XII: HAMPIR TERBONGKAR ATAU SUDAH TERBONGKAR

1004 Kata
XII:  HAMPIR TERBONGKAR ATAU SUDAH TERBONGKAR “Lo udah jadian sama Rizal?” tanya Dena ketika Adisti sampai di kelasnya untuk pengumpulan tugas kelompok yang Sudha dikerjakan individu oleh Adisti. Adisti yang ditanya terang – terangan seperti itu melohok menatap Dena kemudian menggeleng. “Enggak.” Jawabnya pelan. “Jangan boong deh lo.” Kata Dhanti memanas – manasi seorang Adisti. Adisti lagi - lagi menggeleng pelan kemudian menatap Dena lagi, “kenapa emangnya?” tanya Adisti pelan lalu mengeluarkan tugasnya dan mulai membagikannya kepada orang – orang yang berada dalam satu kelompoknya. “Gue liat lo semalem diboncengin sama dia.” Kata Gita. Adisti diam. Benar. Dia tidak memungkiri itu. Namun, kenapa dia sama sekali tidka melihat Gita yang ‘katanya’ melihat dirinya besama Rizal? Ataukah Adisti terlalu snenag ketika bersama Rizal malam tadi. Bisa dimaklum, Adisti benar – benar tidak pernah dekat dengan cowok manapun. Dia berfikir cowok adalah sumber masalah. Maka dari itu, dia benar – benar tidak pernah mendekati cowok atau di dekati cowok. Rasanya, dengan Arizal beda. Dia bisa menjadi dirinya dan tetap menajdi dirinya selama itu. Rizal juga tidak keberatan dengan keberadaan Adisti malam itu. Malahan, Rizal memaksa Adisti naik ke motornya. Wallaupun dengan takut, Adisti benar – benar tidak pernah dengan benar menerima smeua laki – laki. Entahlah, mungkin karena paksaan dari Rizal sendiri semalam dan semalam adalah waktu yang tidak tepat karena Adisti benar – benar harus pulang dan menerima tumpangan. Jadilah, gosip ini menyebar. Walalupun sebatas anggota kelompoknya saja. Selanjutnya, yang dilakukan oleh Dena adalah menyobek kertas yang bahkan sudah dibawa oleh Adisti dengan sangat rapi itu. “Lo jadian belum?” ucap Dena mengeratkan rahangnya menatap Adisti yang masih dengan polosnya menggeleng. Di sini, Adsiti dengan posiis yang benar. Rizal dan dirinya tidak jadian. Dia hanya mengatarkan Adisti pulan tanpa sikap appaun dan tanpa rasa apapun mungkin. “Aku hanya diantar pulang. Dan selesai.” Kata Adisti lalu membuka laptopnya. “Lo harus cerita sama gue lengkap tanpa spasi dan tanpa potongan.” Ucap Dena ketika melihat dosen yang skarang masuk ke kelas mereka. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Adisti keluar dari kelasnya dengan di seret menggunakan rangkulan dari seorang Dena. Kemungkinan besar, Adisti akan membawanya ke tempay yang biasa dipakai untuk membully orang. Tidak salah dan tidak akan salah. Mungkin Adsiti akan dimarahi atau dibentak – bentak. Maslaahnya, posisi dirinya tidak salah di sini. Jadi Adisti akan mengatakan yang sebenarnya dan tidak membuat masalah besar. “Jadi, gimana lo bisa pulang sama Rizal tanpa jadian sama dia?” tanya Dena langsung ke intinya ketika sudah mendudukkan Adisti di beberapa bagian sofa di ruangan yang sama seperti kemarin. Cerita Adisti mengalir dimulai dari perpustakaan dan sampai diantar pulang ke rumah. Tentu saja dengan ppotongan cerita yang mengajak Rizal masuk ke dalam rumahnya dan menyuruh Rizal menemani Adisti yang menyala – nyalakan lampunya. Menyalakan lampu dan setelah itu selsai. Tidak ada yang special menurut Adisti sehingga hal tersebuut tidak perlu diceritakan sampai detail. “Dena aja yang udah pernah jadian ga pernah di anter pulang sama Rizal. Kenapa lo bisa?” tanya Gita. Lagi – lagi mengompor Dena yang sekarnag tengah menahan emosinya untuk Rizal atau bahkan untuk Adisti sekalipun. Namun, sayangnya, Adsiti tidak besalah sama sekalli. Dia sudah melakukan apa yang Dena suruh. Sudah menceritakan kenapa bisa sampai Rizal mengantarkan pulang Adisti. Walaupun tidak smeuanya diceritakan. Jika semuuanya diceritakan mungkin akan menjadi satu bab buku yang ada di perpustakaan nantinya. Adisti benar – ebnar kaget ketika Gita mengatakan bahwa Dena tidak pernah diantar pulang oleh Rizal ketika mereka berdua dikabarkan berkencaan dan tentu saja tidak hanya di kampus ini yang ramai. Rizal memposting foto kebersamaan bersama Dena walalupun di dalma foto itu Rizal benar – benar tidak menampakkan ekpresi apapun selain datar dan seperti malas sekali ada di dalam frame ponsel milik Dena. Ada yang mengatakan bahwa Dena memaksa Rizal untuk memposting foto itu. Sehingga orang luar kampus juga tahu bahwa Rizal sudah memiliki kekasih. Dimana itu adalah Dena saat itu. Namun, ketika dikabarkan putus. Foto itu lenyap di halaman beranda milik Rizal di instagramnya. Mengingat tentang i********:, semalam Adisti membuka instagramnya dan ebrsalancar pelan. Namun, yang ia bingungkan, ada akun lain yang ada di sana. Tunggu. Adisti baru menyadari jika akun milik dirinya sudah terlihat oleh Rizal. Itu membuat Adisti ebrdiri. “Kak, sori. Aku ada urusan. Nanti ke sini lagi abis selesai.” Kata Adisti lalu meningglakan tempat itu. Sempat terdengar oleh telinga Adisti bahwa Dena mengancam akan membullyy Adisti jika dia tidak kembali detik itu juga. Namun, rasanya Adisti tuli saat itu. Dia benar – benar tidak memikirkan bagaimana pembullyan itu akan hadir dikehidupannya. Hanya saja, yang dipikirkan olehnya adalah bertemu dengan Rizal dan membicarakan tentang akunnya. Sialnya, kenapa pemikiran itu baru keluar sekarang? Kenapa juga harus Rizal yang membuka akun itu kemarin? Sialnya, itu sudah terjadi dan akan sulit untuk di ulang lagi. Lagi – lagi dia memikirkannya. Akun Rizal semalam belum log out dari ponselnya. Sekalian saja dia akan membicarakannya dan membuktikan jika bukan dirinya yang mau terus ada di akun milik Rizal. “Kak Rizal?” tanya Adisti begitu menghampiri Rizal di gedung basket lapangan indoor. Rizal sedang beristirahat minum kala Adisti menyapanya. Rizal yang dipanggil menatap siapa yang memanggilnya. “Kenapa?” tanya Rizal cukup dingin. Sangat berbeda dengan Rizal yang semalam mengantarnya pulang. Apakah Rizal memiliki dua kepribadian yang berbeda? “Emmm.” Kata Adisti baru sadar jika dirinya tengah di tatap banyak mata yang memperhatikannya, “bisa ga kita nbgobrol berdua abis ini?” tanya Adisti pelan. Rizal mengangguk, “makan siang di kantin.” Ucapnya lalu meninggalkan Adisti. Sebenarnya bukan itu yang ia mau. Dia hanya ingin bicara di tempat yang cukup sepi. Ini karena kepribadiannya kemungkinan besar akan terbongkar. Atau bahkan sudah terbongkar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN