"Terima kasih anda sudi menemani istri saya yang gila makan ini" ujar Rey tersenyum ramah pada Ayu.
" Oh.Bukan masalah Tuan. Saya yang senang mendapat teman seperti Ana" jawab Ayu sambil tersipu malu. Dirinya menjadi salah tingkah berhadapan dengan pria setampan Rey. Ada apa dengan dirinya. Padahal biasanya dia tidak akan bersikap seperti ini walaupun berhadapan dengan pria lain yang lebih tampan dari Devan.
" Baiklah kalau kamu masih betah disini. Aku akan berkeliling terlebih dahulu menyapa yang lain." Ujar Rey pada Ana. Karena tampaknya Ana masih betah menjelajah hidsngan yang disajikan.
" Baiklah." Jawab Ana singkat. Rey mengecup pipi Ana kemudian meninggalkan Ana dan Ayu kembali berduaan.
" Suami kamu sangat tampan. Astaga aku mengira sedang berada di negri dongeng saat melihatnya" ujar Ayu spontan dengan semangat
Tapi Ayu kemudian tersadar bahwa dia keceplosan mengutarakan isi hatinya memuji suami orang di depan istrinya.
" ups.. maaf bukan berarti aku tertarik pada suamimu. Aku juga sudah mempunyai suami" Ujar Ayu dengan tidak enak hati memberi penjelasan agar Ana tidak salah paham.
" Tidak apa-apa. Itulah daya tarik Rey. Selalu menarik perhatian wanita dari semua kalangan. Tidak usah dipikirkan. Aku bisa membedakan wanita yang memiliki ketertarik lebih pada suamiku atau yang hanya sekedar kagum" jawab ana enteng dan tidak tersinggung ataupun cemburu pada Ayu.
" Andai aku bisa sepertimu. Bisa menganggap enteng segala sesuatu. Sepertinya hidupmu tidak pernah terasa berat ya. Aku sungguh iri" Ujar Ayu dengan tatapan iri dan kagum pada Ana. Yang sepertinya tidak pernah mempunyai masalah dalam hidupnya.
" Jika kamu tahu seperti apa hidupku dulu, pasti kamu akan menarik kata-katamu itu" ujar Ana dengan senyum getir.
Ayu hanya bisa diam tidak tahu harus berkata apa. Tentu saja Ayu pikir kata-katanya benar. Hidup Ana terlihat sempurna. Mempunyai suami yang tampan, dan tidak mengekangnya, bahkan tidak merasa malu melihat istrinya yang dengan cuek menyantap hidangan di tengah ruangan sambil berdiri.
Dan dapat Ayu pastikan bahwa Rey bukan pria sembarangan. Penampilan pria itu menunjukkan kharismanya yang tidak biasa. Ana memang tidak mengenakan perhiasan yang mencolok tapi semua yang melekat di tubuh wanita itu adalah barang mewah.
Perhiasan yang melekat di tubuh Ana walau bentuknya kecil merupakan barang limited dari sebuah toko perhiasan ternama. Ayu pernah melihat set perhiasan itu di majalah yang dia baca beberapa hari yang lalu. Toko itu hanya membuat satu set saja. Karena teknik pembuatannya yang rumit. Dan kabarnya set perhiasan itu langsung dibeli oleh seseorang yang dapat Ayu tebak adalah Ana.
Memang tidak seharusnya Ayu iri pada Ana. Hidupnya juga sempurna, devan juga menyayanginya walaupun terkadang kemarahannya diluar batas wajar. Ayu hanya perlu menjaga agar Devan tidak marah padanya. Hanya itu.
Kekurangan Devan dalam hal seksual juga sudah Ayu terima sebagai bagian dalam kehidupan mereka. Walau terkadang ayu tidak dapat membendung hasrat seksualnya yang menggebu. Dia bisa melampiaskan pada mainan s*x yang dikoleksinya. Hidupnya juga sempurna kan?. Tapi kenapa Ayu merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya...
" Ana, aku ke toilet dulu ya" pamit Ayu sambil meletakkan piring kotornya pada tempat yang disediakan untuk menampung piring-piring kotor.
Ana hanya mengangguk membiarkan Ayu beranjak ke toilet. Ayu berjalan sambil mencari-cari tanda petunjuk toilet. Akhirnya tanda petunjuk letak toilet dia temukan. Ayu bergegas mengikuti pentunjuk itu. Ternyata letak toilet yang dia tuju lumayan jauh dari ruangan aula pesta.
Ketika tiba di sebuah tikungan Ayu terpekik kaget menghentikan langkahnya saat menyaksikan sebuah adegan disudut ruangan di depan toilet yang ditujunya.
Secepat kilat Ayu menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya dengan erat. Agar suara jeritan kagetnya tak terdengat. Ayu berjalan mundur perlahan ke balik tikungan.
Ayu perlahan mengintip dari balik tembok. Di sudut ruangan tepat di depan toilet terdapat sepasang pria dan wanita yang sedang bergumul melakukan s*x yang panas.
Tampaknya mereka tidak menyadari suara jeritan Ayu tadi. Karena suara pergumulan dan desahan mereka mengalahkan suara Ayu tadi.
Bagaimana Ayu bisa ke toilet kalau begini. Apa kedua orang itu tidak bisa mencari tempat lain? Ini adalah tempat umum, ada pesta yang sedang digelar. Bisa-bisanya mereka tidak bisa menahan nafsu dan melakukan seks ditengah pesta. Sungguh tak ber etika. Memang mereka mencari tempat sepi. Tapi tetap saja ini tempat umum. Ruang terbuka dan siapa saja bisa lewat daerah ini. Contohnya Ayu.
Ayu terpaksa berbalik menunggu dibalik tembok. Tidak berani untuk mengintip. Tapi suara erangan dan desahan nikmat si wanita membuat ayu penasaran. Debaran jantungnya berdetak cept mendengar desahan dan erangan yang erotis itu.
Suara pertemuan kedua kelamin dan desahan mereka semakin mengusik pendengaran Ayu. Memancing rasa penasaran. Ayu menggigit bibir menahan diri untuk tidak mengintip. Tapi rasa penasaran Ayu lebih kuat daripada keinginannya untuk menjaga etika kesopanan untuk tidak mengintip privasi orang lain.
Ayu perlahan mengintip dari tempat persembunyiannya.
Menyaksikan adegan di depannya seperti sedang menonton film porno secara nyata.
Ayu melihat b****g si pria yang sedang menghentak- hentak wanita teman sexnya dari belakang. Si wanita menungging berpegangan pada tembok. Tubuhnya bergoyang-goyang maju mundur selarasndengan hentakan si pria. Suara desahan wanita itu mengiringi setiap hentakan yang pria itu lakukan.
"Aahhhh...lebih keras.." rintih wanita itu yang tampaknya hendak mencapai puncak kenikmatannya.
" Oughh..ohhh yaaaa.." jerit wanita itu menerima hentakan si pria yang semakin kuat kan kasar.
Ayu mengamati b****g pria itu yang seksi. Yang begitu kuat menghentak tubuh wanita di depannya. Hingga suara lenguhan berbarengan keluar dari mulut kedua orang itu. Diiringi hentakan-hentakan terakhir si pria.
Kemudian si pria menarik penisnya. Melepaskan karet pengaman yang menampung lahar panasnya yang panas. Kedua orang itu kemudian terpisah.. Masing- masing memasuki toilet. Tak lama si wanita keluar dari toilet terlebih dahulu dengan wajah terpuaskan dan penampilannya sudah rapi.
Wanita itu masuk ke dalam toilet pria. Ayu mendengar percakapan wanita itu dengan pria tadi.
" Kamu benar-benar jago.seperti kata orang-orang" ujar si wanita dengan suara serak-serak basah yang dibuat agar terdengar seksi.
" Tentu saja" jawab si pria yang menurut Ayu terdengar sombong. Ayu tanpa sadar berdecih mendengar jawaban pria itu. Hanya s*x seperti itu saja dia merasa jago.
" Apakah kamu berminat untuk melanjutkan lagi di hotel?" Tawar si wanita yang tampaknya masih ingin melanjutkan kegiatan s*x mereka.
" Maaf. Aku ada panggilan" tolak si pria.
" Baiklah. Hubungi aku lain kali kalau begitu" ujar si wanita sambil menyerahkan sesuatu ke tangan si pria. Ayu tidak melihat apa itu. Karena tidak tertangkap dalam pandangannya.
Barangkali uang, tebak Ayu. Sepertinya pria itu adalah seorang gigolo. Pria panggilan pemuas s*x bagi wanita kesepian. Hal itu sudah biasa di jaman seperti ini. Dulu Ayu pun pernah ditawari ikutan arisan gigolo oleh ibu-ibu kompleks perumahannya secara diam-diam. Tentu saja Ayu menolaknya. Dia masih menjaga kesetiaannya apda Devan.
Tidak mungkin dia bersenang-senang berhubungan s*x dengan pria lain sementara Devan menderita karena tidak bisa berhubungan s*x dengannya.
Akhirnya si wanita pun melangkah pergi dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Setelah ayu yakin suasana sudah aman Ayu pun segera melangkah ke toilet. Saat membuang air kecil Ayu melihat celananya sudah basah. Ternyata dia tadi terangsang melihat adegan itu.
Ayu merasa dirinya seperti seorang wanita yang binal. Wanita yang haus akan s*x. Ayu mematut wajahnya di kaca wastafel sambil mencuci kedua tangannya. Memeriksa dan memastikan make upnya agar tetap rapi dan tidak luntur.
Setelah mematut diri Ayu pun segera beranjak keluar membuka pintu toilet.
" Aaaa.." jerit Ayu kaget saat membuka pintu toilet terdapat seorang pria sedang berdiri menanti di depan pintu.
" Sudah puas kamu mengintip tadi" tegur pria itu yang ternyata adalah pria yang melakukan adegan s*x tadi.
Ayu terdiam tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ternyata pria itu memergokinya mengintip kegiatan s*x mereka.
Pria itu tampan, ketampanannya setara dengan Rey suaminya Ana. Hari ini entah kenapa Ayu selalu bertemu dengan pria-pria yang ketampanannya melebihi Devan. Apakah ini ujian bagi kesetiaannya pada Devan?