Bab 20

1247 Kata
"Hallo Nia.." sapa Ayu tersenyum getir. Rania langsung memeluk Ayu erat ke dalam dekapannya. " Tiga tahun. Aku pikir kamu sudah lama menghilang dari muka bumi ini. Kemana saja kamu selama ini, sejak menikah kamu tidak ada kabar. Aku pikir kamu tidak ingat lagi padaku" tatap Rania rindu. Merindukan sahabatnya yang tidak pernah lagi bisa dihubungi sejak tiga tahun yang lalu. " Kita ngobrol di kamar saja ya. Pesankan kamar terbaik untukku. Jangan pakai namaku. Pakai namamu saja." Ujar Ayu menampakkan wajah lelah dan dia butuh mandi setelah seharian melakukan perjalanan jauh tentunya membuat penampilannya tampak sangat kucel saat ini. Tanpa banyak bertanya Nia segera melaksanakan permintaan Ayu. Tidak butuh waktu lama Nia kembali sambil membawa kartu kamar untuknya. " Ayo ke kamarmu" ajak Nia sambil mengambil alih menggeret koper Ayu menuju lift yang mengantarkan mereka ke lantai dimana kamar Ayu terletak. Begitu memasuki kamarnya Ayu langsung menuju ranjang dan menghempaskan tubuhnya diatasnya. "Ahhh...akhirnya aku bisa menyentuh ranjang lagi setelah melalui perjalanan yang panjang" desah Ayu lega saat mersakan kenyamanan sebuah tempat tidur yang empuk. " Mandi dulu sana. Muka kamu kucel" ujar Nia sambil memandangi wajah Ayu. " Baiklah" jawab Ayu tanpa membantah. Segera berjalan menuju kamar mandi. Tentunya handuk dan segala perlengkapan mandi selalu tersedia di kamar mandi sebuah hotel. Tidak lama kemudian Ayu keluar dari kamar mandi dengan anduk yang melilit tubuhnya, wajahnya kini tampak lebih segar. Suasana hatinya pun menjadi lebih baik. " Nah sekarang ceritakan bagaimana pernikahan kamu selama tiga tahun ini" desak Nia setelah Ayu selesai memakai pakaiannya. Ayu menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Nia.Mendudukkan bokongnya diatas ranjang menatap Nia dengan enggan. " Aku malu menceritakannya" ujar Ayu lirih. Ayu merasa menceritakan aib rumah tangganya adalah hal yang tabu. " Ceritakan saja. Biar tidak menjadi beban pikiran. Aku tahu kamu datang kesini pasti karena ada masalah. Setahu aku suamimu adalah pria yang baik berdasarkan ceritamu dulu" Ayu menghela nafasnya kembali. Nia memang tahu dia Menikah, tapi Nia tidak datang ke pesta pernikahannya karena bertepatan dengan Nia yang ditugaskan keluar kota. Makanya Nia tidak sempat mengenal Devan. Sejak itu pula Ayu putus kontak dengan Nia serta kenalannya yang lain karena permintaan Devan. " Awalnya pernikahan kami bahagia. Aku menikah dengan seorang pria yang menurutku Sempurna, dia tampan, baik, perhatian, pokoknya segalanya." Ayu bercerita sambil menerawang membayangkan pada saat-saat awal pernikahannya. Maka mengalirlah cerita kehidupannya selama menikah dengan Devan hingga kecelakaan yang dialami Devan. " Dia semakin posesif. Telepon dan nomerku semua dia ganti. Dia hanya mau duniaku berpusat padanya dan keluarganya. Makanya aku tidak bisa menghubungimu lagi selama ini. Maaf" Tatap ayu pada Nia meminta maaf. " Tidak apa-apa, hal seperti itu tidak usah dipikirkan. Aku sudah senang selama kamu bahagia hidup bersamanya dan bisa menerima kondisi fisik dan mentalnya." Ujar Nia memaklumi. " Aku memergokinya selingkuh baru-baru ini" ujar Ayu sambil tersenyum kecut. yang mendapat tatapan tidak percaya dari Nia. Ayu mengangguk meyakinkan Nia bahwa ucapannya bukan candaan walau dia tersenyum tapi hanya berupa senyuman getir " bahkan selingkuhannya mengirimkanku foto-foto intim mereka." " Dasar cowok berengsek. Berarti dia bisa melakukan s*x dengan orang lain tapi tidak denganmu?kenapa bisa begitu?" desis Nia geram, Ayu rela memutuskan kontak dengannya dan semua teman-teman Ayu lainnya demi suaminya. Tapi balasan suaminya sungguh mengecewakan. Ayu hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tahu jawabannya " Barangkali aku lah yang bermasalah mungkin karena aku sudah tidak menarik lagi baginya" ujar Ayu merasa rendah diri dan menyalahkan dirinya. "Omong kosong. Kamu sangat menarik, bahkan dalam keadaan kucel pun kamu tetap menarik. Suami kamu yang bermasalah" bantah Nia membesarkan hati Ayu. " Jadi kalian bertengkar dan kamu melarikan diri kesini?" " Kami belum sempat berbicara. Aku langsung pergi meninggalkan rumah" jawab Ayu singkat. " Harusnya kamu hajar mereka berdua pada saat kamu memergoki mereka. Beri mereka pelajaran" ujar Nia geram. " Aku tidak mau merendahkan diri dengan bertindak bar-bar. tapi aku juga bukan malaikat yang begitu saja memaafkan mereka. Makanya aku kesini untuk berpikir" Untuk sementara suasana hening. Nia ingin membantu tapi ini Rumah tangga Ayu, dia tidak berhak ikut campur. " Baik lah. aku tidak bisa banyak membantu urusan rumah tanggamu, tapi aku aku akan membantumu selama kamu menginap disini" "Terima kasih Nia, kamu memang paling bisa aku andalkan" "Tidak perlu berterima kasih" Ayu memberi Nia senyuman hangat, betapa baiknya sahabatnya ini, dia bahkan tidak marah Ayu telah memutus kontak dengannya selama tiga tahun ini. "Bersenang-senanglah selama disini. Mau aku temani jalan-jalan selama disini?" tawar Nia. " Aku tidak ingin merepotkanmu. Aku tahu kamu pasti sibuk." " kalau begitu aku akan menemanimu tidur malam ini. Aku akan turun dulu menyelesaikan pekerjaan dibawah dulu. nanti aku kesini. kalau kamu cape tidur saja dulu." ujar Nia beranjak turun tidak menghiraukan penolakan Ayu. Untuk malam ini dia ingin menemani Ayu yang masih tampak rapuh. Walaupun Ayu sudah tidak menampakkan kesedihannya, tapi Nia tahu betapa hancurnya hati sahabatnya itu saat ini. Ayu hanya bisa pasrah menatap kepergian Nia. Dirinya sudah terlalu lelah, lelah raga dan lelah batin. Selama perjalanan sudah berkali-kali dia kembali menangis begitu mengingat pengkhianatan Devan. Membaringkan tubuh lelahnya diatas kasur, lelah untuk terus berpikir, Ayu mengistirahatkan otaknya , masuk ke alam mimpi. ÷÷÷÷÷÷÷÷ Rasanya baru saja Ayu memejamkan matanya, Suara Nia yang cempreng membangunkannya sambil terus menggoncang-goncang tubuhnya, Menarik Ayu dari alam mimpinya. Ayu menyipitkan matanya menatap Nia masih dengan mata masih mengantuk. masih ingin tenggelam dalam tidurnya. " Ada apa Nia?" tanya Ayu ogah-ogahan dengan suara serak khas bangun tidur. "Bangun, sudah pagi, ayo makan dulu." ajak Nia tetap terus mengguncang tubuh Ayu agar terjaga. Mau tidak mau Ayu bangun dari tidurnya dengan ogah-ogahan, setelah yakin Ayu benar-benar telah bangun, Nia segera menyiapkan makanan yang dia bawa diatas meja. Ayu berjalan dengan malas ke meja. menyantap sarapannya dengan tidak berselera. Semalam setelah Nia kembali ke kamar dan membangunkannya, mereka saling bercerita tentang kehidupan mereka selama tidak bertemu semalaman hingga mereka tertidur. Ayu masih ingin bergelung di atas ranjang. " Ayo lah jangan bermalas-malasan hanya karena sedih. Kamu harus semangat. berjalan-jalan dipantai saat pagi sangat bagus." ujar Nia optinis memberi Ayu semangat. " Bersenang-senanglah Ayu. Nikmati hidupmu. Aku kerja dulu ya. Ingat! jangan kembali ke ranjang. Keluar, hirup udara segar. jangan terus menerus terpuruk di kamar. Buat apa kamu jauh-jauh kesiji kalau cuma mendekan disini seharian" " iya,,iyaa" jawab Ayu pasrah. Jika membantah Nia akan melanjutkan ocehannya yang tentunya akan semakin panjang. Setelah mendapat jawaban dari Ayu, Nia akhirnya meninggalkan Ayu seorang diri di kamar makan dengan tenang. Mengikuti usul Nia. Setelah makan Ayu berjalan-jalan di pantai yang letaknya persis di belakang hotel. Betul kata Nia. dia harus menikmati hidup. Kehidupannya yang dipikirnya akan sempurna dan bahagia, ternyata diterpa badai perselingkuhan. Mulai saat ini Dia akan menghapus Devan dari hidupnya. menunjukkan pada suaminya bahwa dia bisa hidup tanpa suaminya. Berjalan pagi di pantai menjadi kegiatan rutin Ayu sejak tinggal di hotel beberapa hari ini. Saat ini bukan musim liburan, jadi pantai tidak banyak yang berkunjung. Suasana jadi begitu tenang hanya debur ombak yang mengusik pagi ini. Ayu sudah tidak peduli dengan keadaan rumah dan Devan yang dia tinggalkan maupun nasib pernikahannya. Untuk saat ini Ayu ingin menikmati hidupnya sendiri. Kemana-mana seorang diri tanpa takut ada yang memarahi dan tanpa harus melapor kemana dia hendak pergi. Stop Ayu!!... jangan mengingat suami berengsek itu lagi. Kamu kesini untuk melupakannya bukan malah mengingat pria itu. Biarkan saja pria berengsek itu bersenang-senang dulu dengan selingkuhannya. Ada saatnya kamu memberi mereka pelajaran. ayu terus tenggelam dalam lamunannya. "Aduhh..." sebuah teriakan mengaduh mengagetkan Ayu dari lamunannya. TO BE CONTINUE....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN