"Jadi, kenapa kedua orangtua lo pergi ninggalin anaknya yang punya penyakit jantung?"
Aku mengedip dan menoleh pada Abimayu saat dia bertanya begitu. Selesai menyimpan teh hangat di permukaan meja depan tempat duduk Abimayu, aku kemudian ikut duduk dan memegang gelas tehku sendiri. Aku yang menggunakan pakaian panjang, menyingsatkan bagian pergelangan tanganku untuk memperlihatkan jam tangan milikku. "Jam tangan ini bakal ngasih alarm ke bokap nyokap gue kalo gue kena serangan jantung."
Abimayu terlihat kaget. "Kok bisa?! Canggih bener."
Aku hanya mengangguk saja. "Ini jam khusus yang dibuat sepupu gue. Dan udah ada aplikasinya juga buat nge-monitor. Tahun kemarin, dia udah resmi kerja bareng rumah sakit ternama."
Abimayu menganggukkan kepalanya saja. Dia kemudian mengambil teh yang kuhidangkan di meja. "Tapi ..." Abimayu menatap pada pakaian yang digunakannya. "... Apa lo nggak ada pakaian lain selain ini?"
Aku menatapnya datar. "Jangan salahin gue. Ini salah lo karena terlalu tinggi dan besar sampe-sampe semua pakaian bokap nyokap gue nggak muat."
"Ya tapi nggak pake daster juga, kali!" Kesalnya. Duduknya yang sangat pria itu, membuat bulu-bulu di kakinya terlihat sangat jelas.
"Baju lo lagi dikeringin di mesin cuci."
"Bukan itu masalahnya!" Kembali, Abimayu terlihat geram sampai ingin meremas kepalaku. "Gue cowok, dan gue pake daster!"
"Ya. Gue bisa liat. Terus?"
Abimayu sudah membuka mulutnya, kemudian menutup mulutnya kembali. Dia menghela napas panjang. "Capek emang ngomong sama lo. Awas aja kalo lo ngasih tau Kania tentang ini!"
Aku menyimpan gelas tehku di atas meja, kemudian duduk menghadap Abimayu yang sedang meminum tehnya. "Laras pernah nanya sama gue."
"Trus apa hubungannya sama gue?"
"Kenapa lo mau sama cewek itu, sih? Padahal, gue lebih cantik daripada dia. Kenapa lo nggak sama gue aja?"
Abimayu terlihat terkejut dengan ucapanku. Dia bahkan melotot saat aku berkata begitu. Dan Abimayu terus menatapku seperti itu selama beberapa detik. Jakunnya terlihat naik turun saat dia menyimpan tehnya di atas meja dengan gerakan pelan dan kaku. "Y-ya lo emang lebih cantik, sih—"
"Itu pertanyaan Laras waktu curhat tentang lo ke gue," kataku kemudian. Aku bahkan bersila di atas sofa, sementara Abimayu terlihat kembali terkejut dengan ucapanku. "Makasih karena udah muji gue, tapi gue penasaran juga tentang itu. Kenapa lo nggak suka sama Laras?"
Abimayu kali ini mendelik dengan kesal. "Dia tuh kampungan. Nggak pernah ngeliat cowok ganteng kayak gue."
"Gue pernah bilang ke Laras, masih ada cowok yang lebih ganteng daripada lo. Dan Laras tetep pengen lo. Dan dalam kasus lo, masih ada cewek yang lebih cantik daripada cewek lo. Dan lo tetep pengen Kania. Jadi," aku mengambil keripik pisang di atas meja. "Apa jawaban yang masuk akal buat itu?"
Ada banyak hal yang tidak kumengerti mengenai sosialisasi. Salah satunya adalah hal-hal yang menurutku masuk akal, tapi orang-orang enggan mengikuti realitas tersebut. Laras adalah contoh terbesarku dalam menjalani hidup. Dia adalah perempuan yang tidak bisa membuatku berhenti berpikir mengenai sesuatu. Dan selalu ada yang baru dari Laras, sehingga membuat wanita itu terlihat seperti sebuah pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya.
Lalu, aku mengenal Kak Fifah dan Abimayu sekaligus. Mereka pun, jadi pertanyaan tersendiri bagiku. Kak Fifah bahkan menyukai kapten tim. Dan kenapa yang dilakukannya hanya menatap sedih? Walaupun itu hanya asumsiku, tapi aku selalu yakin dengan apapun yang ada di sekitarku.
"Kenapa harus ada jawaban yang masuk akal buat jatuh cinta?" Tanya Abimayu kemudian, dan tidak memberikan jawaban apapun padaku.
Aku menghela napas panjang. Kali ini aku menghadap sepenuhnya pada Abimayu. Kakiku bahkan sudah bersila di atas sofa sedari tadi. "Begini. Orang-orang di sekolah tuh, kelihatan kampungan. Ada lo yang perfect, orang-orang jadi tergila-gila. It's okay, orang Indonesia emang kampungan kalo ngeliat orang ganteng. Tapi, gimana bisa lo ngartiin sesuatu itu sebagai cinta? Itu nggak masuk akal sama sekali."
Kali ini Abimayu yang menghela napas panjang. Dia pun ikut bersila di atas sofa dan menghadapku sepenuhnya. "Ya, kenapa harus lo sebut nggak masuk akal? Jatuh cinta tuh nggak pake akal," katanya sambil menunjuk kepalanya dengan jari. Jari Abimayu kemudian turun ke dadanya. "Tapi dari hati."
Aku mengerutkan alisku dengan heran. Tatapanku masih terpaku pada d**a Abimayu. "Tapi kenapa ada beberapa orang yang bisa jadi pasangan, dan ada beberapa yang tersiksa karna itu? Bukannya ..." Aku beralih, menatap wajah Abimayu. "... Cinta itu membahagiakan?"
Abimayu mengedipkan matanya berkali-kali. "Yah mungkin karena dia ngasih hatinya ke orang yang salah?"
"Gimana lo tau tentang itu padahal lo bilang cinta nggak harus masuk akal?"
Abimayu mendengus geli. "Lucu banget ngobrolin ini sama lo. Berasa lagi belajar filsafat, gua."
"Gue bisa liat mana cinta dan mana obsesi," kataku kemudian. "Lo, jatuh cinta sama Kania. Tapi Laras? Dia terobsesi sama lo. Yang nggak gue ngerti adalah konsepsi tentang cinta itu sendiri. Semisal lo jatuh cinta lagi selain sama Kania, kira-kira apa yang bakal lo lakuin?"
Abimayu terlihat berpikir. "Ya ..., itu nggak mungkin. Kania itu satu-satunya buat gue."
Aku mengangkat alisku tinggi-tinggi. "Kalau Kania yang jatuh cinta sama orang lain?"
Abimayu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kania nggak mungkin jatuh cinta sama orang lain. Dia cuma jatuh cinta sama gue."
Aku tersentak terkejut. Ah, ternyata begitu konsepsi tentang cinta. Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang? Padahal, Laras sudah menjadi contoh yang jelas.
Jatuh cinta bukanlah tentang saling memiliki, gagal ataupun ketidakbahagiaan. Jatuh cinta adalah sesuatu yang akan terjadi hanya pada saat itu saja. Saat-saat merasa memiliki. Abimayu mencintai Kania, karena itu dia bisa memiliki Kania karena Kania sendiri merasakan hal yang sama. Berbeda dengan Laras yang hanya mencintai Abimayu, dan merasa memiliki Abimayu, padahal Abimayu tidak menjadi miliknya.
Jadi, dengan kata lain, "Cinta itu bukan dirasakan oleh kedua pihak, tapi tergantung pada diri sendiri, ya?" Ucapku tanpa sadar, sambil mengangguk-angguk mengerti. Aku tertawa pelan. "Dulu, gue pikir cinta itu seni."
Abimayu mengangkat sebelah alisnya dengan heran. "Konsepsi dari mana tuh?" Tanyanya sambil mengambil gelas teh dan meminumnya.
"Konsepsi dari film Fifty Shades of Gray. Adegan Anastasia kehilangan keperawanannya trus ada pantulan cermin di atas—"
PFFTT!
Sial. Jorok sekali Abimayu ini. Kenapa dia malah tersedak teh? Dan lihat hidungnya yang mengeluarkan air itu.
Abimayu terbatuk, sementara aku mengambil tisu banyak-banyak dan beringsut menghampirinya. Aku mengelap air yang ada di dadanya dan juga bibir serta wajahnya. "Lo kok jelek banget, sih. Apa gue nggak boleh ngomongin kejelekan ini ke Kania juga?" Ocehku sambil mengelap wajahnya. Dan aku sangat jujur, sekarang.
Abimayu sangat jelek ketika tersedak.
Pergerakanku tertahan ketika Abimayu menggenggam tanganku yang mengelap wajahnya. Aku mengedip, menatap tanganku yang digenggamnya, lalu menatap Abimayu yang balas menatapku lurus-lurus. Apa dia marah? Tidak terima dikatai jelek? "Ah, maaf. Gue emang blak-blakan—"
"Konsepsi tentang cinta," Abimayu berucap serak, dia menarikku mendekat, membuatku terkejut saat tubuhku menempel dengan tubuhnya. "Cuma buat pancingan, kan?"
"Pancingan?" Heranku, mengedip cepat saat menatapnya.
Abimayu merebahkan tubuhnya ke sandaran tangan sofa, membuatku jadi berada di atas tubuhnya dan masih menempel dengan tubuhnya. "Ya," katanya, dan aku melotot saat tangannya melingkar erat di pinggangku. "Pancingan buat ngegodain gue."
Kembali, aku mengedipkan mataku dengan heran. "Gue nggak berniat ngegodain—"
"Lo berniat. Dan lo berhasil."
Baiklah. Sudah tercatat dalam ingatanku sekarang. Yaitu, jangan pernah membahas Fifty Shades of Gray dengan pria.
Karena aku bahkan tidak tahu, jika membahas tentang itu, bisa membuat seorang Abimayu melahap bibirku seolah kelaparan.