bc

Dijual Suami Mokondo Dibeli Duda Tajir

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
revenge
family
HE
forced
pregnant
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
city
affair
addiction
like
intro-logo
Uraian

Disaat sedang mengandung, sang suami tega menjual Gendis pada seorang m*******i untuk dijadikan koleksi wanita penghibur di sebuah bar, demi mendapatkan uang untuk kesenangan suaminya.

Seolah takdir baik masih berpihak padanya, kemalangan yang menimpa Gendis tak berlangsung lama. Seorang duda kaya bernama Barata Wirasena datang bak malaikat penolong yang bersedia membebaskannya dari tempat terkutuk itu.

Tidak hanya membebaskan, Bara bahkan bersedia menerima calon buah hatinya dan mau mengakuinya sebagai anak.

Kebaikan dan ketulusan hati Bara berhasil menyentuh hati Gendis. Namun, kekaguman yang sempat dirasakan wanita itu dalam sekejap sirna berubah menjadi kekecewaan saat mengetahui sebuah fakta.

Bara menyimpan sebuah rahasia besar yang menyangkut privasinya. Kebaikan yang ditunjukkan Bara tidak sepenuhnya tulus. Dirinya dan bayinya hanya dijadikan alat untuk mencapai tujuan pria itu.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Dijual Suami Tak Tahu Diri.
“Bagaimana, Mi? Istriku cantik 'kan? Tinggal didandani sedikit, dia akan jadi primadona di tempat mami.” Kalimat itu meluncur bebas dari mulut Arman seperti sedang memamerkan barang dagangan di pasar. Gendis menatap nanar sang suami, menolak percaya bahwa suaminya sendiri tega menawarkan dirinya seperti barang bekas ke toko loak. Padahal jelas-jelas Arman tahu jika saat ini dirinya tengah berbadan dua, mengandung darah dagingnya. Seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor–yang tak sesuai umur dan bergaun ketat tampak berdiri di depan sepasang suami istri itu. Parfum berbau menyengat seketika menusuk penciuman Gendis ketika wanita itu mulai mendekatinya. Ia tampak tersenyum mengamati wajah ayu Gendis seolah sedang melihat hadiah undian. Wanita itu sering di sebut Mami Sela–seorang m*******i di bar terbesar yang ada di pusat kota. Tangannya yang bernail art merah terang meraih dagu Gendis, memutar wajahnya ke kanan dan ke kiri seolah sedang menilai kualitas barang lelang. Satu sudut bibirnya terangkat sedikit, menunjukkan senyum penuh kepuasan, sebelum akhirnya mendorong ringan wajah Gendis setelah memastikan tidak ada lecet sama sekali. “Cantik juga istrimu, Man … mau harga berapa?” “20 juta, aku butuh uang segitu, Mi,” sahut Arman dengan entengnya. Gendis refleks menoleh cepat mendengar jawaban sang suami. “20 juta?! Tega kamu, Mas. Bisa-bisanya kamu–” Perkataan Gendis terhenti saat mendapat pelototan dari suaminya yang memintanya untuk diam. Kedua mata wanita itu mulai memanas dengan tenggorokan tercekat. Ingin sekali, ia mengatakan keadaan dirinya yang sebenarnya, tetapi semua kata yang siap dilontarkan serasa tertahan di tenggorokan. Ia menatap lekat sang suami, berharap suaminya akan sadar, berharap suaminya ragu, dan berharap suaminya masih memiliki sedikit rasa iba sebagai manusia. Tapi harapan wanita itu hanyalah kesia-siaan belaka. Arman justru berdiri santai, menatap ke arahnya dengan pandangan meremehkan, seolah harga diri Gendis tak lebih berharga dari sebungkus rokok di tangannya. Mami Sela berdecak pelan. “Kemahalan itu, Man. Istrimu ini masih polos. Aku harus keluarin modal lagi buat ngajarin dia, buat dandanin dia. Harga segitu nggak masuk di akal.” Gendis memejam erat, saat jiwanya seperti ditelanjangi di depan orang asing. Air mata yang sejak tadi tahan akhirnya luruh membasahi pipi. “Aku maunya segitu. Kalo nggak mau, ya udah, aku bawa dia ke tempat lain.” Arman segera meraih tangan Gendis dan bersiap menariknya keluar dari bangunan terbengkalai itu. “Apa maksudnya ‘tempat lain’?!” batin Gendis meraung dengan mata bergerak gelisah. "Apa Mas Arman berniat menjualku ke m*******i lain sampai mendapat harga yang cocok?" “Cukup, Mas! Keterlaluan kamu!” bentak wanita itu seraya menghentakkan kasar genggaman tangannya, lalu menatap nyalang suaminya. “Kamu mau bawa aku kemana lagi? Belum puas kamu injak-injak harga diriku di sini?!” Arman membalas tatapan itu dengan tajam. “Diem!” "Aku gak mau diam, sudah cukup aku diam mengahadapi sikapmu yang makin hari makin keterlaluan." Suara Gendis melengking memenuhi gudang kosong itu. "Aku gak pernah minta apapun darimu, bahkan nafkah sekali pun. Selama ini aku yang memenuhi semua kebutuhan rumah dan kebutuhanmu. Tapi ini balasanmu?" Wanita itu menghapus kasar air mata yang keluar membasahi pipi. Ia tidak terlihat lemah di depan semua orang, bahkan suaminya sendiri. Ia tidak ingin Arman semakin merendahkannya. Ya, selama ini Gendis memang terbiasa memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia bekerja sebagai buruh di kebun karet milik orang terkaya di kampung. Upah menoreh yang ia dapatkan ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur dan kegemaran suaminya di meja judi. Sejak di-PHK di tempat kerjanya yang lama, Arman memang sering menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tak berguna seperti berjudi atau pun sabung ayam. Tak jarang pula dia mengalami kekalahan, hingga tak segan berutang. Jika menang, uangnya selalu dihabiskan sendiri untuk bersenang-senang dengan wanita bayaran dan mabuk-mabukan. Tidak ada sepeser pun yang diberikan pada Gendis. Tapi Gendis tak pernah mempermasalahkan hal itu. Toh, ia juga tidak sudi menerima uang haram dari suaminya. "Mulai berani ngelawan kamu, ya ...." Arman menunjuk tepat wajah istrinya. Bukannya merasa takut, Gendis justru menatap sang suami dengan tatapan menantang. Biasanya ia akan takut saat dibentak suaminya, tapi tidak untuk sekarang. Ia sudah bertekad akan melawan, meski dalam hati merasa gentar melihat tatapan tajam sang suami. "Aku gak akan ngelawan kalau kamu gak keterlaluan, Mas!" teriak Gendis yang langsung dihadiahi sebuah tamparan keras di pipi. Rasa panas seketika menjalar ke seluruh wajah. Wanita berusia 27 tahun itu menatap nanar suaminya seraya memegangi pipi bekas tamparan. Sementara Mami Sela tampak jengah menyaksikan live drama rumah tangga di hadapannya yang tak ubahnya seperti sinetron murahan. “Cepet putusin, Man ... mau harga berapa? Aku muak denger kalian ribut kayak gini.” Suara Mami Sela menyela pertengkaran mereka. Arman mengabaikan Gendis begitu saja, lalu melangkah mendekati Mami Sela untuk melanjutkan kembali transaksinya. Mengabaikan perasaan Gendis yang tercabik-cabik setiap kali mendengar nominal-nominal yang disebutkan dari mulut mereka. Negosiasi kembali terjadi layaknya tawar-menawar seperti pedagang sayur di pasar. Arman terus menaikkan harga sampai mencapai harga yang diinginkan. Aksi tawar-menawar mereka berlangsung alot, sampai akhirnya, negosiasi itu jatuh di angka 11 juta. “Deal,” ujar Mami Sela seraya menjabat tangan Arman. Senyum kepuasan tersemat di bibir menor itu setelah mendapatkan harga yang diinginkan. Setelah Arman menerima segepok uang. Kedua tangan Gendis mulai ditarik paksa seorang pria berbadan kekar berpenampilan seperti preman–yang tidak lain anak buah Mami Sela. Wanita itu berusaha melawan dan meronta untuk kabur, bahkan berteriak minta dilepaskan, tapi semua usahanya terasa sia-sia. Tenaganya kalah kuat dengan tenaga pria bertubuh tambun itu. Pada akhirnya, Gendis hanya bisa pasrah ketika tubuh rampingnya digiring menuju mobil van hitam yang terparkir di depan gudang. Gendis didorong kasar masuk ke dalam mobil. Bersamaan dengan suara pintu yang tertutup kencang, hidup Gendis seperti terkunci di dalam. *** Mobil berguncang pelan membelah jalanan kampung menuju jalan besar yang akan menghubungkan ke kota besar. Sejak memasuki mobil, Gendis memilih bungkam seribu bahasa lebih memilih mengalihkan pandangan ke jalanan luar jendela. Mengabaikan seorang perempuan muda yang berpakaian minim lengkap dengan riasan tebal, yang terus memerhatikan penampilan Gendis, yang hanya mengenakan daster lusuh tanpa riasan, bahkan terkesan kumal. Tatapannya menyapu dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Cantik, sih, Mi ... tapi kok keliatan udik sih." Wanita itu berseloroh mengomentari penampilan Gendis yang ala kadarnya seperti wanita kampung. Perkataan bernada hinaan itu hanya masuk telinga kiri dan ke luar telinga kanan. Gendis menganggap hinaan itu seperti angin lalu, tanpa ada niatan untuk menanggapi. “Pengalaman pertama ya?” tanya wanita bernama Meisya itu tiba-tiba. Gendis mengalihkan pandangan seketika, lalu menatapnya dengan tatapan bingung. “Maksudnya?” “Ini pertama kalinya kamu masuk dunia malam,” jelasnya lagi. “Aku nggak mau jadi p*****r," sahut Gendis ketus. Meisya tertawa pelan. "Semua orang juga gak ada yang mau jadi p*****r, Dis ... kami terpaksa mengambil jalan ini karena keadaan yang memaksa." Gendis hanya diam mengabaikan ucapan wanita itu, memilih mengalihkan kembali pandangannya keluar jendela. Segaris senyum pahit tersemat di bibirnya, mungkin sebagian orang rela memilih jalan pintas disaat terdesak keadaan, seperti suaminya sendiri yang tega menjual dirinya yang tengah mengandung empat minggu, hanya demi mendapatkan uang. Tapi keputusan itu tidak berlaku untuk Gendis. Menjadi wanita penjajak tubuh tak pernah ada dalam kamus hidupnya, bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya. Meski berada dalam keadaan terdesak sekali pun. Ia lebih memilih kerja keras banting tulang mengambil jatah lembur lebih banyak di kebun karet tanpa peduli kulit yang menghitam, hanya untuk mendapat uang lebih. Seandainya, waktu itu Gendis memantapkan hati untuk meninggalkan Arman, mungkin keadaannya tidak akan berakhir seperti ini. Beberapa bulan lalu, Gendis yang sudah tidak tahan dengan kelakuan suaminya sudah bersiap untuk pergi dari rumah dan berencana mengurus surat pisah dengan Arman. Tapi keinginan kuat yang sempat terpatri di hatinya, dalam sekejap menguap setelah melihat Mas Arman memohon dan menghiba. Dengan mudahnya, ia luluh saat melihat air mata buaya milik Arman dan janji-janji manis yang terlontar di bibirnya. Katakan saja, ia menjadi bodoh karena cintanya pada Arman. Akan tetapi, janji itu tak pernah terealisasikan. Arman seolah melupakan janji yang pernah ia ucapkan, yang katanya "akan berubah dan menjadi suami yang baik". Kenyataannya, ia malah semakin menjadi, bahkan meninggalkan utang judi dalam jumlah besar. Sampai akhirnya, Gendis ikut kena imbasnya dengan dijual pada seorang m*******i demi menutup utang judinya. Air mata tanpa diminta kembali luruh membasahi pipi wanita itu, tapi ia segera menyekanya dengan kasar. Menangis sudah tiada guna saat ini karena tidak akan bisa mengubah apapun. "Dis, awalnya aku juga kayak kamu. Gak mau jadi wanita penghibur. Tapi setelah aku menjalaninya ... aku malah enjoy. Kamu kayak gini cuma belum biasa aja kok, Dis. Iya gak, Mi?" Meisya terdengar meminta persetujuan Mami Sela yang duduk di bangku depan. "Bener banget, Say. Kamu cuma belum terbiasa, Gendis Sayang. Nanti kalau udah terbiasa malah ketagihan." Mami Sela menyahut diiringi suara tawa riang. Tawa kedua wanita beriasan menor itu memecah kesunyian mobil. Tapi Gendis hanya diam, mengganggap tawa mereka sebatas angin lalu. Pikirannya justru riuh memikirkan, bagaimana caranya keluar dari tempat terkutuk itu.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.3K
bc

TERNODA

read
200.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.5K
bc

Kali kedua

read
219.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook