XVII: KEHIDUPAN YANG BERBEDA

1100 Kata
XVII: KEHIDUPAN YANG BERBEDA Dena mungkin gengsi jika langsung mengatakan kepada Adisti bahwa Adisti harus menjauh dari Rizal. Dia harus bersembunyi dari Rizal dan tidak juga jangan sampai Rizal mengajak Adisti berduaan dengannya. Adisti mungkin akan bertanya kenapa dalam hatinya. Adisti mungkin akan mengatakan bahwa Dena masih mengharapkan seorang Rizal untuknya, maka dari itu Dena mennyuruh Adisti untuk pergi dari kehidupan Rizal. Kemungkinan – kemungkinan seperti itu yang Dena takutkan jika dia menyuruh Adisti langsung untuk menjauhi Rizal. Dia tidak ingin di cap oleh orang yang tengah menjadi target yang empuk untuk di bullyy olehnya itu sebagai orang yang gampangan dan masih mengharapkan orang yang sedang dekat dengan targetnya itu. “Hah, ga akan pernah.” Kata Dena bermonolog setelah dia lama diam duduk bersama teman – temannya yang lain. “Kenapa Den?” tanya Gita yang baru saja mendengar desahan Dena dengan gumaman yang tidak jelas keluar dari mulut Dena yang bahkan tidak pernah mengeluh seperti itu. Dena menggeleng setelah menydari bahwa gumamannya terdengar oleh orang lain selain dirinya sendiri. Kemudian, dia menghela nafasnya. “Udahlah, kita kan mau seneng – seneng malam ini.” Kata Dhanti seakan memberikan kesan positif untuk hari ini dan malam ini tentu saja. Mereka benar – benar akan pergi ke club malam ini. Mereka akan senang – senang di sana. Namun, di pikiran Dena, masih ada saja bayangan Rizal yang terus menerus membela Adisti yang bahkan bukan siapa – siapa untuk Rizal namun masih diperjuangkan dalam artian untuk tidak bisa di sentuh oleh seorang Dena. Itu yang membuat mood Dena hilang sejak sore tadi. “Cari cowok lah Den, mayan buat nemenin malam ini.” Kata Gita lalu menarik Dena yang tadi duduk di kasurnya. Dena tertarik lalu dengan langkah berat dia mengikuti mereka yang ‘katanya’ mencari cowok yang bisa dimanfaatkan malam itu. Tentu saja. Manfaatkan dalam kamus mereka uang dan juga badan. Dena tertawa dalam hati. Sejak kapan dia seperti itu? * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Adisti masih saja diam di kamarnya walaupun ini sabtu malam. Dia benar – benar tidak ada kegiatan lagi setelah menyelesaikan tugasnya. Dia baru saja tiduran sebentar dan mencari inspirasi untuk menulis caption atau sekedar upload beberapa kata di feed instagramnya setelah membantu neneknya mencuci piring setelah makan malam. Neneknya benar – benar sama sekali tidak mengungkit hal yang terjadi kemarin di kampusnya. Di saat ditanya oleh kakeknya Adisti, neneknya hanya berkata urusan uang sekolah. Begitulah intinya. Kakeknya bahkan memberikan uang lebih untuk bisa dibayarkan terhadap uang sekolah milik Adisti. Sempat merasa tidak enak, Adisti sampai meminta maaf untuk hal itu. “Kenapa minta maaf?” kata kakenya di meja makan itu. Adisti menunduk tidak bisa menatap kakeknya, “kalau saja Adisti pintar dan dapet beasiswa, mungkin kakek udah pensiun dan terus ada dalam rumah. Ga perlu kerja lagi.” Ucap Adisti pelan. Kakeknya terkekeh, “itu bukan uang kakek, Dis.” Kata kakeknya yang membuat Adisti kini berani menatap wajah kakeknya yang tersenyum lembut, “itu uang hak kamu. Dari orang tua kamu dulu.” Kata kakeknya lagi. Adisti tesenyum kecil membalas senyuman tulus kakeknya. Iya. Selain menjadi salah satu dosen, pekerja kantoran dan juga supir pribadi Adisti walaupun tidak digaji, kakeknya juga mengelola bisnis yang ditinggalkan oleh orang tua Adisti. Mungkin jika Adisti sudah lulus, dia akan meneruskan bisnis itu sendiri dengan belajar dari kakeknya. Adisti merasa sedikit tenang jika kakeknya bisa tersenyum tulus seperti itu. Selain tegas, kakeknya ebnar – benar sangat perduli pada Adisti walaupun akdnag – kadang Adisti merasa kesulitan untuk eberkomunikasi dengan kakeknya. Entah itu kakeknya yang terlalu pintar atau bhakn Adisti yang telalu bodoh. Kadang – kadang, Adisti merasa insecure jika harus berhadapan dengan kakeknya yang bisa dikatakan sper pintar dalam dunia bisnis. Adisti merasa sangat jauh di bawah kakeknya saat itu. “Dis, kamu janjian sama temenmu?” tanya neneknya, yang mengetuk pintu kamarnya sebelum dia berbicara. Adisti terbangun dengan refleks dari tidurannya. Janjian? Sama temen? Bahkan Adisti tidak punya teman yang bisa diajak keluar malam – malam seperti ini. “Kenapa emangnya nek?” tanya Adisti lalu membuka pintu kamarnya dan melihat neneknya tersenyum kecil. “Ada orang diluar pagar. Dia kayak mau masuk sini tapi malu gitu.” Kata neneknya dengan nada yang sedikit menggoda kepada cucunya itu. Adisti mengerutkan keningnya, “ga ada janjian kok.” Kata Adisti kemudian berjalan keluar kamarnya untuk melihat siapa yang dimaksud neneknya ada di depan pagar, “astaga.” Kata dia setelah melihat dari jendela. “Temenmu?” tanya neneknya pelan. Adisti menggaruk tekuknya, “Disti, keluar bentar ya nek.” Kata Adisti canggung. Bagaimana tidak canggung, di luar ada cowok dengan jaket kulit hitam dan helm yang sudah disimpan di atas motor gedenya. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Jadi, kenapa kakak ke sini? Bukannya ke rumah sakit atau klinik?” tanya Adisti setelah mencoba mengobati beberapa luka di wajah Rizal yang sedikit babak belur. Benar. Yang tadi memakai jaket kulit hitam dengan motor gede di sampingnya dan berjalan mondar -mandir di depan pagar rumah milik Adisti adalah Rizal. Dengan wajah babak belur seperti digebukin orang – orang dan seperti maling yang dihakimi warga. “Lo serius nanyanya itu?” tanya Rizal setelah Adisti membereskan kotak p3k milik neneknya di rumah. Untung saja neneknya pengertian dan membiarkan Rizal duduk di teras rumahnya dan memberikan kotak p3k ketika Adisti meminjamnya. “Ya terus mau nanya apa lagi selain itu?” keluh Adisti yang bahkan pertanyaan sebelumnya belum terjawab sepenuhnya oleh Rizal. “Ga mau nanya gue kenapa gitu?” tanya Rizal lalu mengambil minuman yang sudah dibuatkan neneknya ketika dia masih diobati oleh Adisti. Adisti diam. Sebenarnya, itu adalah pertanyaan pertama kali muncul di dalam otaknya ketika melihat Rizal datang padanya dengan wajah seperti itu. Namun, dia lebih penasaran akan hal yang pertama kali ia tanyakan kepada Rizal ketika Rizal sudah ada di sini. Dia menggeleng, “pertanyaan pertama aku lebih menarik daripada pertanyaan yang diinginkan kak Rizal.” Ucap Adisti kemudian. Rizal terkekeh, “lo beneran beda dari yang lain, Dis.” Ucap Rizal sambil menepuk puncak kepala Adisti pelan. “Apaan sih?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN