Bab 2. Bertemu Malaikat Penolong

1505 Kata
Disinilah Gendis berada, tengah duduk tegang di sebuah sofa panjang dengan pakaian yang terlalu mini. Musik menghentak keras, memekakkan telinga hingga terasa menggetarkan d**a. Lampu kelap-kelip warna-warni beberapa kali menyorot ke tempat wanita itu, membuat kedua matanya silau merasa tidak nyaman. Gendis berulang kali menarik baju bagian bawahnya untuk menutupi paha yang terekspos. Tangannya juga refleks menutup bagian depan baju yang terlalu rendah, yang memperlihatkan garis tengah buah d**a. Seorang pria paruh baya berperut buncit tengah duduk di sampingnya, yang sejak tadi tidak berhenti menenggak minuman dari botol berwarna gelap sambil meracau tak jelas. Pria itu adalah pelanggan pertama Gendis pilihan Mami Sela. Kata Mami Sela, pria itu adalah seorang bos tambang batu bara dengan kekayaan triliunan rupiah. Jika Gendis berhasil memuaskannya malam ini, bonus yang dijanjikan tidak main-main, jumlahnya sangat besar dan menggiurkan. Tapi kenyataanya, jangankan untuk melayani, berada di sisi pria itu saja Gendis sama sekali tidak merasakan kenyamanan. Setiap kali pria itu mendekat, ia selalu refleks menjauh. Selain merasa risih, perutnya juga terasa mual setiap kali mencium bau alkohol yang menyengat dari nafas pria itu “Kenapa menghindar terus, sih? Om ’kan pengen dekat-dekat. Namamu siapa, Sayang?” ujar pria itu dengan nada genit. Tubuhnya terus memepet Gendis, sementara tangannya dengan lancang meraba paha Gendis yang terekspos. Gendis tidak menjawab. Ia justru terus menjauh, menjaga jarak sejauh yang ia bisa. Wajahnya mulai pucat menahan rasa tidak nyaman pada perut karena mual yang semakin menjadi. Saat rasa ingin muntah tak tertahankan lagi, ia segera mendorong kasar tubuh pria itu, lalu bangkit dari sofa berniat menjauh.. Perutnya terasa begah dan bergejolak. Langkahnya tampak sempoyongan. Ia berjalan sambil menutup mulut, berusaha menahan sesuatu yang sudah naik ke tenggorokan. “Hei, kamu mau ke mana?” seru pria itu sambil meraih kasar pundak Gendis, memaksa wanita itu berbalik menghadap ke arahnya. Detik berikutnya, keinginan untuk muntah tak lagi bisa dibendung. Gendis memuntahkan seluruh isi perutnya tepat pada kemeja pria itu. Pria itu seketika berteriak marah, wajahnya merah padam. Karena kesal, ia mendorong tubuh Gendis hingga wanita itu hingga tersungkur di bawah kursi bar. Gendis refleks mendekap erat perutnya, berusaha melindungi janin yang sedang berjuang tumbuh di dalam sana. Kejadian itu dalam sekejap menjadi pusat perhatian. Semua mata tertuju padanya. Lantai bar menjadi saksi betapa buruk dan memalukannya Gendis malam itu. Tatapan jijik semua orang seakan menghakiminya. Beberapa pengunjung tampak saling berbisik disertai tatapan sinisnya. Para pegawai kebersihan bergerak cepat membersihkan sisa muntahan di lantai. Gendis menahan diri agar tidak menangis, tetapi tubuhnya gemetar hebat, saat rasa takut dan malu bercampur menjadi satu. Tak lama berselang, Meisya segera menarik kasar tubuhnya ke belakang. Gendis dibawa ke sebuah ruangan, yang tidak lain adalah ruangan Mami Sela. Mami Sela menatapnya dengan penuh amarah. Keributan malam itu dengan cepat menyebar sampai terdengar ke telinganya. Di dalam ruangan itu, ada beberapa anak buah yang berjaga, serta Meisya yang sejak tadi duduk satu sofa dengan Gendis. “Baru sehari, Gendis! Baru sehari! Kamu sudah bikin pelanggan marah!” Suara Mami Sela menggema di ruangan yang tidak terlalu luas itu. Kilatan amarah tergambar jelas pada sorot matanya. Gendis hanya bisa menunduk, menghindari tatapan tajam wanita itu yang terasa seperti mata pisau siap mengoyak dirinya hidup-hidup. “Mei, jelaskan! Bagaimana dia bisa muntah? Apa dia minum terlalu banyak?” tanya Mami Sela dengan nada membentak sambil menunjuk ke arah Gendis. “Enggak, Mi. Dia nggak nyentuh minuman sama sekali. Aku perhatiin dari tadi dia cuma diam,” jawab Meisya dengan suara pelan, penuh ketakutan. Suasana hening sesaat, sebelum akhirnya Gendis memberanikan diri membuka suara. “Aku hamil,” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar. Mami Sela dan Meisya sontak menoleh ke arahnya. Ruangan itu mendadak sunyi, bahkan suara musik yang berdentum dari luar sana seakan menjauh begitu saja. “Apa? Katakan sekali lagi!” titah Mami Sela dengan tatapan tak percaya, seolah baru saja mendengar lelucon terburuk sepanjang hidupnya. “A-aku hamil, Mi … satu bulan,” ulang Gendis dengan suara bergetar. Mami Sela terdiam beberapa detik sebelum akhirnya memaki keras. “Sialan kamu! Jangan bercanda, Gendis. Candaanmu gak lucu!” Air mata Gendis langsung tumpah membasahi pipi. Sebuah gelengan pelan ia tunjukkan sebagai jawaban. “Aku nggak bercanda, Mi… aku memang hamil. Usianya baru empat minggu. Aku bisa buktiin kalau Mami nggak percaya,” ucapnya sambil terisak, dengan kepala tertunduk dalam. “Kenapa nggak bilang dari awal?!” teriak Mami Sela, suaranya semakin tinggi. “Aku rugi, Gendis! Rugi besar!” Gendis menunduk semakin dalam, tak berani menatap wajah wanita berdandan menor itu. “Maaf, Mi…,” hanya itu yang mampu terucap dari bibirnya. “Maaf-maaf! Maafmu nggak bisa nutupin kerugianku!” bentak Mami Sela. “Aku keluarin duit banyak buat dandanin kamu! Nyariin kamu pelanggan! Tapi kamu malah–” Karena terlalu kecewa, wanita paruh baya itu sampai tak bisa melanjutkan ucapannya. “Maaf, Mi ...." “Gak usah minta maaf!” Mami Sela tiba-tiba menarik rambut Gendis dengan kasar, membuat kepala wanita itu mendongak dan memaksa wanita itu menatap ke arahnya. “Balikin duitku! Semuanya! Totalnya 15 juta!” Mata Gendis membelalak tak percaya. “Lima belas juta? Aku … aku nggak punya uang sebanyak itu, Mi,” ucapnya dengan nada penuh ketakutan. “Bukan urusanku! Pokoknya balikin uangku!” teriak Mami Sela. Mami Sela menghempaskan kasar kepala Gendis hingga nyaris membentur lantai. Akan tetapi, Gendis hanya bisa terisak, tanpa tahu harus berbuat apa. Suara keributan itu berhasil mengusik ketenangan seorang pria yang ada di ruangan sebelah. Mata yang semula terpejam seketika terbuka. Whisky yang sejak tadi ada di tangan, ia tenggak perlahan sambil memberi isyarat tangan pada asistennya untuk mendekat. “Ada apa di ruangan sebelah? Kenapa ramai sekali?" tanyanya dengan suara serak, seraya memijat pelipis yang terasa pening. Niatnya kemari ingin menenangkan pikiran yang kacau atas tuntutan sang kakek yang tidak bisa ia penuh. Kini, justru dibuat semakin pusing dengan keributan yang ada di ruangan sebelahnya. "Ada anak baru yang buat masalah, Tuan. Dia membuat Mami Sela murka karena mengalami kerugian besar,” jawab Tito lugas dan sopan. "Masalah seperti apa sampai buat si Sela ngamuk kayak orang kesetanan? Biasanya dia gak gitu kalau ada anak buahnya yang kerja gak becus.” "Dia hamil, Tuan … dan Mami Sela menuntut ganti rugi dalam jumlah besar.” "Hamil?” tanya pria bernama lengkap Barata Wirasena itu dengan kening berkerut. Sedetik kemudian, segaris seringai terbit di bibirnya saat menemukan solusi atas masalah yang tengah ia hadapi. “Tebus dia sekarang, To! Aku ingin wanita ini," kata Bara seraya bangkit tempat duduknya. "Tap-tapi, Tuan … dia ‘kan–" Belum sempat Tito menyelesaikan ucapannya, Bara telah lebih dulu menyela. “Jangan banyak tanya! Aku gak peduli siapa pun dia. Aku ingin wanita ini!” Suara tegas Barata berhasil membungkam mulut Tito yang cerewet. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah menerima titah dari sang tuan. Sesampainya di ruangan yang dituju, Bara segera membuka kasar pintu itu. Dari ambang pintu, ia bisa melihat jelas seorang wanita berpakaian seksi tengah tersungkur di lantai dengan keadaan yang menyedihkan. Semua orang tampak terkejut melihat kedatangannya, terutama Mami Sela. Wanita berdandan menor itu seketika mengubah mimik wajah penuh amarah menjadi mimik ramah yang dipaksakan. "Tu-Tuan–" ucapnya dengan nada tercekat. Keangkuhan yang sejak tadi ditunjukkan seakan lenyap begitu saja saat berhadapan dengan Bara. “Aku bersedia membayar lebih. Asal wanita ini jadi milikku seutuhnya,” kata Bara seraya menunjuk ke arah Gendis. Wajahnya tampak tenang, dengan mata tajam mengamati situasi sekitar sebelum akhirnya tertuju pada Gendis. Tatapan mereka bertemu, membuat nafas wanita itu seakan tercekat. “Berapa kerugianmu?” tanya pria itu pada Mami Sela tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Gendis. “15 juta, Tuan,” jawab Mami Sela cepat bercampur gugup. “Aku akan bayar 20 juta.” Bara menyerahkan kartu hitam miliknya pada Tito, meminta Tito untuk mengurus transaksi tersebut. Mami Sela memerintahkan satu anak buahnya untuk melayani pembayaran pelanggan eksklusif di depannya. Tak butuh waktu lama, transaksi mereka telah selesai dan Tito menyerahkan kembali black card tersebut pada tuannya. Senyum di wajah Mami Sela mengembang sempurna saat melihat saldo di M-banking miliknya bertambah. Sampai suara berat Bara berhasil mengalihkan perhatiannya. “Mulai sekarang, wanita ini sudah menjadi milikku. Jangan coba-coba untuk mengusiknya lagi, apapun yang terjadi.” Bara memberi peringatan keras disertai tatapan tajamnya. Tatapan yang berhasil membuat semua orang tak berkutik. Tidak ada yang bisa dilakukan Mami Sela selain mengangguk patuh. Ia tidak berani melawan peringatan pria itu jika tidak ingin tempatnya ini rata dengan tanah. Bara melangkah mendekati Gendis yang masih tersungkur di lantai. Jas abu-abu yang melekat di tubuhnya ia lepaskan, lalu dipasangkan ke tubuh Gendis, tanpa lupa mengancingkannya dengan rapi. Setelah jas itu terpasang sempurna, Bara membantu Gendis berdiri. Wanita itu hanya bisa pasrah mengikuti langkah Bara yang menuntunnya keluar dari ruangan. Tatapan Gendis tak lepas dari rahang tegas di depannya. Sesaat kemudian, pandangannya beralih pada tangan Bara yang menggenggam lembut jemarinya. Tak lama berselang, keduanya tiba di area parkir. Tito dengan sigap membukakan pintu mobil untuk sang atasan. Namun, sebelum benar-benar memasuki mobil, Gendis menghentikan langkahnya, lalu memberanikan diri bertanya, “Tuan, kenapa Anda menolong saya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN