XIV: MAKSUDNYA APA?

1189 Kata
XIV: MAKSUDNYA APA?   “Maksudnya, Kak?” tanya Adisti pelan untuk menanyakan apa yang dimaksud Dena dengan ucapannya barusan. Ga bisa dibiarkan gini aja? Katanya? Apa maksudnya? Dena menyilangkan tangannya di depan d**a, “ya lo ga bisa dibiarin gini aja. Lo perlu gue kasih pelajaran.” Ucap Dena dengan anda pelan namun rasanya sangat dalam dan menusuk d**a Adisti dengan tatapannya. Sebenarnya, Adisti ingin menanyakan hal yang lebih lanjut. Namun, baru saja dia menarik nafas untuk menanyakan lebih detailnya kini kepala Adisti tertarik ke belakang. Rambutnya dijambak oleh Dena dan membuat Adisti sedikit mendesis pelan. “Lo gue suruh jadian sama Rizal dan gue akan perintahin lo buat mutusin dia di tengah – tengah hubungan lo sama dia.” Kata Dena lagi, “gue ga bisa nerima dia ngelakuin itu sama gue dulu.” Tambah Dena. “Tapi kenapa harus aku yang –“ “Diem deh lo.” Kini yang berbicara adalah Dhanti. Mereka benar – benar berniat untuk membully Adisti dari awal. Mereka hanya mencari kapan kesalahan Adisti dilakukan dan waktu yang tepat untuk bisa membully seorang Adisti. Kesalahan yang adisti lakukan adalah yang pertama itu di kantin. Dia benar – benar tidak snegaja menumpahkan minuman dan tidak tahu jika Dena akan jalan ke sana dan terjatuh tepat di depan semua orang yang tengah menikmati makan dan minum di kantin. Di pikiran Adisti adalah mungkin saja Dena akan membalas dendam dengan mempermalukan Adisti dengan cara yang sama. Mungkin itu akan lebih baik dari pada menyerang fisik seperti ini. “Lo awalnya mau gue manfaatin buat nyakitin si Rizal.” Kata Dena lalu menarik dengan keras rambut Adisti, “tapi kayaknya itu ga bakal berhasil buat lo.” Ucapnya lagi. Dhanti dan juga Gita hanya menonton. Mereka hanya membiarkan Dena melakukan Adisti sebisanya dan tentu saja tidak ada berniat untuk menolong. Mereka benar – benar mendukung apapun yang dilakukan oleh Dena sang ketua kelompok. Tidak pernah ada satu lintasanpun dari seorang Adisti yang bahkan mengatkan bahwa dia akan terlibat masalah sampai sejauh ini. Dari yang ia kira adalah masalah yang kecil, namun ini, dia sekarang ada di posisi dimana masalah itu sudah cukup besar ntuk dirinya. “Terus mau kaka kapa?” tanya Adisti. Gita dan Dhanti tertawa kecil di belakang Dena. “Wah Den, dia nantangin lo noh.” Ucap Dhanti seperti mengompori lagi Dena yang sudah mulai tersulut dan sudah mengeluarkan percikan api yang bahkan jika di sulut lebih dekat, mungkin akan semakin membesar. Dena tersenyum ringan dan begitu santai melepaskan jambakkannya di rambut di kepala milik Adisti. “Gue mau lo berhenti muncul dihadapan gue selama satu bulan.” Kata Dena dengan nada yang sangat menakutkan. Sebenarnya, Adisti tidak keberatan dengan hal itu. Dia bisa saja benar – benar menghindari seorang Dena. Namun, sayangnya jika diingat lagi mereka ada kelas yang sama di mata kuliah yang Dena sendiri tidak lulus tahun – tahun sebelumnya. Kemungkinan besar Dena dan juga Adisti akan sering bertemu di mata kuliah yang mana terjadi pertemuan di seminggu dua kali itu. “Tapi- kak.” Kata Adisti namun tergagap karena Dena mencengkram rahangnya keras, kuku – kuku milik Dena yang cukup panjang itu menusuk kulit pipi dari Adisti. “Ada masalah dengan hal itu?” tanya Dena dengan nada sok polos dan tidak tahu apa – apa. Adisti terpaksa menggeleng untuk menghindari masalah yang lebih besar. Dena tersenyum lebar melihat itu dan menghempaskan wajah Adisti dengan cukup kasar. Selanjutnya yang dilakukan Dena adalah berdiri dan mulai membuka tutup botol dari minuman yang ia beli entah kapan. “Lo bener – bener harus ngehindarin gue sebisa mungkin,” kata Dena kemudian menempatkan minuman itu di atas kepala milik Adisti, “kalo gue sampe ketemu sama lo dan bertatapan sama lo, lo pasti tahu apa akibatnya.” Tambahnya. Setelah kalimat itu, Dena benar – benar mengguyur tubuh Adisti dari atas kepala sampai membasahi baju yang dipakainya hari itu. Sialnya, dia tidak membawa baju ganti. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Untung aja bukan air berbau.” Kata Adisti yang sedari tadi mengomel di toilet kampusnya sendirian. Untung lagi katanya. Dia benar – ebnar merasa beruntung karena di toilet di kampusnya ada hand dryer. Dia mengeringkan rambutnya di sana. Waalupun ada orang yang lewat mencak – mencak karena dia menghalangi, tetap saja dia masih merasa beruntung. Untung hanya air putih. Bukan air yang ada rasa manisnya. Bisa – bisa lengket semua badannya. Mana dia harus pulang sebentar lagi. Setidaknya, jika di kampus ini dia tidak baik – baik saja. Jangan sampai orang rumah tahu. Dia tidak ingin merepotkan lagi kakek dan neneknya yang sudah lama menamoung dia untuk tinggal bersama mereka. Dia tidak ingin terlihat buruk dan tidak ingin menambah beban pikiran untuk mereka. Intinya, dia benar – benar harus terlihat baik – baik saja jika ada di rumah. Lagi pula, dia bukan orang yang serba ada. Dia adalah orang yang dipaksa untuk menyederhanakan smeua kebutuhannya. Semua yang ada di rumahnya adalah salah satu hal yang mungkin bisa saja dia miliki namun dia tidak ingin menggunakannya hanya untuk bergaya – gaya atau bahkan memamerkan apa yang dia miliki. Lagi – lagi dia berfikir jika dirinya harus berupaya untuk sebaik mungkin agar tidak merepotkan lagi. Setidaknya, menitipkan dirinya saja sudah membuat beban nenek dan juga kakeknya bertambah. Adisti menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara kasar berulang – ulang. Mungkin, mulai detik ini dia benar – benar harus lebih berhati – hati. Setidaknya, dengan menghindari Dena walaupun dia mengatakannya sebulan, tapi Adisti dengan senang hati untuk menghindarinya selamanya. Itu mungkin sama aja dengan dia yang menghindari hal yang bahkan bisa menjadi masalah untuknya. Dia benar – benar setidaknya harus bersyukur dengan apa yang Dena syaratkan dan Dena minta. Selama sebulan ini, dia benar – benar akan menghindari Dena dan juga teman – temannya. Setidaknya, itu adalah rencananya sampai saat ini. “Selesai.” Katanya kemudian dia mendengar ada yang masuk. Telinganya menangkap suara tawa dari seorang Dhanti. Artinya apa? Dimana ada Dhanti mungkin di situ ada Dena. Jadi, dengan tergesa – gesa dia masuk ke bilik toilet dan berusaha menjadi orang lain yang kebelet buang air. Suara pintu toilet terdengar di buka oleh seseorang. Lalu suara Dhanti berubah menjadi suara kekehan yang bahkan menyeramkan jika di dengar secara langsung. “Lo beneran mau pake baju ini di kampus?” suara Dhanti langsung masuk di telinga Adisti, “lo mau nyaingin Dena yang punya hak buat jadi ratu kampus?” ucap Dhanti lagi. Disana, di toilet tempatnya duduk. Adisti mendengar suara isak. Yang terjadi adalah Dena CS sedang membully orang lain selain Adisti. Sialnya, kenapa harus sekali Adisti mendengar hal kotor yang dikatakan oleh mereka kepada korban? Sialnya lagi, Adisti benar – benar tidak sanggup mendengar kalimat yang menyakitkan di setiap kalimat yang dikeluarkan Dhanti juga Gita di sepanjang pembullyan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN