Ayu mengamati Devan yang sedang menyantap hidangan di hadapannya dengan terburu-buru.
Saat ini mereka sedang sarapan di rumah seperti biasa.
" Makannya pelan-pelan mas" ujar Ayu sambil meraih gelas Devan dan menyerahkan pada Devan untuk diminumnya saat mendapati Devan tersedak oleh makanan di dalam mulutnya.
Devan meraih gelas yang di berikan Ayu segera meneguk habis isinya.
"Kenapa makannya buru-buru? Ini kan masih pagi, mas tidak akan telat ke kantor" ujar Ayu heran dengan keterburuan Devan.
" Mas ada Meeting pagi ini." Jawab Devan setelah tenggorokan yang tadinya tersangkut makanan sudah terasa lega.
" Tumben pagi-pagi sekali"
" Rekan bisnis mas ada penerbangan pagi ini. Jadi dia mengadakan pertemuan sebelum keberangkatannya. Ada point penting yang harus dibahas dan tidak bisa ditunda" jelas Devan.
" Ohh...."
" Mas berangkat dulu ya. Takut terjebak macet" ujar Devan beranjak dari kursinya.
Ayu menatap piring devan yang isinya bahkan belum dihabiskan setengahnya. Ayu menyusul Devan ke pintu depan, mengantar kepergian Devan selayaknya pasangan romantis lainnya.
" Hati-hati nyetirnya mas. Biarpun buru-buru jangan ngebut" peringat Ayu khawatir jika Devan pergi dengan terburu-buru seperti ini.
" Iya sayang. Bye" pamit Devan sambil mengecup kening Ayu lalu dengan buru-buru segera memasuki mobil.
Ayu terus mengamati mobil yang melaju meninggalkan halaman rumah. Hingga hilang dari pandangannya. Pak ujang, suami bi mumun segera menutup pagar.
Ayu kembali masuk ke dalam rumah. Enggan melanjutkan sarapannya yang belum selesai tadi. Biarlah bi mumun yang membereskan meja lebih baik dia kembali ke kamarnya. Ayu segera menaiki tangga melangka memasuki kamarnya.
Ayu meraih gawainya yang berada diatas meja riasnya. Menimbang apakah dia akan menghubungi sekretaris Devan atau tidak. Tidak ada salahnya menanyakan jadwal Devan hari ini. Karena Ayu sudah menyimpan nomor selular sekretaris Devan.
Ayu segera mencari nama Clara, sekretaris Devan kemudian melakukan panggilan pada nama di layar handphonenya.
" Pagi bu Ayu, tidak biasanya anda memghubungi saya" sapa Clara begitu mengangkat panggilan Ayu dengan ramah, ciri khas seorang sekretaris.
" Pagi Clara, jadwal Devan hari ini apa saja?" Tanya Ayu langsung tanpa berbasa basi.
" Oh, sebentar bu saya cek jadwal pak Devan dulu." Jawab Clara. Kemudian terdapat jeda beberapa saat. Tampaknya Clara sedang mencari jadwal Devan hari ini.
" Hallo bu" panggil Clara tidak lama kemudian.
" Ya Clara, saya masih menunggu" jawab Ayu dengan sabar.
" Pagi ini pak Devan ada meeting dengan perusahaan Belford bu, kemudian..."
" Baiklah. Aku hanya butuh info yang pertama" potong Ayu langsung.
"Trimakasih Clara, saya tutup"
Ayu bisa bernafas lega sekarang. Ternyata Devan tidak sedang membohonginya.
Entah kenapa sejak pesta itu. Perasaan Ayu menjadi tidak tenang. Ayu merasa bahwa Devan sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi tampaknya kecurigaannya tidak beralasan. Devan berkata jujur padanya.
Lagipula tidak mungkin Devan selingkuh,Devan kan sangat mencintainya.Ayu berusaha mengenyahkan segala pikiran buruknya dan kecurigaannya. Selama ini tingkah Devan juga tidak ada yang mencurigakan.
Hanya saja pertemuannya dengan wanita bernama Adelia itu terus mengusik pikiran Ayu. Karena Ayu melihat tatapan tidak biasa dari Adelia pada Devan. Yang merupakan lebih dari sekedar teman.
Interaksi kedua orang itu membuat ayu mendapat firasat tidak enak. Nalurinya mengatakan hubungan mereka lebih dari sekedar teman ataupun hubungan dokter dengan pasiennya.
Tiba-tiba wajah sesosok pria m***m berkelebat masuk dalam pikiran Ayu.
"Astaga, kenapa wajah gigolo itu justru muncul di otak ku" gumam Ayu pada diri sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan sosok itu dari isi kepalanya.
Tapi b****g seksi dan kokoh pria itu terus mengisi pikiran Ayu, desahan-desahan adegan seks yang diintipnya kala itu justru semakin bermunculan dikepalanya bagaikan adegan ulang sebuah film.
Kini tubuh Ayu malah meremang mendamba, merasakan nafsu birahinya terbangkitkan. Nafasnya pun semakin berat memburu dengan gejolak nafsu yang semakin bergejolak. Ayu dapat merasakan pangkal pahanya terasa lembab dan berkedut mendamba.
" Ohh sial" umpat Ayu menyambar kunci di dalam lacinya. Bergegas menuju ke kamar rahasianya.
Di dalam kamar rahasia yang tidak lupa dikuncinya. ayu segera menyambar mainan s*x koleksinya, beranjak maik ke atas ranjang sambil melepas pakaian bagian bawahnya.
Dengan bernafsu Ayu langsung memasukkan benda itu ke liang vaginanya yang telah basah.
"Ougghhh.." lenguh Ayu saat benda itu menyerusuk masuk sepenuhnya di dalam v****a memenuhi liangnya.
Perlahan ditarik dan dimasukkannya benda itu perlahan. Sambil membayangkan adegan s*x yang dia saksikan di pesta itu, membayangkan bahwa dia yang dimasuki oleh pria itu, dihentakkan dengan keras dan penuh nafsu oleh pria itu.
Desahan Ayu terus berkumandang di dalam ruangan itu tanpa takut ada yang mendengar. Ayu tidak perlu menahan diri untuk mendesah kuat ataupun menjerit.
"Aahh..ahh..."
Ayu semakin cepat menggerakkan tangannya menyodok alat itu di dalam pangkal pahanya.
Pikiran liar Ayu terus berkelana membayangkan hal-hal liar yang tidak pernah dia lakukan selama ini. Bahkan membayangkan pria selain Devan di imajinasi seksualnya pun baru kali ini dilakukannya.
Dan hal ini memberikan Ayu sensasi yang menyenangkan. Gerakannya semakin liar. Pinggulnya menghentak-hentak menyelaras dengan gerakan tangan Ayu.
" Aaahhhha..aahh..ohhh yaaa...ohhh..." Desah Ayu dengan sura keras.
"oughh..." Erang Ayu mengejang memgangkat pinggulnya menyambut puncak kenikmatannya.
"Ahhh.." desah Ayu terkulai lemah diatas ranjang setelah pelepasannya. Ayu terbaring mengatur nafasnya yang memburu.
Ayu tersenyum puas. Ternyata melakukan hal ini dengan membayangkan pria lain lebih membuatnya lebih b*******h.
Ayu tak menyangka dirinya menjadi sebinal ini. Berani membayangkan pria lain yang menyetubuhinya.
Selama ini Ayu telah berusaha menjadi istri yang setia. Menjaga pandangannya dari pria lain. Tidak pernah berani menatap pria lain selain suaminya untuk waktu yang lama. Apalagi berani mengkhayalkan pria lain yang menyentuhnya. Ayu tidak akan berani.
Menurut Ayu mengagumi pria lain selain suaminya saja sudah dianggap tidak setia. Apalagi kini dia mengkhayalkan bercinta dengan pria lain.
Ayu masih sangat mengasihi suaminya. Dia merasa bersalah pada Devan jika membayangkan pria lain bercinta dengannya. Tapi untuk hari ini saja Ayu ingin menjadi seorang wanita yang Binal. Lagi pula hal ini dilakukannya hanya di dalam pikirannya. Tidak di dalam dunia nyata.