sambil membopong si cewek bego, aku mendengar sebuah suara membentakku. "Awan, jelaskan semua ini!" Dari arah pintu perpustakan Johan terlihat begitu murka. "Kau menuduhku?" ucapku kesal. "Awan!" Suaranya terdengar lebih garang dari biasanya. "Jelaskan!" "Aku, ehm...." Aku bingung memilih alasan yang tepat, walaupun Johan lumayan pendiam. Akan sangat tidak menyenangkan bagiku jika dia murka. "Jadi, sebenarnya tadi—" "Kau memanggilnya?" Pandangan Johan beralih pada boneka yang tergeletak tak jauh dari tempatku berdiri. "Kau memanggil Mala?" Aneh, tak biasanya dia semarah ini. Aku merasa seperti seorang penjahat yang tertangkap basah tengah melakukan tindakan kriminal. Satu hal yang lebih membuatku bergidik, Johan yang biasa terlihat tenang kini berubah menjadi sosok Siwa. Dia seakan ingin melemparkan sebuah trisula menembus kepalaku. "Hanya latihan biasa." Johan mulai berjalan ke arahku sambil memberikan pelototan ganas. "Kau tahu kemampuan Pelangi dan sengaja membuat dia melawan Hunter berlevel tiga?" "Iya," jawabku singkat. "Bahkan kau memanggil Mala untuk melatihnya?" "Tapi itu untuk kebaikannya juga!" Mendengar jawabanku Johan terlihat ingin menghantamkan kepalaku ke dinding. Namun dia menepis keinginan jeleknya dan memilih merebut Pelangi dari gendonganku lalu membawanya menuju kamar. Aku pun segera mengikuti Johan di belakang meskipun dia melarang. Johan segera membaringkan Pelangi, dan langsung mengambil sebuah kursi yang berada di samping ranjang. Berulang kali Johan menempelkan kompres dan mengganti airnya. Sebenarnya aku juga khawatir dan sedikit merasa bersalah dengan yang terjadi. Hanya saja aku tidak bisa mengeluarkan penyesalanku. "Dia baik-baik aja. Kenapa kau seheboh ini?" "Baik-baik saja katamu?" bentaknya. "Dia pingsan begini kau bilang baik?" Aku tahu dia jelas dalam kondisi tidak baik, fakta yang membuatku semakin merasa bersalah. Aku bahkan tak menyangka dia punya kekuatan sihir, apa pun bentuk kekuatan yang dia miliki-kekuatan itu jelas memerlukan energi yang bukan main. "Fine, aku bersalah." Johan tidak menghiraukan permintaan maafku. Pandangannya hanya tertuju pada Pelangi yang belum juga sadar. Johan terus menggengam tangan Pelangi, sementara aku hanya berdiri terpaku menahan keinginan untuk berlari menghampirinya. "Pelangi, ayo bangun." Nada bicara Johan begitu halus, aku tak pernah melihatnya bicara seperti itu pada gadis mana pun. Satu hal yang membuatku semakin penasaran: dia bicara seperti itu pada seorang cewek ingusan bernama Pelangi. "Hei! Kau tidak berhak mendiamkan temanmu seperti ini." Johan berbalik kemudian berkata padaku, "Awan sebenarnya apa masalahmu?" "Aku? Kau bilang aku bermasalah? Aku memang keterlaluan, tapi please jangan diamkan aku." "Awan, aku tak tahu mengenai alasan ketidaksukaanmu terhadap Pelangi. Namun, apa yang telah kaulakukan hari ini sangat keterlaluan. Pernahkah kau berpikir dia bisa saja terbunuh? Dia bahkan tidak lebih dari seminggu mengenal dunia kita." Aku tahu dia memang baru mengenal dunia yang sudah lama kujalani, aku pun sadar bahwa Pelangi masih belum terbiasa dengan kenyataan mengenai dunia yang seharusnya sudah lama ia pikul. Aku hanya ingin membuatnya lebih mawas diri terhadap kebenaran yang ada di sekitarnya, menurutku dia terlalu lama bersembunyi dari fakta-fakta yang seharusnya diterimanya. Jika mengutarakan kebenaran merupakan sebuah dosa, maka aku bersedia menerima dosa yang aku lakukan. Setelah berkata dingin padaku, Johan kembali menggenggam tangan Pelangi. Ada suatu gelenyar ketidaknyamanan ketika melihatnya melakukan itu. Rasanya aku ingin berteriak, cepat bangun!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN