Sambil duduk bersandar di sofa, Takumi terpekur menatap layar laptop di hadapannya. Ia sudah terlalu sering memandangi foto-foto yang muncul silih berganti memenuhi seluruh layar laptop itu. Foto-foto yang dipotret dengan tangan dan kameranya sendiri. Foto-foto dengan objek yang sama. Foto-foto wanita itu. Ia tahu seharusnya ia tidak boleh lagi membenamkan diri dalam kenangan tentang wanita di foto itu. Ia tahu ia tidak pantas, tetapi ia merasa belum sanggup menghapus bayangan wanita itu dari pikiran, ataupun menghapus foto-fotonya dari laptop. Sampai sekarang. Lamunannya buyar ketika bel pintu apartemennya berbunyi. Tangannya otomatis menurunkan layar laptop, lalu bangkit dan berjalan ke pintu. “Halo.” Takumi mengerjapkan mata melihat Nakamura Aiko berdiri di hadapannya dengan senyu

