Extras 13 : Abimayu Kecewa

1463 Kata
"Jadi, dia yang nyamperin lo di halte, trus nyuruh lo naik ke motornya?!" Tanya Laras sesaat setelah aku menjelaskan kronologi pengantaran aku oleh Abimayu. Laras membuka mulutnya lebar-lebar. "APA MUNGKIN ABIMAYU SUKA SAMA LO?!" pekiknya menggelegar ke seluruh kelas. Aku mengedipkan mataku dengan heran. "Kenapa bisa gitu?" "YA KAN ABI NGANTERIN LO, ZEE!!" Laras berujar, masih dengan teriakannya. Dia bahkan terlihat berlompat dari kursinya. Wajahnya cemberut berat. "Nggak mungkin kan kalo dia nganterin lo semata-mata karena cuma temen?" "Tapi lo sama Kak Fifah pernah nganterin gue pulang. Berarti, lo suka sama gue?" Laras mendelik kesal. "Ya jangan samain gue sama Abimayu dong, Zee. Ugh!" Geramnya. Aku menghela napas panjang, kemudian berdiri dari kursiku. Laras mengikutiku dari belakang saat aku pergi ke luar kelas. Bel istirahat sudah berbunyi, aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu 30 menitku yang berharga. "Gini ya, Zee. Ada perbedaan ketika cowok nganterin cewek. Kalo cewek itu, ya pure karena temenan dan kadang nggak rido-rido amat sih waktu nganter jemput," oceh Laras di sampingku. "Tapi kalo cowok nih ya, mereka nganterin kalo lagi PDKT, pacaran dan ..." Laras menghentikan ucapannya. Aku menoleh sambil mengedipkan mataku dengan heran. Laras terlihat menungguku untuk bertanya kalimat selanjutnya padanya. Kedua alisnya bahkan terangkat tinggi-tinggi. Kalau sudah begini, aku harus bertanya, "Dan?" Ulangku pada kalimat terakhirnya. "Selingkuhan!" Aku mengernyitkan alisku dengan jijik. "Ew." "Ew, kan?! Bener kan?! Nggak ada harga dirinya, kan?!" "Itu ngejek gue?" "Makanya, Zee," Laras mengabaikan pertanyaanku sebelumnya. "Lo harus nolak ajakan pulang bareng cowok yang udah punya pacar. Ngerti?" Aku mengedipkan mataku. "Kalo dia nggak punya pacar?" "Boleh!" "Boleh?" Ulangku, kemudian mengangguk. "Oke." "Tapi, kalo Abimayu suka sama lo gimana, Zee?" Rengek Laras, menampakkan wajah sedih yang dibuat-buat. Aku mengernyitkan alis. "Ya nggak papa." "ELO YANG NGGAK PAPA TAPI GUE YANG KENAPA-KENAPA!!" Rengek Laras sambil teriak, membuatku mengernyit kesal. "Ras, ini koridor." "GUE NGGAK MAU!! ZEE!!" Aku menghela napas panjang dan berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Laras yang berada di belakangku. Jika lama-lama bersama Laras, aku pasti akan dianggap sama gilanya dengan dia. Aku bahkan lupa bagaimana caranya aku bisa berteman dengan dia. Jika dipikir-pikir, bagaimana bisa aku betah berteman dengan seseorang yang sifatnya jauh berbeda denganku? Hebat juga, ya, aku. "Zee!!" Panggilan itu membuatku mencari sumber suara. Di depanku, ada Reno yang terlihat melambaikan tangannya dengan semangat. Sedangkan di sampingnya, Abimayu memukuli kepalanya dan menyeret-nyeret Reno untuk pergi dari sana. Aku mengerutkan alisku dengan heran saat Abimayu menatapku, tersentak kemudian pergi dari sana dan meninggalkan Reno yang masih melambaikan tangannya padaku. Aku mengangkat sebelah alisku dengan heran. Namun aku mengabaikan hal itu dan balas melambaikan tangan pada Reno. Aku berjalan ke arahnya karena Reno terlihat menungguku. "Ada apa, Reno?" "Wih! Lo inget gue?!" Kagetnya, melotot padaku. "Tepatnya, gue nggak boleh lupa sama lo," kataku, kemudian merogoh saku rokku. Ada nama Reno di sana dengan uang 5 ribu rupiah yang digulung. "Nih. Buat cappucino waktu itu." "Hah?" Reno malah heran sendiri. Dia melihat uang itu, kemudian menatapku kembali. "Gue kan bilang ngasih." Aku menggelengkan kepalaku pelan. "Gue nerima sesuatu kalau gue yakin bakal bisa balas budi suatu hari nanti. Tapi, gue nggak yakin mau nerima sesuatu dari lo. Jadi," aku menggerakkan tanganku yang menggenggam uang Reno. "Ambil ini." Reno menatapku dan uang itu berkali-kali. Terus begitu beberapa saat. "RENO!!" Aku berjengit kaget. Sialan Laras! "Woy, Lestari!" Aku menatap Reno tanpa ekspresi. Padahal sudah kukoreksi masih juga salah. Laras sudah berada di sampingku, sekarang. "Abi mana, Ren?! Abi mana!!" "Siapa Abimana? Sodaranya Abimayu?" Laras mendelik kesal. "Abi gue!" "Abigue? Ambigu?" "Ih!!! Ren!" Kesal Laras, meninju kuat bahu Abimayu. "Gue patahin tangan lo, ya!" Reno malah terkekeh. "Kabur dia liat lo." "Ih! Si Abi mah gitu, ah! Kesel gue!!" Rengeknya lagi. Selalu saja ada kalimat yang bisa dikeluarkan Laras. Mau sedih ataupun senang. Ekspresif sekali. "Omong-omong, Zee," Reno tiba-tiba mengulurkan ponselnya padaku. "Minta nomor lo, dong. Dan uang itu, kasihin Abimayu aja. Itu dia yang bayar." Aku mengedipkan mataku dengan heran. Belum aku menjawab, Laras tiba-tiba berdiri di depanku dengan tangan terentang ke samping. "Zee gue nggak boleh lo deketin! Gue nggak mau dia nangis-nangis gara-gara playboy macem lo!" "Nggak gue akan macem-macemin dia kok! Suer!" "Nggak!" "Oh mau gitu aja? Oke kalo gitu. Liburan nanti, gue nggak akan ngasih foto shirtless Abi." Laras menyingkir dari hadapanku dengan cepat. "Gue minta sepuluh, tolong." Reno malah terkekeh. Dia menunjukkan kedua jempolnya. "Gue kasih limapuluh." "RENO TERBAIK!!" Seru Laras sambil melompat-lompat kegirangan di tempatnya. Baiklah. Hargaku cuma 10 foto shirtless Abimayu. Dan lagi, jika mereka sudah seakrab ini, kenapa Reno masih salah mengucap mama Laras? *** Sudah seminggu berlalu sejak kejadian di mana Abimayu menyentuh tubuhku tanpa seizinku. Aku tidak bilang pada siapapun, karena Abimayu melarangku untuk mengatakan itu pada orang-orang, termasuk pada Laras. Aku menurut saja karena menurutku, kalaupun harus menjelaskannya, aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Semuanya terasa abu-abu pada hari itu. Ada rasa nikmat yang terasa salah di sana. Ada kalanya aku teringat akan hal itu dan tanpa sadar sudah menyentuh bekas tangan Abimayu di tubuhku. Walaupun setelahnya aku menggelengkan kepala dan mencoba melupakan kejadian hari itu. Dan kini .... Si Sialan itu menghindariku dengan kekanakannya. "Kak Fifah! Gunting nggak ada kah?!" Teriak Abimayu yang berada di tengah lapangan voli. Kenapa juga dia menanyakan gunting? "Coba tanya ke Zee! Tadi ada di dia!" Balas Kak Fifah, ikut berteriak juga. "Um ... n-nggak ada, katanya!" Dan dari mana dia tahu kalau gunting itu tidak ada padaku? Dia bahkan tidak bertanya lebih dulu padaku. Dengan helaan napas kesal, aku menghampirinya dengan gunting di tanganku. Abimayu malah terlihat salah tingkah dan mencoba pergi dari tempatnya, namun bingung mau ke mana karena ini adalah lapangan, bukan koridor sekolah yang ada pintu di setiap sisinya. "Nih!" Kataku, sengaja menghadapkan sisi tajam gunting itu ke arahnya dan dia mengambil gunting itu dengan takut-takut. "M-makasih." Katanya, sedangkan aku menggelengkan kepala dan pergi dari sana. "Kekanakan banget," aku menyempatkan mengejeknya saat pergi dari hadapannya. Yah, wajar saja sih. Dia tidak bisa mengontrol dirinya dan membuat dirinya sendiri malu di depanku. Tapi sungguh, kenapa dia membutuhkan gunting? "ABIMAYU BERENGSEK!!" Aku berjengit dan berbalik saat mendengar teriakan menggema dari arah belakangku. Dan aku melihat Kak Fifah sedang memukuli Abimayu yang punggungnya ditindih oleh Kak Fifah. Tubuh depan Abimayu sendiri menempel di lantai lapangan dengan kuatnya. "LO NGAPAIN GUNTINGIN TALI, b*****t?! ITU BUAT PELATIHAN CAMP NANTI!!" "SAKIT WOY SAKIT!! BANG RIDWAN TOLONGIN GUE BANG!!" Aku berjalan menghampiri mereka. Mengedip heran pada Kak Fifah yang masih menindih tubuh Abimayu. "Pelatihan camp? Apa itu?" "SIALAN! GUE KIRA LO MAU BANTUIN GUE!!" Namun, tanpa kusuruh pun, Kak Fifah sudah merebut gunting dari tangan Abimayu dan menyingkir dari tubuh Abimayu. Kak Fifah terlihat kelelahan saat berdiri, padahal yang dilakukannya hanyalah menyiksa Abimayu. "Ya. Pelatihan camp. Lo ikut kan ntar Jumat malem minggu depan? Tadinya mau gue omongin sebelum latihan hari ini sama lo, tapi gue lupa." Aku mengernyitkan alis dengan bingung. "Ngapain aja tuh?" "Ah, intinya kita latihan di luar sekolah aja. Gitu sih. Nggak capek kok." Aku menganggukkan kepalaku. "Oke deh. Gue minta izin bokap nyokap dulu ya. Tapi gue nggak bisa janji." Kak Fifah tersenyum dan mengangguk. Dia menghampiriku dan menepuk pundakku dengan pelan. "Hm. Gue tau. Tapi, gue jamin gue bakal jagain lo, Zee. Seenggaknya, lo harus ngerasain di luar bareng temen-temen lo. Lo belum pernah ikut camping atau PERSAMI kan? Ini kesempatan lo sekarang." Aku mendengus geli. "Masa SMA gue masih panjang, kali, Kak. Tapi makasih atas perhatiannya." Sudah kubilang, penyakit jantungku bukanlah rahasia. Jika ada yang bertanya, "Lo kok nggak tau sih tentang camping? Ke mana aja lo selama ini?" Aku akan menjawab, "Gue? Gue home schooling karena penyakit jantung gue." Dengan santainya. Orangtuaku bahkan menyarankan agar semua orang tahu tentang penyakitku. Karena kalau-kalau aku pingsan, orang-orang tidak sembarangan memindahkan tubuhku. Pemilik penyakit jantung tidak bisa dipindahkan sembarangan, tubuhnya. Karena jika hal itu terjadi, bisa menyebabkan komplikasi pada tubuh penderitanya kalau-kalau salah prosedur. "Apaan?" Abimayu tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraan. Dia menatap heran pada Kak Fifah. "Lo tau tentang penyakitnya dia?" Tunjuknya padaku. Kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Apa pertanyaannya didapat dari menyimpulkan ucapan Kak Fifah? Kak Fifah mendelik. "Ya iyalah! Udah dari lama, tau!" Katanya sambil tersenyum miring pada Abimayu. Kak Fifah kemudian merangkulku untuk pergi dari sana. "Yuk ah Zee, kita jajan tahu bulat dulu." "Gue mau kopi." "Jajan ke luar sekolah dulu bentaran. Sekalian olahraga." "Hm." Kataku sambil sedikit menoleh ke belakang. Tadinya, aku pikir aku salah lihat ketika melihat pandangan kecewa dari Abimayu. Namun, ketika melihat pria itu masih berdiri dengan tatapan yang sama, ternyata aku tidak salah lihat. Dan sekarang aku berpikir, apa yang membuatnya kecewa dari pembicaraan kami? AKAN DINEXT SAAT VOTE SAMPAI 80 DAN KOMEN SAMPAI 20!! Lagi ngerjain tugas. Makanya lupa update
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN