It's Time for Apologize

2674 Kata
Pelangi, bangun.... Bisikan itu terdengar lagi. Hal yang kuingat hanyalah sosok cewek manis yang ingin membunuhku, menghajarku, dan mencincangku. Oh tunggu sebentar, mungkin perpaduan dari ketiganya. Lalu, bayangan Awan yang meninggalkanku sendirian. Selain itu, badanku terasa berat, otot-ototku kaku dan luar biasa ngilu. Baiklah mungkin aku membutuhkan beberapa jamu untuk masalah ototku yang terasa pegal luar biasa. Perlahan kubuka kedua mataku. Kuedarkan pandangan hingga menemukan sosok Johan yang terlihat lega begitu aku sadar. "Johan." Kepalaku berat. Rasanya seperti baru menghantam batu. "Pelangi, syukurlah. Akhirnya kau siuman juga. Aku benar-benar khawatir." Johan, andai saja kau tahu. Teman baikmulah yang membuat keadaanku jadi begini. "Aku baik-baik saja kok." Kulirik Awan yang tengah berdiri di samping pintu. "Jika saja, aku tidak berjumpa dengan boneka imut yang mematikan." Awan menatapku kemudian tersenyum kecut. "Awan!" teriak Johan. "Bagaimana bisa kau minta Hunter level tiga untuk berduel dengan Pelangi?". "Kau berlebihan. Pelangi selamat, ‘kan?" jawab Awan. "Tapi, bagaimana kalau Pelangi kalah?" balas Johan. "Maka ramalan Madam Eline itu salah." Johan terdiam mendengar ucapan Awan. "Pelangi harus tahu posisinya. Kalau dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri, bagaimana caranya dia melindungi seluruh umat manusia?" Awan menatapku. Seperti ada ribuan anak panah yang menghunjam tubuhku. Aku ingin membalas perkataan Awan, tapi kali ini Awan benar. Bagaimana bisa aku melindungi orang-orang yang ada di sekitarku jika aku lemah? Bagaimana bisa aku menolong Ayah? "Maafkan aku. Johan, apa yang dikatakan Awan memang benar." Johan berbalik melihatku. "Pelangi! Apa yang dilakukan Awan itu memang keterlaluan, Hunter level tiga bukanlah lawan yang seimbang untukmu, dan lagi...," Diliriknya Awan, Johan segera menarik kerah baju Awan sambil mengguncang-guncang Awan. "Berani-beraninya kau berduel di ruangan itu? Kau tahu 'kan, betapa langkanya buku-buku tersebut?" (Jadi yang dikhawatirkan itu buku, bukan aku?) " Dasar pengkhianat!" Awan berusaha bertahan dari amukan Johan. "Kok aku? Itu salah Mala dan Pelangi? Kenapa aku yang disalahkan?" "Jika punya perasaan, cari tempat lain. Kenapa kau pakai ruangan itu?" Johan menjitak kepala Awan. Melihat mereka berdua bertengkar sungguh lucu. Seperti anak kecil sedang berebut mainan. Terlihat jelas mereka sangat akrab. Bisa dibilang sahabat karib. Lagi pula, adegan pertengkaran Johan dan Awan sedikit menghiburku. "Tapi, aku bisa Johan." Kutundukkan kepalaku, "Aku mendengar suara." "Suara?" Awan mulai duduk di sebelahku. "Setelah aku mendengar suara itu. Aku bisa merasakan ada kekuatan yang merasuki tubuhku." "Maksudmu, wangsit?" Wangsit? Aku ini bukan orang sakti, dukun, ataupun seorang juru kunci. Tidak bisakah Awan menggunakan perumpaan lain yang lebih bagus? "Entahlah, aku sendiri juga tidak begitu yakin, yang jelas ...." Awan dan Johan menatapku dengan penuh rasa penasaran. "... yang jelas aku sekarang ngantuk. Aku mau tidur. Kalian keluar, yah?" Spontan Awan dan Johan berkata "HAH?" "Kau! Benar-benar!" teriak Awan kesal. Sebelum Awan sempat menjitak kepalaku, Johan menyeret Awan keluar dari kamar. Bisa kudengar Awan berteriak tidak terima. Biar saja setidaknya malam ini aku bisa istirahat. *** Kukira jika pergi ke kampus, setidaknya suasana hatiku akan mulai membaik. Kutatap langit yang ada di atasku, begitu biru dan cerah, awan-awan putih menghiasi langit di siang ini. Perlahan-lahan awan mulai membentuk wajah orang yang sangat kurindukan. Ayah, bagaimana kabarnya? Aku ingin sekali menghubungi Ayah dan mengabarkan keadaanku. Tapi Johan dan Awan sepakat untuk tidak memberi tahu keberadaanku pada Ayah agar para Immortal tidak melukainya. "Boleh aku duduk?" "Johan?" "Masih bingung dengan kejadian semalam?" tanya Johan. "Sedikit," jawabku lemas. "Jadi ceritanya kamu masih ngambek?" Sebenarnya aku masih marah dengan perbuatan Awan padaku yang tega meminta lolita sadis melawanku, atau lebih tepatnya membunuhku. Coba kuhubungkan motif Awan, tentu saja itu bisa dikategorikan sebagai tindakan kejahatan. Lebih tepatnya sebagai pembunuhan terencana. Aku benci dengan sikap Awan, aku sangat tidak menyukainya secara lahir dan batin. "Mungkin," jawabku asal. "Bisa yes bisa no tergantung sogokannya sih." Johan mendengus, menyilakan kedua lengan di depan d**a. "Kalau begitu apakah yang harus hamba lakukan untuk menebus kesalahan hamba?" Johan membungkukkan badan, lalu berpose ala butler. Aku pun tertawa melihat gayanya. Jika Johan seperti ini di depan mahasiswi, aku yakin mereka pasti akan senang bukan kepalang. "Okay." Kulambaikan kedua tangan. "Aku kalah melawan Master Johan." "Tentu saja, tak seorang pun yang sanggup menghadapi kearifanku," ucap Johan penuh percaya diri. "Jadi sekarang kita impas?" "Yup." Aku mengangguk. "Kita Impas." Johan mulai mengambil sesuatu dari dalam sakunya, kemudian dia memberikanku sebuah kertas. Aku memandangnya dengan penuh kecurigaan, namun dia hanya membalas tatapanku dengan sebuah senyuman. "Bacalah dulu," sarannya. Kemudian aku mulai membuka lipatan kertas dan membaca tulisan yang ditorehkan di atas kertas tersebut: "Hope" is the thing with feathers- That perches in the soul- And sings the tune without the words- And never stops-at all- "Ini merupakan puisi faforitku, salah satu yang membuatku bangkit dari keterpurukkan. Aku harap ini bisa sedikit meningkatkan semangat juangmu." Ketika Johan berucap sedemikian rupa, rasanya ada sebuah kehangatan yang menjalar dalam hatiku. Rasa kepedulian yang ditunjukkan Johan padaku membuatku merasa bahagia, setidaknya ada satu lagi manusia di bumi yang peduli padaku setelah Ibu dan Ayah. "Hei Johan, terima kasih." *** Di kantin kampus, aku menikmati semangkuk mie ayam hangat yang menggiurkan. Karena terlalu lama sibuk memikirkan suara-suara yang menggema di telingaku, aku sampai lupa sarapan pagi. Suapan pertama terasa bagaikan makanan dari surga. Sudah lama sekali, aku tidak menyantap makanan favoritku itu. Kalau bukan gara-gara si Awan mendung itu, yang selalu mengganggu waktu luangku di kampus. "Ternyata kau ada di sini." Awan duduk di seberang meja tepat menghadap ke arahku. Ada apa lagi dengannya? Tidak cukupkah di rumah dia selalu menganiaya diriku secara verbal dan mental? "Memangnya ada perlu apa?" tanyaku ketus. "Tiba-tiba Master Awan mau berjumpa denganku, ya?" Entah mengapa hari ini aku berani berkata seperti itu pada Awan. Awan mengernyitkan kedua alisnya. "Masih marah?" Coba ditelaah secara tepat dan cermat; serangan-serangan itu, lalu rasa sakit yang harus kurasakan, belum lagi tatapan janggal dan penghinaan yang kudapatkan dari bocah ingusan itu. Aku bukan Athena sang dewi kebijaksanaan, jadi jelas sekali aku marah, kecewa, dan amat teramat sangat BT. Sepertinya Awan paham dengan kondisi hatiku. "Marah endak ya?" Kuabaikan Awan dan berkonsentrasi menghabiskan mie ayam yang kupesan. "Ternyata memang marah." Disodorkannya sebuah foto hitam putih padaku. Awalnya aku tidak ingin menghiraukan foto yang Awan letakkan di atas meja. "Itu Rebecca Dessdemona." Kuhentikan makanku, kutatap Awan. Kusingkirkan mie ayam dan kuambil foto yang Awan tawarkan padaku. Ibuku begitu cantik dengan dress panjang bermotif bunga matahari. Senyumnya begitu manis, rambutnya panjang bergelombang. Ibuku, begitu luar biasa. "Gimana? Mau dibuang?" tanya Awan. "Kenapa dibuang? Bukannya ini untukku?" Aku melotot, tidak terima dengan ucapan Awan. "Oh." Awan menggaruk-garuk kepalanya. "Jadi, kemarin dapat wangsit apa?" "Kau ingin tahu?" Kutatap Awan. Kuyakinkan diriku sendiri bahwa kali ini Awan memang serius pada keadaanku. Yah, mungkin dia merasa bersalah karena telah mengirimkan salah satu lolitanya yang ganas untuk menghajarku. "Aku seperti mendengar suara." Kuletakkan foto Ibu. "Mungkin itu ibuku." Kutatap foto Ibu yang tengah tersenyum. "Aha! Aku paham." Awan menjentikkan jarinya. "Itu tanda pertama dari awal kebangkitan kekuatan." Awan nampak semangat dengan penemuannya itu. "Kebangkitan?" "Yup! Kebangkitan." Awan tampak yakin. Tak pernah kulihat dirinya begitu semangat. Diambilnya sebuah kalung dari ransel hitamnya. Diberikannya kalung itu padaku. Kutatap hiasan kupu-kupu yang mengitari zamrud hijau itu. Batunya tidak begitu besar namun sangat indah. "Gimana bagus, ‘kan?" tanyanya padaku. Kugeleng-gelengkan kepala. Zamrud hijau itu begitu indah, seperti peri hutan yang bersinar terang. "Tunggu sebentar!" Aku tak yakin dengan yang Awan berikan padaku. Ini sangat aneh. Jangan-jangan dia sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik. Mungkin dia membuatku merasa senang kemudian akan membantingku turun ke bumi lagi. "Kau, tidak sedang merencanakan sesuatu, kan?" tanyaku. Awan tertawa kemudian menatapku geli. "Kalung itu disebut sebagai The Heart of Osiris. Merupakan simbol pencapaian para Hunter. Itu kalung ibumu." "Ibu?" "Memangnya kaupikir aku yang memberikannya untukmu?" ledeknya. Dasar Awan mendung sialan. Lupakan niat untuk memaafkannya. Dia memang tidak pantas untuk diberi hati. Benar-benar mubazir. Sungguh mubazir. Kalau ada lubang di sampingku saat ini, aku akan melompat ke dalamnya. Pasti Awan pikir aku Ge-er. Tentu saja Awan akan sangat menyukai pemikiranku yang satu itu. "Awan, apa yang membuatmu bahagia sekali?" Dari kejauhan Johan datang membawa semangkok bakso dan sebotol teh. Dipandangnya diriku yang merah padam. "Yah, sepertinya aku tahu alasannya." Johan duduk di sampingku dan mulai mengaduk-ngaduk bakso yang dipesannya. Setelah puas menertawakanku, Awan kembali ke sifat awalnya. "Johan, malam ini kita ada perburuan." "Pelangi, kau bisa ikut bila mau," ajak Johan. "Maksudmu aku boleh ikut kalian berdua?" Kupastikan hal yang dikatakan Johan itu benar. "Kebetulan nanti Teresa juga akan ikut." "Apa Teresa ikut?" ucap Awan terkejut. Ini pertama kalinya kulihat Awan bersikap tak keruan. Biasanya dia akan bersikap tenang dalam kondisi apa pun. Bahkan ketika diriku dihajar tanpa ampun oleh pasukan boneka Mala. Mungkin Teresa itu orang yang ia sukai. Oww, jadi Awan suka cewek juga, ya? Teresa pasti orang yang luar biasa. *** Johan dan Awan membawaku menuju salah satu daerah yang disinyalir sebagai tempat pertemuan para Immortal. Kami bertiga berjalan menyusuri rawa. Luar biasa, rawanya penuh dengan sampah, ranting-ranting kering, dan lumpur. Aku kesulitan untuk berjalan. Belum lagi gangguan para serangga yang terbang kian ke sana-kemari. Aku sangat tidak menyarankan untuk bertualang berburu Immortal atau Phantom di malam hari. Udara dingin semakin menambah beban perjuangan untuk berjalan. Gigiku bergemelutuk. Menimbulkan suara saling beradu. "Bisa tidak, redam suara berisik itu?" "Aku kedinginan tahu," jawabku. "Sapa suruh ikut." Logikaku berkata untuk sabar namun nuraniku tersiksa. Awan memang suka menindas orang yang lemah. Dipikirnya aku ini ikut dengan suka rela apa? Kalau saja Johan tidak menyeretku secara paksa untuk ikut ekspedisi ini, mungkin saat ini aku ada di kamar dengan selimut hangat dan kasur yang empuk. Aku sungguh menyesal! "Awan, tolong hentikan. Sikapmu sungguh jelek." Johan menyingkirkan tiap dahan dan ranting yang menghalangi jalannya. "Wow! Ternyata di Semarang ada hutan kaya gini juga, ya?" Ku kira Awan tahu setiap lokasi yang akan ia datangi, ternyata, sama saja denganku: amatir. Walau begitu, masih saja si Awan mendung itu berlagak sok tahu di hadapanku. Menyebalkan! Apakah para mahluk kegelapan itu tidak bisa memilih tempat yang lebih baik selain hutan becek yang berisi serangga penghisap darah, belum lagi suara aneh yang sering kudengar sejak masuk hutan ini. Mungkin ini jugalah yang menyebabkanku membenci klub pecinta alam, aku tidak suka dengan daerah angker. Baiklah jika memang mereka mempunyai selera buruk dalam memilih tempat, setidaknya mereka bisa muncul di tempat yang masih tertembus penerangan. "Johan, kau yakin mereka akan muncul?" tanyaku sambil menghindari barisan semak berduri. "Kau takut?" Johan berbalik bertanya. "Tidak ada tempat untuk seorang loser. Kau diperbolehkan untuk pulang," ejek Awan dengan penuh kebanggaan dalam setiap penekan kata. "Tidak," jawabku singkat. Awan mulai bersiul yang menurutku nada yang didendangkannya berisi dengan penghinaan yang ditujukan padaku. "Mungkin saja salah satu Immortal bersembunyi di kawasan ini." Johan berhenti sejenak. Diliriknya satu per satu pohon yang mengitari kami. "Ini aneh," kata Awan. "Ya, Awan aku paham maksudmu." Johan melirikku kemudian dia berjalan kembali. "Pelangi, apa kau merasakan sesuatu?" tanya Johan. "Aku kedinginan." "Bukan .... Maksudku apa kau merasakan energi atau sesuatu yang ganjil di sini?" Johan terlihat frustasi dengan jawabanku. "Tunggu sebentar!" Aku mulai sadar. Dari awal kami bertiga memasuki wilayah ini. Samar-samar bisa kurasakan keanehan. Seperti energi-awalnya kuat kemudian meredup kembali. "Konsentrasilah," pinta Johan. Ketika aku berkonsentrasi, mulai kurasakan sekumpulan energi bergerak di satu arah. Energi yang besar, cukup kuat untuk menarik benda-benda yang ada di sekitarnya. "Di situ!" Aku menunjuk pohon bakau yang paling besar. Melihat ukurannya saja sudah membuat nyaliku ciut, sering dikatakan bahwa pohon semacam itu punya kekuatan mistis dan yang paling tidak kusukai dari pohon sejenis ini adalah mitos tentang mahluk-mahluk tak kasat mata yang sering tinggal di sana. "Maksudmu pohon yang itu?" Awan mulai bersiap-siap. Ketika kami bertiga mulai melangkah mendekati pohon. Tiba-tiba kurasakan suhu di sekitarku mendingin. Situasi ini sama persis ketika aku akan diserang naga. Angin mulai datang, gemerisik suara pepohonan bagaikan nyanyian malam yang menakutkan. Gagak mulai berkoak. Ketika kami semakin dekat, aku bisa mendengar jantungku pun derdegub kencang. Awan bersiap dengan bilah besi pipih dalam genggamannya. Sementara Johan memberi isyarat pada kami berdua agar tetap waspada. Ketika Johan menyentuh kulit pohon bakau yang kutunjuk, seketika angin kencang mulai datang menciptakan huru-hara di sekitar kami. Tak mampu lagi bertahan dengan tekanan angin yang menyergap, kami pun terlempar satu per satu. Johan menghantam pohon, disusul Awan. Daun-daun kering menghantam wajahku. "Johan!"Aku tidak bisa melihat keadaan di sekitarku, terlalu sulit untuk membuka kedua mata. "Awan!" Aku berusaha bertahan dari terjangan ranting dan dedaunan yang terbang ke arahku. "Jangan melawan!" Sesosok pria berjubah hitam mengarahkan belati kepadaku. "Kau menangkapnya?" tanya rekan si pria yang muncul dari dalam pohon bakau. Aku ingin melawan, tapi tak bisa. Pria itu menggenggam pergelanganku. Aku menjerit kesakitan merasakan tekanan kuat di tanganku. "Pelangi!" Johan datang dan mengarahkan rantai pada salah satu pria berjubah hitam. "Johan, kau itu lemah," ucap pria yang menangkapku. Prang! Terdengar suara pedang beradu. Ternyata itu Awan. "Johan sih lemah, tapi aku tidak, ya?" Dengan penuh percaya diri Awan menyerang rekan pria yang menangkapku. "Cepat pergi! Tugas kita hanya menangkap si gadis. Kita harus membawanya pada Tuan." Aku meronta. Tapi kalah kekuatan. Johan berusaha meraihku dari cengkeraman pria berjubah hitam, namun gagal. "Kau benar-benar tidak sadar kekuatan." Pria itu melemparkan sebuah kaca berbentuk macan. Sulur hitam keluar dari patung itu, semakin besar ... semakin besar .... Dan akhirnya patung itu hidup. "Macan kumbang?" Aku terpana dengan sihir yang ada di hadapanku. Macan itu menyerang Johan. Johan berjuang menghindar dari cakaran si macan. Aku hanya bisa diam menyaksikkan pertarungan yang ada di hadapanku. "Hei, Lewis, cepat selesaikan! Kita harus kembali pada Tuan!" teriak pria yang menangkapku. Sementara di sisi lain kulihat Awan tengah berduel dengan salah satu penyerang. "Awan, kau sungguh menjengkelkan." Pria itu berkali-kali melakukan manuver untuk melumpuhkan Awan. Tetapi, Awan selalu berhasil mematahkan setiap serangannya. "Coba aja kalau kau bisa," tantang Awan. Aku bisa sedikit paham rasa jengkel yang melanda pria itu. Awan memang mengesalkan, bisa dibilang, apabila ada lomba membuat orang marah dalam waktu sepuluh detik. Aku jamin, Awan pasti masuk kategori cowok yang layak dihajar. Awan tampak menikmati pertempurannya, sementara lawannya semakin berambisi untuk menebas leher Awan. Kebalikan dari Awan, Johan malah kerepotan melindungi dirinya dari si macan kumbang. Mungkin ini akan jadi adegan drama yang bagus jika yang mengejar Johan itu seekor anjing. Mungkin Hachiko akan sangat menggemaskan. Setidaknya mereka berdua mendapatkan petualangan yang menantang. Sementara aku berdiri mematung melihat kedahsyatan ini. Seperti dalam adegan film-film kolosal. Akulah sang putri yang tak punya kekuatan dan terpojok dalam suasana yang mencekam. Aku sungguh tidak berdaya. Ingin sekali aku melakukan sesuatu untuk menolong Awan dan Johan. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Pelangi.... Kembali, kudengar sebuah suara bergema di telingaku. Kupejamkan kedua mataku-mencoba merasakan arah panggilan. Kuyakinkan diriku untuk mengikuti bisikan itu. Kau tahu apa yang harus kaulakukan. Kukosongkan seluruh kekacauan yang ada dalam pikiranku. Kutenangkan benakku dari seluruh kekacauan. Aku berkonsentrasi pada bisikan-bisikan itu. Jika aku bisa menggerakkan kursi pada waktu itu sesuai keinginanku. Kali ini mungkin saja, aku bisa menggerakkan benda lain sesuai kehendakku juga. Kuamati keadaan sekitar. Hanya ada pepohonan bakau dan semak merambat. Kuarahkan sulur tanaman rambat pada pria di sampingku. Perlahan tetapi pasti, sulur itu mulai meliuk-liuk di kedua kaki pria itu. Hingga akhirnya si pria menyadari keganjilan yang tengah ia alami. "Apa ini?" teriak si pria. "Apa yang kaulakukan padaku?" "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya." "Kau!" erang si pria. Kusentak tangan si pria dan berlari menjauh, sulur tanaman itu semakin lebat menjerat si pria. Kukira, aku sudah bebas dari ancaman. Ternyata datang pria berjubah hitam lainnya di belakangku. "Mau lari ke mana kau?" Pria itu mencengkeram pergelangan tanganku. Padahal sedikit lagi, aku bisa menolong Johan. Oh kumohon, jangan di saat seperti ini. Domine, vires et tenebræ operient terram. Tu lumen scrum potestate. Aapparuit! Para penyerang kami hancur menjadi abu, sementara macan kumbang yang menyerang Johan remuk menjadi serpihan kaca. "Kalian berdua mengecewakan." Seorang wanita muncul dari balik kabut. Aku terpana melihat kedasyatan yang dikeluarkan olehnya. "Mana bisa kami dibandingkan denganmu?" Johan berdiri menyingkirkan sisa-sisa abu dan serpihan kaca yang mengotori jaketnya. "Lama tak jumpa Johan, kau tak terlalu buruk." Wanita itu berjalan dengan anggun bak seekor merak yang tengah memamerkan bulu-bulu indahnya hingga akhirnya dia berdiri tepat di hadapan Awan. "Apa kau merindukanku?" Awan tertegun sejenak sebelum dia mengucapkan sebuah nama. "Teresa...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN