Bab 8

1115 Kata
Ayu melangkah dengan tertatih-tatih setelah mematikan shower yang terus mengalir kemudian mengambil handuk mengeringkan tubuhnya yang telah menggigil kedinginan. Mengenakan bathrob yang dipakai seadanya diikat di tubuhnya, ayu melangkah ke dalam kamar. Tidak tampak kehadiran devan disana yang justru membuat ayu lega. Ayu tidak siap menerima amarah Devan lagi. Ayu menaiki ranjang. Berbaring dengan menutup tubuhnya dengan selimut tebal, mencari kehangatan dibalik selimut. Air mata kembali mengalir mengingat perlakuan Devan padanya. Ayu tahu itu hanyalah emosi sesaat Devan. Keesok harinya Devan akan meminta maaf atas perlakuannya tadi. Hal biasa yang selalu terjadi jika Devan telah lepas kendali. Tapi bagaimanpun air mata tetap mengalir dari pelupuk matanya. Tidak tahu apakah hal ini dapat dia terima seumur hidupnya. Ayu menangis hingga tertidur karena kelelahan. Dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Saat tengah malam Devan kembali ke kamar. Devan menutup pintu perlahan kemudian melangkah pelan memasuki kamar, berdiri di tepi ranjang memperhatikan istrinya yang tengah terlelap. Devan mengamati Ayu yang telah terlelap dalam tidurnya. Menaiki ranjang dan duduk disamping tubuh Ayu. Menatap Ayu dengan wajah penuh penyesalan apalagi Melihat jejak air mata di pipi Ayu membuat Devan yakin bahwa Ayu dari tadi menangis sampai tertidur. " Maaf" ujar Devan singkat. Sambil membelai pipi ayu dengan lembut. Tampak ada memar berwarna ungu di pipi ayu. Devan sangat mencintai Ayu. Begitu takut Ayu akan meninggalkañya. Devan tahu Ayu begitu cantik. Banyak pria yang menginginkannya. Oleh karena itu Devan lebih tenang jika ayu di rumah saja. Entah kenapa juniornya tidak bisa berdiri setiap menginginkan Ayu. Devan sangat ingin membahagiakan Ayu. Devan mempunyai sesuatu yang dia sembunyikan dari Ayu. Entah apa yang akan istrinya lakukan jika dia memgetahui rahasia ini. Kemungkinan terburuk adalah Ayu akan meninggalkannya. Tidak...devan tidak mau ayu pergi darinya. Selamanya Ayu adalah miliknya. Hanya dia yang berhak atas Ayu. Devan yakin Ayu tidak akan berani meninggalkannya. Hanya dirinyalah tempat bergantung Ayu. Dan hanya dirinya yang sangat dicintai Ayu. Devan membaringkan tubuhnya disamping Ayu. Mendekap dan merengkuh tubuh Ayu ke atas dadanya. Ikut lelap ke dalam mimpi menyusul Ayu. ÷÷÷÷÷ Ayu terbangun karena merasakan sesuatu yang menyentuh pipinya. Saat membuka kwdua kelopak matanya, tatapannya bertemu dengan mata Devan yang berada begitu dekat di depan wajahnya. " Pagi sayang" sapa Devan lembut seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Ayu hanya menatap Devan dalam diam. Takut suasana hati Devan masih marah seperti semalam. Dirinya juga masih kecewa pada Devan. Devan menghela nafas melihat Ayu yang tidak meresponnya. "Maafkan aku. Semalam aku lepas kendali" tatap Devan dengan wajah penuh penyesalan. Membelai wajah Ayu yang mulus dengan punggung tangannya. Mengungkapkan rasa sayang dengan sentuhan itu. Devan tahu bagaimana meluluhkan hati Ayu. " Aku keterlaluan ya semalam? Apakah ada yang sakit?" Tanya Devan sambil mengamati tubuh Ayu. Ayu menjawab dengan gelengan. Mulutnya masih bungkam. Enggan berbicara pada Devan. " Maafkan aku ya sayang" bujuk Devan dengan suara memohon dan menampilkan wajah sedih yang sangat menyesal. Ayu mengalihkan tatapannya emnggan menatap suaminya itu. " Tatap aku sayang. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku ya" pinta Devan dengan suara memelas wajahnya tampak suram " Jangan diamkan aku. Kamu tahu aku paling tidak bisa kamu acuhkan" tatap Devan dengan mimic sedih. Ayu menatap Devan sambil menghela nafas. " Baiklah. Aku maafkan" desah Ayu menyerah. Dia memang tidak bisa marah lebih lama kepada Devan. Wajah Devan langsung tersenyum senang. Usahanya tidak sia-sia akhirnya Ayu luluh juga. Devan memeluk Ayu dengan erat. Dan mengecup bibir Ayu dengan lembut dan penuh sayang. " Aku tahu kamu akan selalu memaafkan aku" Ujar Devan dengan senyum bahagia wajahnya yang suram seketika menjadi cerah. " Kamu tahu aku tidak bisa lama-lama marah padamu" dengus Ayu sebal karena pertahanannya terhadap rayuan Devan begitu lemah. "Ayo mandi. Bik Mumun pasti sudah menyiapkan sarapan" ajak Devan sambil mengangkat tubuh Ayu dengan rasa bahagia dan langsung berjalan menuju kamar mandi. Devan menyalakan Shower dan menyetelnya menjadi air hangat. Menanggalkan semua yang melekat di tubuh mereka berdua hingga kini bertelanjang bulat berdua dibawah shower. Di bawah shower Devan memperlakukan Ayu dengan lembut. Begitu memuja bagai seorang ratu di hatinya. Sangat berbeda dengan perlakuannya semalam. " Apakah ini sakit" tanya Devan sambil mengelus pelan dan lembut pada pangkal paha Ayu. " Sedikit" desah Ayu. Tubuhnya meremang menerima belaian Devan. Tubuhnya sungguh haus belaian hanya dengan dibelai sedikit saja nafsu Ayu langsung terbangkitkan. Padahal bagian bawahnya masih terasa nyeri akibat perlakuan kasar Devan semalam. " Kamu terangsang?" Goda Devan dengan senyum menggoda saat merasakan bagian bawah Ayu licin oleh cairan wanitanya bukan oleh air shower yang saat ini mengucur. Ayu mengangguk dengan malu. Membwnarkan tebakan Devan. Devan membelai-belai pangkal paha Ayu. Memasukkan jarinya ke dalam belahan itu. Mengelus-elus k******s milik Ayu sehingga membuat Ayu menggelinjang geli dan nikmat. "Ahhh..." Desah Ayu nikmat. Tangannya membelai wajah Devan. Dengan agresif memagut bibir Devan dengan rasa lapar. Devan juga membalasnya tak kalah agresif. "Mmpphh" erah Ayu ditengah pagutan bibir mereka saat jari Devan menyerusuk ke dalam lubang vaginanya. Dan jarinya mulai menyodok-nyodok di dalam sana. Kali ini dilakukan Devan dengan lembut dan tidak kasar. Tangan Ayu juga otomatis memegangi batang p***s Devan yang menggantung lemah di pangkal pahanya. Tangannya mengelus-elus batang p***s itu dengan penuh harap. Mengurut benda itu dengan tangannya yang naik turun berharap benda itu dapat mengeras. Tapi sampai Ayu hendak mencapai pelepasannya p***s Devan tidak juga mengeras. Tangan Devan semakin kuat dihentakkan di dalam lobang v****a Ayu. Ayu menjerit nikmat menyambut pelepasannya kemudian memgejang menyambut puncak kenikmatan. Kemudian bersandar lemah pada tembok kamar mandi dengan nafas memburu. Walaupun sudah mencapai pelepasannya tapi Ayu masih belum merasa puas jika tidak dimasuki oleh Batang besar berdenyut-denyut hangat yang sangat didamba oleh nya sejak dua tahun ini. Mata Ayu menatap kecewa pada p***s Devan yang berada dalam genggamannya. Benda itu terkulai lemah. Tak ada reaksi sedikitpun dari rangsangan yang telah dia berikan. " Maaf" desah Devan masih dengan nafas memburu. Dia juga tidak tahu kenapa juniornya tidak pernah bisa bereaksi pada Ayu. Padahal...... " Tidak apa-apa" ujar Ayu pelan. Dia sudah terbiasa menerima kekecewaan selama dua tahun ini. " Ayo kita selesaikan mandi. Aku sudah lapar" tambah Ayu mengalihkan topik pembicaraan. Tidak ada pembicaraan lagi. Mereka melanjutkan kegiatan mandi mereka dibawah shower bersama. Setelahnya mereka segera kembali ke kamar untuk berpakaian. " Mas tidak ke kantor hari ini?" tanya Ayu yang heran melihat Devan memakai pakaian santai. Bukan kemeja ataupun jas kantoran dan celana panjang pantofel yang biasa devan kenakan ke kantor. " Mas sengaja meliburkan diri. Mau menghabiskan hari ini dengan istri tercinta. Kamu kan juga harus mencari gaun untuk acara nanti. Hari ini spesial untuk menyenangkanmu " Ayu menatap Devan dengan tatapan bahagia. Bagaimana dia bisa membenci suaminya ini jika kelakuan suaminya ini begitu romantis dan begitu menyayanginya. Selalu tahu bagaimana membahagiakan Ayu walau hanya dengan hal-hal yang sederhana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN