Ayu melangkah mundur saat pria tampan itu melangkah mendekatinya.
Mata pria itu memicing memberikan tatapan yang menyelidik mengamati penampilan Ayu. Bibirnya menyunggingkan senyuman menawan yang seakan membuat Ayu luluh lantak.
Ayu merasa canggung, tidak pernah berdiri sedekat ini dengan seorang pria selain suaminya, apalagi ketampanan pria ini melebihi Devan. Tatapan pria itu membuat jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.
" Apakah kamu seorang wartawan?" Tanya pria itu dengan nada menyelidik mengamati penampilan Ayu dari atas hingga ke bawah.
"Sepertinya bukan. Kalau begitu apakah kamu mata-mata?" guman pria itu kembali, yang malah terus berbicara dan menjawab sendiri pertanyaannya.
" Sepertinya bukan juga" ujar pria itu lagi sedang bergumam pada diri sendiri, mengelus-elus dagunya yang kokoh sambil matanya memicing menilai Ayu yang masih berdiri ditempatnya, tidak mengerti apa yang sedang pria itu katakan. Ayu mengira pria ini ada kelainan mental.
Ayu menatap pria itu dengan tatapan bingung. Gigolo ini berlagak seperti artis saja. Mengira dirinya seorang wartawan seolah pria itu takut pada wartawan. Memangnya dia artis? Tapi Artis kok jadi gigolo. Sudah pasti kalau dia adalah seorang artis dia tidak perlu menjual diri, tentunya dia sudah kaya. Ayu terus berpendapat pada dirinya sendiri di dalam hati sambil menilai pria di depannya.
Mata-mata?? Jangan-jangan gigolo ini adalah simpanan para istri pejabat. Jadi dia takut dimata-matai para suami. Dan takut kepergok oleh suami para wanita yang dilayaninya.
Ayu terus menebak-nebak dalam hati. Pria itu pun juga sedang menebak apakah Ayu seorang mata-mata ataukah seorang wartawan. Maka untuk beberapa waktu mereka saling diam membuat kesimpulan masing-masing.
" Jadi, apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini?" Ujar pria itu masih dengan menyelidik setelah menarik kesimpulan bahwa Ayu bukan orang yang dia duga sebagai wartawan ataupun mata-mata.
Ayu hanya menjawab dengan menunjuk papan petunjuk toilet wanita pada pria itu. Pria itu menatap arah yang ditunjuk Ayu sambil mengernyitkan dahinya. Tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ayu.
" Ini toilet bung! Tempat umum! Bukan tempat pribadi. Memangnya saya tidak boleh ke toilet? orang kalau ke toilet ya tentunya hendak buang air!" Seru Ayu kesal sedikit meninggikan suaranya. Baru kali ini Ayu berani bersuara lantang pada seseorang.
Ini gigolo ganteng-ganteng tapi bego. Yah mungkin karena itulah makanya pria ini jadi gigolo. Karena otaknya hanya bisa dipakai untuk s*x saja. Kalau pintar pasti dia bisa jadi artis atau model yang berpenghasilan tinggi atau mencari pekerjaan yang lebih bergengsi dengan mengandalkan ketamapnannya. Pikir Ayu dalam hati asal menarik kesimpulan dari pertanyaan-pertanyaan pria itu yang menurut Ayu merupakan pertanyaan aneh.
" Makanya ganteng-ganteng jangan hanya memikirkan s**********n saja bung. Punya otak itu dipakai." Ujar Ayu lagi dengan berani mendorong tubuh pria itu untuk menjauh darinya. Ayu harus segera kembali ke aula, takut Devan mencarinya.
Pria itu terdiam tidak bereaksi terhadap seruan Ayu. Tubuhnya terdorong mundur menghantam tembok tidak siap pada tindakan Ayu yang tiba-tiba itu.
" Tapi kamu menikmati juga sebagai penonton kan" ujar pria itu kemudian dengan senyuman menggoda.
" Kalau melaksanakan tugas sebagai gigolo pergilah ke tempat yang lebih aman. Sewalah sebuah hotel. Bukan melakukan di tempat umum" ujar Ayu kemudian akhirnya langsung bergegas meninggalkan pria itu dengan rasa kesal.
Memang seharusnya Ayu yang marah dan menegur pria itu karena asal melakukan hubungan s*x di sembarang tempat. Tapi kok malah pria itu yang mengintrogasinya menuduhnya menjadi pengintip, wartawan bahkan sebagai seorang mata-mata. Sungguh pria yang aneh.
Semoga dirinya tidak bertemu dengan pria itu lagi di kemudian hari. Harap ayu.
Pria itu menatap kepergian Ayu yang melangkah tergesa-gesa terkesan ketakutan berjalan menjauhinya. Dia tidak berusaha mengejar wanita itu untuk menyelidiki. Sudah jelas wanita itu bukan wartawan ataupun mata-mata yang sedari awal dicurigainya begitu dirinya mendapati ada seseorang yang sedang mengintip kegiatan sexnya.
"Gigolo?" Guman pria itu mengingat julukan yang disematkan wanita tadi pada dirinya. Kemudian pria itu tertawa geli.
" Hahahaa...baru kali ini ada wanita yang mengatakan aku gigolo. Apakah aku tampak seperti gigolo?" Gumam pria itu geli berbicara pada dirinya sendiri sambil melihat penampilan bajunya.
"Sungguh wanita yang menarik" gumam pria itu sambil menatap ke arah Ayu yang sudah menghilang dari pandangannya.
÷÷÷÷÷÷÷÷
Ayu bergegas kembali ke aula pesta. Acara penggalangan dana masih berlangsung. Ayu sudah tidak menemukan Ana di meja saji. Mungkin Ana sudah pergi bersama suaminya. Maka ayu pun mencari keberadaan Devan.
Ayu mendapati Devan sedang berbicara bedua dengan seorang wanita dikejauhan. Mereka berdiri dipojokan berbincang berdua. Ayu berjalan mendekati kedua orang tersebut dengan dahi mengernyit melihat interaksi kedua orang itu yang tampaknya sudah saling kenal.
Ayu memperhatikan wanita tersebut yang kebetulan berdiri menghadap kearah Ayu. Ayu sempat melihat gestur wanita itu yang tampak menggoda Devan. Dan senyuman mengerlingnya yang sepertinya sedang merayu suaminya itu.
" Mas" panggil Ayu menghampiri Devan dan menepuk pelan pundak devan dari belakang. Ayu menangkap sedikit keterkejutan dan kegugupan pada diri suaminya atas kehadirannya yang tiba-tiba di belakang Devan.
" Oh..hai sayang.. dari mana saja kamu" sapa Devan menutupi ekspresi yang tampak mencurigakan bagi Ayu dari raut wajahnya. Tampak Devan berusaha bersikap setenang mungkin.
" Toilet" jawab Ayu singkat sambil matanya menatap wanita yang menjadi lawan bicara suaminya itu.
" Siapa dia mas?"
" Eh..oh..kenalkan sayang ini Adelia. Dia seorang dokter terapi" ujar Devan memperkenalkan Ayu pada wanita itu.
" Oh, pasti kamu Ayu, istri tercinta Devan. Akhirnya kita bertemu. Devan sering bercerita tentangmu. " ujar adelia menebak identitas ayu sambil mengulurkan tangannya dengan senyum mengembang " Adelia"
Ayu menjabat tangan wanita itu sambil mengernyit." Oh ya? Apa saja yang dibicarakan suamiku pada anda?" Tanya Ayu tanpa membalas senyum wanita itu yang terlihat berusaha bersikap ramah dan akrab dengannya.
" Tampaknya anda sudah kenal lama dengan suami saya dari kata-kata anda yang mengatakan bahwa suaminsaya sering bercerita tentang saya" ujar Ayu menatap wanita itu dengan perasaan curiga.
" Kami teman sekolah waktu di SMA. Kebetulan juga saya dokter terapis Devan selama beberapa bulan ini" ujar wanita itu tampak jujur.
" Ya. Kami sudah saling kenal sejak kami masih SMA. Kebetulan kami bertemu lagi sejak dia menjadi dokter terapisku " tambah Devan membenarkan jawaban Adelia.
" Ohh..aku tidak menyangka ternyata mas masih melakukan terapis hingga sekarang" hanya itu yang keluar dari mulut Ayu. Ayu memang tahu bahwa sejak kecelakaan itu Devan rutin menjalani perawatan ke dokter terapis.
Ayu tidak tahu ternyata Devan masih melakukan terapis hingga sekarang karena sudah setahun belakangan ini Devan tidak pernah membahas tentang perkembangan terapisnya. Ayu pikir Devan sudah menghentikan terapisnya sejak dia semakin sibuk dengan urusan kantor.
" Ayo sayang, temani mas makan. Mas sudah lapar" ajak Devan sambil merangkul pundak Ayu dengan lembut dan mesra. Tampaknya Devan tidak mau membahas tentang Terapis yang dijalaninya dengan cara mengalihkan perhatian Ayu.
" kami permisi dulu ya Adelia" pamit Devan segera berjalan meninggalkan Adelia tanpa menunggu jawaban wanita itu.
" Kok pamitnya ga sopan gitu mas" tanya Ayu pada Devan saat mereka sudah menjauhi Adelia. Ayu merasa heran dengan tindak tanduk Devan yang seolah-olah tidak ingin lebih lama berbincang dengan Adelia.
" Tidak apa-apa" jawab Devan singkat seperti enggan membahas Adelia lebih lanjut.
Ayu berpikir masalah perawatan terapis Devan merupakan hal sensitif bagi Devan. Oleh karena itu lebih baik Ayu memilih diamndsti padi membuat suasana hati Devan menjadi buruk.
Adelia menatap kepergian Devan dan Ayu dengan tatapan penuh arti sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang hanya dia sendiri yang tahu artinya.