"Oh ..., Jadi si Laras yang bully pacarnya Abimayu? Pantesan aja Abi marah banget sama lo. Si Laras itu yang ngurung Kania seharian kan?"
Aku mengangguk mengiyakan ucapan Kak Fifah. Latihan sudah berlangsung selama setengah jam. Dari sini, Kak Fifah menginstruksikanku untuk tidak melepaskan pandangan dari lapangan kalau-kalau ada pemain yang terluka karena terpeleset keringat.
"Untuk dia yang marah ke gue, itu nggak masuk akal. Bukan gue yang bully pacarnya. Dan lagi, pacarnya Abimayu terlalu lemah. Pacarnya Abimayu masih mending dikunci di gudang. Gue pernah dikunci di WC sama Laras. Padahal, pacarnya Abimayu bisa manfaatin barang-barang yang ada di sana buat keluar."
"Dikunci di WC?!" Kata Kak Fifah, tentu saja terkejut. "Trus gimana caranya lo keluar?"
Aku melirik Kak Fifah sejenak sebelum kembali menatap orang-orang latihan. "Gue nunggu 2 jam sampe ada yang dateng ke WC. Di sana, gue minta tolong bukain anak-anak yang masuk WC."
Kak Fifah malah menghela napas lega. "Untung aja lo nggak manjat."
"Ah, maaf aja tapi gue payah dalam berolahraga."
Kak Fifah malah tertawa, padahal tidak ada yang lucu dari ucapanku barusan. Kak Fifah ikut menatap ke arah lapangan. Ah, lebih tepatnya, dia menatap si ... Kapten?!
"Yah, mungkin, itu yang bikin cowok manapun suka sama Kania." Kata Kak Fifah, kemudian.
"Siapa Kania?" Tanyaku, heran.
"PACARNYA ABI!!" Pekiknya dengan kesal.
Aku mengedip. "Ah, Si Jalang Itu."
"Hah?! Lo ngejek Kania?!" Abimayu yang mendengar, tentu saja menatapku sambil mengamuk.
Aku menggeleng. "Larasati kalau cerita selalu pakai panggilan aneh-aneh. Dan kebetulan, gue gampang melupakan nama orang." Kataku, menjelaskan.
"BOHONG!!" Abimayu malah makin kesal saat aku menjawabnya.
Aku mengangkat sebelah alisku dengan kesal. Terserah juga dia mau percaya atau tidak. "Jadi, kenapa semua cowok suka Si Ja—pacarnya Abimayu?" Tanyaku kemudian.
"Heh!! Lo nyuekin gue ya?!" Abimayu kembali mengamuk. Apa dia tidak bisa diam?
"Ya karena Kania lemah," Kak Fifah ikut mengabaikan Abimayu. "Kalau cewek lemah, banyak cowok yang mau ngelindungin dia."
"Kenapa gitu?"
"Karena ketika cowok ngelindungin cewek, dia bakal ngerasa keren. Makanya, cowok suka yang lemah-lemah."
Ah, begitu rupanya. Persepsi wanita dan pria memang sangat berbeda.
"Bukan kayak gitu! Kania itu baik! Dia malaikat!" Kata Abimayu, menanggapi pembicaraan kami. "Dan kalian itu Iblis! Jahat! Bisanya bully orang!"
Abaikan. Dasar orang gila.
"Tapi, Kak," ucapku datar. "Kalaupun gue disuruh milih untuk jadi siapa, gue lebih milih jadi lo. Bukannya lebih baik punya satu orang yang suka dengan tulus setelah melihat kelakuan asli lo apa adanya, daripada dideketin ratusan cowok hanya karena lo lemah? Suatu saat, cowok-cowok itu bisa bosen dan pergi setelahnya. Dan waktu hari itu datang, bukannya lo nggak akan bisa ngapa-ngapain nantinya?"
Kak Fifah menatapku cepat. Aku bahkan khawatir dengan lehernya ketika dia menoleh secepat itu. Kak Fifah terlihat terkejut saat menatapku. "Wah, gue kagum sama lo yang bisa muji blak-blakan pake wajah talenan gitu."
Wajah talenan? Aku mengedip dan menyentuh wajahku sendiri. Apa maksudnya itu?
"Woy!" Abimayu, si pengganggu itu tiba-tiba sudah ada di hadapanku dengan bola voli yang ada di ketiaknya. Kepalanya terangkat tinggi, seolah menantang. "Lo dari tadi ngomongin cewek gue di depan gue. Maksudnya apaan?! Ngajak ribut?!"
"Cewek lo?" Aku mengernyitkan alis dengan bingung. "Kita ngomongin Kania."
Kak Fifah menepuk keningnya kuat-kuat. "Bi, lo nggak akan kuat kalo mau ngomong sama si Zee. Dia lemotnya kebangetan!"
Abimayu mengabaikan. Dia malah melempar kuat bola voli ke lantai dan mendekatiku. Kak Fifah tentu saja menahan perutnya agar tidak terlalu mendekatiku. "Heh! Jangan sok baik lo! Gue tau lo ada di sana waktu Laras ngurung cewek gue!"
Aku mengedip. "Ah, itu karna Laras ngajakin gue buat ikut."
"Ppftt!" Kak Fifah malah menahan tawa. Dia makin mendorong tubuh Abimayu. "Bi, sumpah! Lo kecepetan 100 tahun buat ngobrol sama Zee! Lo nggak akan kuat! Lo harus punya kekuatan khusus dulu buat bisa ngerti kalo dia nggak bermaksud buat nyindir lo!"
Aku menghela napas panjang. Aku mendekati panggung, dan duduk di sana. Mataku menatap Abimayu yang masih menatap penuh kesal padaku. "Sebenernya, lo terlalu keras sama Laras. Laras nggak sejahat yang lo dan semua orang pikir. Dia cuma ngurung pacar lo."
"Cuma?! Cuma, lo bilang?!" Kesal Abimayu, mencoba menghampiriku.
"Apa lo nggak berpikir kalo cewek lo terlalu lebay? Dia pegang hp, bisa ngehuhungin lo waktu dikurung. Daripada nangis-nangis nggak jelas selama seharian, kenapa nggak nyoba nyari barang-barang berguna buat keluar dari gudang itu? Kalo nggak salah, jendela gudang juga pendek. Ah, gue baru sadar kalo pacar lo dramatis banget. Apa dia kebanyakan baca novel?"
"Ppftt!! HAHAHAHAHHAHAHAHHAHA!!" Kak Fifah tidak dapat menahan tawanya yang terbahak-bahak itu. Kakak kelasku itu bahkan berjongkok dan memukul-mukul lantai. "Padahal dia bawa hape, kenapa nggak pake flash, coba?! HAHAHAHA!"
"Nah!" Aku membalas dengan semangat. "Itu maksudnya gue! Waktu Laras ngurung gue di WC, gue beneran nggak bawa hp dan nggak ada barang-barang apapun di sana. Lebih miris gue kan daripada pacarnya Abimayu?"
"AHAHAHAHAHHA SI LARAS! AHAHAHAHAHA!"
Aku mendengus geli. Yah, Laras memang selalu memberikanku pengalaman baru.
"Berhenti," tekan Abimayu kemudian. Wajahnya kali ini lebih daripada kesal. Dia terlihat murka. "Pacar gue phobia gelap."
Aku mengedipkan mataku dengan cepat. "Lampu gudang nyala, kok. Dan lagi, itu kejadiannya waktu siang."
"WUAHAHAHAHAHAHA!!" Tawa Kak Fifah makin meledak. Dan bukan hanya itu, anggota voli yang lain ikutan tertawa juga. Aku hanya mengungkapkan kejadian lama itu. Apa ada yang salah dan lucu dari ucapanku?
"Lebay banget cewek lo, Bi!"
"Hahahaha! Lampu nyala, lampu!"
"Siang woy! Siang!"
Ah, ini sulit. Aku tidak tahu siapa saja yang membalas ucapanku barusan. Aku harus berlatih mengingat mereka satu persatu.
"BERHENTI NGOMONGIN YANG JELEK-JELEK SOAL KANIA!" Abimayu tiba-tiba berteriak. Bahunya naik-turun dengan cepat dan napasnya tersendat kasar. Teriakan itu, sukses membuat orang-orang berhenti tertawa. "Apa rencana lo sebenernya? KENAPA LO ADA DI SINI?!"
Aku mengedip. "Ah, itu karna Kak Fifah mohon-mohon ke gue buat jadi manager—"
"LO BISA NOLAK!"
"Udah, tapi dia meluk kaki gue dan nggak ngelepasin gue sebelum gue bilang ya."
Abimayu tersentak. Dia memelototi Kak Fifah. "Kenapa lo milih ni orang sih?!"
"Dia doang yang normal, bego!"
"Kania juga normal!"
"Yang bener aja! Yang ada, ni klub voli malah jadi tempat rehabilitasi lanjut usia, tau nggak?" Bukan Kak Fifah yang menjawab, melainkan salah satu anggota dari klub voli di sana.
"Maksudnya?!" Abimayu masih membalas dengan emosi. "KANIA ITU BAIK!"
"Dan nggak ada yang bilang Kania jahat, Abimayu," kataku, kesal juga lama-lama melihat dia emosi sendiri. "Yang emosional di sini cuma lo. Nggak ada yang ngejek Kania. Kita cuma ngobrolin tentang tipe cewek-cewek lemah atau kuat aja. Yang daritadi berapi-api itu elo. Padahal, Kak Fifah sama gue sama sekali nggak ngajak lo ngobrol, tapi lo selalu masuk dalam pembicaraan kita."
"Itu karena lo ngobrolin tentang Kania—"
"Bukan. Itu karena mindset lo masih mindset anak SMP," potongku, tajam. "Pantes aja, lo cocok sama Kania."
Abimayu membuka mulutnya, namun tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Abimayu malah menggeram kesal.
"Sekarang, lo ngerti, kan kenapa Kania nggak boleh jadi manager?" Kataku kemudian. "Denger namanya disebut beberapa kali aja, lo kepanasan, Abimayu. Dan, oh! Jangan samain gue sama fans-fans lo. Gue, bukan cewek yang langsung ngacir sambil nangis waktu lo teriakin."
Lapangan indoor itu tegang. Tidak ada lagi suara bola yang dipantulkan dan tidak ada tawa yang terdengar. Abimayu mengacaukan suasana. Dia membuat orang-orang tidak nyaman dengan sikapnya.
"Mending, lo pemanasan di luar selama 15 menit, Abimayu," kataku, mengatur suasana. "Tempat ini jadi tegang waktu lo kepanasan. Jadi, kalo lo dewasa dan masih pengen latihan, lo bisa dengerin gue. Atau lo bisa egois dan bikin suasana makin berantakan."
Abimayu tetap terdiam. Namun bisa dilihat jika tangannya yang gemetar itu, kini mengepal kuat. Dan tanpa ucap lagi, Abimayu berlari keluar dari lapangan indoor. Dia sedang pemanasan kan? Tidak sedang lari dari kenyataan, kan?
"Wah, lo hebat banget, Zee. Bisa bikin seorang Abimayu nurut gitu," hanya Kak Fifah yang masih dalam sisa-sisa tawa yang tersadar dari ketidakhadiran Abimayu. "Wow." Katanya sambil tepuk tangan kuat.
Dan anehnya, anggota voli yang lain pun ikut bertepuk tangan.
"Bu manager! Bu manager!" Sahut salah seorang anggota, yang malah diikuti oleh anak-anak lain. Mereka bertepuk tangan sambil berucap. "Bu manager! Bu manager!" Dengan nada sorakan riang.
"WOY! LANJUT LATIHAN!" Si kapten berteriak, membuat para anggota lain terkejut dan melanjutkan melempar bola.
"Gue emang nggak salah pilih manager," Kak Fifah ikut duduk di atas panggung. Tepat di sampingku. "Abimayu itu orangnya bebal. Dia nggak bisa nurutin siapapun kecuali gue sama Ridwan."
Aku mengedip. "Ridwan?"
"Kapten tim." Ucap Kak Fifah sambil tersenyum.
"Ah," kataku, datar. "Bisa minta profil semua anggota? Tinggi badan, berat badan, ciri fisik, nama. Yang lengkap ya, Kak. Ah, kecuali Abimayu."
Kak Fifah tersenyum kaku. "Lo emang cewek paling nggak normal sedunia."
Aku hanya mengangkat sebelah alis, benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud Kak Fifah. Sebenarnya, aku ini cewek paling normal atau cewek paling tidak normal?
Dan 15 menit kemudian, Abimayu sudah kembali dengan kondisi yang lebih tenang dari sebelumnya.
Satu yang harus kutanamkan dalam diriku. Jangan membahas Kania, pacarnya Abimayu.
***
"Apa ini?" Pertanyaan itu datang dari Larasati yang heran melihat wallpaper kunciku. Saat ini, kami sedang ada kelas dan mencatat tugas karena guru yang ditugaskan tidak bisa hadir. Larasati sebenarnya duduk jauh dariku. Aku duduk sebangku dengan Firman, dan Larasati dengan pria lain. Karena aturan kelas yang mengocok teman sebangku.
"Oh itu," balasku sambil lanjut menulis. "Profil anak voli."
"VOLI?! ABIMAYU MAKSUDNYA?!"
Apa hubungannya? Memang ada hubungannya, sih. Tapi, kenapa maksudnya Abimayu? Ah terserahlah. Pria itu terlalu sering ada di narasiku. Aku jadi sangat bosan. "Gue diminta Kak Fifah jadi manager voli."
"ELO?! JADI MANAGER ABIMAYU?!"
"Manager voli."
"KENAPA ELO?! KENAPA NGGAK GUE AJA YANG JADI MANAGER ABIMAYU?!"
"Udah gue bilang, manager voli. Voli."
"ZEE!!! NAPA ELO SIH?! KENAPA BUKAN GUE YANG DIJADIIN MANAGERNYA ABIMAYU?!!"
Aku menghela napas panjang. Apa hubungannya antara manager voli dan manager Abimayu?
"A-A-A-A-Abimayu!"
Aku mengedip, dan mendongak untuk melihat Laras yang tiba-tiba tergagap begitu. Dan ternyata Laras tidak lagi menatapku, tapi menatap ke depan kelas. Aku mengikuti pandangannya, dan mendapati Abimayu ada di sana. Sedang menatapku dengan wajah cemberut. Terlihat sekali kalau dia sangat enggan untuk menemuiku. Tangan Abimayu melambai, entah kenapa. Apa dia menyuruhku menghampirinya?
Aku hanya menaikkan sebelah alisku. Dan tanpa menjawab permintaannya, aku kembali menulis. Aku belum selesai dan jam istirahat belum berbunyi. Kenapa hidup Abimayu tidak teratur sekali?
"Woy! Manager!"
Aku menghela napas panjang dan mengangkat kepalaku. Kali ini Abimayu terlihat sangat kesal dan menyuruhku mendatanginya dengan gerakan tangannya. "Apaan?" Kesalku.
"Ke sini bentar! Sok banget lu!"
Aku mendelik kesal dan berdiri. Namun Laras tidak membiarkanku lewat karena dia duduk di sampingku dan menghalangi jalanku. "Mau ikut?" Tanyaku pada Laras.
Laras menatapku cepat. "MAU—"
"Jangan," kata Abimayu, menatap tajam pada Laras. "Gue nggak ada urusan sama lo."
Laras cemberut. Aku yakin dia sakit hati, namun tetap menuruti Abimayu dan memberikan jalan padaku. Dia berdiri dengan kesal. "Nanti kasih tau gue kalian ngapain aja."
"Hah?" Heranku, menatapnya kesal. "Urusan voli, ya urusan gue. Bukan urusan lo. Dan gue bukan managernya Abimayu, gue manager voli." Kataku sambil berjalan menjauhinya.
"Ih Zee!!!! Dasar cewek nggak punya perasaan!!" Kesal Laras yang berteriak di belakangku.
Ah, terserahlah. Lagipula, aku akan membuat ini cepat. Dan lagi, apa juga urusan si Abimayu ke sini? Sampai datang ke kelasku.