Devan memasuki rumah sakit tempat dimana Adelia sedang praktek hari ini dengan wajah keras yang tampaknya sedang tidak bersahabat.
"Panggil Adelia" gumam Devan datar pada resepsionis yang berjaga di meja depan.
"Maksud Bapak, Dokter Adelia?" Tanya si resepsionis memastikan.
" Ya" jawab Devan singkat.
" Ada keperluan apa Bapak mencari Dokter Adelia?sebagai pasien ataukah tamu?"
" Bilang saja Devan menemuinya"
Melihat raut wajah Devan yang tampak tidak bersahabat, si resepsionis tidak bertanya lebih lanjut lagi dan segera menghubungi Adelia untuk mengabari bahwa ada tamu yang mencari Adelia.
Tak lama kemudian resepsionis meletakkan telepon setelah berbicara dengan Adelia.
" Bapak diminta langsung ke ruangan Dokter Adelia. Mari pak saya antar ke ruangannya" ujar Si resepsionis segera berdiri untuk mengantarkan Devan.
Devan mengikuti resepsionis itu tanpa berkata apa-apa lagi. Hingga mereka tiba di depan ruangan yang ada tulisan nama Adelia. Devan segera membuka pintu tanpa ada niat mengetuk pintu.
Di dalam Adelia duduk di meja kerjanya sedang mengerjakan sesuatu. Melihat kedatangan Devan segera Adelia mengalihkan perhatiannya.
" Tumben kamu kesini sayang" sambut Adelia dengan senyum senang.
Biasanya Devan hanya mau datang ke klinik pribadinya untuk menemuinya. Tidak pernah menemuinya di rumah sakit seperti ini karena Devan menganggap disini tidak ada privasi. Makanya Adelia sendiri yang lebih berinisiatif mendatangi kantor Devan agar pertemuan mereka lebih sering.
" Apakah kamu sudah kangen lagi padaku, ingin melakukan 'terapi' lagi?" Tanya Adelia dengan percaya diri dan menatap Devan menggoda. Tapi Devan hanya diam dan menatapnya tajam tampak kilat kemarahan dimatanya.
Devan yang tidak menjawab sapaan Adelia hanya merogoh sakunya kemudian mengotak atik gawainya.
Dihempaskannya gawainya itu di hadapan Adelia. Adelia mengernyit tidak mengerti menatap gawai itu. Terlihat gambar yang muncul di gawai itu, foto telanjangnya bersama Devan.
Adelia terkesiap kaget menatap foto itu, meraih gawai itu melihat-lihat isinya mendapati semua foto yang dikirimnya pada Ayu kini ada pada Devan. Wajah adelia berusaha tampak tenang. Dia tidak menyangka Ayu akan menyampaikan foto-foto itu pada Devan.
Foto-foto itu awalnya iseng Adelia kirimkan dengan tujuan untuk memanas-manasi Ayu. Adelia berpikir Ayu hanya akan terpuruk sedih dan diam saja, seperti reaksi pengecutnya saat memergoki pergumulannya dengan Devan dikantor tempo itu.
" Kamu yang mengirim foto itu pada Ayu?" Tatap Devan tajam.
" Benar"
Adelia berusaha bersikap santai dan tenang seolah-olah itu adalah hal biasa. Cepat atau lambat Devan harus tahu bahwa istrinya telah mengetahui perselingkuhan mereka. Adelia hanya mempercepatnya saja.
" Kamu lupa perkataanku saat awal mula kita melakukan hubungan ini?." Desis Devan menatap Adelia berang sambil berjalan menghampiri bangku Adelia.
"Aku sudah katakan padamu untuk merahasiakannya. Aku tidak ingin sampai istriku mengetahuinya. Kamu sendiri bilang bahwa kamu tidak keberatan."
" Sekarang gara-gara foto sialan yang kamu kirim itu. Ayu pergi dari rumah. Apa maksud kamu mengirimkan foto-foto ini pada Ayu?"
" Ayu pergi dari rumah? Bagus dong kalau begitu. Artinya dia menyerah pada dirimu. Kita bisa bersama tanpa takut ketahuan Ayu lagi . Aku tidak mau harus terus menerus sembunyi-sembunyi menemuimu. Aku ingin diakui juga." Tatap Adelia tenang tidak takut pada tatapan Devan yang begitu marah, dia justru senang saingannya pergi meninggalkan Devan, dia jadi lebih berani mengungkapkan keinginannya dan keegoisannya.
Devan mencengkeram rahang Adelia. Dan menarik Adelia berdiri sambil mencengkeram rahang itu untuk menghadap padanya yang berdiri menjulang di depan Adelia.
"Aduh, sakit dev" jerit Adelia kesakitan berusaha memberontak melepaskan cekalan Devan yang kuat pada rahangnya yang membuatnya kesakitan.
"Kamu yang merayuku mengemis-ngemis rela untuk dijadikan alat pemuasku tanpa orang lain tahu. Aku sudah memberi batasan sedari awal. Tampaknya sekarang kamu semakin tamak dan menunjukkan rupamu yang sebenarnya." Geram Devan murka.
" Kamu harus hubungi Ayu dan meminta maaf padanya. Katakan padanya bahwa semua foto itu adalah editan. Aku tidak ingin Ayu salah paham. Aku tidak ingin kehilangan Ayu." lanjut Devan mengusulkan solusinya sambil menghempas wajah Adelia dari cengkeramannya.
Adelia terhempas jatuh tersungkur di lantai sambil memegangi kedua rahangnya kesakitan, menatap Devan sambil tersenyum sinis padanya. Tampaknya Ayu masih belum memberi tahu Devan bahwa dia telah melihat mereka di kantor, bukan hanya karena foto-foto itu.
"Setelah dia mengetahui semuanya, kamu masih bisa berpikir bahwa kamu bisa mendapatkannya kembali?"
" Ya, aku yakin dia akan memaafkanku. Dia sangat mencintaiku. Dia akan kembali padaku. Dia lebih percaya pada omonganku daripada foto-foto itu. Aku yakin dia pergi dari rumah hanya karena kecewa " jawab Devan yakin.
" Aku tidak mau. Buat apa aku meminta maaf padanya. Sedari awal harusnya akulah istrimu. Dia yang merebut kamu dari ku." Teriak Adelia tidak terima sambil berdiri menghadap Devan menantang. Hatinya begitu dengki pada Ayu.
Devan selalu berbicara lembut tentang Ayu. Sedangkan padanya Devan hanya memperlakukannya sebagai selingkuhan yang tidak berharga, dirinya hanya dianggap sebagai alat pemuas nafsu Devan saja. Setelah puas akan ditinggal pergi.
" Kalau bukan karena jalang rendahan itu. Kamu tidak akan menolak perjodohan kita yang sudah diatur sejak lama"
" Buat apa kamu masih mempertahankannya. Dia sudah tidak bisa memberimu kepuasan batin. Aku lah yang bisa memuaskanmu. Bukan dia."
Tambah Adelia marah.
Plakk...
Devan menampar Adelia dengan keras hingga wajah wanita itu berpaling kesamping.
Beraninya wanita ini menentangnya. Dan sekarang menjelek-jelekkan Ayu.
Sedari awal Adelia lah yang mengusulkan hubungan ini, untuk membantu terapinya agar bisa ereksi dia menawarkan tubuhnya. Dan ternyata juniornya memang bisa berdiri pada Adelia.
Devan berpikir akhirnya dia sudah sembuh. Tapi dirinya kembali kecewa karena ketika berhubungan dengan Ayu juniornya tetap tidak bisa berdiri.
Sejak itu Devan terjebak oleh jerat Adelia. Mempertahankan Adelia untuk kepuasannya. Sejak itu Devan meletakkan Ayu tetap sebagai istrinya dan menyimpan Adelia sebagai pemuas nafsu birahinya. Tapi tampaknya sekarang Adelia semakin tamak dan tidak puas dengan posisinya. Dia menginginkan posisi Ayu.
" Kamulah yang jalang. Dia itu istriku. Selamanya akan tetap istriku. Aku tidak akan melepaskanmu jika Ayu tidak ingin kembali, kamu akan rasakan akibatnya nanti" ancam Devan berang.
Kemudian Devan meninggalkan ruangan Adelia sambil membanting pintu itu dengan keras menandakan emosinya yang meluap. Percuma berbicara dengan Adelia lebih lama, itu tidak akan membantunya menemukan Ayu.
"Aakkkkhhh..." Jerit Adelia frustasi.
Harga diri Adelia terasa tercabik-cabik. Dirinya yang seorang dokter, putri kepala rumah sakit. Cantik dan berpendidikan. Banyak pria yang menginginkannya. Tapi sayangnya dia hanya terobsesi pada Devan. Dan dia dikalahkan oleh seorang wanita rendahan biasa saja. Yang kalah segala-galanya dari Adelia. Adelia benar-benar membenci Ayu.
Disaat Devan masih kebingungan mencari Ayu. Dan mulai menyuruh orang untuk melacak keberadaan Ayu. Sementara itu Ayu sudah meninggalkan kotanya dengan menaiki kereta kemudian berlanjut dengan menaiki bus dan menyebrangi pulau dengan menaiki kapal laut.
Ayu tidak ingin menaiki pesawat karena takut jejaknya akan terlacak dengan cepat oleh Devan. Maka Ayu sengaja berganti-ganti kendaraan umum untuk menjauh. Anggap saja sedang traveling.
Ayu turun dari taksi setelah taksi yang ditumpanginya berhenti di sebuah hotel, saat ini hari sudah menjelang malam. Tubuhnya kelelahan setelah melalui perjalanan panjang.
Tak lupa mengucapkan terima kasih pada supir yang membantunya menurunkan kopernya dari bagasi. Dan segera membayar ongkos taksinya beserta tips untuk si sopir.
Ayu Berjalan memasuki lobby hotel menuju meja resepsionis sambil menggeret kopernya.
" Selamat malam bu? Ada yang bisa kami bantu?" Sapa resepsionis ramah menyambut kedatangan Ayu.
" Nia.. eh, Rania ada?"
"Maksud anda, Ibu Rania HRD kami?" Tanya resepsionis itu.
" Ya." Jawab Ayu singkat. Ternyata setelah tiga tahun sahabatnya telah menjadi seorang HRD sekarang.
" Maaf ada kepentingan apa ibu mencarinya?"
" Bilang saja Ayurinda mencarinya"
" Baiklah tunggu sebentar ya bu." Ujar si resepsionis.
Ayu menggeret kopernya menuju sofa yang tersedia di lobby.
Tidak butuh lama Ayu menunggu, Ayu mengenali seorang wanita yang berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Hallo Nia" sapa Ayu sambil tersenyum getir.
To Be Continue......