Bab 7: This About Zaelena (a)

2109 Kata
Dilahirkan di keluarga yang sempurna adalah impian semua orang. Zaelena sangat tahu itu. Zaelena kerap kali mendengar teman-temannya mengatakan bahwa dia adalah orang yang sangat beruntung bisa menjadi salah satu orang yang bisa merasakan itu. Setiap kali mendengar itu, Zaelena hanya bisa tersenyum untuk menanggapi terkadang dia juga akan sedikit menyombongkan dirinya dan terlihat seperti orang yang sangat bahagia di dunia. Walau itu hanya sebuah candaan tapi para sahabatnya kerap kali menganggap itu sebagai sebuah sebuah kebenaran. Sempurna. Harmonis. Zaelena mungkin pernah merasakannya saat dia masih berusia satu sampai lima tahun. Dimana dia bisa merasakan semua kasih sayang kedua orang tuanya. Keluarganya sangat normal. Hubungna Apap dan Amam nya masih sangat baik. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada pemaksaan. Tidak ada ketakutan. Tidak ada kepura-puraan, pada intinya semuanya baik-baik saja. Walaupun saat itu Zaelena belum bisa mengingat semuanya dengan sangat jelas namun dia bisa merasakan setiap perubahan yang terjadi di keluarganya. Terkadang perubahan itu benar-benar membuat Zaelena ingin menghilang. Zaelena tidak mampu untuk menghadapi itu semua. Kembali pada cerita masa lalu. Di usia lima tahun, Amam nya melahirkan seorang anak laki-laki. Sangat tampan. Zaelena mengakui itu. Adik laki-lakinya memang sangat tampan. Semua orang menyayanginya. Zaelena juga sangat menyayanginya. Zaelena waktu kecil menghabiskan banyak waktu bersama dengan Opa nya yang masih sangat sehat kala itu, memiliki seorang adik tentu saja menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk Zaelena, dia akan memiliki seorang teman yang bisa diajak bermain. Setiap hari Zaelena selalu bertanya kapan adik nya akan bisa berjalan dan bisa di ajak bermain. Semua orang tersenyum setiap kali dia bertanya seperti itu seolah-olah mereka juga menunggu momen itu. Amam nya yang selalu sibuk bekerja tiba-tiba berhenti dari semua pekerjaanya dan memilih untuk fokus merawat adik kecilnya yang sangat tampan itu. Apap juga pernah bilang pada Zaelena saat itu bahwa ketika melahirkan dirinya, Amam juga berhenti dari seluruh pekerjaanya sampai dia berusia satu tahun kemudian Amam kembali ke rutinitasnya sebelumnya. Tapi untuk kali ini Amam mengatakan pada mereka semua bahwa dia benar-benar akan berhenti bekerja selamanya. Amam mengatakan bahwa perempuan itu ingin fokus pada keluarganya. Tentu saja semua orang sangat senang atas keputusan yang di ambil oleh Amam nya. Zaelena juga merasa senang karena dia bisa menghabiskan lebih banyak waktunya bersama dengan Amam nya. Bermain bersama Amam nya. Semuanya berjalan dengan sangat baik. Apap tetap memasak makanan enak setiap harinya kemudian akan pergi ke restoran. Amam yang sangat memperhatikan Zaelena dan adik tampan. Mereka mengunjungi restoran Apap sesekali untuk pergi bermain atau mengganggu kegiatan Apap di sana. Opa juga masih sering berkunjung ke rumah untuk menghabiskan waktu bersama dengan mereka. Namun semua itu mulai berubah ketika Opa mulai jatuh sakit kemudian adik tampan juga jatuh sakit. Amam terlihat benar-benar frustasi dengan semuanya. Semua fokus orang mulai tertuju pada Opa dan adik tampannya. Apap sesekali mencoba memberikan pengertian pada Zaelena. Zaelena mencoba mengerti semuanya namun pada akhirnya ketika keadaan semakin memburuk. Keberadaanya seolah perlahan mulai terlupakan. Zaelena sering di tinggalkan di rumah sendirian. Terkadang dia di titipkan pada tetangganya. Terkadang Zaelena hanya memakan makanan yang tersisa di lemari penyimpanan makanan. Keadaan seperti itu hampir terjadi selama satu tahun lamanya sampai Apap nya mempekerjakan seseorang untuk merawat rumah dan juga merawat Zaelena yang semakin hari semakin kesepian. Suatu malam Zaelena pernah mendengar jeritan tangis yang sangat keras. Suara teriakan Apap juga terdengar setelahnya, itu untuk pertama kalinya Zaelena mendengar teriakan Apap nya dalam hidupnya. Kemudian Zaelena mendengar berita duka pertama dalam hidupnya. Opa nya berpulang. Amam nya terlihat sangat sedih dan tidak berdaya. Tidak hanya Amam, Apap juga sama saja kacaunya. Lagi-lagi Zaelena terabaikan. Dia tidak terlalu mengerti apa yang terjadi. Ketika orang dewasa menangis, Zaelena hanya ikut menangis. Kemudian Zaelena sibuk bermain dengan anak-anak tetangganya. Hari-hari menyedihkan itu tidak hanya sampai disitu, semua justru semakin memburuk ketika adik tampannya kondisinya kian menurun. Amam dan Apap nya lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit dibandingkan di rumah. Zaelena mulai hidup bersama dengan seorang yang dipekerjakan untuk mengurusi rumahnya. Pola makan Zaelena semakin berantakan, dia menjadi sangat kurus saat itu, setiap kali Apap atau Amam kembali ke rumah, mereka hanya akan menyapa Zaelena seadanya terkadang juga mengabaikan keberadaan Zaelena itu membuat Zaelena semakin terlihat menyedihkan. Seolah apa yang diharapkan tidak kunjung datang. Berita duka berikutnya juga Zaelena dengar. Adiknya ikut berpulang menyusul Opanya. Dunia orang tuanya seolah runtuh saat itu. Semuanya benar-benar kacau. Hal yang berhasil Zaelena ingat saat adik laki-lakinya berpulang adalah Amam nya yang tidak sadarkan diri. Apap nya yang tidak berhenti menangis dan mbak yang bekerja di rumahnya yang mengatakan bahwa Zaelena harus tetap kuat dan tersenyum dalam keadaan seperti apapun itu. Mungkin itulah yang membuat Zaelena menjadi seperti sekarang. Terlihat sangat ceria seolah dia tidak pernah mengalami hal buruk dan menyedihkan dalam hidupnya. Zaelena terkekeh miris sembari menghapus air matanya yang tiba-tiba jatuh tanpa di minta. Pelukannya pada boneka angsanya semakin mengerat. Langit di atas sana tiba-tiba semakin pekat penuh dengan kegelapan. "Padahal gue baru bayangin setengah tapi gue udah cengeng banget!" seru Zaelena. Gadis itu menatap langit lagi untuk beberapa saat. Dia kembali memperbaiki posisi tidurnya. Air mata itu tidak mau berhenti sedikitpun. Mata Zaelena kembali terpejam. Bayangannya kembali pada masa lalu tentang hal-hal menyedihkan yang dia alami dalam hidupnya. Setelah kepergian Opa dan adik tampannya. Kehidupan benar-benar berubah. Amam nya mengalami depresi berat yang harus mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa. Amam nya selalu berteriak padanya dan terus mengatakan hal-hal yang tidak pernah ingin Zaelena dengar sedikitpun. Teman-temannya perlahan mulai menjauhinya karena mereka takut melihat kondisi Amam nya. Zaelena kemudian hanya bermain sendirian di rumah, mengunjungi restoran Apap nya sesekali sepulang dia sekolah walau Apap nya juga jarang dia temui di sana. Mendapatkan bullying juga pernah Zaelena alami ketika dia masih berada di sekolah dasar. Itu semua karena kondisi Amam nya yang tidak kunjung membaik. Amam nya benar-benar seperti orang gila yang menakutkan. Teman-temannya mulai mengejeknya karena dia memiliki seorang ibu yang gila. Walau sekuat apapun Zaelena berteriak dengan mengatakan bahwa Amam nya sama sekali tidak gila, saat itu tidak ada seorangpun yang percaya padanya. Mereka selalu menganggapnya sebagai anak orang gila. Dulu hari-hari yang Zaelena jalani sangat berat. Setiap kali dia merasa sangat menyedihkan. Zaelena akan selalu mengingat apa yang dikatakan oleh Mbak yang bekerja di rumahnya. Zaelena akan terlihat baik-baik saja, tetap tersenyum dan tetap ceria menjalani kehidupannya. Butuh waktu yang cukup lama bagi Amam nya untuk kembali benar-benar pulih dan berdamai dengan segala hal dalam hidupnya. Apap sama sekali tidak pernah beranjak dari sisi Amam dalam keadaan seperti apapun itu. Itu yang membuat Zaelena benar-benar menyayangi Apap nya. Apap nya benar-benar sehebat itu. Zaelena selalu menjadikan Apap nya sebagai idolanya. Walaupun Apap nya terlihat tidak pernah serius dalam menghadapi sesuatu tapi beliau tidak pernah main-main dengan keluarganya. Apap tidak pernah marah padanya mau seburuk apapun dirinya. Beliau juga tidak pernah memaksa Zaelena melakukan apa yang tidak Zaelena inginkan. Ketika kondisi Amam kembali pulih dan beliau kembali pada rutinitasnya. Keadaan kembali lebih baik walau semua hal jelas tidak pernah utuh lagi. Amam nya semakin keras pada diri sendiri. Bekerja keras seolah tidak memiliki rasa lelah sedikitpun. Ketika remaja. Zaelena pernah bertanya pada Apap kenapa tidak melarang Amam bekerja. Apa hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman kemudian dengan lembut mengatakan, itu cara Amam bertahan hidup. Dan saat itulah Zaelena mengerti bahwa Amam nya tidak benar-benar dalam kondisi yang baik. Wanita itu selalu sibuk mencari sebuah pelarian untuk mengalihkan semua perhatiannya. Ada juga saat-saat Amam nya akan kambuh kembali dan berteriak dengan keras kemudian akan melempar segala hal yang ada di sekitarnya. Itulah yang terjadi hari ini. Jika hal itu terjadi, maka Zaelena akan selalu melarikan diri dari Amam nya dan mengurung diri di kamarnya karena Zaelena memiliki pengalaman yang sangat buruk ketika Amam nya lagi kambuh kemudian dia mendekati wanita itu. Amam nya menjadikannya sebagai pelampiasan. Amam nya memaki Zaelena saat itu. Melempar barang ke arah Zaelena sampai Zaelena menjerit ketakutan dan memohon pada Amam nya untuk berhenti namun Amam nya sama sekali tidak melakukan itu untuknya. Amam nya terus melakukan p*********n padanya. Jika malam itu Apap nya tidak datang. Zaelena yakin dia akan berakhir di tangan Amam nya sendiri. Zaelena lagi-lagi menarik nafasnya ketika semua bayangan-bayangan yang terjadi di masa lalunya berputar begitu saja di benaknya. Mata gadis itu masih terpejam. Air matanya lagi-lagi terlihat mengalir. Malam yang kian pekat tidak membuat Zaelena terlihat ingin beranjak dari posisinya. Gadis itu sepertinya akan tidur di balkon lagi kali ini. Kembali membiarkan angin malam untuk menerpa kulitnya yang sudah akan di pastikan memerah ketika bangun di pagi hari. Zaelena akan selalu seperti itu ketika dia kedinginan. Hal seperti ini kerap kali Zaelena lakukan ketika dia merasa ketakutan dan kesepian. *** Ketika terbangun di pagi hari. Hal pertama yang Zaelena lihat ketika dia membuka matanya adalah langit pagi yang terlihat sangat cerah. Ketika Zaelena beranjak duduk, yang dia rasakan adalah tubuhnya yang terasa sangat pegal, ketika melihat ke arah tangannya, yang Zaelena lihat adalah kulitnya yang terlihat memerah. Zaelena hanya tersenyum tipis ketika melihat itu seolah semuanya sudah sangat biasa untuknya. Zaelena memutuskan untuk berdiri untuk merenggangkan otot nya yang terasa sangat kaku namun senyum Zaelena perlahan lenyap ketika melihat dua orang yang juga melakukan hal yang sama dengannya. Arhan dan seorang perempuan yang Zaelena lihat bersama semalam. Keduanya terlihat sangat dekat satu sama lain. Benar-benar sangat dekat sampai Zaelena tidak melihat jarak antara keduanya. Mereka mengobrol layaknya seorang pasangan. Memperhatikan hal-hal kecil yang sebenarnya terlihat sederhana namun siapa yang akan tahu hal-hal sederhana itu jika mereka tidak dekat satu sama lain? Zaelena tidak melepaskan pandangannya sedikitpun. Rasanya Zaelena ingin menghampiri keduanya namun untuk sekarang bertemu seseorang saja rasanya Zaelena enggan. Dia ingin menumpuk banyak energi lagi dalam dirinya supaya dia bisa menjalani aktivitasnya seperti biasanya. Kembali tersenyum seolah tidak pernah terjadi apapun dalam hidupnya. Zaelena kemudian memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya. Merenggangkan otot-otot nya yang terasa sangat kaku sembari menghirup udara pagi yang jelas jauh lebih segar. Dengan matanya yang terpejam. Zaelena terus melakukan itu sampai dia mendengar suara yang sangat dia kenal memanggil namanya. Zaelena langsung membuka matanya. "Morning Acilzae si paling cantik!" Apap nya yang terlihat sedang menyiram tanaman melambaikan tangan padanya dengan senyum yang sangat lebar. Zaelena merasakan tiba-tiba matanya memanas. Dia tidak tahu harus menunjukkan rasa syukur seperti apa lagi, Apap nya benar-benar sebaik itu dan selalu menunjukkan sikap yang sangat hangat padanya walau Zaelena tahu pria itu juga terluka dan menahan beban yang sangat berat. "Morning Apap ganteng! I miss you!" seru Zaelena sambil melambaikan tangannya dengan senyum yang dia usahakan ada di bibirnya walau Zaelena tidak bisa sama sekali menahan matanya yang kian memanas. Zaelena hanya berharap Apap nya tidak menyadari itu. "Ayok sarapan, Cantik. Apap udah masak." Lagi-lagi dengan sehangat itu. Zaelena mengangguk berulang kali kemudian dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Menangis sekuat yang dia bisa. Mengabaikan dua orang tetangganya yang sejak tadi memperhatikan interaksinya dengan Apap nya. Zaelena bisa menjadi tidak peduli dengan siapapun jika dia memang ingin melakukan itu. Ingat. Darah yang mengalir dalam tubuhnya bukan hanya darah Apap nya tapi juga darah Amam nya. Tidak akan mustahil jika terkadang Zaelena akan terlihat seperti Apap dan terkadang akan seperti Amam nya. *** Setelah menghabiskan waktu sarapan bersama dengan Apap nya. Zaelena ingin mengunjungi suatu tempat. Dia memutuskan untuk mengendarai mobil sendiri kali ini. Tentu saja setelah dia bernegosiasi dengan cukup panjang dengan Apap nya. Zaelena bisa mengendarai mobil sejak lama namun Apap selalu melarangnya untuk mengendarai mobil sendiri karena terlalu takut Zaelena terluka. Untuk itu Zaelena semasa kuliah lebih sering diantar oleh Apap nya kemanapun itu. Zaelena berpikir itu sangat merepotkan untuk Apap nya namun Apap selalu mengatakan bahwa pria itu selalu senang ketika melakukannya untuk Zaelena. Tadi saat sarapan sudah tidak ada Amam nya di rumah. Zaelena juga tidak bertanya pada Apap nya kemana lagi perginya Amam nya. Apap nya juga terlihat sedang tidak tertarik untuk membahas apa yang terjadi kemarin. "Jangan ngebut. Pelan-pelan aja," ucap Adnan kembali mengingatkan Zaelena entah untuk yang ke berapa kali. Pria itu sudah mengeluarkan mobil untuk Zaelena sampai keluar dari gerbang rumah mereka. "Iya Apap, aku akan mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati dan sepelan mungkin kalau bisa lebih pelan dari siput!" seru Zaelena dengan nada bercanda, dia mengambil kunci mobil dari tangan Adnan. "Kalau pusing atau ngantuk dikit aja, langsung berhenti aja," ucap Adnan lagi. Zaelena langsung tersenyum. Dia kemudian mencium pipi Adnan secepat kilat. "Apap, aku berangkat, assalamualaikum!" seru Zaelena. Saat Zaelena ingin masuk ke dalam mobil. Arhan dengan gadis yang Zaelena perkirakan sebagai kekasih Arhan menyapa Adnan. Sepertinya dua orang itu baru saja pulang olahraga. Zaelena hanya tersenyum tipis pada mereka kemudian langsung masuk ke dalam mobil. Sungguh untuk sekarang Zaelena sedang malas untuk berinteraksi dengan banyak orang bahkan untuk sekedar basa-basi termasuk dengan Arhan. Orang yang sangat ingin Zaelena miliki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN