Bab 9

1087 Kata
Pesta penggalangan dana yang diadakan oleh tuan rumah termasuk pesta yang mewah walaupun temanya adalah penggalangan dana amal untuk yayasan milik si pelaksana pesta. Dibalik acara penggalangan dana amal atas nama yayasan, tujuan lain pesta ini adalah menjalin hubungan baik antar sesama rekan bisnis. Dan bagi usahawan muda seperti Devan hal ini adalah kesempatan bagus untuk menjalin hubungan baik dengan para pebisnis senior. Devan dan Ayu berpenampilan sebaik mungkin dan serasi. Datang sebagai suami istri yang mesra. Sang pria muda dan tampan dan sang wanita cantik dan elegan. Devan dan Ayu berkeliling menyapa setiap tamu yang datang beramah tamah pada mereka. Ayu terus mendampingi Devan dan terus mengembangkan senyum ramah. Berusaha sebaik mungkin sebagai istri yang baik, istri yang selalu mendukung suami. Padahal sejujurnya Ayu merasa bosan karena tidak mengerti topik pembicaraan devan dengan lawan bicara mereka. Ayu hanya berusaha menjawab sesingkat mungkin jika ditanya. Cukup sekedar berbasa basi menunjukkan kesopanannya. Mata Ayu tertarik pada deretan meja yang menyajikan aneka makanan. Dari makanan ringan hingga makanan berat. Mata Ayu tertarik pada seorang wanita yang sedari tadi asik berdiri di depan meja saji . Wanita itu begitu cuek tidak memperdulikan pandangan orang lain, ataupun merasa risih karena dipandangi orang karena hanya dirinya yang betah berdiri di depan meja saji itu berlama-lama. Ayu iri pada sikap cuek wanita itu, andai dirinya bisa seperti itu tentunya hidupnya akan lebih santai. Selama ini dia hidup demi menjaga reputasi Devan. Harus menjaga image sebagai istri yang patuh dan istri panutan di depan karyawan devan jika ada acara tahunan perusahaan. Jika dipikir-pikir seluruh hidupnya ada dibawah kendali Devan. Ayu penasaran apakah pasangan wanita itu akan merasa malu akan kelakuan pasangan wanitanya itu. Cara wanita itu memakan hidangan diatas piringnya tampak sangat menggugah selera. Seakan makanan yang dinikmatinya sangat lezat. Membuat Ayu ingin mencicipinya juga. Ayu mendekatkan bibirnya ke telinga Devan. " Mas aku mau ke meja saji." Pamit Ayu sambil berbisik pada Devan. Devan yang masih mengobrol dengan lawan bicaranya hanya mengangguk cuek. Mendapat persetujuan dari Devan, ayu meninggalkan suaminya yang masih terus mengobrol tanpa menghiraukan Ayu yang berjalan menjauhinya. Ayu menghampiri meja saji. Berkeliling mengamati apa saja yang tersaji di atas meja. Meja itu terletak di tengah ruangan sehingga menarik perhatian orang bagi siapa saja yang menghampiri meja itu. Ayu meraih sebuah piring untuk menaruh makanan yang hendak dia santap. Semuanya tampak menggiurkan. Ayu memilih-milih mana yang hendak dia cicip terlebih dahulu. " Untuk permulaan. Lebih baik kamu mencicip yang itu. Itu sangat lezat" tegur sebuah suara di belakangnya membuat ayu terlonjak kaget. Karena sibuk berpikir membuat ayu tidak menyadari bahwa ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Ayu menoleh ke belakang, ternyata yang menegurnya adalah wanita yang tadi menarik perhatiannya. Wanita itu menunjuk sebuah hidangan yang memang dari tadi menjadi pertimbangan Ayu untuk disantap terlebih dahulu. " Oh, aku juga dari tadi mempertimbangkan hidangan itu. Apakah benar-benar lezat?" Tanya Ayu sambil tersenyum bersahabat pada wanita itu. Sambil meraih penjepit mengambil sedikit hidangan itu untuk disantapnya. " Ya, sangat lezat. Kamu bisa ambil lebih banyak. Tidak ada larangan memakan dalam jumlah banyak di pesta ini" ujar wanita itu dengan santai dan cuek. Mengambil beberapa hidangan ke dalam piringnya yang telah kosong. " Tidak. Aku cukup makan sedikit saja. Tidak enak jika makan banyak-banyak. Malu" ujar Ayu pelan. Takut dirinya menjadi pusat perhatian karena dia harus menjaga image sebagai wanita yang elegan. Dan tidak ingin Devan malu. " Kenapa malu? Kamu tidak mencuri makanan ini. Ini semua gratis kok." Ujar wanita itu menatap heran pada Ayu. Manusia kan butuh makan untuk hidup. Kenapa untuk makan saja harus menahan diri dengan alasan malu. " Etika" jawab Ayu pendek sambil tersenyum. Ayu menyantap hidangan di piringnya sambil mengamati wanita tadi yang kini berdiri disampingnya masih asik menyantap makanan diatas piring yang dipegangnya. Ayu melihat cincin yang bertengger dijari manis wanita itu Ayu berkesimpulan bahwa wanita itu telah menikah. Cincin yang dikenakan wanita itu begitu indah dan berkilau. Walau tidak begitu tahu tentang perhiasan Ayu tahu itu adalah perhiasan kualitas terbaik. " Nyonya tidak malu dilihati orang makan terus disini?" Tanya ayu memberanikan diri mengajak memgobrol wanita itu begitu melihat wanita itu mengisi kembali piringnya yang kosong dengan hidangan yang diambilnya. Ayu adalah wanita yang susah mengakrabkan diri dengan orang yang tidak dikenal. Maka untuk mengajak mengobrol seseorang yang baru dikenal Ayu membutuhkan keberanian. " Buat apa malu. Makanan ini kan memang disajikan untuk semua tamu. Mereka saja yang pura-pura jaga pandangan dan menahan lapar" " Memang sih. Tapi kan terkesan tidak sopan. Dibilang tidak tahu etika. Nanti jadi omongan orang" ujar Ayu mengutarakan pemikirannya. " Kalau kamu selalu memikirkan pandangan orang. Hidupmu akan terkekang" ujar wanita itu lugas. " Untuk apa aku harus memikirkan pandangan orang lain. Keluarga aku tidak keberatan dengan kelakuanku. Itu sudah cukup bagiku." Ayu terdiam sambil mengamati wanita itu. Wanita ini sangat cantik, tampak sulit didekati dan terkesan cuek. Tidak banyak bicara, tetapi setiap kata yang diucapkan wanita itu begitu mengena. " Nyonya sungguh orang yang blak-blakan ya. " puji Ayu tulus. " Jangan panggil nyonya. Kesannya seperti orang tua lanjut usia saja. Aku perkirakan umur kita tidak terpaut jauh" ujar wanita itu mengamati Ayu. " Aku Ayu" ujar Ayu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. "Ana" balas wanita itu menjabat uluran tangan Ayu sambil tersenyum. Tanpa terasa mereka malah asik mengobrol. Membahas hidangan-hidangan lezat yang tersaji diatas meja. Ayu merasa dia telah mendapatkan teman. Dengan wanita ini dia merasa memiliki gairah hidup. Padahal topik yang mereka bicarakan hanyalah dhidangan dihadapan mereka. Selera makan Ayu dan Ana ternyata sama. Bersama wanita ini Ayu bisa bebas mengungkapkan semua pemikirannya. " Apakah kamu sudah puas mencicipi hidangan disini sayang?" Tegur sebuah suara pria yang menyela obrolan Ayu dengan wanita itu. Ayu menarik nafas panjang terekesima melihat siapa pria yang menegur Ana. Dirinya seolah melihat seorang pria dari negri dongeng yang muncul di dunia nyata. Devan memang tampan, tapi pria ini jauh lebih tampan dari Devan. Bahkan tidak bisa dibandingkan. Pria itu merangkul pundak Ana sambil menatap wanita itu dengan lembut dan tatapan sayang. " Belum" jawab Ana singkat yang malah membuat pria itu tertawa geli seolah apa yang dikatakan wanita itu adalah hal yang lucu. " Tampaknya kamu mendapat teman mengobrol kali ini" ujar pria itu menatap Ayu yang masih terbengong dan terpesona menatap dirinya. Pria itu hanya tersenyum melihat reaksi Ayu, dia sudah terbiasa ditatap seperti itu oleh wanita. " Ini Ayu. Kami sama-sama menyukai hidangan disini. Ayu kenalkan ini suamiku,Rey" ujar Ana memperkenalkan Ayu pada suaminya yang tampan itu. Rey mengulurkan tangan pada Ayu yang segera disambut oleh Ayu dengan antusias. "Rey" "Ayu"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN