XIII : KANTIN KAMPUS
Sebenarnya, Adisti sudah percaya ini akan terjadi. Dimana dirinya dilihat oleh banyak apsang mata saat Rizal duduk di depannya. Banyak juga bisikkan yang bukan hanya sekedar ‘bisikan’. mereka berbisik namun suaranya masih terdengar dengan jelas oleh Adisti. Apakah itu masih termasuk bisikkan?
Adisti tertawa dalam hati memikirikan jawaban untuk pertanyaan yang dibuatnya sendiri di dalam kepalanya.
“Gimana?” tanya Rizal begitu melihat Adisti hanya duduk diam dengan pikirannya sendiri.
Adisti duduk di depan Rizal tergagap. Lalu dia berdeham kecil. “Maaf kak, kemarin sore kakak buka akun i********: kakak di ponsel punyaku.” Kata Adisti pelan. Lalu dia menarik nafasnya, “aku bakalan log out -in punya kakak di depan kakaknya langsung.” Kata Adisti lagi.
Selanjutnya, Adsiti membuka ponselnya kemudian melihat tatapan dari seorang Rizal untuknya. Dia membuka akun i********: yang masih ada di ponslenya namun bukannya sendiri. Melainkan milik dari seorang Rizal.
“Itu aja?” kata Rizal setelah mengangguk sambil melihat Adisti yang mengeluarkan akun instagramnya di ponsel milik Adisti sendiri.
Balasan yang di dapat Rizal dari Adisti adalah gelengan pelan. “Bukan hanya itu kak,” kata Adisti lagi.
Rizal mengerutkan keningnya. Dia bertanya tanpa mengatakan apapun namun tetap dapat dimengerti oleh Adisti. Kemudian Adisti berinisiatif untuk memulainya.
“Maaf kak, tapi aku harus bilang kalo akunku yang ini,” kata Adisti lalu memperlihatkan akunnya sendiri yang bahkan tidak diketahui oleh siapapun itu kepada Rizal. Rizal mengangguk sebagai balasan untuk kalimat pembuka dari Adisti. “Bisa tolong dirahasiakan ga?” kata Adisti pelan takut – takut orang lain juga penasaran akan akunnya.
Rizal tersenyum kecil, “emang kenapa?” katanya tak kalah pelan dari permintaan milik Adisti tadi.
Adisti bingung sendiri kenapa juga dia ebralasan dan ingin merahasiakan akunnya. Padahal tidak terlalu penting juga. Rizal juga tidak mungkin menyebarkan apa yanga da di dalam instagramnya. Dia hanya menuliskan beberapa pesan emlalui foto yang di edit dan juga caption yang bisa saja menyentuh beberapa orang. Adisti sendiri juga tidak tahu kenapa dia harus merahasiakannya.
Kenapa juga ia meminta Rizal untuk merahasiakannya? Setelah dipikirkan, tidak ada alasan untuk permintaannya tersebut kepada Rizal, dia seperti merasa telah menyia – nyiakan waktunya.
Juga sudah mengambil resiko jika dirinya nanti akan mendapat masalah dari seorang Dena karena meninggalkannya tanpa mendengar peringatan dari Dena sebelum menuju ke sini dan bertemu dengan Rizal.
Sekarang, Adisti hanya bisa menyesali apa yang sudah dibuatnya hari ini. Mungkin Dena akan sangat marah besar dan tentu saja Dena akan dengan mudahnya menghukum ADisti dan membuat Adsiti terkena masalah yang lebih besar daripada masalah i********: pribadinya, atau privatnya terbuka.
“Ga punya alasan?” kata Rizal pelan.
Adisti mengangguk kecil untuk pertanyaan Rizal yang baru saja di lontarkan olehnya.
“Cari tahu alasannya dulu, abis itu temuin gue lagi.” Kata Rizal kemudian berdiri dari tempat duduknya.
Adisti ikut berdiri, “janji dulu jika itu ga bakalan kakak sebar.” Kata Adisti.
Dan kata – kata itu baru saja membuat Adisti menyesal karena dirinya benar – benar mengatakan itu dengan lantang dan membuat mata yang tadi sudah tidak tertuju lagi kepadanya kini mulai menusuk bahkan sampai terasa di punggungnya sendiri.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Dena benar – benar marah.
Saat sampai di ruangan yang tadi ditinggalkan oleh Adisti secara buru – buru itu, Dena masih ada di sana bersama dua orang temannya yang duduk setia di sampingnya sambil bermain dengan pponsel mereka. Dena sendiri yang bahkan hanya menatap kosong namun penuh kemarahan di wajahnya saat Adisti datang untuk mengatakan alasannya kenapa dia pergi begitu saja.
Sebenarnya, Adisti bisa saja tidak kembali lagi ke sini. Namun, Adisti tkaut sekali jika masalahnya akan semakin besar jika dia tidak datang ke sini dan emmbuat Dena akan marah dengan semarah – marahnya.
Namun, jika di pikirkan lagi, dia tidak salah. Dan untuk apa juga dia di sini. Dena bukanlah orang yang harus menerima laporan dari Adsiti dari mana dan kemana, juga melakukan apa dan dengan siapa untuk urusan Adsiti.
Hanya saja, Adsiti tadi sudah ebrjanji untuk balik lagi ke sini setelah masalahnya selesai. Kemudian, di sinilah Adisti berada. Walaupun masalahnya dengan Rizal belum sepenuhny selesai, dia aka nada di sini untuk menyelesaikan masalahnya yang sbeenarnya bukan masalah untuk diirnya.
Dia menyadari sendiri jika perilakunya tadi tidak sopan.
Meninggalkan Dena yang masih ingin mendengar apa yang ingin di dengarnya dari mulut Adisti. Mendengar cerita Adsiti dengan Rizal mungkin membuat Dena sangat penasaran sampai akhirnya jadi begini.
“Lo pikir gue siapa nungguin lo di sini?” tanya Dena begitu Adisti menarik nafasnya dan kemudian ingin meminta maaf atas kesalahannya.
Adisti sendiri tidak emngerti kenapa permintaan maaf itu tidak langsung keluar sebelum Dena berbicara.
“Gue ini Dena. Lo hanya orang baru yang belum pernah mengenal gue lebih dalam.” Kata Dena yang membuat Adisti diam tidak bisa berbicara lagi. “Kenapa gue,” katanya dengan penekanan di kalimatnya, “harus nungguin lo?” tanya Dena lagi.
Adisti menggaruk tekuknya pelan, “maaf kak. Tadi aku ada-“
“Ga usah.” Potong Dena untuk kalimatnya, “ga usah lo jelasin karena gue udah tau semuanya.” Kata Dena lagi, “lo ada apa sama Rizal?” tanya Dena lagi untuk dirinya.
Apakah pertanyaan ini harus Adisti jawab? Pikirnya. Karena pertanyaan – pertanyaan dari Dena yang sebelumnya hendak dijawab namun benar – benar tidak diberikan kesempatan untuk menjawabnya. Semuanya di potong dan langsung dihamburi dengan pertanyaan lainnya.
“JAWAB!” sentak Dena.
Adisti cukup tersentak. Dalam hatinya dia juga mengomel, ‘oh di jawab toh.’
“Kemarin, aku sama kak Rizal kejebak di perpustakaan sebagaimana aku sudah ebrcerita kepada kakak tadi.” Kata Adisti yang menatap Dena yang masih menatapnya dengan tatapan emosi, “dia masuk akun i********: dia di hpku.”
Belum lagi meneruskan ceritanya, Dena memotong pembicaraan Adisti lagi.
“Lo ga bilang kalo dia masukin akunnya di ig lo.” Kata Dena.
Adisti diam, “mungkin lupa.” Sahutnya pelan sambil menggaruk pipinya yang bahkan tidak gatal sama sekali.
“Terus?” tanya Dena, “ngapain aja lo tadi?”
“Aku cuman liatin ke dia kalo aku udah log out -in akun dia di ponselku.” Kata Adisti, “udah gitu doang.” Tambahnya lagi.
Gita terkekeh begitu mendengar cerita dari seorang Adisti, “terus kenapa harus banget lo nemuin dia buat ngeliatin kalo lo udah out dari akun dia di ponsel lo?” tanyanya pelan sambil terkekeh dan menggeleng pelan.
Dhanti mengompori, “harus banget?” tanyanya.
Dena yang mulai panas kini berdiri, “mungkin lo ga bisa dibiarin gini aja, Dis.”