“Nggak mungkin ….” Mentari menangis sambil menatap layar televisi. Dia benar-benar terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa. Berita mengenai kecelakaan pesawat yang dia lihat di televisi berhasil membuatnya linglung, apalagi setelah dia menyadari itu adalah pesawat yang membawa Marcel. Sungguh, Mentari tidak tahu apa yang sedang dirasakannya ini, tapi dadanya terasa begitu sesak, seolah ada batu besar yang menekannya. Mentari terus memantau berita di televisi, berharap dia bisa mendapatkan informasi mengenai para korban. Segala macam do’a dia panjatkan demi keselamatan para penumpang, khususnya Marcel yang merupakan salah satu di antaranya. Drrt! Drrt! Getaran ponsel di saku celana berhasil mengembalikan kesadaran Mentari lagi. Cepat-cepat Mentari memeriksanya. Sebuah nomor asing meng

