Bab 7: This About Zaelena (b)

1929 Kata
"Han." Arhan yang sejak tadi terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri menoleh pada Ariana yang sibuk memasak sarapan untuk mereka setelah mereka selesai lari pagi. "Iya, Ri?" tanya Arhan. "Setelah melihat pak Adnan. Sekarang aku ingat dimana aku pernah melihat ibu Aileena sebelumnya," ucap Ariana. Kening Arhan terlihat langsung berkerut. "Dimana?" "Aku pernah cerita sama kamu kan kalau dulu ibuku bekerja di sebuah rumah sakit jiwa sebagai perawat?" tanya Ariana. Arhan langsung mengangguk dengan cepat. Tentu saja Arhan mengingat itu. Dia dan Ariana saling menceritakan latar belakang keluarga mereka masing-masing dengan sangat terbuka karena dulu saat saling mengenal satu sama lain. Mereka adalah dua orang yang sangat kesepian. "Iya ingat, lalu apa hubungannya?" tanya Arhan. "Ibu Aileena dulu sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa dan perawatnya adalah ibuku. Aku sering datang ke sana dulu sepulang aku sekolah. Kondisi ibu Aileena benar-benar sangat buruk saat itu. Dia mendapatkan perawatan yang cukup lama di rumah sakit itu. Ibu pernah menceritakan ke aku penyebab ibu Aileena mengalami depresi berat adalah kehilangan. Ibu Aileena kehilangan ayah yang sangat dia cintai kemudian disusul oleh putranya yang sangat tampan. Putranya meninggal saat usia lebih dari satu tahun," ucap Ariana. Arhan sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ariana. Itu seperti hal yang tidak mungkin melihat tetangga di depan rumahnya itu terlihat baik-baik saja. Mereka terlihat menjalani hari-hari mereka dengan sangat normal dan saling mencintai satu sama lain. Namun sikap Zaelena pagi ini cukup membuat Arhan merasa heran. Tumben sekali gadis itu tidak bersikap heboh ketika bertemu dengannya. Tadi pagi, saat melihat Zaelena di balkon kamar, gadis itu terlihat sedang menahan tangis kemudian tadi saat mereka bertemu di depan, Zaelena hanya tersenyum tipis seolah mereka adalah orang yang baru bertemu satu sama lain. "Dulu pak Adnan selalu menemani ibu Aileena. Memberikan cinta dan kasih sayangnya secara penuh. Aku sampai merasa iri dulu melihat itu. Melihat seorang perempuan bisa dicintai sebesar itu oleh seorang laki-laki dalam keadaan seburuk apapun itu. Kemudian dulu aku juga beberapa kali melihat putri mereka datang ke rumah sakit. Dia sungguh terlihat sangat menyedihkan. Tubuhnya kurus dan dia juga terlihat ketakutan. Terkadang aku melihat dia menangis dan meneriaki ibu Aileena namun tidak mendapatkan respon yang baik dari ibunya. Aku sangat yakin itu pasti sangat berat untuknya. Aku yakin anak kecil itu dulu baru saja masuk sekolah dasar. Aku pernah mengajaknya bicara satu kali. Namun dia lari dengan ketakutan namun terakhir kali bertemu ketika ibu Aileena dinyatakan dalam kondisi yang lebih baik. Dia tersenyum ke aku. Berarti anak kecil yang pernah aku lihat dulu adalah gadis berambut pink yang kita lihat tadi bersama dengan pak Adnan?" tanya Ariana. Arhan kembali terdiam. Arhan sungguh masih belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ini mudah dipahami namun alam bawah sadar Arhan seolah menolak itu semua dengan sangat keras. Melihat Zaelena, rasanya itu tidak mungkin terjadi pada gadis itu di masa lalu. "Benar, dia adalah putri ibu Aileena dan pak Adnan," jawab Arhan. Arhan jadi membayangkan bagaimana ketakutannya Zaelena kecil dulu. Setelah kehilangan Opa kemudian adik laki-laki kemudian gadis kecil itu harus menerima kenyataan bahwa ibunya mengalami depresi berat. Arhan sangat yakin, Zaelena pasti sering kali di tinggal di rumah sendirian. Arhan jadi mengerti kenapa Zaelena pernah mengatakan bahwa gadis itu sangat takut pada rumah miliknya. Gadis itu pasti mengharapkan rumah ini ada penghuninya sejak lama karena Zaelena kecil sangat kesepian. "Dia terlihat tumbuh dengan sangat baik. Pak Adnan pasti selalu memastikan dia tidak mendapatkan tekanan apapun. Ibu juga pernah cerita sama aku. Pak Adnan selalu mengkhawatirkan kondisi putrinya itu karena sering di tinggal di rumah sendirian bersama seorang yang dipekerjakan untuk merawat rumah itu. Anak itu juga pernah mengalami anemia semasa kecil karena pola hidupnya yang benar-benar tidak sehat. Melihat keluarga itu masih utuh sampai sekarang sungguh membuat aku merasa sangat senang. Mereka melewati hari-hari yang sangat berat," lanjut Ariana sambil tersenyum tipis. Arhan lagi-lagi terdiam. Dia semakin penasaran. Dengan keadaan yang seperti itu kenapa Zaelena terlihat masih baik-baik saja. Bagaimana gadis itu bisa sekuat itu dan terus tersenyum dengan sangat ceria seolah tidak pernah terjadi hal buruk dalam hidupnya. "Apakah setelah keluar dari rumah sakit, ibu Aileena benar-benar dinyatakan sembuh?" "Sebenarnya tidak sepenuhnya, rasa panik dan tertekan bisa menyerang ibu Aileena kapan saja. Dia juga bisa melakukan p*********n terhadap orang lain. Tapi selama kamu berada di sekitar beliau, kamu tidak pernah melihat tanda-tanda ibu Aileena akan menyerang seseorang atau tertekan kan?" "Sejauh ini yang aku lihat aman-aman aja. Emosi ibu Aileena terlihat sangat stabil." Ariana mengangguk sambil membagi salad sayur yang dia buat kedua mangkuk yang berbeda kemudian bergabung di meja makan dengan Arhan. "Mungkin ibu Aileena sudah benar-benar sembuh. Itu jauh lebih baik. Setidaknya keluarganya tidak akan hidup dalam rasa khawatir dan rasa takut sepanjang waktu." Pasangan itu kemudian menyantap sarapan itu dengan sangat kompak. "Aku juga sangat berharap begitu keluarga mereka sangat baik dan menyenangkan," ucap Arhan. Walau Arhan masih tidak menyangka keluarga itu pernah menghadapi hal semacam itu tapi apapun bisa terjadi di dunia ini. Dia dan Ariana bahkan kehilangan orang tua mereka untuk selama-lamanya. "Apakah kamu sudah pernah bicara dengan putri mereka sebelumnya?" tanya Ariana. Arhan langsung mengangguk. "Dia adalah gadis yang sangat ceria dan menyenangkan. Aku pernah bicara beberapa kali," jawab Arhan seadanya. "Tapi aku nggak bisa melihat dia sebagai gadis yang ceria hari ini. Saat di balkon aku melihat dia menahan tangis kemudian tadi saat dia ingin masuk ke dalam mobil dia juga terlihat sedang menahan sesuatu dalam dirinya. Terlihat menyedihkan," ucap Ariana dengan sangat santai. Kunyahan Arhan mendadak memelan. Ariana terbiasa hidup di lingkungan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan karena ibunya bekerja di sana. Jadi analisis Ariana terhadap seseorang lebih sering valid dibandingkan tidaknya. Arhan juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ariana. Zaelena terlihat sangat menyedihkan hari ini. "Mungkin memang lagi nggak baik-baik aja. Mood orang bisa berubah kapan aja," ucap Arhan walau dia langsung menyangkal itu dalam hatinya. Tapi itu rasanya tidak mungkin. Zaelena yang dia kenal beberapa hari belakangan ini adalah orang yang sangat ceria, Zaelena tidak pernah terlihat dalam mood yang buruk bahkan sampai menahan tangis seperti tadi pagi. Semoga saja begitu," ucap Ariana. Arhan mengangguk. Obrolan mereka kemudian berlanjut ke hal-hal yang lebih sederhana dan obrolan itu terlihat menyenangkan. Memang seperti itulah keduanya. Mereka bisa membicarakan apapun ketika bersama. *** Zaelena memarkirkan mobilnya di sebuah pemakaman. Iya tempat ini adalah tempat yang ingin Zaelena kunjungi hari ini. Setidaknya dalam satu bulan Zaelena akan datang ke tempat ini sebanyak dua kali. Zaelena langsung turun dari mobil dengan membawa tiga buket bunga dan juga membawa bunga tabur. Mata gadis itu tidak terlihat seceria biasanya. Mungkin karena Zaelena banyak menangis semalam. Zaelena menelusuri makam demi makam kemudian dia sampai di salah satu tempat favorit nya. Senyum gadis itu mengembangkan sempurna ketika dia melihat nisan yang bertulisan Abdilah dan juga Kenzo. Opa dan adik tampannya memang di makam kan bersebelahan. Di sebelah Opa juga ada makan Oma yang hanya bisa Zaelena lihat lewat sebuah foto selama ini. "Assalamualaikum Opa, Oma dan Ken, Zae datang lagi hari ini," ucap Zaelena. Suara gadis itu kembali terdengar antusias namun tatapan matanya tidak bisa berbohong sedikitpun, mata Zaelena terlihat kembali berkaca-kaca. "Zaelena kali ini bawa bunga lagi, semoga Opa, Oma dan Ken suka ya. Ini bunga nya harum banget. Tahannya sangat lama." Zaelena menaruh bunga-bunga itu di dekat nisan tiga orang kesayangan nya itu. Setelahnya Zaelena mengirim doa untuk ketiganya, hal tidak pernah Zaelena lewatkan ketika dia berkunjung. "Opa, I Miss you. Opa belakangan ini hari-hari Zae terasa jauh lebih berat. Amam meminta Zae melakukan sesuatu yang tidak pernah ingin Zae lakukan. Zae nggak mau kerja terlalu keras seperti Amam sampai melupakan keluarganya sendiri. Zae hanya ingin di rumah Opa, menunggu Apap dan Amam pulang bekerja walau mereka terkadang tidak pulang karena sibuk melarikan diri dari segala hal yang menyakitkan untuk mereka sampai melupakan bahwa Zae juga sama sakitnya karena Zae hidup di antara mereka namun seolah tidak pernah terlihat sedikitpun," ucap Zaelena. Tatapan gadis itu kemudian beralih ke makan Oma nya. "Oma, apakah terlihat sangat tidak berguna ketika kita bekerja dengan kesenangan kita? Zae tahu apa yang Zae lakukan sekarang tidak akan selamanya tapi Zae juga tahu bekerja seperti Amam juga tidak akan selamanya. Itu justru menyakitkan. Oma bagaimana caranya bisa melihat Amam bahagia? Kenapa Zae tidak pernah lagi melihat Amam tertawa dengan lepas?" Tanya Zaelena. Air mata gadis itu mulai jatuh. Terakhir Zaelena kemudian beralih ke makam Kenzo. Zaelena akan selalu menghabiskan banyak waktu untuk bicara dengan Kenzo. "Ken, kamu tahu, bahagianya Amam tidak pernah ada lagi setelah kamu pergi. Kondisi Amam tidak pernah membaik Ken. Amam tidak pernah terlihat tenang dalam menjalani kehidupannya. Jangankan menyayangi orang lain, Amam bahkan tidak terlihat bisa menyayangi dirinya sendiri. Rasa sayang yang Amam milik seolah sudah ikut semua bersama dengan kamu. Tidak ada lagi yang tersisa sekarang." Zaelena mengusap air matanya dengan cepat. "Ken, apakah di sana sangat menyenangkan? Sehingga kamu memilih pergi jauh lebih cepat? Kenapa kamu nggak bawa aku juga hari itu? Aku capek dengan hal sama yang terus terjadi berulang kali Ken. Tidak ada hal yang berubah. Apap masih pura-pura bahagia tapi aku tahu banget bahwa Apap juga tidak pernah baik-baik saja sampai sekarang. Apap juga sama sedihnya, Apap juga kelelahan tapi dia selalu berpura-pura dengan semuanya. Dia bertindak seolah dia baik-baik saja. Aku benci harus berpura-pura terus Ken. Ken apa yang harus aku lakukan untuk membuat dua orang yang kita sayangi itu jujur dengan apa yang mereka rasakan?" "Ken, aku harus ngapain sekarang? Aku kangen kamu. Kalau kamu ada di sini sekarang, aku yakin keadaan akan baik-baik saja. Tidak akan ada kesedihan sedikitpun. Amam pasti akan tersenyum setiap saat. Amam pasti akan menghabiskan banyak waktunya di rumah. Fokus pada keluarga kita. Apap pasti tidak perlu berjuang begitu keras untuk mempertahankan keluarganya agar tetap utuh. Ken bagaimana cara menghadapi semua hal?" Tanya Zaelena. Gadis itu menangis sembari memeluk nisan Kenzo dengan sangat erat. Jika orang-orang yang mengenal si ceria Zaelena dalam kondisi seperti sekarang mereka pasti akan sangat terkejut. Zaelena yang sekarang sungguh terlihat sangat menyedihkan. Gadis itu tidak tertolong sedikitpun. "Ken, aku benci sendirian." Zaelena sangat berharap Kenzo ada bersama dengannya. Pasti dengan adanya Kenzo, Zaelena yakin hidupnya akan sangat-sangat menyenangkan. Kenzo pasti akan selalu menjadi temannya di saat dia merasa sangat kesepian. Hampir satu jam Zaelena menghabiskan waktunya di sana. Bercerita tentang banyak hal yang belakangan ini sangat mengganggu nya. Zaelena mungkin akan terlihat seperti orang gila ketika bicara sendirian, menangis kemudian tertawa sendirian namun rasa nya sangat melegakan setiap kali Zaelena selesai melakukan itu. Zaelena kemudian memutuskan untuk berpamitan. Zaelena ingin mengunjungi salon langganannya. Dia sudah mulai merasa bosan dengan warna rambut terangnya. Zaelena ingin warna rambut yang gelap untuk sekarang karena Zaelena sangat yakin. Hari-hari yang akan dia jalani kedepannya akan jauh lebih keras. Dia harus berjuang lebih keras lagi untuk terus tersenyum supaya Apap nya tidak perlu berjuang terlalu keras untuk membuatnya tersenyum. Amam? Zaelena tidak tahu bagaimana cara memulai percakapan dengan wanita itu. Mungkin Zaelena hanya akan mendengarkan Amam nya mengomel sampai puas supaya wanita itu bisa menyalurkan sedikit emosinya. Jika itu membuat Amam nya merasa jauh lebih baik. Zaelena tidak akan merasa keberatan sedikitpun jika harus mendapatkan omelan dari Amam nya setiap hari. Walau itu mengerikan tapi Zaelena akan mendengarkannya. Apa yang akan terjadi dengan hidup kita memang tidak dapat diprediksi sedikitpun namun apa yang sedang terjadi dalam hidup satu- satunya cara yang bisa kita lakukan adalah dengan menghadapinya. Zaelena pernah membaca sebuah quote 'ketika kamu merasakan sakit maka jangan pernah lari dari rasa sakit itu. Nikmati rasa sakit itu sampai rasa sakit itu menyerah pada kamu'. Zaelena akan selalu melakukan itu untuk menghadapi rasa sakit yang terjadi dalam hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN