Bab 8: Spend Time With You (a)

1729 Kata
Zaelena tidak tahu kenapa Arhan tiba-tiba bersikap sangat baik padanya. Pria itu tiba-tiba muncul di rumahnya di pagi hari. Zaelena tentu saja masih dalam keadaan rambut seperti singa. Seperti biasa setelah take video untuk konten terbarunya Zaelena akan menghabiskan waktunya untuk berguling-guling di atas kasurnya sembari menunggu pesan dari Apap nya untuk sarapan bersama. "Zaelena, mau pergi sama saya?" tanya Arhan setelah mereka selesai sarapan bersama. Tentu saja ketika Arhan datang pagi hari ke rumahnya di saat pria itu tidak memiliki jadwal mengajar sama dengan menawarkan diri untuk sarapan bersama dengan keluarganya. Zaelena hampir kehilangan keseimbangan dirinya ketika Arhan bertanya seperti itu padanya, bagaimana tidak, biasanya Zaelena orang yang akan mengajak Arhan bepergian walau belakangan ini Zaelena lebih banyak mengurung dirinya di rumah untuk memulihkan kembali energinya setelah kejadian beberapa waktu yang lalu. Warna rambut Zaelena juga sudah berubah, sekarang rambut gadis itu berwarna dark brown membuat Zaelena terlihat jauh lebih fresh dan kulit gadis itu terlihat semakin putih. "Mas Arhan nggak salah?" tanya Zaelena dengan kebingungan. Arhan juga masih menggunakan pakaian yang sangat santai pagi ini. Biasa, pakaian olahraga. "Saya serius, kamu memiliki kegiatan lain hari ini?" tanya Arhan. Zaelena refleks menggelengkan kepalanya. Zaelena jelas tidak memiliki kegiatan lain apalagi weekday seperti sekarang di mana para sahabatnya sedang sibuk-sibuknya bekerja. Jeane bahkan sedang berada di luar kota untuk melakukan sebuah liputan. "Aku nggak punya kegiatan sih, tapi aku belum mandi loh mas Arhan, nunggu aku siap-siap bakal lama banget. Mas Arhan yakin mau nungguin?" tanya Zaelena sembari menatap dirinya sendiri dari atas sampai bawah. Zaelena memang sedang dalam mode berantakan-berantakannya, tidak hanya rambutnya yang seperti singa, Zaelena juga masih menggunakan piyama kebanggaanya bahkan make up di wajahnya sudah tidak ada lagi. Zaelena sudah menghapus seluruh make up itu setelah dia menyelesaikan pekerjaannya. "Nggak perlu mandi, kamu hanya perlu bawa perlengkapan yang kamu butuhkan. Kita pergi trekking ke Puncak. Kamu bisa main air di sana," ucap Arhan. Zaelena lagi-lagi menatap Arhan tidak percaya namun tanpa berpikir lama gadis itu langsung melesat masuk ke dalam rumahnya sambil berteriak pada Arhan bahwa dia akan bersiap dengan sangat cepat. Arhan hanya menggelengkan kepalanya kemudian dia kembali ke rumah untuk menyiapkan mobil dan juga perlengkapan untuk dirinya sendiri. "Mas Arhan kok tumben tiba-tiba ngajak aku pergi? Mas Arhan gabut? Mbak yang sama mas Arhan hari itu pergi kemana?" tanya Zaelena bertubi-tubi ketika dia sudah berada dalam mobil bersama dengan Arhan. "Nah gini, kamu itu lebih cocok banyak bicara daripada diam. Kamu kenapa belakangan ini Zaelena?" tanya Arhan. Sungguh perubahan Zaelena belakangan ini sangat signifikan menurut Arhan. Gadis itu jadi jarang terlihat keluar dari rumah dan sekali nya keluar Zaelena hanya akan tersenyum tipis tanpa banyak bicara. Itu membuat suasana benar-benar menjadi sangat canggung dan entah kenapa Arhan tidak menyukai itu. "Mas Arhan harus jawab pertanyaan aku dulu," ucap Zaelena. Gadis itu mencari posisi yang nyamanan. Perjalanan ke curug yang akan menjadi tempat tujuan mereka cukup jauh dari rumah. Jadi Zaelena harus memastikan bahwa dia dalam kondisi yang sangat nyaman. "Saya ngajak kamu pergi karena saya lagi punya waktu dan kebetulan saya nggak ada teman buat trekking terus pak Adnan bilang kamu suka trekking jadi saya memutuskan untuk ajak kamu. Mbak yang kamu maksud itu siapa?" tanya Arhan. Zaelena mendengus mendengar pertanyaan Arhan. "Mas Arhan bertanya kayak gitu seolah-olah mas Arhan memiliki banyak perempuan dalam hidup mas Arhan. Mbak yang aku maksud adalah mbak yang pernah mas Arhan bawa ke rumah mas Arhan. Yang rambutnya dikuncir kuda yang bisa bikin mas Arhan senyum terus," ucap Zaelena dengan nada suara yang sedikit tidak enak di dengar. Ya mau gimana lagi. Sejak melihat Arhan mesra dengan mbak-mbak itu Zaelena sudah menggaris bawahi mbak-mbak itu sebagai saingannya untuk mendapatkan Arhan. "Maksud kamu Ariana?" tanya Arhan lagi. "Oh jadi namanya Ariana. Cantik sih tapi lebih cantik aku. Mas Arhan tetap jadi suami aku di masa depan bukan suami mbak Arina bukan grande itu!" seru Zaelena. Arhan langsung menggelengkan kepalanya. Sepertinya Zaelena Alfarizi yang dia kenal sudah kembali. Walau Arhan tidak terlalu suka jika Zaelena sudah mulai menggodanya namun ini terasa jauh lebih baik dari pada melihat Zaelena hanya diam saja. "Mas Arhan sama mbak Ariana itu apa?" tanya Zaelena. Dia menyipitkan matanya ke arah Arhan pertanda dia memang sedang serius bertanya tentang itu. Zaelena harus tahu siapa Ariana untuk Arhan. Beberapa hari belakangan dia sudah berusaha untuk tidak peduli dengan semuanya namun sekarang Arhan memberinya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama dengan pria itu. Jelas Zaelena tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Zaelena akan menanyakan semua hal yang ingin dia ketahui. "Apakah itu sangat penting untuk kamu?" tanya Arhan. "Sangat penting. Aku harus tahu siapa mbak Ariana. Kenapa dia tidak pergi bersama dengan mas Arhan hari ini dan seberapa dekat mas Arhan dengan mbak Ariana sampai mas Arhan selalu senyum ketika menyebut nama dia?" "Zaelena kamu selalu mencari tahu sesuatu yang kamu inginkan seperti ini?" tanya Arhan. Zaelena langsung mengangguk dengan sangat cepat. "Aku tidak pernah suka dengan informasi yang tidak utuh karena hal itu akan memberikan efek yang sangat buruk di masa depan. Lagi pula semua orang juga ingin tahu sebuah kebenaran sejak awal dibandingkan belakangan. Jika tahu dari awal, sakitnya akan sebentar tapi jika tahu di akhir lukanya akan sangat dalam," jawab Zaelena. Arhan kembali melirik gadis di sampingnya. Tidak tahu kenapa, Arhan entah kenapa merasa bahwa Zaelena pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya. Siapa orang yang pernah menyakiti gadis itu selain masa lalunya bersama dengan keluarganya? "Saya dan Ariana sudah kenal sejak dulu. Sejak zlama. Kami teman dekat kemudian saat kuliah kami memutuskan untuk menjadi lebih dari teman. Ariana adalah orang yang saya cintai. Untuk itu saya selalu mengatakan pada kamu bahwa saya bukan orang yang tepat untuk kamu. Saya memiliki seorang kekasih yang sangat saya cintai, Zaelena." Arhan memilih untuk jujur. Arhan tidak tahu Zaeena benar-benar serius atau tidak dengan apa yang dia katakan. Tapi Arhan tidak ingin menyakiti Zaelena di masa depan. Dia ingin melihat senyum gadis menyenangkan ini setiap saat. Zaelena yang sangat cerita sedikit banyak pengaruh terhadap kehidupan Arhan apalagi setelah Arhan tahu apa yang terjadi dengan gadis ini di masa kecil. Itu membuat Arhan jauh lebih bersyukur untuk menjalani kehidupannya. "Sesuai yang aku pikirkan sih. Mas Arhan dan mbak Ariana memang terlihat sedekat itu. Kalian saling memberikan perhatian-perhatian kecil satu sama lain yang biasanya dilewatkan begitu saja oleh orang lain tapi aku tetap akan berusaha untuk membuat mas Arhan melihat ke arah aku sih. Mbak Ariana mungkin bisa mengerti mas Arhan dengan sangat baik tapi mbak Ariana belum tentu bisa membuat mas Arhan merasakan hal yang belum pernah mas Arhan rasakan sebelumnya," ucap Zaelena sambil senyum Terlihat sangat manis sekali. Jangan pernah lupakan bahwa Zaelena memang memiliki wajah yang sangat cantik dan kulit yang sangat bersih. "Zaelena, kamu itu cantik. Saya yakin banyak orang yang menyukai kamu. Jadi jangan pernah membuang-buang waktu untuk sesuatu hal yang tidak jelas." "Itu terdengar seperti sebuah penolakan tapi mas Arhan juga nggak bisa menjamin bahwa mas Arhan dan mbak Ariana akan berakhir di pelaminan kan?" Arhan langsung terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Zaelena. Dia tidak pernah berpikir seperti itu. Arhan selalu berpikir bahwa dia dan Ariana akan selamanya. Arhan tidak pernah berniat untuk mencari orang lain. Sejauh ini hubungannya dengan Ariana juga berjalan dengan sangat baik. Jadi Arhan sangat yakin bahwa dia dan Arina memang akan selamanya bersama. "Manusia itu selalu hidup dalam imajinasi yang mereka ciptakan sendiri. Mereka sering berekspektasi secara berlebihan sampai mereka melupakan pijakan mereka dan ketika mereka menyadari bahwa semuanya tidak seperti apa yang sudah tersusun di dalam kepala mereka. Mereka berakhir menjadi frustasi. Mereka depresi kemudian sibuk dengan kesedihan mereka sendiri sampai mereka mengabaikan orang-orang yang ingin sekali mereka lihat di sekitar mereka. Ekspektasi itu selalu menjadi kelemahan setiap manusia aku rasa dan aku benci dengan semua ekspektasi yang diciptakan oleh manusia," ucap Zaelena. Raut wajah gadis itu berubah menjadi sangat serius. Arhan menyadari ini bukan lagi tentangnya dengan Ariana atau tentangnya dengan Zaelena namun ini juga tentang Zaelena dengan masa lalunya. "Apakah itu sangat menyakitkan?" tanya Arhan pelan-pelan. Dia sangat berharap Zaelena mau bercerita padanya namun sepertinya tidak akan semudah itu membuat gadis ini bercerita padanya. Untuk masalah yang satu ini sepertinya Zaelena lebih memilih menyimpannya sendirian. Arhan bahkan yakin bahwa sahabat-sahabat Zaelena juga tidak tahu bagaimana sakitnya masa lalu gadis itu. "Mas Arhan bertanya seperti itu seolah-olah tahu sesuatu. Itu hanya perandaian. Orang-orang sering seperti itu soalnya. Aku hanya mencontohkan supaya mas Arhan juga tidak di sakiti oleh ekspektasi mas Arhan sendiri," ucap Zaelena. Arhan terdiam. Gerak mobil Arhan memelan kemudian berhenti di sebuah lampu merah. "Kalau saya memang tahu sesuatu bagaimana?" Saya juga pernah mendengar sesuatu. Orang yang selalu terlihat ceria adalah orang yang menyimpan luka paling banyak dalam hidupnya." Zaelena terlihat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Arhan namun senyum justru terukir di bibir gadis yang selalu terkena dengan sangat ceria dan cenderung tidak pernah serius itu. "Orang yang terlihat tenang juga tidak setenang kelihatannya. Aku juga pernah dengar tentang itu." Sekarang Arhan yang terdiam mendengar ucapan Zaelena. Semakin banyak tahu tentang gadis ini. Arhan semakin tahu bahwa Zaelena hanya terlihat berpura-pura bodoh di hadapan orang-orang karena gadis itu sedang melindungi dirinya sendiri supaya orang-orang tidak bertanya terlalu banyak tentangnya namun pada kenyataanya gadis ini adalah orang yang peka terhadap lingkungan sekitarnya. "Mas Arhan, ngomong-ngomong kenapa obrolan kita mendadak jadi serius ya. Aku nggak suka obrolan yang serius." "Karena kamu takut orang-orang akan tahu kamu lebih banyak?" tanya Arhan. Zaelena lagi-lagi terdiam. Dia menatap Arhan dengan sangat lekat. "Mas Arhan banyak diam juga karena tidak ingin orang lain tahu banyak tentang mas Arhan kan? Cara kita bersembunyi berbeda. Kalau mas Arhan tidak ingin keluar dari persembunyian mas Arhan, jangan coba-coba untuk menerobos masuk dalam persembunyian aku. " Arhan lagi-lagi di buat diam oleh ucapan gadis yang duduk di sampingnya. Arhan kembali fokus mengendarai mobilnya. Apa yang Zaelena katakan memang benar juga. Jika tidak ingin saling bercerita satu sama lain maka jangan pernah mencoba menerobos masuk. "Mas Arhan bisa nggak kita ngomongin jalur trekking kita aja. Jangan bahas hal-hal pribadi. Setiap orang aku yakin mereka memiliki hal menyakitkan dalam hidup mereka. Jadi biarkan hal menyakitkan itu menjadi bagian dari perjalanan dan jangan di bahas jika tidak sanggup bercerita sampai akhir," ucap Zaelena. Arhan kali ini mengangguk dengan setuju. Dia mulai menjelaskan jalur trekking mereka hari ini pada Zaelena. Raut wajah Zaelena yang tadi sempat terlihat sangat serius, sekarang perlahan terlihat kembali ceria lagi. Gadis itu terlihat sangat antusias.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN