Ayu menatap gawainya yang terus berdering dari beberapa jam yang lalu. Semua adalah panggilan dari suami pengkhianatnya itu. Tidak ada keinginan bagi Ayu untuk mengangkat panggilan itu dibiarkan saja panggilan itu bergetar terus menerus hingga terhenti dengan sendirinya.
Hatinya sudah membeku dan terasa hampa. Padahal dulu dia langsung semangat untuk menjawab begitu mendapat panggilan dari suaminya.
Ayu membuka pesan yang masuk. melihat begitu banyak pesan yang dikirim oleh Devan. untung saja dia sudah menyetel status pesannya agar tidak terlihat sedang online ataupun telah membaca pesan yang dikirim oleh Devan. Dibacanya satu persatu pesan yang dikirim oleh suaminya.
'Sayang kamu sedang apa? Angkat dong telefonnya'
' kamu sedang marah ya sayang'
'Mas minta maaf, lupa mengabari kalau mas tidak bisa pulang semalam'
' maafkan mas sayang, nanti malam mas ajak jalan-jalan kemanapun kamu mau. Kita dinner diluar'
Ayu mendengus membaca pesan diatas. Yang berisi bujukan dan rayuan. Devan sangat tahu bagaimana membuat Ayu luluh. Tapi tidak untuk kali ini. Kesalahan Devan sangat fatal. Ayu sudah tidak bisa mentolerir kesalahan Devan yang satu ini.
'Sayang, tolong maafkan mas, mas tidak akan ulangi lagi kesalahan mas. lain kali mas akan mengabari kalau tidak pulang malam.'
'sayang angkat dong telepon dari mas'
'sayang, mas kangen mendengar suaramu'
Dan masih banyak lagi pesan yang terus menerus dikirimkan Devan. segala bujuk rayu Devan agar Ayu menjawab panggilannya. Devan bertingkah seolah dia tidak melakukan kesalahan fatal.
Tampaknya Adelia tidak memberi tahu Devan bahwa Ayu telah melihat kegiatan mereka di kantor kemarin. Entah apa yang Adelia rencanakan. Sudah jelas wanita itu juga melihat dirinya yang telah memergoki kegiatan mereka.
Ayu melihat ada pesan juga dari nomor yang tidak dikenal. begitu dibuka terdapat banyak foto yang dikirim. Ayu membuka satu per satu foto itu. Hatinya kembali terasa perih. berbagai foto pose Adelia dan Devan yang sedang tidur tanpa mengenakan busana sehelai benangpun.
'suami mu sangat puas melakukan s*x bersamaku sampai dia kelelahan. apakah kamu bisa membuatnya begitu?'
Ayu menitikkan kembali air mata melihat foto-foto itu. hatinya kembali terasa seperti ditikam belati. sakit.. sangat sakit.. tanpa diberitahupun Ayu tahu milik siapa nomor itu. Begitu bangga kah wanita itu telah menjadi perusak rumah tangga orang? Padahal dirinya seorang dokter dan berparas cantik. Mengapa dia justru lebih memilih menjadi perusak rumah tangga orang lain.
dengan tangan gemetar menahan emosi Ayu segera mengirim semua foto yang dia terima pada Devan dengan menambahkan sebuah pesan yang singkat.
'kesalahan kamu sudah tidak bisa dimaafkan'
kemudian segera dimatikan gawainya begitu pesannya sudah terkirim. tidak ingin lebih sakit hati lagi. Tapi air mata masih terus mengalir dari kedua matanya. Ayu menunduk menangis sesegukan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tidak memperdulikan tatapan orang di sekitarnya yang menatap heran padanya.
Ayu jadi mengingat tatapan Adelia yang penuh kemenangan dan kepemilikan terhadap Devan. Wanita itu seolah memerkan kepadanya bahwa dirinya lah yang menang dan berhak memiliki Devan.
Tentu saja wanita itu menang, dia bisa bercinta dengan Devan. Sedangkan Ayu yang istrinya justru tidak bisa membuat Devan b*******h padanya. ini adalah pukulan telak pada Ayu. Tangis Ayu semakin pilu.
&&&&&&
Devan tidak bisa konsentrasi pada pekerjaannya hari ini. Seharian berpuluh-puluh kali dia menghubungi Ayu tapi panggilannya tidak ada satu pun yang diangkat oleh istrinya itu. Sudah berpuluh-puluh pesan dia kirimkan juga yang berisi bujukan dan rayuan pada Ayu, biasanya bujukannya akan selalu bisa meluluhkan kemarahan Ayu. Tetapi kali ini dia tidak mendapatkan tanggapan apa-apa dari Ayu.
Devan menghempaskan gawainya dengan kesal keatas meja kerjanya. berjalan hilir mudik terus berpikir kenapa kali ini Ayu begitu marah padanya.
"Ah... sial..." dengus Devan kesal sambil mengacak acak rambutnya dengan frustasi. Kenapa Ayu tidak bisa dia kendalikan kali ini. Ayu terasa begitu jauh dari jangkauannya. Devan tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Ayu saat ini hal itu membuat dirinya takut. Biasanya dirinya selalu bisa mengontrol dan mengendalikan Ayu, mengetahui bagaimana membuat wanita itu senang, bagaimana meluluhkan hati wanita itu jika istrinya itu sedang marah.
Devan melihat gawai diatas mejanya bergetar, secepat kilat Devan meraih kembali gawai itu. Berharap Ayu membalas pesannya.
Seketika wajah Devan menjadi pias menatap layar gawainya dengan tidak percaya. Memang barusan Ayu yang telah mengirimkan pesan di gawainya itu. Tapi pesan yang dikirim Ayu membuat wajah Devan berubah menjadi pucat pasi dan ketakutan.
" Bagaimana Ayu bisa mendapatkan semua foto ini" desis Devan panik.
Devan berusaha untuk tenang, dia bisa beralasan kalau itu adalah foto editan. Ya, dijaman sekarang banyak beredar foto-foto editan yang tampak seperti asli. Devan tersenyum senang karena berhasil menemukan alasan untuk berkelit dari tuduhan Ayu.
Devan segera menghubungi Ayu lagi untuk memberi penjelasan. Tapi ternyata Ayu telah mematikan gawainya karena panggilannya tidak bisa tersambung.
Devan segera menyambar tas kerjanya berniat untuk pulang. Dia harus menyampaikan langsung pada Ayu dan membujuk Ayu. Devan yakin Ayu akan luluh dan percaya pada kata-katanya seperti biasanya.
" Batalkan semua jadwal saya hari ini. Saya ada urusan keluarga" ujar Devan tergesa saat mampir sebentar ke ruangan Clara untuk memberikan beberapa instruksi.
Sepanjang perjalanan pulang Devan terus memikirkan dan mempersiapkan beribu alasan dan kata-kata untuk merayu istrinya yang Devan yakin akan bisa meluluhkan kemarahan Ayu.
" Sayang..." Paggil Devan begitu memasuki rumahnya. Rumah terasa sunyi dan tidak ada jawaban.
Devan segera menaiki tangga menuju kamarnya bersama Ayu. Tapi tidak menemukan sosok istrinya di sana, bahkan di kamar mandi.
Devan segera turun mencari di dapur dan setiap ruangan di lantai bawah.
" Ayu..."
" Sayang..." Panggil Devan tanpa henti. Terus mencari ke sekeliling rumah.
Ketakutan semakin tergambar jelas di wajah Devan. Tapi segera ditepisnya ketakutannya itu.
Tidak...tidak mungkin Ayu tega dan nekat meninggalkan dirinya. Devan segera berlari ke atas kembali ke kamarnya. Membuka lemari pakaian Ayu... Terlihat tumpukan pakaian Ayu berkurang beserta beberapa barang diatas meja rias istrinya..
Devan menjadi kalut. Ketakutannya ternyata terbukti benar. Istrinya minggat. Pergi dari rumah meninggalkan dirinya.
Begitu tiba dibawah, Devan langsung berteriak dengan membahana memanggil bi mumun dan pak Ujang. Wajahnya tampak begitu marah dan murka seakan hendak melampiaskan kemarahannya pada kedua pembantunya itu.
Kedua orang paruh baya itu berlari tergopoh-gopoh dengan wajah ketakutan menghampiri Devan yang berwajah mengerikan karena sudah sangat marah dan kalut.
" Kemana Ayu pergi?" Bentak Devan kepada kedua pengurus rumahnya tampak ketakutan dan tertunduk tidak berani menatap tuannya.
" Kami tidak tahu tuan. Nyonya Ayu tidak bilang apa-apa ketika keluar"
" Kapan dia pergi?"
" Dari semalam Tuan. Sampai sekarang belum kembali"
" Apa saja yang kalian lakukan. Nyonya kalian tidak pulang dari semalam tapi kalian tidak melaporkannya padaku" bentak Devan dengan nada berang sambil.mengacak-acak rambutnya kembali dengan rasa frustasi.
Keduanya bahkan tidak melaporkan kepadanya bahwa istrinya telah meninggalkan rumah dari semalam.
" Ma..maaf Tuan. Karena Tuan juga tidak kembali saya kira Nyonya pergi bersama dengan Tuan" jawab pak Ujang dengan perasaan takut.
" Dasar kalian tidak berguna. Masa Ayu pergi membawa koper tidak ada yang tahu" caci Devan berang.
Kedua pembantunya sungguh tidak berguna. Tidak bisa diharapkan.
Bi mumun dan pak Ujang hanya bisa tertunduk takut menerima segala caci maki Devan selanjutnya.
Ayu pergi meninggalkan rumah dari semalam dan dia baru mengetahuinya sekarang. Suami apa dia yang tidakenyadari hal ini!. Ini akibat karena terlalu larut memuaskan hasrat seksualnya.
Entah dimana keberadaan Ayu saat ini. Kemana dia harus mencari Ayu?. Pikiran Devan benar-benar kalut.
Setahu Devan. Ayu sudah tidak memiliki sanak saudara. Dia hidup sebatang kara. Teman-temannya pun tidak ada yang Devan kenal.
Sejak menikah dengannya Ayu tidak pernah kontak dengan satupun temannya. Hidup Ayu hanya berpusat pada dirinya. Jadi jika sekarang Ayu pergi, devan tidak tahu hendak mencari tahu keberadaan istrinya ke siapa?
Devan benar-benar tidak mengira bahwa Ayu akan semarah ini hingga nekat meninggalkan rumah.
Devan merasa kesalahannya tidaklah fatal. Dia masih bisa memperbaiki pernikahannya. Dia sangat mencintai Ayu. Dia tidak bisa hidup tanpa Ayu. Hanya Ayu yang bisa mengurusnya dengan baik.