Mentari bangun pagi dengan perasaan yang sama dengan kemarin. Penuh rasa kesal dan malas, apalagi jika teringat oleh satu sosok di sekolah yang membuat harinya buruk sejak dua hari belakangan. Sungguh, Mentari tidak pernah menyangka bahwa hari-harinya sebagai murid baru akan semenyebalkan ini. Hanya dalam dua hari dia merasa sudah kehilangan segalanya di hadapan teman-teman sekolahnya. Harapannya agar tidak kelihatan terlalu menonjol di sekolah hancur seketika. Dia sukses menjadi pusat perhatian, tapi bukan untuk sesuatu yang baik. Mentari berjalan ke ruang makan dengan lesu. Namun, kali ini tidak ada sosok yang menanyakan alasan di balik wajah masamnya. Benar, saat sampai di ruang makan Mentari sama sekali tak melihat sosok sang kakak di sana. Hal ini membuatnya sedikit heran, tapi sesaa

