XIX : KENANGAN BANDUNG DI PIKIRAN ADISTI

1030 Kata
XIX : KENANGAN BANDUNG DI PIKIRAN ADISTI “Emangnya kita mau kemana?” tanya Adisti setelah berjalan cukup jauh dari rumahnya dengan menggunakan mobil orang tua Rizal. Rizal tersenyum, “nanti lo tau sendiri.” Jawabnya. Sebenarnya, harusnya Adisti tidak terlalu percaya pada Rizal yang mengatakan bahwa dirinya akan mengajak Adisti untuk melihat atau bahkan mengajak jalan – jalan yang ‘katanya’ tempatnya bagus. Lagi pula, Adisti dan juga Rizal belum lama kenal. Seharusnya, Adinda harus merasa curiga ketika seorang yang dikenalnya tidak lama mengajaknya main keluar. Namun, beda rasanya ketika Adisti menjalaninya. Dia tidak merasa apa – apa. Tidak merasa ada yang aneh. Atau mungkin karena Adisti ini terlalu polos untuk hubungan antara laki – laki dan seorang perempuan seperti dirinya kini bersama Rizal? Mungkinkah Rizal akan seburuk itu untuk seorang Adisti. We never know. Tapi, yang sedang menjalankannya seorang Adisti yang tidak berharap apapun dari seorang Rizal. Dia hanya ingin keluar bermain seperti orang seusianya. Dia ingin mengenal dunia luar yang katanya luar biasa itu. Pasalnya, Adisti benar – benar tidak pernah keluar seperti ini. Jalan – jalan ataupun sekedar sengaja bertamasya walaupun sekedar hanya jalan – jalan bersama mobil yang dikendarai kakeknya. Pada intinya, dia selalu menghabiskan waktunya di rumah. Dengan setumpuk pekerjaan rumah yang terkadang neneknya juga serig memanggil seseorang yang bisa membantunya menyelesaikan pekerjaan itu. Namun, jika ada Adisti, neneknya menjadi lebih mudah. Karena menggaji orang yang bekerja untuk di rumah mungkin akan sedikit repot. Namun, jika kepepet, itu akan dilakukan sang nenek dengan persetujuan kakeknya. Mungkin hari ini neneknya akan memanggil orang yang biasa membersihkan rumah dan jga membereskan rumahnya karena Adisti tidak bisa membantu banyak. “By the way, lo cuman tinggal sama kakek dan nenek lo aja?’ tanya Rizal membuka percakapan yang bahkan sebenarnya dari awal Adisti tidak enak karena pertanyaan awalnya itu. Adisti mengangguk kecil dan tersenyum tipis untuk Rizal, “ya seperti yang terlihat.” Jawabnya. “Orang tua lo kemana?” tanya Rizal lagi. Benar dugaan Adisti. Dia sudah menemukan pertanyaan selanjutnya sebelum pertanyaan sebelumnya dijawab oleh dirinya. Dia benar – benar sangat menghindari pertanyaan ini ketika mengenal seseorang. Dia benar – benar tidak ingin menjawabnya namun harus. Dia mungkin sudah harus bisa membuka suaranya mengenai ini. Dia harus mulai terbiasa dengan pertanyaan ini dan mungkin dia juga harus bisa mulai menerima keadaannya saat ini. “Udah meninggal.” Kata Adisti pelan. Rizal bukan seperti Rizal yang dibicarakan tentunya. Dia mulai menyikapi jawaban dari pertanyaannya untuk Adisti dengan mulai bersikap tidak enak. Dia tidak mengatakan apapun lagi selain mengatakan kata ‘sori’ walaupun tidak terdengar begitu jelas di telinga Adisti namun sedikit saja suara itu bisa tertangkap oleh gendang telinganya. “Gapapa kak, kayaknya, aku mungkin harus belajar terbiasa dengan pertanyaan seperti itu dari siapapun termasuk kakak.” Ujar Adisti tak kalah pelan. Selanjutnya, hanya hening di dalam mobil itu. Hanya suara deru angina dari AC yang dinyalakan di mobil. Tidak ada yang berbicara dan tidak ada yang ingin memulai. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Bandung. Rizal meneruskan perjalannya sampai ada papan penunjuk jalan yang seakan mengatakan bahwa sekarang, hari ini dan waktu ini Adisti menuju kea rah Bandung. Kota yang paling dihindari oleh Adisti semenjak kejadian itu. “Lo pernah ke Bandung?” tanya Rizal lagi. Mungkin Rizal cukup tidak nyaman dengan keadaan yang bahkan menurutnya sudah biasa bersama orang lain. Namun, dia tidak biasa dengan Adisti bersikap canggung apalagi tidak ada obrolan di antara mereka berdua. Lagi – lagi anggukan dan senyuman canggung yang diperlihatkan oleh Adisti. Dia benar – benar tidak bisa mengutarakannya. Dia juga tidak bisa membatalkan perjalanan yang ingin Rizal coba jalankan sekarang. “Udah lama banget.” Jawab Adisti. “Oh ya?” tanya Rizal, “kemana lo kalo main ke Bandung?” tambahnya. Adisti menggaruk tekuknya yang tidak gatal, “dulu aku tinggal di Bandung dari sd sampai tamat sd kak.” Ucapnya, “cuman pindah ke Jakarta pas smp sama sma.” Katanya lagi, “sampai hari ini udah lama banget ga ada dateng ke kota Bandung.” Rizal mengangguk, “sd ya?” tanya Rizal, “lo berarti ga banyak main dulu.” Kata Rizal lagi. Dia mengangguk kecil membayangkan bagaimana keadaan saat Adisti di Bandung di tahun 2008 sampai 2009 nan, “ga banyak tempat wisata yang bagus tahun itu?” tanya Rizal lagi. “Banyak sih, cuman aku belum mau main aja. Belum tau main sama temen juga. Taunya ya sama keluarga aja.” Jawab Adisti pelan. Lagi, Rizal mengangguk untuk setiap jawaban Adisti. “Kita mau ke Bandung?” tanya Adisti memastikan yang ditujunya adalah kota yang cukup dihindarinya. Rizal mengangguk, “iya.” Ucapnya singkat, “kenapa?” tanya Rizal melihat ekspresi Adisti yang tidak begitu semangat mendengar bahwa mereka akan ke Bandung. Padahal, awalanya, Rizal menginginkan ekspresi yang menyenangkan yang di eperlihatkan Adisti ketika dia mengetahui kemana mereka akan pergi. Namun, ekspresi Adisti tidak sebagus ekspetasi dari seorang Rizal. “Ada masalah dengan Bandung?” tanya Rizal lagi. Adisti menggeleng cepat kemudian terkekeh, “engga.” Katanya cepat, “cuman udah lama aja ga ke Bandung jadi agak aneh aja.” Ucapnya pelan. Rizal tersenyum, “ya pokoknya tempatnya bagus deh.” Kata Rizal, “lo lebih inget kenangan apa saat lo tinggal di Bandung?” tanya Rizal lagi. Yang pasti, Adisti tidak bisa langsung menjawab kejadian dan kenangan yang paling ia ingat itu adalah kenangan dimana dirinya harus pindah dari Bandung ke Jakarta. Dia benar – benar tidak bisa langsung menjawabnya karena beberapa hal. Pertama itu, dan yang kedua adalah kenangan di Bandung di pikiran Adisti benar – benar sudah hilang. Akibat satu kejadian dimana dirinya tidak ingin mengingat apapun lagi dari Bandung. Sekalinya ingat tentang Bandung adalah hal buruknya. Padahal, mungkin saja ada hal indah untuk dikenang. Namun, untuk sekarang kenangan indah itu hancur lebur karena satu hal yang membuat Adisti tidak bisa mengingatnya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN