bc

Pacar Pura-pura Tapi Sayang

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
HE
friends to lovers
sweet
city
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Nadira tak pernah menyangka pengkhianatan akan datang dari dua orang yang paling ia percaya, kekasih yang dicintainya selama bertahun-tahun dan sahabat yang selalu ada di sisinya. Hatinya hancur saat mengetahui mereka menjalin hubungan di belakangnya. Luka itu membuat Nadira kehilangan kepercayaan pada cinta.Di tengah keterpurukan, sebuah pertemuan tak terduga mengubah hidupnya. Zayyan, seorang kurir paket sederhana dengan sikap sopan dan senyum hangat, hadir dalam hari-hari Nadira hanya sebagai orang asing yang mengantarkan kiriman. Namun karena emosi dan sakit hati, Nadira nekat meminta Zayyan untuk menjadi pacar pura-puranya, demi membuat mantan kekasihnya menyesal.Awalnya, hubungan itu hanyalah kesepakatan tanpa perasaan. Zayyan menjalani perannya dengan tulus, menemani Nadira, melindunginya dari omongan orang, dan selalu ada saat Nadira terpuruk. Tanpa disadari, perhatian sederhana Zayyan justru mampu menyembuhkan luka yang selama ini Nadira pendam.Hari demi hari, kebersamaan membuat batas antara pura-pura dan nyata mulai memudar. Senyum Zayyan menjadi candu, dan kehadiran Nadira menjadi alasan baru bagi Zayyan untuk bermimpi lebih besar. Namun ketika masa lalu kembali datang, dan rahasia perjanjian mereka terancam terbongkar, keduanya harus memilih, bertahan dengan cinta yang telah tumbuh, atau kembali menjadi dua orang asing.Akankah cinta yang berawal dari kepura-puraan itu berubah menjadi kisah nyata yang abadi?

chap-preview
Pratinjau gratis
Persiapan Dinner Kekasih dan selingkuhannya
Siang itu, restoran mewah La Veranda tampak lebih sibuk dari biasanya. Deretan meja panjang telah tertata rapi dengan taplak putih bersih, vas bunga kristal, dan cahaya lampu gantung yang berkilau lembut. Aroma makanan khas Eropa memenuhi udara, bercampur dengan suara langkah para pelayan yang berlalu-lalang. Nadira berdiri di tengah ruangan dengan seragam waitress berwarna krem muda. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tampak profesional meski sebenarnya hatinya masih sering terasa nyeri bila mengingat masa lalu. “Dira, hari ini kamu jadi penanggung jawab dinner VIP,” ujar sang supervisor tegas namun percaya. Nadira tertegun sejenak. “Saya, Mbak?" “Iya. Tamu kita penting. Pastikan semua berjalan sempurna.” "Tttapi mbak... " "Udah.... Enggak ada tapi-tapian, kamu masih mau kerja kan, di sini?"Supervisornya mendelikkan matanya. Nadira mengangguk, "I-iya mbak."meski jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Menjadi penanggung jawab berarti tak boleh ada satu pun kesalahan. Ia harus mengatur alur pelayanan, memastikan makanan keluar tepat waktu, dan menghadapi langsung para tamu kelas atas yang terkenal perfeksionis. Dengan menarik napas dalam-dalam, Nadira melangkah mantap. "Bismillah, semoga lancar,"ucap.Nadira. Nadira memeriksa satu per satu meja, memberi arahan pada rekan-rekannya, dan memastikan senyum tetap terlukis di wajahnya, senyum yang ia latih dengan baik, meski hatinya tak selalu sekuat itu. Namun Nadira tak tahu… Siang itu akan menjadi awal pertemuan yang mengubah hidupnya. Saat pintu restoran terbuka, seorang pria berseragam kurir melangkah masuk sambil membawa sebuah kotak paket berwarna cokelat. Keringat membasahi pelipisnya, namun sorot matanya tetap sopan dan tenang. “Permisi, saya mau antar paket atas nama Nadira.” Langkah Nadira terhenti. Ia menoleh perlahan, dan di sanalah takdir mulai menuliskan kisahnya. "Oh iya, sudah datang ya paketnya."Nadira bergegas menghampiri kurir tersebut. Nadira melangkah mendekat saat pria kurir itu berdiri di dekat meja resepsionis restoran. Kotak kardus kecil berwarna cokelat berada di tangannya, rapi dengan stiker pengiriman di bagian atas. “Ini paketnya, Mbak,” ucapnya sopan. “Atas nama Nadira.” Nadira mengangguk pelan. Tangannya terulur menerima paket itu, namun langkahnya seolah tertahan ketika matanya menangkap nama pengirim yang tertera samar. Ia mengenal tulisan itu. Jantungnya berdegup tak karuan. Perlahan, Nadira membuka segel paket tersebut di sudut ruangan. Di dalamnya terbungkus kotak hitam elegan dengan logo merek ternama. Tangannya bergetar saat membukanya. Sebuah jam tangan pria terbaring indah di dalamnya, mengilap, mahal, dan pernah ia pesan dengan penuh cinta. Jam itu… untuk kekasihnya. Hadiah ulang tahun yang seharusnya ia berikan malam ini.",Kira-kira dia suka enggak ya,"gumam Nadira. Membayangkan ekspresi kekasihnya. "Nad, kamu ngapain?Cepat sana siapkan semuanya,"perintah Supervisornya. "Iya mbak, udah kok, semuanya sudah beres." "Bunganya gimana, terus lilinnya gimana ?" "Iya, udah beres pokoknya mba,"ujar Nadira. Supervisor tersebut berlalu dari hadapan Nadira. Dan dia pun mengerjakan pekerjaan lainnya. "Nad, kamu tahu enggak siapa tamu special yang bakal datang ini?"Tanya seorang teman Nadira bernama Bella. "Ehmm, enggak Bel,"ujar Nadira. "Oh, kirain kamu udah tahu siapa."Bella menganggukkan kepalanya. "Nadira, tamunya sudah datang."suara dari HT . "Siap meluncur ke TKP."Nadira bergegas dengan cepat. Suasana restoran semakin ramai menjelang sore. Para tamu mulai berdatangan dengan pakaian formal dan aroma parfum mahal memenuhi ruangan. Nadira berdiri di dekat meja utama, memastikan semua persiapan dinner VIP berjalan sempurna. “Tim, tamu utama akan datang lima menit lagi,” ucapnya tegas namun tetap lembut. Ia melangkah menuju pintu depan untuk menyambut kedatangan tamu—sebuah tugas yang memang menjadi tanggung jawabnya sebagai penanggung jawab dinner. Namun langkahnya mendadak terhenti. Dadanya seolah dihantam sesuatu yang keras. Di ambang pintu restoran, seorang pria tinggi dengan setelan hitam mahal melangkah masuk. Senyumnya begitu ia kenal. Wajah yang dulu sering ia tunggu setiap malam. Raka, kekasihnya. Dan yang membuat napas Nadira seakan tercabut, "Rraka?"ucap pelan Nadira. Tangan pria itu sedang menggenggam mesra tangan seorang wanita. Wanita yang sangat ia kenal. Alya. Sahabatnya sendiri. Dunia Nadira seolah berhenti berputar. Alya tersenyum manja, bersandar di lengan Raka, seolah tak ada dosa yang pernah mereka lakukan. Mereka tertawa kecil, begitu bahagia. kebahagiaan yang dulu menjadi milik Nadira. Kaki Nadira gemetar. Jantungnya berdetak begitu keras hingga telinganya berdenging. Kotak jam tangan yang masih ia simpan di saku apron terasa semakin berat, seakan mengejek perasaannya sendiri. “Selamat sore, Kak. Meja sudah kami siapkan,” ucap salah satu waitress lain ramah. Raka mengangguk, lalu tanpa sengaja… matanya bertemu dengan Nadira. Wajahnya seketika berubah pucat. “Nadira?” lirihnya. Sementara Alya menoleh perlahan, dan justru tersenyum tipis, senyum yang menyakitkan. “Nadira? Kamu kerja di sini?” tanyanya ringan, seolah tak pernah menusuk hati siapa pun. Nadira mematung, lidah tercekat hampir tak bisa berucap. "I-iya."Nadira menjawab secara profesional. Ada ribuan kata ingin ia ucapkan. marah, kecewa, benci, namun tenggorokannya terkunci. Yang tersisa hanya senyum profesional yang ia paksakan. “Selamat datang, Tuan, Nona,” ucapnya pelan namun tegas. “Meja dinner kalian di sebelah kanan.”Nadira berjalan dengan tegap dan elegan, dia tidak menampakkan perasaan sakit dan kecewanya saat ini, "Euhhh..."Raka hendak berkata sesuatu, tapi Nadira sudah lebih dulu membalikkan badan. Langkahnya terasa berat, pandangannya mulai buram. Ia berjalan cepat menuju area belakang restoran, menahan air mata yang sejak tadi memaksa jatuh."Tahan Nadira, kamu harus bisa bersikap profesional." Lampu restoran diredupkan perlahan, menciptakan suasana makan malam yang hangat dan elegan. Alunan musik piano mengalun lembut di sudut ruangan. Para tamu mulai menikmati hidangan pembuka yang tersaji rapi di atas meja. Nadira kembali ke area utama dengan wajah profesional. Meski matanya masih sembap, ia memaksa dirinya tetap berdiri tegak. Sebagai penanggung jawab dinner, ia harus memastikan setiap tamu merasa dilayani dengan sempurna—termasuk meja yang paling ingin ia hindari. Meja tempat Raka dan Alya duduk. Dengan langkah terlatih, Nadira mendekat sambil membawa daftar menu utama. “Apakah hidangan pembuka sudah sesuai?” tanyanya sopan. Raka menunduk, jelas tak berani menatapnya. Sementara Alya justru menyandarkan tubuh santai di kursinya, menatap Nadira dari ujung kepala hingga kaki. “Hmm… sesuai kok,” jawab Alya sambil tersenyum tipis. "Nadira...jadi selama ini kamu kerja di sini ya,"tanya Alya sambil mengernyitkan keningnya. Dan senyuman sinisnya. "Iya, saya sudah 2 tahun bekerja di restoran ini, ada apa ?"Nadira kembali bertanya. "Owh... tenang Nad, aku cuma bertanya aja kok,"ujar Alya dengan senyuman tipisnya. Lalu ia menoleh ke Raka dan berkata dengan nada dibuat-buat lembut, “Kamu tahu nggak, Ka? Aku selalu kagum sama perempuan yang kuat. Walau hatinya hancur… tetap bisa senyum dan kerja seperti biasa.” Jari Nadira mengencang di balik buku menu. Ia tahu… kalimat itu bukan pujian. “Itu hebat sih,” lanjut Alya sambil mengaduk minumannya pelan. “Soalnya nggak semua orang bisa bertahan bekerja sebagai pelayan, apalagi...menyiapkan dinner untuk mantan kekasihnya bersama kekasih barunya." Raka menegang. “Alya…” “Aku cuma bilang fakta,” potong Alya ringan, lalu menatap Nadira lurus. “Ya kan, Dira?” Hening. Beberapa detik terasa seperti menit. Nadira mengangkat wajahnya perlahan. Matanya tenang, meski dadanya perih. Ia membalas tatapan Alya tanpa gentar. “Benar,” ucap Nadira lembut namun jelas. “Tidak semua orang bisa move on dengan cara terhormat, apalagi saat tahu dia dikhianati, namun bisa bersikap profesional. Bagi saya pekerjaan saya lebih penting, daripada menangisi seorang pengkhianat." Senyum Alya sedikit menegang. Nadira melanjutkan, masih dengan nada profesional, “Kalau tidak ada tambahan pesanan, saya akan mengantarkan menu utama sebentar lagi.” Ia membungkuk sopan, lalu berbalik pergi. Langkahnya terlihat tenang… namun di balik punggungnya, hatinya remuk berkeping-keping. Alya menatap kepergian Nadira dengan senyum yang sulit ditebak, antara puas dan terusik."Kurang ajar, berani sekali dia bersikap begitu." Sementara Raka hanya terdiam, dihantui rasa bersalah yang tak mampu ia ucapkan. Dan tanpa Nadira sadari, dari sudut ruangan, Zayyan kembali melihatnya, melihat bagaimana perempuan itu menahan luka dengan cara paling anggun. Untuk pertama kalinya, ia merasa… ingin melindunginya. Begitu pintu arah ke pantry tertutup, Air mata itu akhirnya runtuh. Tangannya mencengkeram kotak jam tangan di sakunya."Ternyata....kalian mengkhianati aku, selama ini?"Batin Nadira. Hadiah yang ia beli dengan cinta, kini disaksikan langsung oleh pengkhianatan yang paling menyakitkan. Dan di toilet itu suara tangisan seorang gadis terisak dengan menggema hingga terdengar keluar. .

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.5K
bc

TERNODA

read
199.8K
bc

Kali kedua

read
218.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
75.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook