XVI: KENAPA HARUS DIA?
Untuk pertama kalinya, Adisti merasa begitu bersalah pada neneknya. Selain merasa bersalah karena diriya selalu merepotkan sang nenek, dia benar – benar merasa bersalah kali ini. Dipanggil ke kampus gara – gara tugas satu semester ini tidak pernah dikerjakan? Mungkin ini sudah keterlaluan.
Adisti tidak pernah absen dari kelasnya. Tidak pernah meninggalkan tugas untuk tidak dikerjakan. Dia pasti selalu ada untuk mengerjakan tugas dan tentu saja mengumpulkan tugas dengan baik. Berusaha keras walalupun tidak bisa mendapatkan nilai sempurna saat ujian.
Neneknya di panggil ke kampus gara – gara tugas yang diberikan salah satu dosen di mata kuliah biologi di awal semester milik Adisti benar – benar kosong. Sampai – sampai neneknya ditanyakan bagaimana cara mendidik Adisti sampai sini.
Nilai tugasnya benar – benar kosong satu semester. Adisti benar – ebnar heran. Kemana saja dirinya sampai – sampai tugasnya tidak terpenuhi seperti ini. Bahkan Adisti benar – ebnar mungkin saja harus mengulang lagi kelas biologi di semester depan. Tentu saja itu mempengaruhi angka kelulusan Adisti dan juga keuangan yang dimiliki neneknya.
Di dalam mobil, neneknya hanya diam tanpa bisa mengatakan hal apapun kepada Adisti. Sama seperti Adisti yang tidak bisa menjelaskan akan hal yang terjadi. Dia sudah menjelaskan hal yang bisa ia bela dan neneknya hanya mengangguk dan tersenyum.
Mobil yang dinaiki nenek dan Adisti adalah mobil angkutan umum online yang neneknya minta untuk di pesankan. Mungkin, neneknya tidak bisa berjalan lagi sedikit menuju halte untuk naik bis atau bahkan angkutan umum baisanya. Neneknya mungkin kaget akan masalah ini.
“Kamu sudah janji untuk tidak membuat masalah dengan kakekmu, Dis.” Kata neneknya membuka percakapan.
Adisti yang duduk di sebelahnya kini menatap sang nenek dan mengangguk dengan keras dan spontan, “memang. Aku tidak ingin membuat masalah dengan kakek dan nenek.” Kata Adisti, “tapi aku bener – bener udah jelasin semuanya ke nenek kalau tugas aku-“
Perkataan Adisti terpotong ketika tangan neneknya menyentuh punggung tangan Adisti. Rasanya hangat. Dia benar – benar seperti diisi daya lagi oleh sentuhan dari neneknya.
“Kamu janji kepada kakek, bukan kepada nenek.” Kata neneknya tersenyum kecil ke arah Adisti.
“Maksud nenek?”
Setelah diam sebentar, Adisti bertanyta apa yang dimaksud oleh neneknya barusan. Dia benar – benar tidak mengerti. Adisti memang berjanji dihadapan kakek dan neneknya ketika dia mengatakan bahwa dia tidak akan melibatkan dirinya ke dalam masalah yang bisa dibilang cukup besar seperti ini. Dia berjanji untuk tidak membuat masalah sampai seperti ini dan mungkin saja akan sampai ke telinga kakeknya nanti.
Adisti sudah bersiap – siap akan hal yang tidak diragukan lagi. Dimarahi kakeknya dengan ucapan rendah namun sangat menusuk ke hati. Sayangnya, dia harus bisa menanamkan tanah super tebal di hatinya agar tidak tertusuk oleh kata – kata sang kakek nantinya.
“Ini akan menjadi rahasia kamu dan nenek.” Kata neneknya kemudian menggenggam tangan Adisti, “nenek percaya kamu mungkin tidak bermaksud seperti ini. Tapi, jika ada masalah dengan kampus, tolong bicarakan dengan nenek dulu. Sebelum kakekmu.” Kata neneknya lagi.
Adisti mungkin bsia merasa lega ketika neneknya mengatakan hal itu. Namun, tetap saja. Adisti merasa tidak enak sudah membebani neneknya lagi seperti ini. Dia benar – benar tidak bisa menahan untuk tidak memeluk sang nenek.
Neneknya sangat pengertian sehingga masalah ini, tidak akan di abwa ke meja panjang di meja makan saat makan malam bersama kakeknya nanti. Sehingga, tanah yang sudah di susun rapi oleh Adisti di dalam hatinya mungkin harus di buang atau bahkan disiapkan untuk nanti.
Jika kakeknya tahu akan hal ini.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Dena dan yang lainnya memang sudah merencakan agar Adisti tidak bisa lolos dari mereka. Namun, hal itu digagalkan oleh Rizal yang masih saja membantu Adisti dalam hal ini. Dimana Rizal memberikan bukti konkrit yang mana Dena- lah yang menyuap guru mata kuliah Biologi agar tugas Adisti dipermasalahkan kepada orang tuanya.
Dengan sedikit membentak, Dena menarik Rizal dan berbicara dengannya empat mata.
“Lo suka sama dia?” tanya Dena pelan lalu menatap Rizal yang tersenyum menyeringai seperti psikopat yang Dena pernah lihat di film – film. Dena menggeleng, “kenapa lo selalu bantuin dia?” tanya Dena lagi untuk memastikan bahwa dirinya benar – benar salah menilai Rizal.
Dena tidak ingin menilai Rizal buruk dimatanya karena sudah mencampakkannya beberapa bulan yang lalu. Hanya saja, dia tidak berniat sama sekali membuat Rizal buruk di matanya gara – gara terus menerus menolong orang yang sedang ia coba untuk bully dan menjadikannya sebagai korban dari kelakuannya itu.
“Gue cuman ga suka sama lo yang masih ngurusin hal kayak gini.”
Kalimat yang keluar dari mulut Rizal benar – benar membuat Dena kaget. Pasalnya, Rizal baru saja berbuicara pada satu kalimat dan satu tarikan nafas sepanjang itu untuk pertama kalinya selama Dena mengenal Rizal.
Entah kenapa tubuh Dena menjadi kaku. Dia benar – benar tidak menyangka bahwa dengan menolonmg orang seperti Adsiti bisa mengubah Rizal yang biasanya menggunakna satu atau dua kata dalam satu kalimat menjadi orang seperti ini.
Benar – benar tidak menyangka.
“Berhenti atau-“
“Atau apa?” balas Dena cepat.
Dia benar – benar tidak bisa lagi melihat Rizal yang terus menerus mengurusi Adisti bahkan sampai menolong dan tentu saja menemani Adisti ketika Dena sedang membullynya. Dena tidak bisa membiarkan orang yang dulunya bersama dirinya dan benar – benar menjadi miliknya kini memihak orang lain yang Dena benci.
Dena membenci Adisti karena satu alasan.
Dena masih melihat foto – fotonya yang terjatuh di kantin karena ulah dari seorang Adisti dan itu masih membuatnya malu dan tidak terima dengan hal itu.
Sekarang, mungkin kebenciannya bertambah karena ada Rizal di dalamnya.
Rizal menarik nafasnya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Dena dan berbisik dengan nada yang super rendah dan berhasil membuat Dena kaget dan membuat Dena tidak bisa melakukan apa – apa setelahnya.
“Atau, gue bakal lebih dekat sama dia dan membuat lo semakin kebakaran jenggot ngeliat kedekatan gue sama dia.” Ucap Rizal.
Dari sana, Dena benar – benar akan membenci Adisti selama dia dekat dengan Rizal.
“Kenapa harus dia, Zal?” gumam Dena pelan setelah Rizal pergi dari sana meninggalkan Dena yang benar – benar berfikir bahwa Dena harus lebih keras kepada Adisti.