XVIII : PERJANJIAN MALAM HARI DAN DATANG PAGI HARI
Yang terpenting dan yang dapat disimpulkan oleh Adisti saat Rizal datang ke sini dengan luka di wajahnya yang bisa disebut sebagai luka babak belur adalah Rizal tidak punya tempat lain yang ingin ia tuju selain ke sini.
Rizal menceritakan jika dirinya tidak berfikiran untuk ke tempat yang lain selain untuk datang ke sini dan bertemu dengan Adisti. Ketika Adisti menanyakan mengapa, Rizal menggeleng kecil dan menjawab.
“Gue juga ga tau.” Kata Rizal pelan.
“Sampe sini aja kak.” Kata Adisti lalu memangku kotak p3k di pahanya.
Rizal menatap Adisti, “maksudnya?’ tanya Rizal tidak mengerti dengan maksud yang dibicarakan oleh Adisti.
Adisti sendiri bingung. Kenapa juga Rizal tidak mengerti hal seperti itu padahal intinya cukup simple dan cukup untuk di cerna. “Ya sampai sini aja.” Kata Adisti kemudian mengatakan hal yang sama dengan kalimat sebelumnya. “Aku cuman bisa ngobatin kakak, ga bisa lama – alma juga. Udah malem.” Kata Adisti lagi menjelaskan apa yang ia maksud.
Anggukan dari Rizal menunjukkan bahwa dirinya mengerti akan hal yang dimaksud oleh Adisti sekarang. “Iya, gue juga ga minta lebih kok.” Kata Rizal lagi, “emangnya lo mau ngasih gue apa selain obat ginian?” tanya Rizal sambil menunjuk kotak p3k yang sedang dipangku oleh Adisti.
Kemudian dengan polos Adisti menjawab, “ya ga bisa ngasih makan gitu.” Kata Adisti.
Perkataan dari Adisti yang barusan membuat Rizal terkekeh pelan. Dia benar – benar tidak menyangka bahwa dia bisa bertemu dengan orang sereceh Adisti. Dia benar – benar tidak tahu apa yang dilakukan olehnya itu menggemaskan dimata Rizal.
“Gue ga butuh makan, Dis.” Kata Rizal pelan, “gue cuman butuh ketemu lo doang.” Kata Rizal menambahkan kalimat pertamanya.
Adisti tertawa, “iya aku tau. Kan kakak buka tipe orang yang suka minta – minta.” Ucapnya.
Rizal tertawa lagi.
Adisti ini benar – benar membuatnya berbeda. Mungkin Adisti tidak pernah tahu bahwa dirinya bisa membuat Rizal sangat berubah, berbeda dari sebelumnya. Selain orang yang dulu pernah ada di sampingnya, perempuan seperti Adisti adalah perempuan yang benar – benar langka.
“Okay.” Ucap Rizal setelah meredakan tawanya, “gue pamit kalo gitu.” Tambah Rizal lalu bangkit dari duduknya.
Adisti mengangguk ketika Rizal sudah berjalan melewati pagar rumahnya yang hanya sebatas d**a orang dewasa itu. Lalu Adisti kaget dengan apa yang dilakukan Rizal padanya yang sedang mengantar Rizal dengan sopan untuk keluar dari halamannya.
Rizal memutar badannya lalu menatap Adisti lembut, “besok gue ke sini lagi, boleh?” kata Rizal pelan.
Adisti yang sedikit menanggah itu berucap, “huh?” katanya dengan refleks. “Boleh – boleh aja kalo main doang mah.” Kata Adisti mengingat besok adalah hari liburnya.
Biasanya dia membantu neneknya dikebun atau bahkan sekedar membereskan rumah yang kadang – kadang masih suka sedikit kotor walaupun diberihkan setiap hari.
“Ngajak lo pergi, boleh ga?” tanya Rizal lagi.
Lagi – lagi Adisti menjawab dengan kata, “hah?”
Rizal menepuk kepala Adisti lembut, “gue ngajak lo pergi keluar besok.”
Anggukan ragu dari Adsiti membuat Rizal tersenyum lembut, “tapi setidaknya, kakak harus ijin ke kakek aku dulu sih.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Adisti ada di kamarnya begitu melihat ada mobil di depan rumahnya. Entahlah, namun Rizal mengatakan bahwa dirinya akan membawa mobil milik orang tuanya saat bertemu lagi dengan Adisti besok. Mungkin ini waktunya.
Dia sendiri ada di kamar gara – gara melarikan diri dari kakeknya yang mungkin akan sedikit keras kepada orang yang akan mengajak Adisti pergi. Maka dari itu, dia tidak ingin ada di sana. Menemani Rizal. Tidak mungkin.
Yang bisa ia lakukan adalah menempelkan telinganya ke pintu kamarnya agar bisa mendengar apa yang dikatakan oleh mereka di luar sana.
Neneknya yang menerima Rizal dari luar dan membawa masuk kea rah kakeknya yang sedang membca koran pagi itu. Cukup pagi, karena kata Rizal dia akan membawa Adisti ke tempat bagus maka dari itu dia butuh waktu untuk mencapai ke sana.
Ini pertama kalinya Adisti mengenalkan teman laki – lakinya kepada kakek dan neneknya. Mungkin untuk sang nenek akan lebih mudah menerimanya, karena dari semalam neneknya tidak ada hentinya menggoda sang cucu yaitu dirinya karena berani sekali dikunjungi seorang laki – laki ke rumah.
Padahal kenyataannya, Rizal datang sendiri tanpa janjian apapun dengan Adisti.
Kali ini, dengan samar Adisti mendengar Rizal membuka suaranya untuk ijin kepada sang kakek untuk mengajak cucu perempuannya keluar dengan alasan jalan – jalan. Kakeknya mungkin akan bingung dengan alasan itu. Namun, diluar dugaan. Kakeknya dengan mudah mengijinkan Adisti untuk di bawa main ke luar pada hari minggunya.
Biasanya, hari minggu itu digunakna untuk kumpul dengan keluarga. Namun, berbeda dengan hari ini yang cukup cerah untuk main keluar dari rumah, kakeknya mengijinkan Adisti keluar bersama Rizal.
Berdua.
“Dis, dipanggil kakek.” Kata neneknya yang mengetuk pintuk kamarnya dari luar.
Adisti berdeham kecil sebelum menjawab, “iya nek.”
Dia keluar dengan pakaian rumahan biasanya, “kok belum ganti baju?” tanya neneknya yang membuat kakek dan Rizal menatap kea rah Adisti.
Adisti terkekeh kemudian menggaruk tekuknya, “takut ga diijinin pergi.” Kata Adisti lagi masih dengan kekehannya.
“Pakai baju yang bener, Dis.” Kata kakeknya kemudian membalik korannya, “cowokmu saja dandan rapi gitu.” Lanjutnya.
Adisti melotot, “apaan yang cowokku?” ujarnya lalu pergi lagi ke kamarnya dan mengganti baju yang agak bagusan dikit.
Kaus lengan pendek dan celana jeans biru navy kini dipakainya. Dia membawa jaket juga entah kenapa lalu memoleskan bedak tabur bayi kemudian olesan liptin di bibirnya. Selesai. Dia tidak ingin hari ini menjadi sangat special.
“Hanya main dengan teman, laki – laki.” Kata Adisti di dalma kamarnya sendiri. Dia mengangguk dan menuju keluar setelah mendapatkan tas slempang yang sudah diisi uang seadanya.
Dia punya tabungan kecil. Namun, tidak mungkin ia membawa semuanya. Dia akan berhemat selama main ini. Makan atau minum yang terjangkau saja.
Adisti keluar lalu berpamitan pada kakek dan neneknya.
“Jangan pulang malem – malem ya.” Kata Kakeknya kemudian melanjutkan lagi membaca koran yang sedang ia pegang itu.
Adisti mengangguk, “okay kek.” Ucap Adisti, “pergi dulu, kek, nek."