Extras 5 : Abimayu Meleng

1581 Kata
Latih tanding antara sekolah lain berjalan lancar. Latih tanding yang kata Abimayu “latihan” itu, terlihat lebih serius daripada kata latihan. Semuanya bermain sangat serius, seolah-olah mereka sedang berada di tengah-tengah turnamen besar. Mereka berusaha dengan sangat maksimal hingga tidak peduli jika bola menghantam bagian tubuh dan mereka harus menghantam lantai berkali-kali. Suara deru napas kelelahan, orang-orang yang gigih dan teriakan-teriakan di sana membuat sesuatu dalam diriku tergerak. Entah apa itu, namun melihat mereka saja, bisa membuat moodku kembali membaik. Latih tanding dimenangkan oleh sekolah kami dengan total 2-1. Ya, sekolah kami sempat kalah dalam 1 pertandingan dan harus maju ke pertandingan selanjutnya. Sesuai instruksi Kak Fifah, aku disuruh membagikan minuman dan handuk. Setelah memberikan minuman dan handuk pada Abimayu, aku pun memberikan handuk pada anggota lain yang ada di sampingnya. Mereka berdua sama-sama sedang duduk di lantai. "Caesar, tinggi 189, anak kelas 2, ciri yang menonjol, hidung mancung. Yang paling menonjol dari dia, dia adalah anggota paling berisik. Bener kan?" Caesar, anggota lain yang kuberikan handuk itu malah terkejut sendiri dan tertawa kaku. "Detail banget, ya? Kak Gorila yang kasih tau ya?" Kak Gorila? Siapa? "Woy!! Gue denger, Bego!" Kata Kak Fifah yang ada di sisi lapangan lain. Oh ... Kak Fifah nama lainnya adalah Gorila, toh? "Zee, kan, nama lo?" Tanya Caesar setelah meminum air dari botol minum yang kuberikan. "Secara teknis, itu cuma nama panggilan. Nama asli gue Azizah Ziana," kataku, membalas. Aku mengedip. "Kelas 1B, juara kedua se-sekolah, tinggi badan 160, berat badan 45 kilogram, dan—" Caesar malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku. "Oke, oke, gue ngerti. Nggak usah detail banget segala. Nggak akan inget juga, gue. Gila aja lo sampe detail banget gitu." Katanya, tertawa. Gila? "Ah, gimana menurut lo?" Tanya Caesar kemudian. Aku menatapnya dengan bingung. "Pertandingan pertama lo. Menurut lo, gimana?" Aku mengedipkan mataku kembali. Menurutku? Apa yang dia maksud adalah pendapatku? Atau, kritik dan saran? Aku duduk di lantai, tepat di hadapannya. "Masih banyak yang harus gue pelajarin. Rotasi, misalnya?" Caesar malah tertawa. "Lo nggak harus tau tentang rotasi. Tugas lo kan ngerawat kita." Aku memiringkan kepala dengan bingung. "Trus? Maksudnya?" "Kesan pertama lo, lah! Emang apa lagi?" Kesan? Kesan dan pesan? Apa yang bisa menjadi kesan dalam pertandingan ini? Cara orang-orang bekerja sama yang bisa mempengaruhiku? Bukan. Atau, cara orang-orang berlarian tanpa kelihatan lelah? Sepertinya, bukan juga. Lalu, apakah pukulan dari spiker yang membuatku ngeri jika terkena bolanya? Bukan juga. Tapi aku yakin, ada sesuatu dari mereka yang membuatku merasa ingin tetap melihat mereka. Tapi, apa itu? Sebenarnya, apa yang menjadi kesanku pada pertandingan ini? Ah .... Aku tahu. Ternyata, "Cukup menyenangkan buat liat orang-orang ngejar mimpinya," kataku, tersenyum tipis pada Caesar. "Tiap hari, kerjaan gue cuma belajar dan jadi yang terbaik di setiap mata pelajaran. Walaupun gitu, gue nggak pernah punya mimpi. Dan ngeliat kalian ..." Senyumku sedikit melebar. "... bikin gue sedikit iri." Mendengar jawabanku, Caesar malah diam. Tidak, lebih tepatnya, dia sedang bengong menatapku lurus-lurus. "Lo ... Bisa senyum?" Ah. Aku mengembalikan ekspresiku seperti biasanya. "Gimanapun, gue juga manusia, bukan?" "Eh?! M-maksud gue—" Aku mendengus geli. "Gak papa kok. Santai aja," kataku sambil berdiri kembali. "Gue lanjut bagiin yang lain ya!" "Iya—eh? Apa?! Oke!" Dia ngomong apa? Dan lagi, ngomong pada siapa? Aku kan sudah lebih dulu berlari menuju yang lain. Srett! DUGH! "AH!" Suara itu membuatku segera menoleh, dan mendapati si Abimayu yang berlutut sambil memegangi hidungnya. Tunggu. Hidung?! Apa dia mimisan?! Sebelum aku berlari ke arah Abimayu, banyak orang yang lebih dulu mengerumuni pria itu. Aku berjalan cepat ke sana, menghampiri kerumunan yang sedang mengerumuni Abimayu. Dan mendapati Abimayu sedang mengangkat kepalanya, menatap langit-langit gedung. Cara menghentikan mimisan yang salah. Aku segera berjongkok di hadapan Abimayu. Tanganku terulur, menyentuh kedua sisi wajahnya. "Jangan dongak gitu. Nanti darahnya naik ke atas. Nunduk 45 derajat. Dan yang lain, tolong ambilin es dan air dingin." Kataku, menginstruksikan. Sambil mempraktekkan apa yang kukatakan barusan. "Darahnya makin keluar banyak, Zee." Komentar Kak Fifah. "Gak papa. Biarin. Lebih bahaya lagi kalau darahnya nyumbat pernapasan." Kataku sambil menekan hidung mimisan Abimayu dengan handuk. Abimayu sendiri diam dan menurut. "Kenapa bisa mimisan begini?" Tanyaku pada yang lain. "Bola yang di-smash Ridwan mantul. Si Abi lagi meleng gitu, Zee, ngeliatin ke arah lain. Dan dia nggak sempet ngehindar." "Gue nggak meleng." Abimayu membalas ucapan Kak Fifah. Padahal hidungnya masih kusumbat dengan handuk. Mendengar suara mengesalkan itu dan juga menyadari bahwa yang di depanku adalah Abimayu, aku tersadar bahwa yang ada di depanku yah—si Abimayu! Kesal sekali. Kenapa dia harus terluka saat aku kesal padanya? "Apaan sih? Kok ngeliatinnya gitu banget?" Kata si Abimayu lagi. "Huuh, Zee. Serem loh. Gue mikirnya lo punya rencana mau bekap hidung si Abi sampai modar." "Hah? Enggak. Gue profesional, kebetulan," kataku, tetap saja kesal. "Mata lo gimana?" "Mata gue?" Tanya Abimayu, dan aku mengangguk. "Iya. Berkunang-kunang atau sakit nggak? Pusing?" Abimayu menjawab dengan gelengan. "Es batunya, Kak!" Kata salah seorang pemain. Kak? Aku bahkan yang termuda di sini. Ah, sudahlah. Aku akhirnya mengambil es batu itu dan mengompresnya di batang hidung Abimayu. "Pegang gini," kataku kemudian. "E-eh?! Boleh?" "Hah? Ya boleh, lah!" Abimayu menuruti perkataanku. Dia mengulurkan tangannya dan memegang tanganku. Eh, tunggu. Apa tadi? "Kok lo megangin tangan gue, sih?!" Kesalku, dan dia malah menatapku heran. "Pegang handuk sama esnya, bego!" "O-oh!" Katanya dan beralih memegang handuk dan es batunya. Aku melepaskan tanganku dan berdiri. "Kompres aja gitu terus sampe darahnya berhenti. Jangan lepasin es sama handuknya," kataku. "Dan satu lagi," aku menatap orang-orang yang ada di sana. "Apa itu meleng?" Kosa katanya tidak ada dalam KBBI. Apa itu bahasa lain? Bahasa Jawa? Sunda? *** Tugasku berakhir tepat ketika waktu menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Kak Fifah sudah menyuruhku untuk pulang saja, dan jangan menunggu hingga anak-anak berhenti berlatih. Karena kata Kak Fifah, mereka bahkan nggak akan berhenti sampai jam sudah menunjukkan angka 10 malam. Well, aku kaget ternyata mereka dibolehkan dan tidak diusir dari sekolah. Hebat sekali, kalau mereka benar-benar latihan seserius itu sampai hanya menyisakan waktu untuk tidur saja. Ah, tentang pertanyaan mengenai kata meleng tadi, aku tidak mendapatkan jawaban dari anak-anak. Anehnya, orang-orang di sana malah melongo kaget mendengar ucapanku. Seolah aku adalah makhluk dari planet lain yang baru dilihat mereka. "Zee," kata Kak Fifah waktu itu. Dia menghampiriku dan menyentuh bahuku. "Lo serius nanya gitu dengan muka serius?" Apaan sih? Kenapa kalimatnya belibet sekali? Aku hanya mengangguk, dan anehnya, mereka malah tertawa. Dan aku sampai sekarang belum tahu apa itu arti dari kata meleng. Nanti kutanya pada Laras saja. Aku keluar dari ruang klub khusus wanita. Dalam voli, seluruh anggotanya harus menggunakan seragam olahraga. Begitupun dengan manager. Maka dari itu, dibuat ruangan ganti khusus wanita juga. "Woy." Aku mengedip dan berbalik. Cukup terkejut, melihat Abimayu ada di sana. Apa dia menungguku? Sambil menutup pintu, aku membalas, "Ada apa?" Tanyaku. Masih sedikit kesal padanya. "Kenapa lo ngeliatin gue gitu banget, sih?! Beneran benci sama gue?" Tanyanya, kelihatan sangat kesal. Kenapa malah dia yang kesal? Aku menghela napas panjang dan bersidekap d**a. "Kenapa marah-marah sama gue? Dan kalaupun gue beneran benci sama lo, itu nggak harus jadi urusan lo, kan? Lagian, gue kalau benci sama orang tuh nggak ngeliatin banget sikap membenci!" "Uwoy!!!" Dia malah menatapku dengan tidak terima. "Lo dari tadi kayak pengen bunuh gue, dan lo bilang nggak ngeliatin sikap membenci?!" "Ah," kataku datar. "Kebetulan, gue lagi kesel banget sama lo." "Kenapa gitu?" "Ya karena lo bisa juara umum tanpa belajar! Ngerti nggak sih?! Nama gue semester kemarin ada di bawah lo!" Abimayu tampak tidak mengerti dengan ucapanku. Tentu saja, si nomor 1 selalu diingat. Tapi, siapa yang akan mengingat si nomor 2? "Kalau lo mau, gue bisa ngalah." Sial. Ada apa dengan rasa nyeri yang tiba-tiba muncul ini? Aku bahkan tidak bisa mengatur ekspresiku seperti biasanya. Dan tentu saja, saat ini aku sedang menatapnya kaget dan terluka. Seluruh perkataan Abimayu, kenapa selalu membuatku merasa sangat direndahkan? "Ada yang nggak beres sama otak lo!" Ucapku, tanpa bisa mengatur emosiku yang meledak. Napasku bahkan tersendat kasar karena emosi. Aku tidak ingin lagi berbicara dengan Abimayu, dan berbalik untuk pergi dari hadapannya. Sialnya, dia malah mengejar di belakangku. "Apa sih?! Lo mau juara 1 kan?! Kenapa malah bilang otak gue nggak beres?!" Ah, begini rupanya. Begini rasanya. Aku selalu berbicara dengan orang lain seenaknya. Tanpa tahu apa aku menyakiti mereka atau tidak. Dulu, tidak ada yang mengalahkanku. Dulu, aku selalu jadi yang pertama. Dan rasanya menjadi yang kedua, lalu dihina tanpa dia sadari begini, membuatku mengerti posisi orang-orang yang ada di bawahku. Aku menghentikan langkahku seketika. Saat menyadari, bahwa aku dan Abimayu ... mirip. Aku berbalik, mendongak menatapnya yang lebih tinggi dariku. Abimayu sendiri ikut menghentikan langkahnya. Sekarang, aku harus bagaimana? Marah padanya, berarti aku marah pada diri sendiri, bukan? Jadi, aku tersenyum tipis padanya. "Makasih, tapi, lo jangan lakuin itu. Kadang, apa yang lo pikir bagus, bisa jadi menyinggung perasaan orang lain. Ngerti?" Abimayu tampak bengong. Namun dia akhirnya mengangguk pelan. Aku melebarkan sedikit senyumku. "Oke. Gue balik duluan." Kataku, dan dia kembali mengangguk pelan. Aku seperti psikopat, sekarang. Dari marah, jadi setenang air mengalir begini. Aku berbalik dan kembali berjalan ke arah tangga, meninggalkan Abimayu yang masih berdiri kaku di lorong. Namun, belum aku sampai tangga, suara Abimayu menghentikanku. "Woy." Panggilnya, membuatku berbalik. Mengenal voli, membuatku mendapatkan banyak pengalaman baru dan bertemu dengan banyak orang baru. Mengenal voli, membuatku tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Saat salah satu anggotanya yang paling populer, menciumku tepat di bibirku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN