XV: PENYELAMAT ADISTI HARI ITU
Adisti benar – benar sebisa mungkin untuk menghindari Dena di kampusnya. Namun, sama seperti pemikirna Adisti waktu itu, Dena tidak bisa dihindari ketika ada di kelas yang sama bersamanya.
Maka dari itu setiap minggunya, pasti ada hari dimana baju Adisti basah atau bahkan ada barang yang hilang. atau rambut yang berantakan. Semenjak saat itu, tidak ada cara untuk menghindari Dena ketika pelajaran itu.
Jikalau ada tempat untuk bersembunyi, Dena mungkin akan pura – pura tidak melihat namun akan berakhir tidak enak ketika pelajaran itu selesai. Entah itu akan berakhir dengan baju Adisti yang basah. Baju yang dipakainya akan mengalami keadaan yang tidak layak dipakai untuk pulang. Maka dari itu, dia selalu membawa baju dan celana untuk diganti setelah mata kuliah itu.
Sayangnya, dia tidka bisa pulang seperti itu saja. Jika tidak bertemu dengan Dena mungkin dia bisa pulang langsung. Namun, terkadang dia bisa saja bertemu Dena di kantin ataupun di toilet. Dia harus bersembunyi jika itu terjadi.
Entah dari mana munculnya seorang Rizal. Ketika dia ingin bersembunyi dari Dena yang tidak sengaja dilihat oleh Adisti dengan hati – hati. Sepertinya, Rizal juga sudah tahu selama ini bahwa Adisti menghindari seorang Dena. Maka dari itu, Rizal membantu Adisti bersembunyi dari pandangan Dena. Menyembunyikan Adisti yang bertubuh kecil di balik tubuh cukup besar milik Rizal bukanlah hal yang tidak sullit. Bahkan cukup mudah untuk Rizal.
“Kak Rizal?” suara kecil itu keluar dari mulut Adisti karena kaget ketika Rizal tiba – tiba berada di sisi lain mejanya dan seperti menghalangi Dena untuk melihat Adisti.
“Makan.” Kata Rizal pelan kemudian menggunakan dagunya untuk menunjuk makanan yang ia lihat dipiring Adisti yang masih sisa setengahnya.
Adisti mengangguk kemudian dia tergesa – gesa menelan makanannya. Dia benar – benar ingin segera pergi dari sana.
“Pelan – pelan.” Kata Rizal mempeingatinya, “gue ga keberatan buat di sini bareng lo.” Ucap Rizal lagi.
Hampir saja Adisti tersedak jika tidak bisa menahannya. Intinya, dia agak kurang nyaman dengan Rizal yang berbicara seperti itu hanya untuk dirinya sendiri. Bisanya, Rizal adalah orang yang super dingin untuk orang lain begitu juga untuk Adisti jika ada orang lain bersama Rizal.
Tapi, jika berdua saja dengan Adisti, Rizal berubah menjadi orang yang berbeda. Tentu saja sangat berbeda menurut Adisti.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Jadi, lo beneran ngehindari seorang Dena untuk saat ini?” tanya Rizal begitu ia bangkit dari sana karena Dena sudah tidak ada di dalam kantin.
Rizal dan Adisti sekarang saling berhadapan di meja yang tadi memang ditempati oleh Adisti sendirian. Adisti mengesampingkan piring bekasnya makan, kemudian memindahkan gelas yang isinya es teh manisnya ke depan wajahnya.
Dia mengangguk, “dia minta kayak gitu kemarin.” Kata Adisti membalas pertanyaan dari seorang Rizal.
“Kalo lo ketemu dia?” tanya Rizal lagi.
Adisti mengendikkan bahunya pelan, “kalo ga basah, bau sama baju rusak. Ya palingan juga dijadiin babu sehari.” Kata Adisti lagi.
“Terus lo terima?” tanya Rizal.
Entah kenapa Rizal benar – benar banyak bertanya hari ini. Dia benar – benar berbeda dari biasanya. Dia baisanya tidak mengeluarkan pertanyaan sebanyak itu. Minimal dia bisa bertanya dua atau tiga kalimat.
Sekarang, sudah ada tiga kalimat tanya yang diberikan oleh Rizal untuk Adisti. Jika selanjutnya Adisti menjawab lalu kemudian Rizal memberikan pertanyaan lagi, beneran deh, Rizal bukan Rizal yang biasa ia kenal.
“Ya abis gimana lagi.” Kata Adisti, “aku ga bisa nolak dan ga bisa ngelawan juga.” Kata Adisti lagi menambahkan alasan kenapa dia selalu diam.
Adisti menatap Rizal yang mungkin saja akan bertanya lagi. Adsiti bersiap untuk mengomel kepada Rizal jika dia bertanya lagi. Mengomel dalam artian yang bahkan ini bukanlah Rizal yang asli.
Dia sudah bertaya berturut – turut namun tidak memiliki respon yang baik bahkan untuk setiap jawaban yang diberikan oleh Adisti untuk Rizal.
“Tapi bisakan lo ngelawan dengan cara lo sendiri?”
“Kak.” Kata Adisti benar – benar tidak tahan dengan sikap yang asing dari seorang Rizal hari ini.
“Apaan?” katanya setelah menarik minuman yang sedang diminum oleh Adisti. Lalu menyedotnya dengan sedotan yang sama dengan yang dipakai oleh Adisti tadi.
Adisti benar – benar bingung. Bukankah, itu sudah ciumaaan? Walaupun secara tidak langsung? Bibir Adisti tadi menempel di sana. Dan sekarang, melihat Rizal juga menempelkan bibirnya di sana.
Disedotan yang sama yang tadi dipakai Adisti.
“Apaan sih?” tanya Rizal yang di ulang ketika tidak segera mendapatkan jawaban dari seorang Adisti yang ada di depannya.
Adisti bahkan lupa akan memarahi Rizal yang berbeda jauh dari keadaannya dulu. Dia benar – benar lupa akna hal itu sampai dia mendengar alarm di handphonenya. Kelas yang lain akan di mulai. Namun, setelah mematikan alarm itu, dia melihat ada sebuah notifikasi bahwa kelas itu dibatalkan.
Enaknya, itu adalah kelas terakhir untuk hari ini. Jadi kemungkinan besar, dia bisa pulang. Dia bisa pulang sekarang tanpa harus bertemu dengan Dena. Bukankah itu menyenangkan?
“Aku pulang duluan deh, Kak.” Ucap Adisti kemudian bangkit dan menggendong tasnya lalu berangkat dari sana.
Pikiran Adisti benar – benar sulit hari itu. Dia benar – benar tidak bisa berfikir setelah menatap Rizal yang minum dengan sedotan yang sama dengan dirinya.
Hari ini, dia selamat berkat adanya Rizal dan juga jam kosong yang bisa membuatnya pulang lebih cepat dan juga kelas yang berakhir sebelum mulai. Dia benar – benar terselamatkan hari ini.
Lalu, dia merasakan tangannya di tarik paksa untuk berbalik ke arah orang yang menariknya. Dia benar – benar sangat kaget. Tadi dia hanya menunduk ke bawah menata ponselnya. Dia tidak melihat ke depan sehingga dia benar – benar cukup kaget ketika pas pertama yang dilihat olehnya adalah d**a seseorang.
Lalu d**a seseorang itu mendekat ke wajahnya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Sontak Adisti akan berontak namu ditahan oleh tangan di belakang kepalanya.
“Bentar dulu deh, ada Dena di depan.” Kata orang yang mendekapnya.