Bab 14

1211 Kata
Adelia melepaskan kulumannya pada p***s Devan. Berdiri dari posisinya yang sebelumnya sedang berlutut untuk mengulum p***s Devan. Tangannya meraih celana dalamnya dibalik roknya. Dengan gerakan menggoda dan perlahan dia melepaskan benda itu dari tubuhnya. Membiarkan benda itu teronggok di lantai. Adelia menaikkan roknya untuk mempermudah gerakannya nanti. Adelia memposisikan dirinya mengangkang diatas paha Devan. Tangannya memegangi batang p***s Devan mengurut-urut benda itu sebentar kemudian menuntun benda itu memasuki liang vaginanya yang trlah basah, seiring Adelia menurunkan tubuhnya menyambut pemasukan benda itu di dalam dirinya. " Aahhh.." desah nikmat keluar dari bibir keduanya saat batang itu masuk sepenuhnya kedalam liang v****a itu hingga pangkal p***s Devan. Adelia menggerak gerakkan bokongnya memutar- mutar. Bibir merahnya yang basah mendesah nikmat merasakan gesekan p***s Devan di dalam liangnya. Adelia menatap Devan sayu satu tangannya merengkuh leher Devan. Tangan yang satu lagi meraih tangan Devan dan menuntun tangan devan masuk ke balik bajunya kemudian meletakkan tangan Devan diatas gundukan payudaranya. " Belailah aku" pinta Adelia dengan suara mendayu yang sudah dimabuk gairah. Menarik leher Devan untuk mendekatkan wajahnya dan langsung mengulum bibir keras Devan. Lidah Adelia menggoda bibir Devan untuk membuka mulutnya. " Mmmpphhh..." Dengan lapar Adelia memagut bibir Devan lidahnya terus mendesak untuk bisa masuk ke dalam mulut Devan. Awalnya Devan tidak berniat berpagutan dengan Adelia. Tapi goyangan pinggul Adelia dibawah sana diatas pangkal pahanya membuatnya terhanyut dan semakin larut dalam godaaan Adelia nafsunya semakin menggebu-gebu. Dengan rakus Devan membalas pagutan Adelia. Lapar akan nafsu telah memenuhi pikirannya. Devan telah dibutakan oleh nafsu. Mulutnya membalas pagutan bibir Adelia dengan lapar, bibir mereka saling menerkam dengan lidah slaing menjelajah di rongga mulut dan saling melilit. Tangannya pun ikut bergerak. Meremas-remas p******a Adelia dengan keras dan penuh nafsu. Memelintir p****g d**a Adelia dengan kuat. " Ough ..mmph... " Desahan puas dan nikmat keluar dari bibir Adelia disertai senyum kemenangan melihat Devan yang kini telah merespon rangsangannya. Gerakan Adelia diatas tubuh Devan pun semakin liar disela pagutan mereka. Devan mengangkat bibirnya dari bibir Adelia dengan nafas berat dan memburu. Begitu juga dengan Adelia. Devan mengalihkan perhatiannya pada p******a yang diremasnya. Mengangkat pakaian dan bra Adelia keatas. Kemudian wajahnya menyerusuk diatas gundukan ranum itu. Bermain-main dengan lidahnya disana. " aaahhh..ahh.."Adelia mendesah dan menggelinjang-gelinjang penuh nikmat. Devan mengulum p****g d**a Adelia dan mencecap p****g itu dengan nikmat kemudian menyedot-nyedot seolah hendak menyusu membuat Adelia semakin melengkungkan tubuhnya dan bibirnya menjerit mengeluarkan lenguhan nikmat. Liang vaginanya semakin gatal dan semakin becek meminta untuk mendapatkan rangsangan yang lebih. Kedua tangannya memegangi kedua pundak Devan , Adelia mulai menaik turunkan tubuhnya. Yang awalnya berlahan semakin lama semakin cepat dan semakin tak beraturan Desahan nafsu dari keduanya memenuhi ruangan disertai dengan deru nafas mereka yang semakin memburu seiring dengan semakin meningkatnya kenikmatan yang mereka reguk. " Oughhh..." Erang Devan semakin bernafsu. Gerakan Adelia semakin perlahan dan lambat tampaknya dia telah kelelahan menaik turunkan tubuhnya. Devan menyingkirkan tubuh Adelia dari pangkuannya. Setelah Adelia berdiri Devan segera menyusul berdiri dan menghampiri mejanya. Menyingkirkan benda-benda di tengah mejanya ke pinggir meja. AKemudian Devan membalik tubuh Adelia menghadap meja dan sambil berpegangan pada pinggiran meja Adelia membungkukkan tubuhnya pada posisi menungging membelakangi Devan. Dari belakang Devan langsung memasukkan batang penisnya ke dalam liang v****a Adelia, mulai bergerak mengeluarkan dan memasukkan batang penisnya dengan tempo yang awalnya perlahan kemudian menjadi cepat seiring dengan gejolak nafsu yang semakin menggebu. " Aakkhh..ahh..aahhh..enak sekali devan." Jerit Adelia bagai jalang yang binal terus mendesah-desah mengiringi setiap hentakan Devan yang semakin kuat dan liar, tubuhnya pun ikut bergerak mengikuti irama gerakan Devan. " Dasar jalang binal" desis Devan sambil mendaratkan kelima jarinya pada b****g Adelia kuat hingga menimbulkan bunyi nyaring. Plak.. "Aaww..." Jerit Adelia " oh yaaa...lakukan lagi.. Aku memang binal" jerit Adelia sambil mendesah kembali, dirinya bukannya menjerit kesakitan tapi malah menjerit nikmat. " "Dasar perempuan binal. Aku akan menghukummu." Geram Devan semakin bernafsu kembali menampar b****g Adelia berkali-kali dengan kuat disela hentakan tubuhnya di liang v****a Adelia. b****g Adelia yang putih pun kini beeubah menjadi merah karena bekas tamparan-tamapran tangan Devan yang terus menerus. Jeritan-jeritan Adelia semakin membuat Devan bernafsu untuk lebih menyiksa wanita itu. Dihentak- hentakkannya batang penisnya dengan kasar menyodok liang v****a Adelia sambil terus mendaratkan tamparan pada b****g Adelia. "rasakan ini" Devan menggentak dengan dorongan kuat ke liat v****a Adelia. " Aww...aakkkh..." Jerit Adelia kesakitan menerima sodokan Devan yang kasar itu tapi juga nikmat dirasakan seiring rasa sakitnya. Semakin sakit tubuhnya, semakin Adelia merasa terpuaskan. " Ahhh..teruskan Devan...lebih keras.." teriak Adelia semakin menggila saat dirinya hendak menggapai puncak kenikmatannya. Tubuhnya semakin terhentak-hentah hingga meja yang menjadi pegangannya bergeser karena hentakan Devan yang kuat dan semakin cepat di belakang tubuhnya. " Ouughhh...aku mau sampai.." erang devan keras. " Aku jugaa..aakhhh.." sambut Adelia menjerit menggebu " ayo lebih kencang.." Mereka tidak peduli bahwa suara erangan dan teriakan mereka di ruangan yang tidak kedap suara itu dapat terdengar hingga diluar. Yang terpenting saat ini adalah menyalurkan hasrat birahi mereka. Mereka merasa tidak perlu merasa cemas akan hal itu. Karena dilantai ini hanya ada ruangan Devan dan Clara, sekretarisnya. Dan Ruangan Clara terletak di bagian depan. Cukup berjarak dari ruangan Devan. Kalaupun sampai terdengar oleh Clara pun. Sekretatisnya itu akan selalu menutup rapat telinganya, mata dan mulutnya berpura-pura tidak tahu apa-apa. "Ouughh.." Devan mendongakkan wajahnya menyambut puncak kenikmatannya. Lahar panas menyembur dari p***s Devan di dalam liang v****a Adelia pada hentakan kuat terakhir Devan disusul dengan beberapa hentakan susulan beserta semburan sisa-sisa cairan nikmatnya hingga melimpah ruah menetes keluar dari liang Adelia. "Ahhh..." Erang Devan puas setelah tetesan terakhir cairan nikmatnya tersembur habis. Devan duduk kembali ke bangkunya dengan nafas yang memburu dan tersenyum puas. Batang penisnya terkulai kelelahan setelah hasrat membara Devan terpuaskan. Sedang Adelia membaringkan tubuhnya yang lunglai terlentang diatas meja kerja Devan sambil mengatur nafasnya yang memburu dan memulihkan tenaganya. Setelah beberapa saat istirahat. Adelia merubah posisinya beranjak duduk menghadap Devan. Melebarkan kedua pahanya. Tangannya mengelus-elus pangkal pahanya yang belepotan cairan semburan dari Devan. " Ronde kedua?" Ajak Adelia. Melihat tubuh Adelia yang duduk diatas meja dengan kedua pahanya yang mengangkang lebar menampakkan belahan vaginanya yang menggoda Devan untuk menjilatinya. Bahkan Adelia semakin menantang melebarkan belahan vaginanya dengan kedua jarinya. Menampilkan klitorisnya yang membuat Devan kembali bernafsu. Dengan menyeringai Devan mendekatkan bangkunya duduk dihadapan Adelia. "Asshh.." desis Adelia saat merasakan nikmatnya lidah Devan yang hangat meliuk-liuk memainkan klitorisnya. Tangannya mencengkeram meremas-remas rambut Devan. Maka pergumulan panas pun kembali berlanjut. Tanpa Devan sadari, dirinya semakin dikendalikan oleh Adelia. Wanita itu semakin dalam menancapkan kuku-kukunya yang tajam pada Devan. Seperti perilaku Devan yang mulai suka melakukan kekerasan. Itu karena dia terbiasa melalukan s*x dengan kekerasan pada Adelia karena permintaan Adelia. Hal itu berimbas pada dirinya yang juga mulai suka ringan tangan pada Ayu. Kepala devan asik menyerusuk diatas pangkal Adelia. Bahkan dirinya tidak sadar bahwa pintu kantornya telah dibuka seseorang yang langsung terdiam di depan pintu saat melihat dua orang yang nyaris bugil sedang b******u. Adelia menatap orang yang membuka pintu itu dengan tatapan menantang dan penuh kemenangan karena berhasil mendapatkan Devan. " Ouwhh..Oh ya devan hisap terus...oh ya...itu sungguh enak..." Adelia terus menjerit-jerit sambil terus menekan kepala devan semakin tenggelam diantara kedua pahanya. Pinggulnya meliuk-liuk beraksi pada setiap jilatan Devan pada pangkal pahanya. Orang si depan pintu itu berjalan mundur merasa sudah cukup menyaksikan dan menyimpulkan apa yang tengah dia saksikan di ruangan itu. kemudian menutup kembali pintu memghilang dibalik pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN